Selasa, 15 Desember 2015

Just kidding



Assalamu`alaikum….

Gw baru aja melalui ulangan umum di bulan Desember. Yang namanya ulangan, itu adalah momok paling menakutkan bagi pelajar. Banyak tuh temen gw yang bilang belum siaplah, sudah tegang duluanlah, hatinya dag-dig-dug. Gw mah ketawa aja dengernya, masa’ hati bisa dag-dig-dug? Ada juga jantung kali yang begitu. Ngomong-ngomong loe kena hepatitis?

Tapi gak tau kenapa, ulangan kali ini, gw kayaknya santai-santai aja. Semua mata pelajaran tuh udah di luar kepala. Serius, di luar kepala. Lupa maksudnya….

Biarpun gw santai, dalam menjawab soal gw juga gak ngasal. Gak mau gw kalo asal jawab aja. Gw juga menyeleksi jawaban. Beneran deh. Dengan cara ngitung kancing baju.

Di sekolah juga, gw jadi tau kebiasaan sampe tipe temen-temen gw. Nih contohnya….

Gw punya temen yang namanya Cinta. Kasihan banget dah. Nih orang  datang terlambat mulu. Dimarahin… terus ama guru. Menurut gw, nih guru gak bener dah, masa’ dimarahin… Seharusnya kita tuh bisa memaklumi bahwa cinta memang selalu datang terlambat dan cinta tuh gak pernah salah… ohh… Ngapain dimarahin….

Terus, ada juga yang dicuekin…. mulu. Saking seringnya dikacangin, eh terakhir gw liat kemarin, dia udah jadi martabak. Martabak kacang.

Yang tipe pemberi semangat juga ada. Kemarin, waktu ada perlombaan, kan gw ikut tuh. Ikut juga karena dipilih, bukan kemauan sendiri. Ya jelas dong gw jadi down banget. Eh, disemangatin ama dia. Diberikan sorakan gitu,meriah banget. Terus digiring, diarak gw. Pake obor….

Yah, itulah cerita seputar sekolah, gw yakin kok,semua orang pernah ngalamin yang begituan. Eh, nggak ding, kan gak semua orang sekolah, kan masih ada yang baru lahir, baru tumbuh gigi, baru ngeh ama nih bacaan.., loh?

Beberapa bulan lagi, gw bakal lulus sekolah nih, huhuhu… goodbye’s the saddest word I’ll ever say. Yang mungkin nanti paling gw kangenin adalah taman sekolah. Taman sekolah gw tuh bagus banget. Bikin betah aja gitu. Terus, sekolah gw mencanangkan program adiwiyata, nih yang gw kurang setuju. Soalnya, beberapa tahun ke depan, itu sekolah bakalan rindang. Banyak pohon yang berbuah.

Gw khawatirnya, karena taman dan lingkungan sekolah yang jadi rindang, takutnya tiap musim buah, orang-orang datang ke sekolah, metikin buah, dikumpulin, dijual juga….

Terus, ada yang bawa keluarga, makan bersama di taman sekolah sambil bawa panci, termos, piring, sendok, paku, palu, baut,,, eh keterusan…. Peralatan makan loe apa aja sih???

Lama-lama setiap anak libur sekolah, para orangtua ngajakin anaknya piknik. Piknik di sekolah.

Terus, nanti karena pihak sekolah melihat peluang yang begitu menjanjikan, akhirnya di sekolah juga buka kafe. Menu andalannya martabak gitu, hasil dari orang-orang yang dikacangin. Kalo yang beli pesen martabak tapi jangan dikacangin, akhirnya martabaknya diajak ngobrol.

Biar tambah seru, sekolah juga menambahkan musik. Dari hati banget musiknya. Dag-dig-dug-dag-dig-dug. Hati temen gw yang hepatitis tadi.

Nah, kalo musiknya kurang semangat, bisa panggil temen gw yang tipe pemberi semangat itu loh, supaya makin deg-degan diarak noh pake obor.

Lah, gw ngapain ya di sana, kok gak ada?

