Terkadang jika kuputar kenangan di
Hari Ibu, rasanya masih tersimpan perasaan kecewa dan sakit hati. Meski aku
tahu, bahwa cinta seorang ibu tak perlu perayaan, tak perlu simbolis, juga tak
perlu hadiah. Cukup melihat anaknya tersenyum saja, ia sudah luar biasa
bahagia. Ibu tetap mencintai anaknya yang hanya apa adanya, meskipun anak yang
dimilikinya tak sempurna sekalipun, ia dapat mencintai seutuhnya. Cinta yang
tak punya rasa benci.
Tapi bagaimana denganku? Manusia
romantis yang berusaha mengoleksi sweet
moment satu demi satu dengan caraku sendiri. Selalu punya hasrat untuk
menyenangkan hati seseorang dengan persembahan yang manis. Aku akan merasa
sangat berharga jika suatu hari ada yang mengatakan ``I
remember when you gave me…``
atau mungkin hanya sekadar tatapan dan sebaris senyum nostalgia.
Sayangnya ibuku bukan orang yang
mempunyai pandangan sama denganku. Bagi ibu, mengisi waktu dengan bekerja
adalah hal yang lebih bermanfaat, daripada diam untuk memandangi benda sarat
kenangan, atau larut dalam masa lalu. Aku rasa, semua hadiah atau apapun yang
kuberikan untuk pelengkap ucapan Selamat Hari Ibu adalah sia-sia. Hadiahnya
memang diterima dengan ucapan terima kasih, lalu disimpan, tapi setelahnya tak
pernah diapa-apakan lagi. Entahlah, sudah berapa hadiah yang kuberi untuk ibu,
tapi hasilnya sama saja. Selalu begitu.
Ibu juga tak pernah memerlakukanku
secara spesial, biarpun berkali-kali kuberikan hadiah, ibu tetap menyuruhku
melakukan rutinitasku. Jika aku berbuat kesalahan, tetap saja dimarahi tanpa
mengingat bahwa hari itu adalah hari kasih sayang antara ibu dan anak.
Lalu sekarang apa yang sedang
kulakukan? Keluar dari pusat perbelanjaan dengan membawa beberapa tentengan.
Salah satunya adalah jaket hangat limited
edition, yang kubeli untuk hadiah hari ibu. Pertama kalinya aku membeli pakaian
untuk kejutan.
Sialnya, hujan turun deras, sehingga
menjadi hambatanku untuk menuju halte. Aku hanya berdiri di pinggir jalan
dengan berteduh di bawah atap seng sebuah warung kecil yang tutup. Tak lama, di
kejauhan terlihat penyedia jasa ojek payung menuju ke tempatku berteduh.
Kebetulan sekali, batinku.
``Ingin
menyeberang, Nona?`` awalnya wajah tersebut terhalang oleh payung besar, namun
setelah tepian payung tersingkap, kami berdua sama-sama terkejut.
Wajah yang sangat kukenali, teman
satu kelas di sekolah. Idris.
``Idris,
aku baru melihatmu begini….``
``Sudah
lama begini, ayo menyeberang!``
Aku dan Idris tiba di halte bis.
Sambil menyodorkan uang, aku menatapnya penuh tanya. Rupanya Idris mengerti
maksudku.
``Terkejut
ya? hal ini semata-mata hanya untuk bertahan hidup saja.`` karena tak terlihat
orang yang membutuhkan jasanya, ia duduk di sampingku.
``Oh,
kukira kau juga hidup berkecukupan.`` jawabku.
``Maunya
sih begitu….`` ucapnya bercanda.
``Sore
begini baru pulang belanja?`` sambungnya.
``Ya,
aku membeli hadiah untuk ibuku. Kau ingatkan hari ini hari apa?``
``Hari
Ibu.`` jawabnya.
``Seandainya
aku tak lama memilih hadiah, mungkin aku sudah pulang dari tadi. Kau sendiri,
apa hadiah yang kau berikan untuk ibumu?``
``Doa
saja.`` jawabnya enteng.
