Senin, 21 September 2020

Pertanyaan tentang Sebuah Kasih

        Aku bekerja di sebuah taman kanak-kanak. Bagian administrasi atau pencatatan. Jika mengikuti keinginanku, maka aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, namun inilah jawaban yang diberikan Tuhan untuk saat ini. Sungguh, aku tak pernah membayangkan. Tapi beginilah realita membawaku, aku belajar untuk menikmati saja apa yang ada. Awal-awal, semua terasa biasa bahkan aku selalu ingin menghindar atau mencari teman untuk suatu tugas. Aku lambat beradaptasi.

            Aku tak pernah mengakui bahwa aku sangat menyukai anak kecil. Aku hanya suka anak kecil dengan cara sekadarnya. Bukan sangat. Namun, lambat laun seiring waktu aku mulai melihat bagaimana ada sesuatu pada wajah anak-anak tersebut yang bisa membuat tersenyum. Lama-lama, ada sedikit rasa sayang pada mereka, dimulai ketika mereka bertanya, memberikan sesuatu, atau meminta tolong. Semakin, aku akrab dengan suasana dan kegaduhan yang mereka ciptakan. Terkadang aku hanya memperhatikan saja sambil tersenyum.

            Dari sana juga, aku seakan melihat banyak keajaiban yang selama ini tidak terlihat olehku. Aku melihat kasih sayang orang tua kepada anaknya. Bukan berarti hidupku jauh dari kasih orang tua. Bukan. Hanya saja, aku baru menyadari bagaimana usaha orang tua untuk anaknya, memberikan segala yang terbaik, dan intinya orang tua tidak ingin anaknya kenapa-kenapa. Banyak orang tua dengan wajah lelahnya datang ke TK dengan meninggalkan sebentar pekerjaannya untuk menjemput anak, ketika melihat wajah sang anak, kulihat kelelahan itu sebagian banyak terhapus dan berganti senyuman. Rupanya, begitu juga orang tuaku dulu. Aku baru melihat secara dekat hal itu.

            Aku menulis ini karena aku baru sadar, bahwa beginilah sebuah hikmah dari apa yang dulu mungkin tidak kuharapkan, tidak kusangka. Ternyata aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat baik. Jujur, aku dulu sempat mempertanyakan bagaimana kasih orang tuaku, mengapa aku tak diperlakukan sama dengan temanku yang lain, tidak diberikan perhatian yang berlebih? Anehnya, aku bertanya hal itu hanya ketika aku marah saja, atau sedang kesal. Padahal, tak ada bedanya antara aku dan teman-temanku.

            Kini aku lebih paham, bahwa tidak semua orang tua dapat menunjukkan rasa kasihnya secara langsung. Tapi jika kau tanya hatinya, kasih itu tak pernah habis untuk memberikan jawabannya. Terima kasih, ibu dan bapak.

***

            Untuk mengusir rasa bosan, terkadang aku mencoba untuk keluar dari rumah. Melihat jalan yang belum pernah kulintasi, mencoba lebih akrab dengan hiruk pikuk kota, mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya kulewati dengan rasa penasaran, dan lain sebagainya. Semua lebih banyak kulakukan dengan seorang diri. Di sana, aku mulai melihat juga bahwa ternyata masih banyak orang baik, masih banyak orang yang peduli, dan murah senyum. Semua itu kuamati ketika aku sedang bingung, bertanya, atau meminta bantuan karena suatu hal.

            Mungkin bagi orang lain, pengalamanku hanya pengalaman yang biasa. Jauh di luar sana, aku tahu banyak orang yang berjuang lebih daripada diriku. Tapi juga, aku tahu di luar sana pun ada tersimpan jiwa-jiwa seperti diriku, untuk itulah aku membagi apa yang telah kudapat. Jika tidak membantu, biarlah tulisan ini sebagai penghibur, juga sebagai teman bahwa kau tidak sendirian. Ada diriku. Kita sama.

***

            Kini aku belajar, jiwa rapuh ini tak selemah yang kupikirkan dulu. Jiwa rapuh ini masih bisa bertahan, masih bisa diajak melewati, melawan, meski tambah terluka. Tapi ia tetap sampai, dengan selamat. Apapun hambatannya. Dan aku tahu, kesendirian kadang menyakitkan, tapi terkadang ia menunjukkan keindahannya ketika aku benar-benar menikmati. Karena aku tahu bahwa Tuhan tak pernah pergi. Aku tak perlu mencari orang-orang untuk mengelilingiku sebagai teman, tak perlu mengharap sahabat terbaik untuk selalu ada di saat susah. Kini aku mengerti bahwa tak ada yang harus kumiliki untuk setiap waktu. Susah atau senang. Karena orang-orang selalu datang dan pergi. Mereka yang datang, bukan berarti ada untukku selamanya.

            Menghargai. Aku menghargai setiap mereka yang hadir dalam perjalanan hidupku ini.  Ingat, aku tak pernah memaksa seseorang untuk menetap dalam hidupku. Aku tak pernah berusaha untuk mencari seseorang yang bisa dijadikan teman. Tidak pernah. Tapi bukan berarti aku harus berjalan sendiri dan tidak perlu mereka. Hadirnya mereka, singkat atau lama, itu bukan suatu kebetulan. Aku yakin semua terjadi karena sebab-akibat. Ia sudah ditulis oleh-Nya, untukku. Sungguh, aku sangat berterima kasih telah bertemu orang-orang yang akhirnya kukenal dengan berbagai macam karakter, sifat, dan pandangan. Siapapun itu, aku sangat menghargai. Meski aku bukan orang yang bisa selalu bertegur sapa, bercanda gurau dengan setiap mereka yang kukenal, atau membuat mereka menyukai keberadaanku. Aku tidak bisa memaksa mereka menyukaiku sepenuhnya, namun dengan hormat, aku berterima kasih.

            Atas segala masa lalu, kini segala hal yang dulu tak pernah kulihat, tak pernah kumengerti, dan tak pernah kualami, justru membuatku menjadi lebih baik dan merasa lebih bersyukur. Jika dulu aku sempat menyesal, maka sekarang aku tahu bahwa Tuhan ingin aku belajar lagi, dengan tidak menjadi seburuk diriku yang dulu. Alhamdulillah.

 

Wahai jiwa-jiwa yang sunyi,

Wahai jiwaku…

Kau mungkin payah, cengeng, juga takut,

jika kau tak mampu untuk berlari,

berjalanlah.

Hingga kau temukan titik cahaya

yang perlahan terang.

                 

            Itu untukmu.

            Ambillah.

            Ceritakan apa yang telah kau lalui,

            tumpahkan air matamu atas pedihnya kemarin,

            beri tahu segelap apa jalan yang menelan keberanianmu.

            Lalu, tengoklah lagi ke belakang.

            Lihat, kau masih baik-baik saja.


2017