Jumat, 21 Desember 2018

Satu Hari



            Terkadang jika kuputar kenangan di Hari Ibu, rasanya masih tersimpan perasaan kecewa dan sakit hati. Meski aku tahu, bahwa cinta seorang ibu tak perlu perayaan, tak perlu simbolis, juga tak perlu hadiah. Cukup melihat anaknya tersenyum saja, ia sudah luar biasa bahagia. Ibu tetap mencintai anaknya yang hanya apa adanya, meskipun anak yang dimilikinya tak sempurna sekalipun, ia dapat mencintai seutuhnya. Cinta yang tak punya rasa benci.
            Tapi bagaimana denganku? Manusia romantis yang berusaha mengoleksi sweet moment satu demi satu dengan caraku sendiri. Selalu punya hasrat untuk menyenangkan hati seseorang dengan persembahan yang manis. Aku akan merasa sangat berharga jika suatu hari ada yang mengatakan  ``I remember when you gave me…`` atau mungkin hanya sekadar tatapan dan sebaris senyum nostalgia.
            Sayangnya ibuku bukan orang yang mempunyai pandangan sama denganku. Bagi ibu, mengisi waktu dengan bekerja adalah hal yang lebih bermanfaat, daripada diam untuk memandangi benda sarat kenangan, atau larut dalam masa lalu. Aku rasa, semua hadiah atau apapun yang kuberikan untuk pelengkap ucapan Selamat Hari Ibu adalah sia-sia. Hadiahnya memang diterima dengan ucapan terima kasih, lalu disimpan, tapi setelahnya tak pernah diapa-apakan lagi. Entahlah, sudah berapa hadiah yang kuberi untuk ibu, tapi hasilnya sama saja. Selalu begitu.
            Ibu juga tak pernah memerlakukanku secara spesial, biarpun berkali-kali kuberikan hadiah, ibu tetap menyuruhku melakukan rutinitasku. Jika aku berbuat kesalahan, tetap saja dimarahi tanpa mengingat bahwa hari itu adalah hari kasih sayang antara ibu dan anak.
            Lalu sekarang apa yang sedang kulakukan? Keluar dari pusat perbelanjaan dengan membawa beberapa tentengan. Salah satunya adalah jaket hangat limited edition, yang kubeli untuk hadiah hari ibu. Pertama kalinya aku membeli pakaian untuk kejutan.
            Sialnya, hujan turun deras, sehingga menjadi hambatanku untuk menuju halte. Aku hanya berdiri di pinggir jalan dengan berteduh di bawah atap seng sebuah warung kecil yang tutup. Tak lama, di kejauhan terlihat penyedia jasa ojek payung menuju ke tempatku berteduh. Kebetulan sekali, batinku.
``Ingin menyeberang, Nona?`` awalnya wajah tersebut terhalang oleh payung besar, namun setelah tepian payung tersingkap, kami berdua sama-sama terkejut.
            Wajah yang sangat kukenali, teman satu kelas di sekolah. Idris.
``Idris, aku baru melihatmu begini….``
``Sudah lama begini, ayo menyeberang!``
            Aku dan Idris tiba di halte bis. Sambil menyodorkan uang, aku menatapnya penuh tanya. Rupanya Idris mengerti maksudku.
``Terkejut ya? hal ini semata-mata hanya untuk bertahan hidup saja.`` karena tak terlihat orang yang membutuhkan jasanya, ia duduk di sampingku.
``Oh, kukira kau juga hidup berkecukupan.`` jawabku.
``Maunya sih begitu….`` ucapnya bercanda.
``Sore begini baru pulang belanja?`` sambungnya.
``Ya, aku membeli hadiah untuk ibuku. Kau ingatkan hari ini hari apa?``
``Hari Ibu.`` jawabnya.
``Seandainya aku tak lama memilih hadiah, mungkin aku sudah pulang dari tadi. Kau sendiri, apa hadiah yang kau berikan untuk ibumu?``
``Doa saja.`` jawabnya enteng.
``Itu bagus. Aku juga tahu seorang ibu tak pernah mengharapkan pemberian apapun dari anaknya. Tapi sebagai ungkapan cintaku, aku selalu ingin memberinya suatu kejutan. Contohnya ya jaket ini.`` aku memerlihatkan sedikit jaket tersebut dari dalam tasku.
``Tidak buruk. Setidaknya itulah usahamu untuk menyenangkannya. Iya `kan?``
``Benar. Tapi biarpun hatinya sudah disenangkan, tetap saja kalimat perintahnya selalu keluar.`` keluhku.
``Lalu jika kuamati, ibuku tidak pernah terlalu memerhatikan hadiah yang kuberi. Jika sudah dimasukkan lemari, habislah ceritanya. Semua hanya dibiarkan begitu saja. Kau juga pasti pernah mengalami hal seperti itu, pasti sakit sekali `kan?`` sambungku.
``Aku tak tahu.``
``Tidak tahu?`` aku kembali bertanya.
            Wajahnya berubah merah perlahan menahan tangis. Beruntung ia bisa mengendalikan emosinya.
``Anak piatu tak pernah merasakannya….``
            Sungguh! Saat itu aku tersentak, sangat merasa tak enak kepada Idris.
``Saat aku lahir, ibuku dipanggil Sang Pencipta. Aku kira ketika ibu memarahi anaknya, itu adalah hal yang menyenangkan. Artinya ibu masih memerhatikannya. Bertahun-tahun aku merindukan bagaimana rasanya dimarahi, dan diperintah seorang ibu. Tapi tak mungkin terwujudkan?``
            Aku hanya terdiam mendengarkan Idris melanjutkan kalimatnya.
