Rabu, 15 Agustus 2018

Wahai Ibu Pertiwi, Kami Minta Maaf


          Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, Indonesia bebas meski belum sepenuhnya. Masih banyak yang belum beres, bukan? Namun harapan-harapan di waktu itu sudah tidak dapat dibendung lagi, tidak sabaran untuk cepat-cepat mengibarkan Sang Merah Putih. Semangat dari para golongan mudamu mendesak para tokoh proklamator, di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok. Tujuan golongan mudamu hanya untuk membersihkan campur tangan orang-orang Jepang dari para tokoh proklamator.

            Berhasil. Entah apa jadinya jika di antara mereka saling bersikeras dengan pendapat sendiri. Ada yang pilih untuk mengalah ketika golongan muda mulai tak peduli untuk mendengarkan meski sejenak. Tak punya pilihan lain kecuali mengikuti kemana mereka akan membawa. Di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok.

            Setelah ada jaminan bahwa kemerdekaan akan diproklamasikan esok di tanggal 17 Agustus, mereka mengembalikan para tokoh proklamator ke Jakarta di malam tujuh belas itu. Esoknya, perumusan naskah proklamasi dilaksanakan, disaksikan, dimusyawarahkan, hingga tercapai `atas nama bangsa Indonesia`. Diketik oleh Sayuti Melik.

            17 Agustus 1945. Soekarno, yang kemarin pilih untuk mengalah dan hanya mengikuti kemana mereka membawa, pagi itu pada pukul 10.00 WIB berdiri di Jalan Pegangsaan Timur didampingi Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sang Merah Putih hasil jahitan dari Ibu Fatmawati perlahan naik menuju ujung tiang diiringi lagu Indonesia Raya yang tercipta dari WR Supratman. Di luar dari itu, masih banyak yang belum beres. Mereka sadar bahwa masih banyak yang harus diperjuangkan. Tapi tetap saja, Indonesia merdeka!

***

            Tujuh puluh tiga tahun kini, Indonesia telah gonta-ganti kepemimpinan. Indonesia sungguh indah dengan alam, budaya, masyarakat yang majemuk. Keindahannya sangat unik, susah untuk disamakan dengan negara lain. Tapi tetap saja ada jelek-jeleknya, katanya. Pahamilah, kita bangsa Indonesia yang kurang sadar dengan kondisi negara sendiri.  Ribuan slogan untuk jaga kebersihan mungkin cuma omong kosong jika kita tak memulai untuk membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Perubahan kecil saja dulu, tak usah repot-repot bawa nama pemerintah yang belum berhasil membereskan pekerjaannya dan belum berhasil menyadarkan masyarakatnya. Toh Indonesia milik kita bersama, jadi yang mesti bersih harusnya kita semua.

Agar jelek-jeleknya semakin berkurang, kita seharusnya dapat mempertimbangkan perasaan orang lain. Mengapa harus meludah sembarangan plus dengan cara masa bodoh pada keberadaan orang di sekitar? Toh kita bisa bersikap sebiasa mungkin hanya untuk hal seperti itu, cari tempat, lalu tutup dengan pasir jika perlu. Sama untuk hal asap rokok, mengertilah bahwa tak semua orang bisa bersikap toleran, tapi juga tak semua orang berani memperingatkan secara langsung di depan muka.

Untuk hal kecil seperti ini kita masih ribut. Lihat yang kemarin, tujuh puluh tiga tahun yang lalu Ir. Soekarno memilih untuk mengalah dan mengikuti kemana golongan muda akan membawa. Di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok. Padahal jika ingin berpendapat, beliau bisa bersikeras juga. Akhirnya terjadi proklamasi, lalu Indonesia merdeka.

Sekarang, apa salahnya untuk nurut pada norma yang berlaku. Mulai dari menjaga lingkungan sampai etika di tempat umum, sepertinya tak ada rugi-ruginya jika kita mulai. Supaya Indonesia berkurang jelek-jeleknya. Iya, setiap orang pasti punya alasan ketika melanggar. Setiap orang bisa bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya, tapi semua orang juga punya hak untuk hidup dengan nyaman, begitupun si pelanggar.

Wahai Ibu Pertiwi, kami minta maaf karena terlalu ribut tentang siapa yang terbaik untuk memimpin negeri, tentang segala protes kurangnya sarana ini-itu, kurangnya bantuan ini-itu, hingga pecahnya persatuan hanya karena perbedaan pendapat yang juga mudah terprovokasi. Kami lupa hal-hal kecil yang harusnya sibuk kami lakukan daripada terus mengkritik kinerja pemimpin. Padahal, kami pun belum tentu jauh lebih baik.

Indonesia. Kenapa harus ada gajah yang diracun sampai mati? Kenapa harus ada orang utan yang dibakar sampai mati? Kenapa harus ada pencurian helm di sana-sini? Kenapa harus ada perang petasan di bulan suci? Kenapa sebagian orang senang menciptakan hoax? Kenapa diskriminasi hukum sampai tega dijatuhkan untuk mereka para tubuh renta yang terpaksa mengambil tiga buah kakao atau sebongkah singkong? Kenapa orang-orang berduit yang terbukti senang mencuri justru dapat fasilitas mewah di balik jerujinya? Wahai Ibu Pertiwi, kami minta maaf  telah membuatmu semakin jelek dengan perbuatan kami sendiri.