``Itu
bagus. Aku juga tahu seorang ibu tak pernah mengharapkan pemberian apapun dari
anaknya. Tapi sebagai ungkapan cintaku, aku selalu ingin memberinya suatu
kejutan. Contohnya ya jaket ini.`` aku memerlihatkan sedikit jaket tersebut
dari dalam tasku.
``Tidak
buruk. Setidaknya itulah usahamu untuk menyenangkannya. Iya `kan?``
``Benar.
Tapi biarpun hatinya sudah disenangkan, tetap saja kalimat perintahnya selalu
keluar.`` keluhku.
``Lalu
jika kuamati, ibuku tidak pernah terlalu memerhatikan hadiah yang kuberi. Jika
sudah dimasukkan lemari, habislah ceritanya. Semua hanya dibiarkan begitu saja.
Kau juga pasti pernah mengalami hal seperti itu, pasti sakit sekali `kan?``
sambungku.
``Aku
tak tahu.``
``Tidak
tahu?`` aku kembali bertanya.
Wajahnya berubah merah perlahan
menahan tangis. Beruntung ia bisa mengendalikan emosinya.
``Anak
piatu tak pernah merasakannya….``
Sungguh! Saat itu aku tersentak,
sangat merasa tak enak kepada Idris.
``Saat
aku lahir, ibuku dipanggil Sang Pencipta. Aku kira ketika ibu memarahi anaknya,
itu adalah hal yang menyenangkan. Artinya ibu masih memerhatikannya.
Bertahun-tahun aku merindukan bagaimana rasanya dimarahi, dan diperintah seorang
ibu. Tapi tak mungkin terwujudkan?``
Aku hanya terdiam mendengarkan Idris
melanjutkan kalimatnya.
``Kau
juga tak perlu sakit hati apalagi kecewa jika hadiah darimu hanya disimpan di
lemari atau dibiarkan saja. Aku yakin, ibumu terlalu sibuk memerhatikanmu.
Semua hadiah itu tak lebih berharga dari dirimu sendiri. Ibumu tak punya waktu
untuk terlalu berlarut-larut dengan barang-barang tersebut. Yang membuat ibumu
seperti itu adalah dirimu sendiri. Kau terlalu berharga.``
``Idris,
seandainya kau bilang dari dulu, aku akan mengerti semuanya. Sekarang aku tahu
ibu tak punya maksud mengabaikan semua pemberianku.`` ucapku mulai paham.
``Tak
usah mengharapkan ibumu berdiri lama memandangi benda pemberianmu. Ibumu tak
perlu melakukan hal itu. Kau masih bersamanya.``
Sejenak ia terdiam, lalu melanjutkan
kalimatnya kembali.
``Apa
kau ingin melihat ibumu terus memandangi hadiah darimu, lalu ibumu bergumam `I miss the time you were around` dan
larut dalam kenangan saat bersamamu? Hal itu lebih menyakitkan dari yang kau
rasakan ketika hadiahmu tak punya tempat di hatinya.``
Saat ia berhenti bicara, aku tak
tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Semua yang dikatakannya itu benar.
Sekarang kami hanya sama-sama diam menatap jalan raya yang perlahan berubah
sepi. Aku yakin, orang-orang lebih memilih berkumpul dengan keluarga di rumah,
menikmati hidangan hangat dan menonton televisi. Sedangkan aku masih menunggu bis dalam suasana
hujan dan kedinginan, lalu menceritakan hal yang tak kusukai tentang seorang
ibu kepada teman sekelasku. Miris.
Selanjutnya, aku dan Idris sibuk
dengan pikiran yang berkelana ke segala arah, meninggalkan realita kehidupan
yang kami hadapi sekarang.
Aku masih ingat betul bagaimana dulu
ibu dan ayah memutuskan untuk bercerai. Ibuku memang orang yang sangat sibuk.