``Kau juga tak perlu sakit hati apalagi kecewa jika hadiah darimu hanya disimpan di lemari atau dibiarkan saja. Aku yakin, ibumu terlalu sibuk memerhatikanmu. Semua hadiah itu tak lebih berharga dari dirimu sendiri. Ibumu tak punya waktu untuk terlalu berlarut-larut dengan barang-barang tersebut. Yang membuat ibumu seperti itu adalah dirimu sendiri. Kau terlalu berharga.``
``Idris, seandainya kau bilang dari dulu, aku akan mengerti semuanya. Sekarang aku tahu ibu tak punya maksud mengabaikan semua pemberianku.`` ucapku mulai paham.
``Tak usah mengharapkan ibumu berdiri lama memandangi benda pemberianmu. Ibumu tak perlu melakukan hal itu. Kau masih bersamanya.``
            Sejenak ia terdiam, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
``Apa kau ingin melihat ibumu terus memandangi hadiah darimu, lalu ibumu bergumam `I miss the time you were around` dan larut dalam kenangan saat bersamamu? Hal itu lebih menyakitkan dari yang kau rasakan ketika hadiahmu tak punya tempat di hatinya.``
            Saat ia berhenti bicara, aku tak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Semua yang dikatakannya itu benar. Sekarang kami hanya sama-sama diam menatap jalan raya yang perlahan berubah sepi. Aku yakin, orang-orang lebih memilih berkumpul dengan keluarga di rumah, menikmati hidangan hangat dan menonton televisi.  Sedangkan aku masih menunggu bis dalam suasana hujan dan kedinginan, lalu menceritakan hal yang tak kusukai tentang seorang ibu kepada teman sekelasku. Miris.
            Selanjutnya, aku dan Idris sibuk dengan pikiran yang berkelana ke segala arah, meninggalkan realita kehidupan yang kami hadapi sekarang.
            Aku masih ingat betul bagaimana dulu ibu dan ayah memutuskan untuk bercerai. Ibuku memang orang yang sangat sibuk. Pada suatu hari, ketika kami sarapan, ayah mengatakan ``Jika kau terlalu gila kerja seperti ini, kau tidak akan melihat anak kita tumbuh.`` aku tak tahu apa yang membuat ibu menangis saat itu, kurasa ayahku sekadar memberikan nasihatnya saja. Ketika bekerja, ayah dan ibu tak pernah saling menghubungi jika memang tidak terlalu penting. Mereka mengutamakan profesionalitasnya. Namun, hal itu terus berlanjut sampai di dalam rumah. Tak ada komunikasi. Selang beberapa hari, ayah mengajakku untuk membeli hadiah sebagai permintaan maaf kepada ibu. Sifat ayah yang satu ini diturunkannya kepadaku. Selalu ingin membuat segalanya berkesan.
            Pada saat itu, aku langsung memilih sepatu high heels dengan model elegan, dan ayah membelikan satu buket bunga yang indah. Kukira semua kembali rukun seperti sedia kala, namun ternyata ketika aku bangun esok paginya, tak ada lagi makan pagi bersama. Bunga kemarin sore tergeletak dingin di atas meja makan menggantikan posisi ayah yang biasa makan bersama aku dan ibu. Anehnya, tak ada tangis atau ratapan dari ibu. Ibu hanya terlihat diam dan sedikit sendu saja. Ia bahkan berkata bahwa ketika aku masih tertidur, ayah masuk ke kamarku untuk memelukku sebagai ungkapan selamat tinggal. Beginikah jalan yang terbaik?
            Lambat laun, semua mulai membaik. Ayah dan ibu tetap menjalin silaturahim, dan ternyata perceraian itu membawa perubahan terhadap sikap ibu, ibu memerhatikanku tumbuh dewasa. Ternyata sikap yang tak kusukai darinya itulah bentuk perhatiannya kepadaku, dan aku baru menyadarinya sekarang. Aku juga bersyukur  karena sikap ayah yang romantis itu diturunkannya pada diriku, sehingga ibu tak pernah merasa kehilangan sekalipun ayah sudah tak bersama kami lagi.
            Begitu sempitnya pikiranku dulu, aku kalah telak dengan sahabatku Idris. Ia mengambil hikmah dari apa yang ia tidak miliki di dunia ini. Bahkan aku sendiri baru mengerti hal tersembunyi di balik ketidaksempurnaan sifat dan keadaan seseorang.
            Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Rupanya hujan bertambah deras ketika bis tiba. Entah karena terlalu laju atau bagaimana, jarak berhenti antara bis dengan halte tempatku menunggu terlalu jauh.
``Pakai jaket yang kau beli tadi. Ibumu tak pernah menunggu jaket itu sampai di tangannya. Ia hanya menginginkan kehadiranmu. Jangan korbankan kesehatanmu, atau kau hanya ingin membuatnya kehilangan senyum karena rasa bersalah terhadap hadiah di Hari Ibu yang terlalu kau paksa.`` Idris mengatakannya kepadaku ketika aku terpaksa harus menembus hujan agar tetap mendapat tempat duduk di dalam bis.
            Aku tersontak, mengapa hari ini semua baru kumengerti? Begitu banyak pelajaran berharga untuk hari ini, yang kudapatkan dari seorang anak piatu. Tepat di Hari Ibu.
``Terima kasih, Idris.`` aku tersenyum dan segera menuju bis.
            Idris, ibumu pasti bahagia di sana. Aku yakin kau pun dapat merasakan kasih sayangnya meski dunia serta kehidupan antara dirimu dan ibumu untuk saat ini harus terpisah. Karena Hari Ibu bukan masalah hadiah, atau sekadar ucapan. Tapi tentang cinta yang tak punya batas, tak punya benci, dan tak kenal jauh.