Hari ini akan jadi cerita untuk
esok. Kita bisa ceritakan bahwa dunia hari ini sedang sakit, semua terasa jadi
aneh. Rumah pada hari ini benar-benar ditempatkan pada definisinya, tempat
berlindung. Angka kematian jadi hal paling sering kita dengar dan lihat.
Proteksi kita seakan difokuskan pada kesehatan. Hari ini, kesehatan jadi modal
utama untuk bertahan di tengah pandemi ini. Ya, pandemi. Hari ini kita
menghadapi pandemi, yang mengalahkan segala topik, melumpuhkan segala
rutinitas, melemahkan prospek di berbagai bidang. Semua perhatian terarah
padanya.
Persis seperti Raja Namrud yang
mati karena seekor nyamuk kecil masuk ke telinganya, begitulah keadaan kita
hari ini. Dulu kita dimanjakan dengan berbagai kebanggaan. Banyak yang bisa
kita sombongkan. Kita dibuat lupa pada Yang Maha Mengatur. Bahwa kita
sebenarnya tak punya apa-apa, bahkan nyawa kita adalah miliknya. Kita lupa.
Atau mungkin ingat, tapi terlalu tinggi kita menilai diri masing-masing hingga
keyakinan kita mengenai diri sendiri sudah melampaui batas. Kita kira umur kita
akan panjang, ratusan tahun mungkin. Kita kira harta jadi hal utama untuk
hidup, hingga kita terus mencari tanpa henti. Kita kira sakit hanya untuk di
hari tua, ternyata datangnya bisa kapanpun. Kita kira kematian masih lama
sekali, ternyata kematian tak hanya datang untuk mereka yang usia senja.
Saat ini, setiap hari banyak
orang berusaha berpikir positif terhadap pandemi ini. Menyajikan hal-hal
menyenangkan dan menenangkan demi mengalihkan kecemasan. Kecemasan akan
berbagai berita hasil konfirmasi korban pandemik, kecemasan kenaikan harga
kebutuhan sehari-hari, kecemasan akan unggahan-unggahan mengenai hari kiamat.
Jadi, kita punya ketakutan yang sama dan sama-sama tidak punya kesiapan. Kita bisa
bertahan untuk tetap tenang dan berusaha bahagia adalah karena Tuhan masih mau
menggerakkan tangan-tangan dan mulut sebagian dari kita untuk berkarya dan
menghibur, memberi tips-tips jaga kesehatan dengan bahasa santai dan
menyenangkan, ada juga yang berusaha mati-matian mencari sisi baik dari
peristiwa ini. Agar kita tidak tertekan, karena dikhawatirkan hal itu dapat
mengganggu kerja sistem kekebalan tubuh. Ternyata mereka juga sangat berjasa
sekali, ikut serta dalam mencegah dan secara tidak langsung membantu para
tenaga kesehatan yang ibaratnya jadi tameng terdepan dalam perang melawan virus
yang sedang kita hadapi. Karya dan hiburan dari mereka setidaknya banyak sekali
memberikan informasi positif agar kita tidak suntuk untuk di rumah saja.
Pada paragraf ini, mari kita
mencoba untuk berpikir. Apa kabar kita hari ini? Hari ini Tuhan masih beri kita
hidup untuk memikirkan lagi esensi diri kita. Dari lumpuhnya rutinitas,
imunitas yang labil, hingga serangan makhluk kecil secara global yang merubah
sebagian aktivitas harian kita. Apa arti dari diri kita sebenarnya? Kita lemah,
Tuhan ternyata tak beri kekuatan penuh pada kita. Kita bukan manusia super, dan
sungguh Tuhanlah yang Maha Raja. Mungkin kita harus belajar lagi dari cerita
Raja Namrud yang pernah mengaku sebagai tuhan karena banyak hal yang bisa
dibanggakannya. Pada akhirnya, semua berubah hanya karena seekor nyamuk.
Melihat dari partisipasi banyak pihak dalam penanganan pandemi ini, kita
bisa lihat artinya tolong-menolong, saling hibur, dan keikhlasan. Apa lagi arti
dari diri kita? Ternyata kita memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Kita
tidak bisa hidup sendiri. Kita perlu bantuan orang lain. Hari ini contohnya. Tenaga
kesehatan dikerahkan, pemerintah ikut sibuk mengurus ini dan itu, hingga
siapapun yang punya bakat menghibur ikut turun tangan demi mengurangi kecemasan
dan kesuntukan lewat berbagai media. Agar jiwa kita tidak tertekan. Meski kita
tahu, mereka juga sama-sama punya ketakutan. Apalagi pedagang rempah-rempah dan
pedagang jamu, kita sangat perlu mereka. Di tengah pandemi ini, kita jadi
siapa? Kita hanya makhluk yang ketakutan lalu ditolong Tuhan lewat bantuan dari
mereka. Kita diminta diam di rumah, banyak baca doa, makan minum bergizi dan
istirahat yang cukup. Bila perlu hiburan, tinggal pilih saja, mau menonton atau
membaca. Kita tidak ikut bertaruh nyawa atau mengorbankan apa yang kita punya.
Ternyata, esensi dari diri kita hanya kelemahan dan ketidakberdayaan. Kita
perlu Tuhan yang menolong kita lewat cara-Nya. Entah kita menyukai cara
tersebut atau tidak. Tuhan sedang menolong kita sebenarnya. Tuhan beri kita
waktu untuk belajar lagi. Belajar untuk mendekat pada-Nya lagi lewat peristiwa pandemi. Seperti hari
ini contohnya. Karena Tuhan lebih tahu siapa kita, makhluk lemah dan tidak
berdaya. Kita diminta untuk mendekat, bila kita terlalu menjauh, takutnya pertolongan Tuhan akan menjauh
juga. Sedangkan kita adalah makhluk lemah dan tak berdaya, tentu tak bisa
apa-apa tanpa Tuhan. Sungguh, Tuhan Maha Penyayang.