Eh… gw kan friendshipnya Cinta, gw belum datang. Jangan salahin gw ya kalo materinya rada berantakan. Cinta yang buat,,, jadi gak bisa disalahin….

Sebut saja nama gw Mawar.
 Sekian. Wassalamu`alaikum.

Jumat, 31 Juli 2015

i'm proud to be different



Aku bukan manusia unggul disegala hal
Ada  saatnya aku salah, kalah, dan tergelincir…
Jangan pandang aku sama rata dengan yang lain
Jika kalian tak ingin kecewa dan sakit hati
                Aku memang berbeda,
                Kita semua tidak sama…
                Tapi manusia diciptakan
                Untuk saling menghargai perbedaan…
Terkadang  caraku menyampaikan sesuatu pun dianggap aneh,
Padahal  ada siasat dan rencana  dalam kontribusiku
Tapi,,, mereka hanya belum tahu strategi berpikir seseorang.
Aneh, untuk perbedaan yang lebih baik.
Dan perbedaan memang terlihat aneh.
Jika tak ingin aneh, tetaplah di tempatmu
Tanpa ada kemajuan…   

 K.Y.R

Kamis, 30 Juli 2015

puisi tiga kata nama

lihat huruf awal setiap baris, lalu rangkai setiap hurufnya menjadi satu. Maka akan membentuk suatu nama, dari sanalah puisi ini tercipta.

 Keindahan yang Kau ciptakan
 Rezki yang Kau berikan
 Indah dunia gemerlapan
 Semua Kau curahkan
 Nikmat karunia Kau limpahkan
 Atas insan yang bertebaran

           Yang kini ku mau
           Untaian kidung cinta dihidupku
           Nafas keimanan di jiwaku
           Ikhlas dan indah di hatiku
           Asa yang kugantungkan pada Mu
           Semua mungkinkah terjadi
           Atau hanya angan dan mimpi
           Rencana Mu adalah takdir diri
           Insya Allah ku mampu menjalani

  Rahmat dan hidayah Mu ku cari
  Imanku tak tebagi
 Zat Mu menyatu di hati
 Karena Mu lah aku berdiri
 Ini hidup adalah janji
 Yang harus ku jalani
 Apapun yang terjadi
 Nyanyian cinta ku tak berhenti
 Indah surga Mu yang ku nanti

