Sabtu, 04 April 2020

Esensi atas Pandemi

  Apa kabar dunia hari ini?

                Hari ini akan jadi cerita untuk esok. Kita bisa ceritakan bahwa dunia hari ini sedang sakit, semua terasa jadi aneh. Rumah pada hari ini benar-benar ditempatkan pada definisinya, tempat berlindung. Angka kematian jadi hal paling sering kita dengar dan lihat. Proteksi kita seakan difokuskan pada kesehatan. Hari ini, kesehatan jadi modal utama untuk bertahan di tengah pandemi ini. Ya, pandemi. Hari ini kita menghadapi pandemi, yang mengalahkan segala topik, melumpuhkan segala rutinitas, melemahkan prospek di berbagai bidang. Semua perhatian terarah padanya. 

                Persis seperti Raja Namrud yang mati karena seekor nyamuk kecil masuk ke telinganya, begitulah keadaan kita hari ini. Dulu kita dimanjakan dengan berbagai kebanggaan. Banyak yang bisa kita sombongkan. Kita dibuat lupa pada Yang Maha Mengatur. Bahwa kita sebenarnya tak punya apa-apa, bahkan nyawa kita adalah miliknya. Kita lupa. Atau mungkin ingat, tapi terlalu tinggi kita menilai diri masing-masing hingga keyakinan kita mengenai diri sendiri sudah melampaui batas. Kita kira umur kita akan panjang, ratusan tahun mungkin. Kita kira harta jadi hal utama untuk hidup, hingga kita terus mencari tanpa henti. Kita kira sakit hanya untuk di hari tua, ternyata datangnya bisa kapanpun. Kita kira kematian masih lama sekali, ternyata kematian tak hanya datang untuk mereka yang usia senja.

                Saat ini, setiap hari banyak orang berusaha berpikir positif terhadap pandemi ini. Menyajikan hal-hal menyenangkan dan menenangkan demi mengalihkan kecemasan. Kecemasan akan berbagai berita hasil konfirmasi korban pandemik, kecemasan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, kecemasan akan unggahan-unggahan mengenai hari kiamat. Jadi, kita punya ketakutan yang sama dan sama-sama tidak punya kesiapan. Kita bisa bertahan untuk tetap tenang dan berusaha bahagia adalah karena Tuhan masih mau menggerakkan tangan-tangan dan mulut sebagian dari kita untuk berkarya dan menghibur, memberi tips-tips jaga kesehatan dengan bahasa santai dan menyenangkan, ada juga yang berusaha mati-matian mencari sisi baik dari peristiwa ini. Agar kita tidak tertekan, karena dikhawatirkan hal itu dapat mengganggu kerja sistem kekebalan tubuh. Ternyata mereka juga sangat berjasa sekali, ikut serta dalam mencegah dan secara tidak langsung membantu para tenaga kesehatan yang ibaratnya jadi tameng terdepan dalam perang melawan virus yang sedang kita hadapi. Karya dan hiburan dari mereka setidaknya banyak sekali memberikan informasi positif agar kita tidak suntuk untuk di rumah saja.  

                Pada paragraf ini, mari kita mencoba untuk berpikir. Apa kabar kita hari ini? Hari ini Tuhan masih beri kita hidup untuk memikirkan lagi esensi diri kita. Dari lumpuhnya rutinitas, imunitas yang labil, hingga serangan makhluk kecil secara global yang merubah sebagian aktivitas harian kita. Apa arti dari diri kita sebenarnya? Kita lemah, Tuhan ternyata tak beri kekuatan penuh pada kita. Kita bukan manusia super, dan sungguh Tuhanlah yang Maha Raja. Mungkin kita harus belajar lagi dari cerita Raja Namrud yang pernah mengaku sebagai tuhan karena banyak hal yang bisa dibanggakannya. Pada akhirnya, semua berubah hanya karena seekor nyamuk.

Melihat dari partisipasi banyak pihak dalam penanganan pandemi ini, kita bisa lihat artinya tolong-menolong, saling hibur, dan keikhlasan. Apa lagi arti dari diri kita? Ternyata kita memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita perlu bantuan orang lain. Hari ini contohnya. Tenaga kesehatan dikerahkan, pemerintah ikut sibuk mengurus ini dan itu, hingga siapapun yang punya bakat menghibur ikut turun tangan demi mengurangi kecemasan dan kesuntukan lewat berbagai media. Agar jiwa kita tidak tertekan. Meski kita tahu, mereka juga sama-sama punya ketakutan. Apalagi pedagang rempah-rempah dan pedagang jamu, kita sangat perlu mereka. Di tengah pandemi ini, kita jadi siapa? Kita hanya makhluk yang ketakutan lalu ditolong Tuhan lewat bantuan dari mereka. Kita diminta diam di rumah, banyak baca doa, makan minum bergizi dan istirahat yang cukup. Bila perlu hiburan, tinggal pilih saja, mau menonton atau membaca. Kita tidak ikut bertaruh nyawa atau mengorbankan apa yang kita punya.

Ternyata, esensi dari diri kita hanya kelemahan dan ketidakberdayaan. Kita perlu Tuhan yang menolong kita lewat cara-Nya. Entah kita menyukai cara tersebut atau tidak. Tuhan sedang menolong kita sebenarnya. Tuhan beri kita waktu untuk belajar lagi. Belajar untuk mendekat pada-Nya lagi lewat peristiwa pandemi. Seperti hari ini contohnya. Karena Tuhan lebih tahu siapa kita, makhluk lemah dan tidak berdaya. Kita diminta untuk mendekat, bila kita terlalu menjauh, takutnya pertolongan Tuhan akan menjauh juga. Sedangkan kita adalah makhluk lemah dan tak berdaya, tentu tak bisa apa-apa tanpa Tuhan. Sungguh, Tuhan Maha Penyayang.