Tujuh
puluh tiga tahun yang lalu, Indonesia bebas meski belum sepenuhnya. Masih
banyak yang belum beres, bukan? Namun harapan-harapan di waktu itu sudah tidak
dapat dibendung lagi, tidak sabaran untuk cepat-cepat mengibarkan Sang Merah
Putih. Semangat dari para golongan mudamu mendesak para tokoh proklamator, di
pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok. Tujuan golongan mudamu hanya untuk
membersihkan campur tangan orang-orang Jepang dari para tokoh proklamator.
Berhasil. Entah apa jadinya jika di
antara mereka saling bersikeras dengan pendapat sendiri. Ada yang pilih untuk
mengalah ketika golongan muda mulai tak peduli untuk mendengarkan meski
sejenak. Tak punya pilihan lain kecuali mengikuti kemana mereka akan membawa. Di
pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok.
Setelah ada jaminan bahwa
kemerdekaan akan diproklamasikan esok di tanggal 17 Agustus, mereka
mengembalikan para tokoh proklamator ke Jakarta di malam tujuh belas itu.
Esoknya, perumusan naskah proklamasi dilaksanakan, disaksikan, dimusyawarahkan,
hingga tercapai `atas nama bangsa Indonesia`. Diketik oleh Sayuti Melik.
17 Agustus 1945. Soekarno, yang
kemarin pilih untuk mengalah dan hanya mengikuti kemana mereka membawa, pagi
itu pada pukul 10.00 WIB berdiri di Jalan Pegangsaan Timur didampingi Mohammad
Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sang Merah Putih hasil jahitan
dari Ibu Fatmawati perlahan naik menuju ujung tiang diiringi lagu Indonesia
Raya yang tercipta dari WR Supratman. Di luar dari itu, masih banyak yang belum
beres. Mereka sadar bahwa masih banyak yang harus diperjuangkan. Tapi tetap
saja, Indonesia merdeka!
***
Tujuh puluh tiga tahun kini,
Indonesia telah gonta-ganti kepemimpinan. Indonesia sungguh indah dengan alam,
budaya, masyarakat yang majemuk. Keindahannya sangat unik, susah untuk
disamakan dengan negara lain. Tapi tetap saja ada jelek-jeleknya, katanya.
Pahamilah, kita bangsa Indonesia yang kurang sadar dengan kondisi negara
sendiri. Ribuan slogan untuk jaga
kebersihan mungkin cuma omong kosong jika kita tak memulai untuk membiasakan
membuang sampah pada tempatnya. Perubahan kecil saja dulu, tak usah repot-repot
bawa nama pemerintah yang belum berhasil membereskan pekerjaannya dan belum
berhasil menyadarkan masyarakatnya. Toh Indonesia milik kita bersama, jadi yang
mesti bersih harusnya kita semua.
Agar jelek-jeleknya semakin berkurang, kita
seharusnya dapat mempertimbangkan perasaan orang lain. Mengapa harus meludah
sembarangan plus dengan cara masa bodoh pada keberadaan orang di sekitar? Toh
kita bisa bersikap sebiasa mungkin hanya untuk hal seperti itu, cari tempat,
lalu tutup dengan pasir jika perlu. Sama untuk hal asap rokok, mengertilah
bahwa tak semua orang bisa bersikap toleran, tapi juga tak semua orang berani
memperingatkan secara langsung di depan muka.
Untuk hal kecil seperti ini kita masih ribut. Lihat
yang kemarin, tujuh puluh tiga tahun yang lalu Ir. Soekarno memilih untuk
mengalah dan mengikuti kemana golongan muda akan membawa. Di pagi-pagi buta
dalam Rengasdengklok. Padahal jika ingin berpendapat, beliau bisa bersikeras
juga. Akhirnya terjadi proklamasi, lalu Indonesia merdeka.
Sekarang, apa salahnya untuk nurut pada norma yang
berlaku. Mulai dari menjaga lingkungan sampai etika di tempat umum, sepertinya
tak ada rugi-ruginya jika kita mulai. Supaya Indonesia berkurang
jelek-jeleknya. Iya, setiap orang pasti punya alasan ketika melanggar. Setiap
orang bisa bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya, tapi semua orang juga
punya hak untuk hidup dengan nyaman, begitupun si pelanggar.
Wahai Ibu Pertiwi, kami minta maaf karena terlalu
ribut tentang siapa yang terbaik untuk memimpin negeri, tentang segala protes
kurangnya sarana ini-itu, kurangnya bantuan ini-itu, hingga pecahnya persatuan
hanya karena perbedaan pendapat yang juga mudah terprovokasi. Kami lupa hal-hal
kecil yang harusnya sibuk kami lakukan daripada terus mengkritik kinerja
pemimpin. Padahal, kami pun belum tentu jauh lebih baik.
Indonesia. Kenapa harus ada gajah yang diracun
sampai mati? Kenapa harus ada orang utan yang dibakar sampai mati? Kenapa harus
ada pencurian helm di sana-sini? Kenapa harus ada perang petasan di bulan suci?
Kenapa sebagian orang senang menciptakan hoax? Kenapa diskriminasi hukum sampai
tega dijatuhkan untuk mereka para tubuh renta yang terpaksa mengambil tiga buah
kakao atau sebongkah singkong? Kenapa orang-orang berduit yang terbukti senang
mencuri justru dapat fasilitas mewah di balik jerujinya? Wahai Ibu Pertiwi,
kami minta maaf telah membuatmu semakin
jelek dengan perbuatan kami sendiri.