Rabu, 25 Februari 2015

1000 Rakaat Dosa Di Atas Sajadah



1000 Rakaat Dosa Di Atas Sajadah
                Aku tahu, ini sudah waktu isya, namun hujan lebat sepertinya masih betah mengguyur seakan tak mengizinkan bintang-gemintang bercengkrama dengan rembulan. Sedang panggilan shalat menjadi vocal di tengah irama serentak rintiknya.
                Di ruang kantor, masih setumpuk pekerjaan menanti, kalau bisa malam ini juga ku selesaikan. Aku tak ingin penilaian dimata pimpinanku menurun. Tak masalah jika aku harus menunda makan malam dan shalatku, toh malam tidah sebentar.
                Melihat ke luar jendela, lagi-lagi bocah penyemir sepatu itu sambil bertudung daun pisang  memasuki langgar yang bersebelahan dengan kantorku. Jika ingin mencarinya, datang saja ke langgar itu saat muadzin menyerukan panggilan shalat, dia pasti ada. Tak punya banyak waktu lama untuk memperhatikan bocah itu, lalu kututup tirai jendela dan melanjutkan pekerjaanku.
                Gelombang  kecil air yang mengalir di pinggir jalan terkadang mengeluarkan suara derai akibat kakiku yang melangkah melewati tengah malam menuju langgar. Kemeja biruku mendapat pola polca dot tak beraturan karena tetesan air dari payung yang jatuh bebas ditubuhku. Biar saja, tak peduli aku. Yang penting tak perlu shalat isya lagi di rumah.
                Di dalam langgar, anak itu lagi ternyata. Dia berdiam diri di atas sajadah, entahlah apa yang sedang direnungkannya. Aku menggelar sajadahku bersisian dengannya. Saat aku shalat, bocah itu memperhatikanku. Sesekali dia menjatuhkan pandangan ke tempatku bersujud, lalu kembali mendongak saat aku berdiri.
                Tak perlu waktu lama untukku menunaikan shalat, selesai salam langsung kulipat kembali sajadah yang tadi kugunakan. Di sampingku, bocah tersebut masih memasang pandangan penuh tanya. Risih juga aku jika dia terus begitu, lalu kucoba untuk memecah keheningan yang lama mewarnai suasana dari tadi.
‘’Tidak pulang?’’  Tanyaku, sempat kaget rupanya dia.
‘’Tidak.’’
‘’Masih betah di sini?’’ Tanyaku lagi sambil merapikan lengan kemejaku yang terlipat.
‘’Iya.’’
Ada yang berbeda dari anak ini, bukankah tidak wajar jika bocah berusia sekitar sebelas tahun dibiarkan lepas dari rumah sampai semalam ini? Bagaimana orang tuanya, pikirku.
‘’Namamu siapa?’’
‘’Siddiq.’’ Jawabnya.
‘’Nama Kakak siapa?’’ sekarang, dia balik bertanya.
‘’ Nama Kakak, Dennis.’’ Aku masih duduk di sebelahnya.
‘’Tadi Kakak shalat apa?’’
‘’Isya.’’ Jawabku pendek.
‘’Semalam ini??’’ bocah itu,,, maksudku Siddiq, langsung membelalaKkan matanya. Ada apa? Sepertinya hal itu biasa saja…
‘’ Kakak sibuk, besok pekerjaannya sudah harus selesai, supaya pimpinan akan melihat Kakak sebagai karyawan yang mempunyai kinerja baik, dan itu nilai plus untuk Kakak.’’ Ku balas keterkejutannya dengan sekali tarika nafas.
‘’Kalau shalatnya ditunda, tidak dosa ya Kak?’’ Wajah polosnya berkerut.
‘’Eehhmmm,,, tidak, hanya saja pahalanya berkurang.’’ Semoga jawabanku benar, gumamku.
‘’Berarti nilai Kakak di hadapan Allah berkurang?’’ Pertanyaannya sedikit naik tingkat. Gawat!
‘’Mungkin.’’ Jawabku pelan.
‘’ Kenapa shalat Kakak di tunda?’’ tanyanya lagi.
‘’ Bukankah tadi Kakak sudah bilang? Kakak kira, kamu sudah mengerti…’’ Ucapku sambil berlalu keluar, aku tengah berusaha menghindari pertanyaan yang akan dikeluarkannya. Ku buang rasa penasaranku, tak peduli lagi apapun tentangnya.
‘’ Kakak mau kemana?’’
‘’Pulang.’’ Malas sudah aku menjawabnya.
‘’Tidak betah di sini?’’ Saat itu langkahku terhenti. Apa aku harus jujur untuk berkata tidak? Pintar sekali dia memutar balikkan pertanyaan. Namun akhirnya aku hanya diam sambil memandang jarum air yang jatuh ke bumi.
‘’Kak…’’
‘’Iya…?’’ aku masih berdiri di teras langgar.
‘’Sajadah Kakak bagus..’’
Kenapa harus sejadah? pikirku. Lalu kulihat sajadah yang digunakannya, gambarnya tak jelas lagi, dan warnanya aku juga tidak tahu, apakah biru atau hijau. Kubas.  Masih di atas sajadah itu, dia tertunduk seperti menyimpan kesedihan.
Aku kembali masuk, dan duduk di sampingnya. Tak sampai hati juga melihatnya seperti itu.
‘’ Tak ada yang salah dengan sajadahmu…’’ Ucapku menghiburnya.
Dia menggeleng.
‘’Bukan punyaku.., tapi punya langgar ini.’’ Masih menunduk.
‘’ Sudah … tidak masalah…’’ Aku mengusap kepalanya. Kasihan.
                Sajadah yang ku bawa ini adalah oleh-oleh dari orang tuaku saat mereka naik haji, harganya pun aku tak pernah diberi tahu. Tapi dari bahan dan bordirnya, sudah bisa ku tebak, pasti mahal.
Keadaan hening sejenak.
Lalu…
‘’Siddiq… ini untukmu, ambil lah..’’
Ku sodorkan sajadah milikku. Di rumah, masih banyak sajadah seperti yang kugunakan, tak apa jika ku beri satu untuknya.
Tapi… yang diberi malah terdiam.
‘’Tak usah malu, terima saja…’’ Ku selempangkan sajadah tersebut di bahu kanannya.
‘’ Oh iya, hampir lupa, ada yang ingin Kakak tanyakan padamu. Boleh?’’

