Barangkali
ini adalah hal biasa bagi orang lain, tapi karena aku baru mengerti maka
biarkan tulisan ini bicara semaunya. Ini tentang ilmu di dapur. Jangan diejek
dulu, aku memang terbilang jarang untuk turun tangan membantu ibu di dapur,
tapi aku tahu bagaimana teknik melelehkan coklat agar tidak gosong, aku juga
tahu tingkat kematangan daging, aku tahu bagaimana teknik menggoreng ikan agar
tidak menimbulkan ledakan minyak, aku juga tahu bahwa sendok kayu lebih baik
dibanding sendok aluminium untuk digunakan mengaduk campuran air hangat dan
madu. Aku suka memasak, asal jangan disuruh. Apa kalian begitu juga? Suka
bersih-bersih, asal jangan disuruh. Suka mencuci, asal jangan disuruh. Bila ada
yang begitu juga, berarti aku tidak sendirian.
Mengenai
ilmu di dapur, aku bukan ingin membahas masak-memasak secara teknik. Bukan
bagaimana cara menanak nasi dengan benar, bukan bagaimana memegang pisau dapur
dengan benar, atau bagaimana cara membuat kue agar mengembang sempurna. Bukan.
Bukan itu.
Namanya
saja ilmu, dimensinya luas sekali. Ada yang bisa diterima oleh logika, ada juga
yang hanya bisa diterima oleh nurani. Pasti pernah dengar kalimat, “kamu adalah
apa yang kamu makan”. Adalah benar bila dibuat penjelasan panjang bahwa kondisi
kesehatan seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimakannya. Hal ini tentu tidak
memicu sanggahan dari orang lain karena memang masuk akal.
Perlu
diingat lagi, dimensi ilmu itu luas sekali. Seperti kalimat “bekerjalah untuk
duniamu seolah kau hidup selamanya,” dari sini kita berasumsi bahwa kalimat
tersebut seakan menganjurkan kita untuk terus bergerak mencari hidup yang
sejahtera. Namun ternyata ada sisi lain yang sudut pandangnya justru terbalik,
bahwa kita tidak mungkin selamanya hidup di dunia jadi jangan terlalu berkutat
pada hal keduniawian. Kadang kita tidak sadar bila suatu kalimat dapat
menimbulkan perbedaan persepsi yang memunculkan polarisasi. Sekarang, kita
lihat diri kita dahulu. Selama ini mengikuti persepsi yang mana?
Sama
halnya dengan kalimat “kamu adalah apa yang kamu makan”, yang berkaitan dengan
urusan kesehatan tubuh. Kalimat ini bukan melahirkan dua persepsi yang
terbalik, tapi dua persepsi yang beriringan.
Dari yang pernah kudengar,
mengapa penting sekali untuk membawa
bekal dari rumah? (Waktu kecil, kita selalu bawa bekal, kan?) karena itu
masakan rumah. Dibuat dengan niat dari pengolahnya yang mengharapkan kesehatan,
keberkahan, dan sebagainya untuk yang akan mengonsumsi makanan tersebut. Bukan
hanya terjaminnya kesehatan yang dituju, tapi ada hal baik lainnya yang
dilangitkan melalui perantara niat atas makanan yang diolah untuk dikonsumsi.
Harapan yang lebih daripada kesehatan.
Ada juga yang bilang, yang menyebabkan
seseorang sehat dan cerdas bukan karena makanan empat sehat lima sempurna,
tetapi karena keridhoan Tuhan. Benar juga, terkadang ridho Tuhan itu turun
melalui perantara makanan yang kita konsumsi. Yang lebih esensial lagi, ridho
Tuhan turun melalui perantara niat yang mengolah makanan. Jika yang menyiapkan
makanan adalah orang yang selalu mendoakan kita dengan ketulusan, maka
beruntunglah kita.
Jadi, di dapur rumah itu ada banyak hal
yang tidak kita sadari. Mulai dari memikirkan ingin masak apa, menciptakan
rasa, melangitkan harapan, hingga menghadirkan niat tulus demi keridhoan-Nya
untuk meraih keberkahan. Aku juga pernah mendengar guruku bercerita, bahwa
beliau selalu membuatkan bekal untuk anaknya. Setiap hari selama anaknya
sekolah. Dari beliau juga ilmu dapur ini kudapatkan.
Oh ya, ternyata ada lagi, ilmu di dapur
juga memuat bagaimana cara melembutkan hati. Ini bukan teknik, tapi amalan. Mencuci
beras dengan gerakan tangan yang berlawanan arah dengan jalan jarum jam serta
senantiasa melafalkan shalawat. Ini satu ikhtiar untuk melembutkan hati. Amalan
adalah rangkaian ibadah, maka gunakan nurani untuk percaya agar bisa menerima.
Berlogika hanya akan menyulitkan kita untuk menghubungkan antara kondisi hati
dengan bagaimana cara memasak makanan.
Makanan rumah bukan hanya urusan
mengenyangkan dan higienis. Lebih dari itu, ini tentang keberkahan dan
keridhoan. Dari hal ini, semoga kita dapat mengerti bagaimana pentingnya niat
sebagai pondasi utama dalam suatu ibadah, salah satunya dalam hal menyiapkan
hidangan olahan sendiri yang juga memiliki nilai ikhtiar.