Sabtu, 19 Oktober 2019

Pada Lapis Surabaya, Black Forest, dan Semangkuk Wedang Ronde


                Waktu mendung itu tak pernah tergantikan oleh apapun. Aku menyukainya. Dengarlah ketika angin mendesaukan daun-daun, rasakanlah dingin sejuk seakan alam sedang diistirahatkan sejenak, hingga biarkanlah butiran hujan sedikit demi sedikit turun pada wajahmu. Tak bisa terbayarkan setelah kita berlelah dengan panas terik. Sungguh waktu yang membuatku merasa lebih hidup, hingga kadang aku rela untuk melaju bersama hujan. I feel the rain, bukan kehujanan.

             Diam-diam, yang selalu mengharapkan hujan setiap hari turun itu salah satunya adalah diriku. Rasanya ingin kubiarkan alam senantiasa bersama tetesan air meski sekadar gerimis. Karena ketika alam mengering, itu lebih bahaya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi aku pencari embun pagi, mencarinya di antara dedaunan hanya untuk mengaguminya. Karena dari sana, dapat kubaca bahwa malam tadi, suasana begitu teduh.

            Sebagian orang pasti tahu bahwa hujan selalu mengantarkan kenangan. Kalimat yang terlalu romantik, kurasa. Tapi terkadang ada benarnya, meski aku melihat hujan sebagai waktu untuk menikmati kedamaian dan mensyukuri kehangatan pada sekitar kita, juga yang kita miliki. Bukan larut pada atmosfer masa lalu. Tapi kadang, ketika mendung dan hujan bersatu, I miss the old me. Aku rindu suatu masa yang pernah menjadi bagian pada hari-hari liburku, aku rindu diriku yang suka jajan banyak tanpa mau memakannya hingga habis.

            Dengan tulisan ini, biarkan aku kembali pada anak kecil yang mengenakan hoodie Pikachu, bersandal jepit yang tak pernah mau tergantikan bergambar Panji Millenium, dan beberapa ekor ulat kecil dari pohon Akasia di tangannya. Aku rindu pada diriku yang tak punya takut pada hewan itu. Bahkan anak-anak tikus yang masih merah pun pernah menjadi kesayangannya.

Selalu Sabtu dan selalu setiap sore ia minta ibunya untuk mengajaknya pergi ke sebuah tempat. Tempat yang dibangun sebuah air mancur sebagai objek utamanya. Tempat yang dahulu masih terbilang sepi, belum ada lantai-lantai berwarna maupun lampu berwarna-warni. Aku ingat bagaimana diri kecilku bertanya ketika duduk di sekitar air mancur, `Bu, kenapa lampu air mancurnya menyala?` lalu ibu menjawab, `Artinya hari sudah mulai senja.`

`Jam berapa ini?` ujarnya, `Jam enam` ibu menjawab. Mulai saat itu hingga kini, ia tahu bahwa senja itu dimulai dari jam enam sore. Atau ia akan tahu senja telah datang bila lampu-lampu jalanan, terutama lampu air mancur tersebut telah dinyalakan. Baginya, itulah tanda-tanda kedatangan senja. Sore dan senja pada waktu itu, adalah yang terindah.

Pada air mancur itu, mungkin  adalah saksi betapa setiap Sabtu selama beberapa waktu secara berturut-turut ia selalu datang ke sana. Selalu melihat ke kolam airnya, padahal sungguh tak ada apapun yang menarik untuk dilihat. Hanya permukaan lantai kolam yang kotor karena pasir atau lumut yang mengendap. Tapi, kau tahu apa yang selalu ia dapati di dalam air tersebut? Adalah binatang kecil sejenis serangga namun punya bentuk seperti penyu, berwarna hitam dan berenang gesit dalam air. Ia pernah menganggap hewan tersebut adalah peliharaannya, yang ia datangi setiap Sabtu.

Ia selalu senang melihat aneka kue berbagai bentuk. Ibu selalu mengajaknya ke toko kue setelah puas bermain di taman air mancur. Tak jauh tempatnya, kurang lebih hanya berseberangan dari taman. Banyak sekali macam kue-kue yang tersusun di etalase, tapi yang dipilihnya selalu Lapis Surabaya dan Black Forest. Ia punya alasan sendiri, Lapis Surabaya adalah kue yang paling mudah untuk dimakan karena bentuknya yang tipis dan hanya persegi. Tak ada yang lebih spesial dari rasa coklat pada kue tersebut, biasanya ia akan menghabiskan bagian dengan rasa original terlebih dahulu, lalu bagian dengan rasa coklat akan dimakan terakhiran. Ia menyukai paduan rasa coklat dengan selai strawberry yang menempel tipis di kedua sisi kue itu.  

Tentang Black Forest, ia menyukai seutuhnya. Namun mungkin hanya khusus hasil produksi dari toko kue tersebut. Berbentuk kubus mungil dengan coklat beku dan hiasan kecil dari mentega warna-warni yang tak mengganggu rasa dari coklat beku. Ia terlalu senang dengan coklat sehingga ia makan belakangan setelah cake nya ia habiskan. Lagi-lagi, pilihan selai strawberry sebagai lapisan tipis pada Black Forest selalu tak pernah salah di lidahnya. Rupanya, coklat dan strawberry menjadi kombinasi favoritnya.

Hal itu telah bertahun-tahun berlalu, aku tak lagi pergi ke sana. Sudah terlalu ramai dan seiring zaman, tempat ternyaman adalah rumah. Kadang aku merindukan, hingga membuatku untuk datang meski hanya melewati saja. Apalagi, bila melewati taman tersebut ketika hari sedang mendung atau hujan. Mari kuceritakan lagi satu kisah yang terjadi di kedai kecil yang berada kurang lebih di belakang area taman air mancur.

Pada hari Sabtu sore juga, anak kecil dengan sandal jepit yang tak pernah mau tergantikan bergambar Panji Millenium, mampir ke kedai tersebut bersama bapak ibunya. Ada hidangan yang belum pernah ia coba, Wedang Ronde. Ya Tuhan, sampai saat ini pun hidangan itu menjadi kesukaanku. Kau tahu, bahkan saat itu hujan sedang turun deras. Ia duduk di antara bapak dan ibu, menikmati semangkuk Wedang Ronde yang hangat. Bisa kau bayangkan betapa waktu tersebut adalah salah satu yang ternyaman. Lengkap, apa lagi yang lebih dari kasih orang tua dan kehangatan? Dulu ia tak bisa menghabiskannya, rasanya pedas dan jahenya terlalu menyengat.

***
Namun sekarang aku menyukainya. Rasa dan aromanya selalu membawaku bernostalgia pada waktu-waktu terbaik itu. Mengobati kerinduanku pada suasana dan diri kecilku. Aku tak bisa mengulang semuanya, karena tempat ternyaman sekarang adalah rumah, dimana ada bapak yang menonton pertandingan bola di tv dan ibu yang membuat pisang goreng, apalagi ketika hari sedang hujan. Bukan taman lagi ataupun toko kue. Aku tidak lagi merengek untuk pergi ke taman dan tidak  lagi bermain-main. Biarkan tulisan ini sebagai perekam kenangan masa itu agar tidak terlupa, pada Lapis Surabaya, Black Forest, dan Wedang Ronde. Juga pada senja dan hujan di Taman Air Mancur Minggu Raya, yang sudah memberikan segala pesonanya pada anak kecil yang mengenakan hoodie Pikachu, bersandal Panji Millenium.

Senang untuk menuliskan hal ini, karena sangat mengobati.