Dia hanya mengangguk.
‘’Bagaimana dengan orang tuamu, jika kamu pulang semalam ini?’’
‘’Orang tuaku… mereka tak bersamaku, tapi berada jauh di desa. Aku di sini ikut dengan Bibiku, karena tak punya anak…’’

Oh… jadi begitu…
‘’ Lantas Bibimu bagaimana?’’
‘’Bibiku seorang pedagang jagung bakar, jadi di rumah tak ada siapapun jika malam hari. Daripada aku kesepian, lebih baik aku ke langgar saja setelah bekerja…’’ Sajadah yang tadi di bahunya, kini berpindah ke tangannya.
‘’Tapi di langgar kan juga tidak ramai? Dan dari tadi, yang kulihat hanya kamu saja setelah para jamaah bubar.’’ Di sekeliling kami tak ada siapapun.
‘’ Kata Ayahku, selagi kita masih ingat Allah, maka kita tidak sendiri, dan ini rumah Allah, aku suka duduk di atas sajadahnya…’’ Wajahnya cerah.

‘’Pantas saja…’’ Sekarang aku mengerti, Siddiq tak punya sajadah.
‘’ Apa yang kamu kerjakan di sini?’’ Pertanyaan murahan itu langsung meluncur begitu saja dari ku..
‘’Sama seperti Kakak…shalat…’’ Lalu matanya menyipit dan senyumnya terkembang.
‘’Tapi, saat Kakak shalat tadi, kenapa selalu diperhatikan?’’
‘’Hah??!  Aku hanya melihat sajadah Kakak saja, tapi… aku juga merasa Kakak sedang memperhatikanku.’’ Wajahnya berubah serius.
‘’Lain kali, jangan begitu ya, seseorang itu harus shalat dengan khusyuk’ tidak boleh diganggu…’’ Gayaku seperti sedang mengajarinya.
Dahinya tambah mengernyit. Ada yang salah?
‘’Kak, Ayahku pernah bilang jika orang yang shalatnya khusyuk’ dia tak akan terganggu dengan apa pun, bahkan jika ada binatang yang menggigitnya dia tak akan merasa sakit, karena pikirannya hanya kepada Allah…’’
‘’ Ya… benar sekali…’’ Aku mengacungkan ibu jariku.
‘’Tapi, kenapa Kakak tahu kalau aku sedang  memperhatikan Kakak? Padahal  ‘kan Kakak sedang shalat?’’
Deg!
‘’Ehmm… hujannya sudah reda, Kakak harus pulang. Sampai bertemu lagi ya…’’
Untung saja aku melihat keluar, langsung bisa ku alihkan pembicaraan.
‘’Tunggu Kak… sepatu Kakak mau kusemirkan?’’ Dia sudah berdiri.
‘’Maaf, Kakak ke sini pakai sandal jepit…’’ Ku tunjuk sandal yang kugunakan.
‘’Kakak tidak punya sepatu?’’
‘’Sepatu Kakak di mobil, takut basah jika dipakai ke langgar. Besok mau dipakai lagi untuk di kantor.’’
‘’Pasti Kakak orang kaya… punya mobil…’’
‘’Alhamdulillah…’’
‘’Kalau begitu, Kakak harus menggunakan pakaian terbaik Kakak. Termasuk alas kaki ketika ke tempat ibadah… jangan hanya di kantor…’’
Aku kena lagi…
***
                Sejak saat itu, aku tak lagi ke langgar, tak punya waktu. Melihat Siddiq si bocah penyemir sepatu pun tak pernah lagi.
                Namun akhir-akhir ini kinerjaku semakin menurun. Entahlah, tak tahu apa sebabnya, ada saja rintangan yang tak bisa ku selesaikan. Untuk mengusir kegundahan, ku luangkan waktu sejenak di taman kantor sambil melihat hilir mudik lalu lintas.
Tiba-tiba….
Ccciittt!!!
Tidak!!! Ku harap ini hanya mimpi…
