Minggu, 31 Mei 2020

Setitik dalam Pasang Surut



Aku tahu bahwa semua ini hanya urusan pasang surut. Tentang menjaga, yang pasti tak akan mudah untuk bisa bertahan. Tentang kalbu, yang tak pandai merawat prasangka. Tentang seluruh indera yang kadang kalah dikendalikan nafsu atau berhasil menang mengikuti akal.

            Biarkan setiap hari menjadi waktuku untuk belajar. Belajar tentang pasang surut  itu, membuatnya sebagai bahan koreksi demi diri yang masih banyak salahnya, yang banyak tidak tahunya, yang tak pandai atur hati alias banyak emosinya.

            Satu dari sekian banyak urusan pasang surut  adalah marah. Susah sekali mengaturnya. Kadang meluap, kadang pula memendam. Padahal aku tahu bahayanya, sama-sama bisa jadi penyakit. Banyak orang bilang bahwa marah harus dilampiaskan, untuk mengembalikan kondisi jiwa seperti sedia kala.

            Lalu kulihat, banyak sekali praktiknya. Dengan cara berteriak, tinju samsak, pecah piring, atau balas marah lagi. Jika tujuannya untuk mengembalikan kondisi jiwa seperti sedia kala, kenapa harus menghadirkan emosi yang ujung-ujungnya dalam bentuk kemarahan juga? Aku pernah mencoba, sayangnya cara-cara itu tak dapat mengobati.

            Aku kadang malu, istilah Islam KTP boleh jadi pantas diberikan padaku sebagai keterangan. Perilaku serta kekosongan ilmuku sama sekali tak mencerminkan agama yang kuanut. Islam, kekayaan ilmu dan pembuka peradaban. Hingga tentang marah pun aku luput.

            Sungguh lembut ternyata Islam mengajarkan cara mengobati marah. Bukan dengan cara dilampiaskan. Bukan. Seperti api, marah itu adalah dipadamkan. Dihilangkan. Sungguh indah logika islam, bahwa marah itu berasal dari setan, yang mana setan itu diciptakan dari api, lalu api bisa dipadamkan dengan air, maka bila marah hendaklah berwudhu. Dengan cara ini, maka tak ada yang tersakiti.

            Berwudhu membawa banyak manfaat. Terlepas dari gugurnya dosa-dosa kecil yang terbawa air dari anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu, air wudhu juga berguna bagi kesehatan. Tentu ini fakta, bukan mengada-ada.

            Bagian tubuh yang dibasuh saat berwudhu memiliki jutaan sel saraf yang akan bereaksi saat terkena air wudhu sehingga membuat tubuh rileks dan bahagia. Singkat saja, manfaatnya ialah dapat mengeluarkan toksik dari dalam darah yang dikeluarkan oleh ginjal. Prosesnya ketika air menyentuh kulit, maka kelenjar keringat akan langsung menyedot racun dalam darah dan membuangnya melalui bulu-bulu halus yang tumbuh di kulit dan akhirnya disapu bersih oleh air wudhu.

            Jantung pun akan langsung memompa darah dengan kuat menuju kepala, telapak tangan, dan kaki. Ini adalah reaksi alami untuk menormalkan kembali suhu tubuh. Berwudhu juga dapat dijadikan sebagai pencegahan terhadap kuman yang dapat merugikan. Karena tangan, mulut, dan hidung adalah bagian yang paling berpengaruh dalam penyebaran penyakit. Sehingga dengan wudhu, kuman yang menempel dapat dibersihkan.

            Luar biasa, Islam menyajikan paradigma yang menyimpan berbagai pengetahuan yang bermanfaat bagi umat sebagai panduan untuk tetap berjalan pada kebenaran. Marah ibarat hanya setitik dari sekian urusan pasang surut. Semoga dengan belajar untuk mencoba merasakan sedikit demi sedikit kebenaran-Nya, kita ditempatkan di antara hamba-hamba yang dirahmati-Nya. Aamiin.