Bagaimana
Ramadhan kita di tahun ini?
Adalah
hal mudah bila hanya menahan perut yang lapar dan dahaga, tapi esensi Bulan
Suci Ramadhan tentulah tidak sesederhana itu. Banyak hal yang terjadi dari
dalam tubuh kita sendiri, bahkan bisa jadi selama ini kita tidak pernah
menyadarinya. Mungkin tulisan ini sangat terlambat dan tertinggal jauh, apalagi
si fakir ilmu ini juga masih banyak khilaf hingga merasa takut tak bisa
mengamalkan apa yang telah ditulisnya. Tetapi pada satu waktu, ia membaca
sebuah kalimat yang dikutip dari Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, “Sebesar
apapun dosamu kepada Allah, jangan putus asa kepada-Nya. Allah tidak akan
berpaling darimu selama kau tidak berpaling dari-Nya. Teruslah kembali walaupun
nafsumu berkali-kali mengalahkanmu.”
Terima
kasih kepada para penyebar ilmu. Bila tulisan tersebut tidak pernah sampai
kepada si fakir ilmu ini, bagaimanalah hati dan pikiran yang sudah penuh akan
dosa ini dapat berlepas dari keraguan yang sia-sia.
Sudah
tinggal menghitung hari. Menghitung hari bahwa Ramadhan akan segera berlalu. Ternyata
ada banyak sekali keistimewaan Ramadhan yang terlewatkan oleh si fakir ilmu
ini. Dia tidak tahu bahwa tubuh dan situasi dapat diajak bicara, bahwa
memaafkan dapat mengobati, bahwa niat dapat menguatkan. Dia bahkan tidak tahu
bahwa di dalam doa, koneksi dapat tercipta antara dia dengan Dzat maupun jiwa
lainnya.
Ternyata
kegiatan puasa memang bukan hanya urusan menahan haus, lapar, juga nafsu. Lebih
dari itu, terjadi mekanisme luar biasa dalam tubuh kita yang tidak kita sadari.
Berpuasa dapat menciptakan suasana tenang dalam tubuh kita sehingga dapat
menurunkan hormon adrenalin. Hormon adrenalin adalah hormon yang memicu reaksi
terhadap kecepatan gerak tubuh dan efek lingkungan di sekitarnya. Ketika hormon
adrenalin turun, maka tubuh lebih mudah untuk mengikat atau menekan emosi
negatif. Hormon adrenalin juga mempengaruhi jumlah kolesterol, ketika adrenalin
dalam tubuh meningkat maka makanan apapun yang kita konsumsi akan menjadi
kolesterol. Inilah satu dari sekian banyak manfaat puasa untuk kesehatan jiwa
dan raga.
Mengapa
Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk muhasabah? Ternyata dengan
keadaan tubuh kita yang telah ditenangkan dari kegiatan berpuasa, maka emosi
kita juga akan lebih bersahabat dengan suasana hening. Hal tersebut sejalan
dengan anjuran Rasulullah untuk melakukan i`tikaf di bulan Ramadhan. Dalam
i`tikaf terjadilah muhasabah, dengan menurunnya hormon adrenalin maka kegiatan yang
disebut forgiveness therapy dapat lebih mudah dilakukan.
Pada
dasarnya, muhasabah dapat membuat ketenangan jiwa dan dapat membantu ketika di
akhirat kelak. Muhasabah dapat meningkatkan kemampuan untuk memaafkan orang
lain dan diri sendiri, serta memperbaiki hubungan antara kita dengan Allah.
Salah satu contohnya adalah ketika kita meminta dan mengadu pada Allah, maka
terjadilah dialog. Saat dialog itu terjadi, maka terciptalah koneksi antara
kita yang membutuhkan pertolongan dengan Allah Sang Pemberi.
Begitupun yang terjadi ketika kita
mendoakan dan berusaha memaafkan orang lain, maka terjadilah koneksi. Dialog
kita kepada orang yang kita maksud di dalam doa akan menciptakan gelombang yang
akan diterima oleh jiwa orang tersebut, meskipun orang tersebut telah
meninggal. Dengan bermuhasabah maka memori hingga luka lama akan terobati.
Muhasabah
dapat juga disebut terapi kesehatan mental dan pemberian stimulasi kerja otak
kanan, mengingat dalam kehidupan kita sehari-hari penggunaan otak kiri lebih
dominan. Dengan membayangkan kehadiran
Allah, kehadiran orang yang kita doakan dan kita maafkan, serta menghadirkan
diri sendiri untuk diajak berdialog di hadapan kita, maka sebenarnya di saat
itulah otak kanan dan otak kiri bekerja secara bersamaan. Karena otak kanan
memiliki program untuk membangun imajinasi dengan cara membayangkan siapa yang
kita hadirkan dalam doa kita.
Dengan
terciptanya koneksi positif dari doa-doa yang kita panjatkan, maka tubuh kita
akan memiliki energi kembali karena emosi dalam tubuh kita telah membaik.
Begitupun dengan memori tidak menyenangkan atau luka yang berangsur akan
terobati dari proses penerimaan dan memaafkan.
Namun
hal yang paling penting dan mendasari untuk mengawali semua rangkaian ibadah
yang kita lakukan adalah niat. Niat itu memiliki kekuatan. Niat adalah
kekuatan. Karena apa yang kita ucapkan akan berjalan di sistem syaraf tubuh
kita. Dengan berniat maka tubuh akan mempersiapkan organ-organnya dari yang terbesar
hingga sel-sel tubuh yang paling kecil. Mereka patuh pada perintah sistem
syaraf yang membawa niat atau ucapan kita. Dengan berniat, maka akan naik
derajat kesadaran pada apa yang dikerjakan.
Dalam
bulan Ramadhan, ada banyak sekali mekanisme yang terjadi di dalam tubuh yang
dihasilkan dari berpuasa, bermuhasabah, hingga hal yang paling sering dianggap
sepele yaitu berniat. Ternyata tubuh dan ibadah adalah sejalan. Maha suci Allah
telah menciptakan manusia dengan fungsi tubuhnya dan menurunkan ilmu yang dapat
diterima hati sehingga kita dapat berpikir.