Pada suatu hari, ketika kami sarapan, ayah mengatakan ``Jika kau terlalu gila
kerja seperti ini, kau tidak akan melihat anak kita tumbuh.`` aku tak tahu apa
yang membuat ibu menangis saat itu, kurasa ayahku sekadar memberikan nasihatnya
saja. Ketika bekerja, ayah dan ibu tak pernah saling menghubungi jika memang
tidak terlalu penting. Mereka mengutamakan profesionalitasnya. Namun, hal itu terus
berlanjut sampai di dalam rumah. Tak ada komunikasi. Selang beberapa hari, ayah
mengajakku untuk membeli hadiah sebagai permintaan maaf kepada ibu. Sifat ayah
yang satu ini diturunkannya kepadaku. Selalu ingin membuat segalanya berkesan.
Pada saat itu, aku langsung memilih
sepatu high heels dengan model
elegan, dan ayah membelikan satu buket bunga yang indah. Kukira semua kembali
rukun seperti sedia kala, namun ternyata ketika aku bangun esok paginya, tak
ada lagi makan pagi bersama. Bunga kemarin sore tergeletak dingin di atas meja
makan menggantikan posisi ayah yang biasa makan bersama aku dan ibu. Anehnya,
tak ada tangis atau ratapan dari ibu. Ibu hanya terlihat diam dan sedikit sendu
saja. Ia bahkan berkata bahwa ketika aku masih tertidur, ayah masuk ke kamarku
untuk memelukku sebagai ungkapan selamat tinggal. Beginikah jalan yang terbaik?
Lambat laun, semua mulai membaik.
Ayah dan ibu tetap menjalin silaturahim, dan ternyata perceraian itu membawa
perubahan terhadap sikap ibu, ibu memerhatikanku tumbuh dewasa. Ternyata sikap
yang tak kusukai darinya itulah bentuk perhatiannya kepadaku, dan aku baru
menyadarinya sekarang. Aku juga bersyukur
karena sikap ayah yang romantis itu diturunkannya pada diriku, sehingga
ibu tak pernah merasa kehilangan sekalipun ayah sudah tak bersama kami lagi.
Begitu sempitnya pikiranku dulu, aku
kalah telak dengan sahabatku Idris. Ia mengambil hikmah dari apa yang ia tidak
miliki di dunia ini. Bahkan aku sendiri baru mengerti hal tersembunyi di balik
ketidaksempurnaan sifat dan keadaan seseorang.
Aku menghirup udara dalam-dalam,
lalu menghembuskannya. Rupanya hujan bertambah deras ketika bis tiba. Entah
karena terlalu laju atau bagaimana, jarak berhenti antara bis dengan halte
tempatku menunggu terlalu jauh.
``Pakai
jaket yang kau beli tadi. Ibumu tak pernah menunggu jaket itu sampai di
tangannya. Ia hanya menginginkan kehadiranmu. Jangan korbankan kesehatanmu,
atau kau hanya ingin membuatnya kehilangan senyum karena rasa bersalah terhadap
hadiah di Hari Ibu yang terlalu kau paksa.`` Idris mengatakannya kepadaku
ketika aku terpaksa harus menembus hujan agar tetap mendapat tempat duduk di
dalam bis.
Aku tersontak, mengapa hari ini
semua baru kumengerti? Begitu banyak pelajaran berharga untuk hari ini, yang
kudapatkan dari seorang anak piatu. Tepat di Hari Ibu.
``Terima
kasih, Idris.`` aku tersenyum dan segera menuju bis.
Idris, ibumu pasti bahagia di sana.
Aku yakin kau pun dapat merasakan kasih sayangnya meski dunia serta kehidupan
antara dirimu dan ibumu untuk saat ini harus terpisah. Karena Hari Ibu bukan
masalah hadiah, atau sekadar ucapan. Tapi tentang cinta yang tak punya batas,
tak punya benci, dan tak kenal jauh.