Senin, 12 Juli 2021

Ilmu Dapur

 

                Barangkali ini adalah hal biasa bagi orang lain, tapi karena aku baru mengerti maka biarkan tulisan ini bicara semaunya. Ini tentang ilmu di dapur. Jangan diejek dulu, aku memang terbilang jarang untuk turun tangan membantu ibu di dapur, tapi aku tahu bagaimana teknik melelehkan coklat agar tidak gosong, aku juga tahu tingkat kematangan daging, aku tahu bagaimana teknik menggoreng ikan agar tidak menimbulkan ledakan minyak, aku juga tahu bahwa sendok kayu lebih baik dibanding sendok aluminium untuk digunakan mengaduk campuran air hangat dan madu. Aku suka memasak, asal jangan disuruh. Apa kalian begitu juga? Suka bersih-bersih, asal jangan disuruh. Suka mencuci, asal jangan disuruh. Bila ada yang begitu juga, berarti aku tidak sendirian.

            Mengenai ilmu di dapur, aku bukan ingin membahas masak-memasak secara teknik. Bukan bagaimana cara menanak nasi dengan benar, bukan bagaimana memegang pisau dapur dengan benar, atau bagaimana cara membuat kue agar mengembang sempurna. Bukan. Bukan itu.

            Namanya saja ilmu, dimensinya luas sekali. Ada yang bisa diterima oleh logika, ada juga yang hanya bisa diterima oleh nurani. Pasti pernah dengar kalimat, “kamu adalah apa yang kamu makan”. Adalah benar bila dibuat penjelasan panjang bahwa kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimakannya. Hal ini tentu tidak memicu sanggahan dari orang lain karena memang masuk akal.

            Perlu diingat lagi, dimensi ilmu itu luas sekali. Seperti kalimat “bekerjalah untuk duniamu seolah kau hidup selamanya,” dari sini kita berasumsi bahwa kalimat tersebut seakan menganjurkan kita untuk terus bergerak mencari hidup yang sejahtera. Namun ternyata ada sisi lain yang sudut pandangnya justru terbalik, bahwa kita tidak mungkin selamanya hidup di dunia jadi jangan terlalu berkutat pada hal keduniawian. Kadang kita tidak sadar bila suatu kalimat dapat menimbulkan perbedaan persepsi yang memunculkan polarisasi. Sekarang, kita lihat diri kita dahulu. Selama ini mengikuti persepsi yang mana?

            Sama halnya dengan kalimat “kamu adalah apa yang kamu makan”, yang berkaitan dengan urusan kesehatan tubuh. Kalimat ini bukan melahirkan dua persepsi yang terbalik, tapi dua persepsi yang beriringan.

Dari yang pernah kudengar,

mengapa penting sekali untuk membawa bekal dari rumah? (Waktu kecil, kita selalu bawa bekal, kan?) karena itu masakan rumah. Dibuat dengan niat dari pengolahnya yang mengharapkan kesehatan, keberkahan, dan sebagainya untuk yang akan mengonsumsi makanan tersebut. Bukan hanya terjaminnya kesehatan yang dituju, tapi ada hal baik lainnya yang dilangitkan melalui perantara niat atas makanan yang diolah untuk dikonsumsi. Harapan yang lebih daripada kesehatan.

Ada juga yang bilang, yang menyebabkan seseorang sehat dan cerdas bukan karena makanan empat sehat lima sempurna, tetapi karena keridhoan Tuhan. Benar juga, terkadang ridho Tuhan itu turun melalui perantara makanan yang kita konsumsi. Yang lebih esensial lagi, ridho Tuhan turun melalui perantara niat yang mengolah makanan. Jika yang menyiapkan makanan adalah orang yang selalu mendoakan kita dengan ketulusan, maka beruntunglah kita.

Jadi, di dapur rumah itu ada banyak hal yang tidak kita sadari. Mulai dari memikirkan ingin masak apa, menciptakan rasa, melangitkan harapan, hingga menghadirkan niat tulus demi keridhoan-Nya untuk meraih keberkahan. Aku juga pernah mendengar guruku bercerita, bahwa beliau selalu membuatkan bekal untuk anaknya. Setiap hari selama anaknya sekolah. Dari beliau juga ilmu dapur ini kudapatkan.

Oh ya, ternyata ada lagi, ilmu di dapur juga memuat bagaimana cara melembutkan hati. Ini bukan teknik, tapi amalan. Mencuci beras dengan gerakan tangan yang berlawanan arah dengan jalan jarum jam serta senantiasa melafalkan shalawat. Ini satu ikhtiar untuk melembutkan hati. Amalan adalah rangkaian ibadah, maka gunakan nurani untuk percaya agar bisa menerima. Berlogika hanya akan menyulitkan kita untuk menghubungkan antara kondisi hati dengan bagaimana cara memasak makanan.

Makanan rumah bukan hanya urusan mengenyangkan dan higienis. Lebih dari itu, ini tentang keberkahan dan keridhoan. Dari hal ini, semoga kita dapat mengerti bagaimana pentingnya niat sebagai pondasi utama dalam suatu ibadah, salah satunya dalam hal menyiapkan hidangan olahan sendiri yang juga memiliki nilai ikhtiar.