Waktu
mendung itu tak pernah tergantikan oleh apapun. Aku menyukainya. Dengarlah
ketika angin mendesaukan daun-daun, rasakanlah dingin sejuk seakan alam sedang
diistirahatkan sejenak, hingga biarkanlah butiran hujan sedikit demi sedikit
turun pada wajahmu. Tak bisa terbayarkan setelah kita berlelah dengan panas
terik. Sungguh waktu yang membuatku merasa lebih hidup, hingga kadang aku rela
untuk melaju bersama hujan. I feel the
rain, bukan kehujanan.
Diam-diam, yang selalu mengharapkan hujan
setiap hari turun itu salah satunya adalah diriku. Rasanya ingin kubiarkan alam
senantiasa bersama tetesan air meski sekadar gerimis. Karena ketika alam mengering,
itu lebih bahaya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi aku pencari embun pagi,
mencarinya di antara dedaunan hanya untuk mengaguminya. Karena dari sana, dapat
kubaca bahwa malam tadi, suasana begitu teduh.
Sebagian
orang pasti tahu bahwa hujan selalu mengantarkan kenangan. Kalimat yang terlalu
romantik, kurasa. Tapi terkadang ada benarnya, meski aku melihat hujan sebagai waktu
untuk menikmati kedamaian dan mensyukuri kehangatan pada sekitar kita, juga
yang kita miliki. Bukan larut pada atmosfer masa lalu. Tapi kadang, ketika
mendung dan hujan bersatu, I miss the old
me. Aku rindu suatu masa yang pernah menjadi bagian pada hari-hari liburku,
aku rindu diriku yang suka jajan banyak tanpa mau memakannya hingga habis.
Dengan
tulisan ini, biarkan aku kembali pada anak kecil yang mengenakan hoodie
Pikachu, bersandal jepit yang tak pernah mau tergantikan bergambar Panji
Millenium, dan beberapa ekor ulat kecil dari pohon Akasia di tangannya. Aku
rindu pada diriku yang tak punya takut pada hewan itu. Bahkan anak-anak tikus
yang masih merah pun pernah menjadi kesayangannya.
Selalu Sabtu dan selalu setiap sore ia
minta ibunya untuk mengajaknya pergi ke sebuah tempat. Tempat yang dibangun
sebuah air mancur sebagai objek utamanya. Tempat yang dahulu masih terbilang
sepi, belum ada lantai-lantai berwarna maupun lampu berwarna-warni. Aku ingat
bagaimana diri kecilku bertanya ketika duduk di sekitar air mancur, `Bu, kenapa
lampu air mancurnya menyala?` lalu ibu menjawab, `Artinya hari sudah mulai
senja.`
`Jam berapa ini?` ujarnya, `Jam enam`
ibu menjawab. Mulai saat itu hingga kini, ia tahu bahwa senja itu dimulai dari
jam enam sore. Atau ia akan tahu senja telah datang bila lampu-lampu jalanan,
terutama lampu air mancur tersebut telah dinyalakan. Baginya, itulah
tanda-tanda kedatangan senja. Sore dan senja pada waktu itu, adalah yang
terindah.
Pada air mancur itu, mungkin adalah saksi betapa setiap Sabtu selama
beberapa waktu secara berturut-turut ia selalu datang ke sana. Selalu melihat
ke kolam airnya, padahal sungguh tak ada apapun yang menarik untuk dilihat.
Hanya permukaan lantai kolam yang kotor karena pasir atau lumut yang mengendap.
Tapi, kau tahu apa yang selalu ia dapati di dalam air tersebut? Adalah binatang
kecil sejenis serangga namun punya bentuk seperti penyu, berwarna hitam dan
berenang gesit dalam air. Ia pernah menganggap hewan tersebut adalah peliharaannya,
yang ia datangi setiap Sabtu.
Ia selalu senang melihat aneka kue
berbagai bentuk. Ibu selalu mengajaknya ke toko kue setelah puas bermain di
taman air mancur. Tak jauh tempatnya, kurang lebih hanya berseberangan dari
taman. Banyak sekali macam kue-kue yang tersusun di etalase, tapi yang
dipilihnya selalu Lapis Surabaya dan Black Forest. Ia punya alasan sendiri,
Lapis Surabaya adalah kue yang paling mudah untuk dimakan karena bentuknya yang
tipis dan hanya persegi. Tak ada yang lebih spesial dari rasa coklat pada kue
tersebut, biasanya ia akan menghabiskan bagian dengan rasa original terlebih
dahulu, lalu bagian dengan rasa coklat akan dimakan terakhiran. Ia menyukai
paduan rasa coklat dengan selai strawberry yang menempel tipis di kedua sisi
kue itu.
Tentang Black Forest, ia menyukai
seutuhnya. Namun mungkin hanya khusus hasil produksi dari toko kue tersebut.
Berbentuk kubus mungil dengan coklat beku dan hiasan kecil dari mentega
warna-warni yang tak mengganggu rasa dari coklat beku. Ia terlalu senang dengan
coklat sehingga ia makan belakangan setelah cake nya ia habiskan. Lagi-lagi,
pilihan selai strawberry sebagai lapisan tipis pada Black Forest selalu tak
pernah salah di lidahnya. Rupanya, coklat dan strawberry menjadi kombinasi
favoritnya.
Hal itu telah bertahun-tahun berlalu,
aku tak lagi pergi ke sana. Sudah terlalu ramai dan seiring zaman, tempat
ternyaman adalah rumah. Kadang aku merindukan, hingga membuatku untuk datang
meski hanya melewati saja. Apalagi, bila melewati taman tersebut ketika hari
sedang mendung atau hujan. Mari kuceritakan lagi satu kisah yang terjadi di
kedai kecil yang berada kurang lebih di belakang area taman air mancur.
Pada hari Sabtu sore juga, anak kecil
dengan sandal jepit yang tak pernah mau tergantikan bergambar Panji Millenium,
mampir ke kedai tersebut bersama bapak ibunya. Ada hidangan yang belum pernah
ia coba, Wedang Ronde. Ya Tuhan, sampai saat ini pun hidangan itu menjadi
kesukaanku. Kau tahu, bahkan saat itu hujan sedang turun deras. Ia duduk di
antara bapak dan ibu, menikmati semangkuk Wedang Ronde yang hangat. Bisa kau
bayangkan betapa waktu tersebut adalah salah satu yang ternyaman. Lengkap, apa
lagi yang lebih dari kasih orang tua dan kehangatan? Dulu ia tak bisa
menghabiskannya, rasanya pedas dan jahenya terlalu menyengat.
***
Namun sekarang aku menyukainya. Rasa dan
aromanya selalu membawaku bernostalgia pada waktu-waktu terbaik itu. Mengobati
kerinduanku pada suasana dan diri kecilku. Aku tak bisa mengulang semuanya,
karena tempat ternyaman sekarang adalah rumah, dimana ada bapak yang menonton
pertandingan bola di tv dan ibu yang membuat pisang goreng, apalagi ketika hari
sedang hujan. Bukan taman lagi ataupun toko kue. Aku tidak lagi merengek untuk
pergi ke taman dan tidak lagi
bermain-main. Biarkan tulisan ini sebagai perekam kenangan masa itu agar tidak
terlupa, pada Lapis Surabaya, Black Forest, dan Wedang Ronde. Juga pada senja
dan hujan di Taman Air Mancur Minggu Raya, yang sudah memberikan segala
pesonanya pada anak kecil yang mengenakan hoodie Pikachu, bersandal Panji
Millenium.
Senang untuk menuliskan hal ini, karena
sangat mengobati.