Jumat, 22 April 2022

Sejalan

 

                Bagaimana Ramadhan kita di tahun ini?

            Adalah hal mudah bila hanya menahan perut yang lapar dan dahaga, tapi esensi Bulan Suci Ramadhan tentulah tidak sesederhana itu. Banyak hal yang terjadi dari dalam tubuh kita sendiri, bahkan bisa jadi selama ini kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin tulisan ini sangat terlambat dan tertinggal jauh, apalagi si fakir ilmu ini juga masih banyak khilaf hingga merasa takut tak bisa mengamalkan apa yang telah ditulisnya. Tetapi pada satu waktu, ia membaca sebuah kalimat yang dikutip dari Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, “Sebesar apapun dosamu kepada Allah, jangan putus asa kepada-Nya. Allah tidak akan berpaling darimu selama kau tidak berpaling dari-Nya. Teruslah kembali walaupun nafsumu berkali-kali mengalahkanmu.”

            Terima kasih kepada para penyebar ilmu. Bila tulisan tersebut tidak pernah sampai kepada si fakir ilmu ini, bagaimanalah hati dan pikiran yang sudah penuh akan dosa ini dapat berlepas dari keraguan yang sia-sia.

            Sudah tinggal menghitung hari. Menghitung hari bahwa Ramadhan akan segera berlalu. Ternyata ada banyak sekali keistimewaan Ramadhan yang terlewatkan oleh si fakir ilmu ini. Dia tidak tahu bahwa tubuh dan situasi dapat diajak bicara, bahwa memaafkan dapat mengobati, bahwa niat dapat menguatkan. Dia bahkan tidak tahu bahwa di dalam doa, koneksi dapat tercipta antara dia dengan Dzat maupun jiwa lainnya.

            Ternyata kegiatan puasa memang bukan hanya urusan menahan haus, lapar, juga nafsu. Lebih dari itu, terjadi mekanisme luar biasa dalam tubuh kita yang tidak kita sadari. Berpuasa dapat menciptakan suasana tenang dalam tubuh kita sehingga dapat menurunkan hormon adrenalin. Hormon adrenalin adalah hormon yang memicu reaksi terhadap kecepatan gerak tubuh dan efek lingkungan di sekitarnya. Ketika hormon adrenalin turun, maka tubuh lebih mudah untuk mengikat atau menekan emosi negatif. Hormon adrenalin juga mempengaruhi jumlah kolesterol, ketika adrenalin dalam tubuh meningkat maka makanan apapun yang kita konsumsi akan menjadi kolesterol. Inilah satu dari sekian banyak manfaat puasa untuk kesehatan jiwa dan raga.

            Mengapa Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk muhasabah? Ternyata dengan keadaan tubuh kita yang telah ditenangkan dari kegiatan berpuasa, maka emosi kita juga akan lebih bersahabat dengan suasana hening. Hal tersebut sejalan dengan anjuran Rasulullah untuk melakukan i`tikaf di bulan Ramadhan. Dalam i`tikaf terjadilah muhasabah, dengan menurunnya hormon adrenalin maka kegiatan yang disebut forgiveness therapy dapat lebih mudah dilakukan.

            Pada dasarnya, muhasabah dapat membuat ketenangan jiwa dan dapat membantu ketika di akhirat kelak. Muhasabah dapat meningkatkan kemampuan untuk memaafkan orang lain dan diri sendiri, serta memperbaiki hubungan antara kita dengan Allah. Salah satu contohnya adalah ketika kita meminta dan mengadu pada Allah, maka terjadilah dialog. Saat dialog itu terjadi, maka terciptalah koneksi antara kita yang membutuhkan pertolongan dengan Allah Sang Pemberi.

Begitupun yang terjadi ketika kita mendoakan dan berusaha memaafkan orang lain, maka terjadilah koneksi. Dialog kita kepada orang yang kita maksud di dalam doa akan menciptakan gelombang yang akan diterima oleh jiwa orang tersebut, meskipun orang tersebut telah meninggal. Dengan bermuhasabah maka memori hingga luka lama akan terobati.

            Muhasabah dapat juga disebut terapi kesehatan mental dan pemberian stimulasi kerja otak kanan, mengingat dalam kehidupan kita sehari-hari penggunaan otak kiri lebih dominan.  Dengan membayangkan kehadiran Allah, kehadiran orang yang kita doakan dan kita maafkan, serta menghadirkan diri sendiri untuk diajak berdialog di hadapan kita, maka sebenarnya di saat itulah otak kanan dan otak kiri bekerja secara bersamaan. Karena otak kanan memiliki program untuk membangun imajinasi dengan cara membayangkan siapa yang kita hadirkan dalam doa kita. 

            Dengan terciptanya koneksi positif dari doa-doa yang kita panjatkan, maka tubuh kita akan memiliki energi kembali karena emosi dalam tubuh kita telah membaik. Begitupun dengan memori tidak menyenangkan atau luka yang berangsur akan terobati dari proses penerimaan dan memaafkan.

            Namun hal yang paling penting dan mendasari untuk mengawali semua rangkaian ibadah yang kita lakukan adalah niat. Niat itu memiliki kekuatan. Niat adalah kekuatan. Karena apa yang kita ucapkan akan berjalan di sistem syaraf tubuh kita. Dengan berniat maka tubuh akan mempersiapkan organ-organnya dari yang terbesar hingga sel-sel tubuh yang paling kecil. Mereka patuh pada perintah sistem syaraf yang membawa niat atau ucapan kita. Dengan berniat, maka akan naik derajat kesadaran pada apa yang dikerjakan.

            Dalam bulan Ramadhan, ada banyak sekali mekanisme yang terjadi di dalam tubuh yang dihasilkan dari berpuasa, bermuhasabah, hingga hal yang paling sering dianggap sepele yaitu berniat. Ternyata tubuh dan ibadah adalah sejalan. Maha suci Allah telah menciptakan manusia dengan fungsi tubuhnya dan menurunkan ilmu yang dapat diterima hati sehingga kita dapat berpikir.