***
 ‘’Bagaimana Dok?’’
‘’Semoga ada keajaiban Pak, Bapak punya waktu tujuh menit, semoga dia bisa bertahan…’’
Aku langsung masuk ke ruang UGD. Dia sadar, sedang menatap kedatanganku.
‘’Siddiq… kamu kuat… pasti bisa…’’ hiburku.
Langsung ku ambil pulpen dan kertas. Aku tahu, ia ingin bicara namun berbagai selang menghambatnya. Hanya tulisan goyang yang mewakili suaranya.
‘’ Kak… kita aka dipanggil Allah, tapi dalam arti yang berbeda. Aku hanya ingin Kakak mengingatku, ada sesuatu yang ingin ku berikan, dia adalah saksi bisu perbincangan kita saat di langgar dulu… ku simpan di dalam kotak semir sepatuku. Nanti Kakak boleh mengambilnya.’’
Ku baca perlahan, air mataku sempat menetes.
Namun  akhirnya….
Tuuut…
Monitor telah menontonkan garis lurus, artinya…. dia memenuhi panggilan-Nya. Seketika itu jua, adzan dikumandangkan artinya aku dipanggil Allah untuk menunaikan shalat. Kalimat ‘kita dipanggil Allah dalam arti yang berbeda’ itu benar.
Saat mataku menangkap kotak semir sepatu, langsung ku buka,,, tersenyum aku setelah mengetahuinya, sebuah sajadah yang dulu kuberikan, kini dia hadiahkan padaku.
Tersadar aku…
Dalam shalat yang tak sempurna tujuh belas rakaat untuk lima waktu, aku telah mendirikan dosa seribu rakaat dalam setiap satu waktu di atas sajadah.
Dan aku mengerti…
Sajadah ini menjadi milikku untuk yang kedua kalinya, agar aku bisa menyempurnakan  shalatku, sebelum panggilan terakhir-Nya datang padaku.
Bocah itu, takperlu punya banyak waktu untuk membuatku rindu sujud pada-Nya.
‘’Terimakasih, teman. Waktu tujuh menit kau buat bermakna untuk hidupku…’’

bukan puisi juga



Life Is Rainbow
Jika melihat pelangi sehabis hujan turun,
Bak tepian busur dengan ragam warna
Menghias cakrawala di kala senja…
Walau berbeda warna namun saling melengakapi
Meski hanya diam, tapi punya harmoni…
                Begitupun hidup ini…
                Terkadang ada lelah, namun membuat hidup semakin berarti…
                Membuat semangat untuk tak berhenti…
                Karena selalu ada keindahan setelah badai…
Apapun kesan hidup ini,
Jika digabung dalam satu cerita,
Akan membuatmu tersenyum…
Memang bertumpuk, namun tertata rapi
Memang berbeda, namun selalu berkaitan
Memang terkadang aneh, namun itulah kenyataan…
                Seperti pelangi…
                Bentuknya unik, membuat tertarik
                Warnanya tak ada ikatan, namun membuat terpikat
                Perbedaannya terlihat anggun, sehingga membuat kagum
                Hadirnya yang singkat, membuat orang betah melihat…
Pelangi terkadang  muncul tiba-tiba,
Menghias langit, mampu membuat senyum di hati
Meski hanya diam, tak bergeming…
                Hidup ini penuh warna,
                Jika dibentangkan segala peristiwa
                Maka akan terlihat indah diluasnya bahagia…
                Dan terlihat megah dibirunya keharuan…

 K.Y.R