Aku tahu bahwa semua ini hanya urusan
pasang surut. Tentang menjaga, yang pasti tak akan mudah untuk bisa bertahan.
Tentang kalbu, yang tak pandai merawat prasangka. Tentang seluruh indera yang
kadang kalah dikendalikan nafsu atau berhasil menang mengikuti akal.
Biarkan
setiap hari menjadi waktuku untuk belajar. Belajar tentang pasang surut itu, membuatnya sebagai bahan koreksi demi
diri yang masih banyak salahnya, yang banyak tidak tahunya, yang tak pandai
atur hati alias banyak emosinya.
Satu
dari sekian banyak urusan pasang surut
adalah marah. Susah sekali mengaturnya. Kadang meluap, kadang pula
memendam. Padahal aku tahu bahayanya, sama-sama bisa jadi penyakit. Banyak
orang bilang bahwa marah harus dilampiaskan, untuk mengembalikan kondisi jiwa
seperti sedia kala.
Lalu
kulihat, banyak sekali praktiknya. Dengan cara berteriak, tinju samsak, pecah
piring, atau balas marah lagi. Jika tujuannya untuk mengembalikan kondisi jiwa
seperti sedia kala, kenapa harus menghadirkan emosi yang ujung-ujungnya dalam
bentuk kemarahan juga? Aku pernah mencoba, sayangnya cara-cara itu tak dapat
mengobati.
Aku
kadang malu, istilah Islam KTP boleh jadi pantas diberikan padaku sebagai
keterangan. Perilaku serta kekosongan ilmuku sama sekali tak mencerminkan agama
yang kuanut. Islam, kekayaan ilmu dan pembuka peradaban. Hingga tentang marah
pun aku luput.
Sungguh
lembut ternyata Islam mengajarkan cara mengobati marah. Bukan dengan cara
dilampiaskan. Bukan. Seperti api, marah itu adalah dipadamkan. Dihilangkan.
Sungguh indah logika islam, bahwa marah itu berasal dari setan, yang mana setan
itu diciptakan dari api, lalu api bisa dipadamkan dengan air, maka bila marah
hendaklah berwudhu. Dengan cara ini, maka tak ada yang tersakiti.
Berwudhu
membawa banyak manfaat. Terlepas dari gugurnya dosa-dosa kecil yang terbawa air
dari anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu, air wudhu juga berguna bagi
kesehatan. Tentu ini fakta, bukan mengada-ada.
Bagian
tubuh yang dibasuh saat berwudhu memiliki jutaan sel saraf yang akan bereaksi
saat terkena air wudhu sehingga membuat tubuh rileks dan bahagia. Singkat saja,
manfaatnya ialah dapat mengeluarkan toksik dari dalam darah yang dikeluarkan
oleh ginjal. Prosesnya ketika air menyentuh kulit, maka kelenjar keringat akan
langsung menyedot racun dalam darah dan membuangnya melalui bulu-bulu halus
yang tumbuh di kulit dan akhirnya disapu bersih oleh air wudhu.
Jantung
pun akan langsung memompa darah dengan kuat menuju kepala, telapak tangan, dan
kaki. Ini adalah reaksi alami untuk menormalkan kembali suhu tubuh. Berwudhu
juga dapat dijadikan sebagai pencegahan terhadap kuman yang dapat merugikan.
Karena tangan, mulut, dan hidung adalah bagian yang paling berpengaruh dalam
penyebaran penyakit. Sehingga dengan wudhu, kuman yang menempel dapat
dibersihkan.
Luar
biasa, Islam menyajikan paradigma yang menyimpan berbagai pengetahuan yang
bermanfaat bagi umat sebagai panduan untuk tetap berjalan pada kebenaran. Marah
ibarat hanya setitik dari sekian urusan pasang surut. Semoga dengan belajar
untuk mencoba merasakan sedikit demi sedikit kebenaran-Nya, kita ditempatkan di
antara hamba-hamba yang dirahmati-Nya. Aamiin.