1000 Rakaat Dosa Di Atas Sajadah
Aku tahu, ini sudah waktu isya,
namun hujan lebat sepertinya masih betah mengguyur seakan tak mengizinkan
bintang-gemintang bercengkrama dengan rembulan. Sedang panggilan shalat menjadi
vocal di tengah irama serentak rintiknya.
Di ruang kantor, masih setumpuk
pekerjaan menanti, kalau bisa malam ini juga ku selesaikan. Aku tak ingin
penilaian dimata pimpinanku menurun. Tak masalah jika aku harus menunda makan
malam dan shalatku, toh malam tidah sebentar.
Melihat ke luar jendela,
lagi-lagi bocah penyemir sepatu itu sambil bertudung daun pisang memasuki langgar yang bersebelahan dengan
kantorku. Jika ingin mencarinya, datang saja ke langgar itu saat muadzin
menyerukan panggilan shalat, dia pasti ada. Tak punya banyak waktu lama untuk
memperhatikan bocah itu, lalu kututup tirai jendela dan melanjutkan
pekerjaanku.
Gelombang kecil air yang mengalir di pinggir jalan
terkadang mengeluarkan suara derai akibat kakiku yang melangkah melewati tengah
malam menuju langgar. Kemeja biruku mendapat pola polca dot tak beraturan
karena tetesan air dari payung yang jatuh bebas ditubuhku. Biar saja, tak
peduli aku. Yang penting tak perlu shalat isya lagi di rumah.
Di dalam langgar, anak itu lagi
ternyata. Dia berdiam diri di atas sajadah, entahlah apa yang sedang
direnungkannya. Aku menggelar sajadahku bersisian dengannya. Saat aku shalat,
bocah itu memperhatikanku. Sesekali dia menjatuhkan pandangan ke tempatku
bersujud, lalu kembali mendongak saat aku berdiri.
Tak perlu waktu lama untukku
menunaikan shalat, selesai salam langsung kulipat kembali sajadah yang tadi
kugunakan. Di sampingku, bocah tersebut masih memasang pandangan penuh tanya.
Risih juga aku jika dia terus begitu, lalu kucoba untuk memecah keheningan yang
lama mewarnai suasana dari tadi.
‘’Tidak
pulang?’’ Tanyaku, sempat kaget rupanya
dia.
‘’Tidak.’’
‘’Masih betah di
sini?’’ Tanyaku lagi sambil merapikan lengan kemejaku yang terlipat.
‘’Iya.’’
Ada yang berbeda
dari anak ini, bukankah tidak wajar jika bocah berusia sekitar sebelas tahun
dibiarkan lepas dari rumah sampai semalam ini? Bagaimana orang tuanya, pikirku.
‘’Namamu
siapa?’’
‘’Siddiq.’’
Jawabnya.
‘’Nama Kakak
siapa?’’ sekarang, dia balik bertanya.
‘’ Nama Kakak,
Dennis.’’ Aku masih duduk di sebelahnya.
‘’Tadi Kakak shalat
apa?’’
‘’Isya.’’
Jawabku pendek.
‘’Semalam
ini??’’ bocah itu,,, maksudku Siddiq, langsung membelalaKkan matanya. Ada apa?
Sepertinya hal itu biasa saja…
‘’ Kakak sibuk,
besok pekerjaannya sudah harus selesai, supaya pimpinan akan melihat Kakak
sebagai karyawan yang mempunyai kinerja baik, dan itu nilai plus untuk Kakak.’’
Ku balas keterkejutannya dengan sekali tarika nafas.
‘’Kalau
shalatnya ditunda, tidak dosa ya Kak?’’ Wajah polosnya berkerut.
‘’Eehhmmm,,,
tidak, hanya saja pahalanya berkurang.’’ Semoga jawabanku benar, gumamku.
‘’Berarti nilai
Kakak di hadapan Allah berkurang?’’ Pertanyaannya sedikit naik tingkat. Gawat!
‘’Mungkin.’’
Jawabku pelan.
‘’ Kenapa shalat
Kakak di tunda?’’ tanyanya lagi.
‘’ Bukankah tadi
Kakak sudah bilang? Kakak kira, kamu sudah mengerti…’’ Ucapku sambil berlalu
keluar, aku tengah berusaha menghindari pertanyaan yang akan dikeluarkannya. Ku
buang rasa penasaranku, tak peduli lagi apapun tentangnya.
‘’ Kakak mau
kemana?’’
‘’Pulang.’’
Malas sudah aku menjawabnya.
‘’Tidak betah di
sini?’’ Saat itu langkahku terhenti. Apa aku harus jujur untuk berkata tidak?
Pintar sekali dia memutar balikkan pertanyaan. Namun akhirnya aku hanya diam
sambil memandang jarum air yang jatuh ke bumi.
‘’Kak…’’
‘’Iya…?’’ aku
masih berdiri di teras langgar.
‘’Sajadah Kakak
bagus..’’
Kenapa harus
sejadah? pikirku. Lalu kulihat sajadah yang digunakannya, gambarnya tak jelas
lagi, dan warnanya aku juga tidak tahu, apakah biru atau hijau. Kubas. Masih di atas sajadah itu, dia tertunduk
seperti menyimpan kesedihan.
Aku kembali
masuk, dan duduk di sampingnya. Tak sampai hati juga melihatnya seperti itu.
‘’ Tak ada yang
salah dengan sajadahmu…’’ Ucapku menghiburnya.
Dia menggeleng.
‘’Bukan
punyaku.., tapi punya langgar ini.’’ Masih menunduk.
‘’ Sudah … tidak
masalah…’’ Aku mengusap kepalanya. Kasihan.
Sajadah yang ku bawa ini adalah
oleh-oleh dari orang tuaku saat mereka naik haji, harganya pun aku tak pernah
diberi tahu. Tapi dari bahan dan bordirnya, sudah bisa ku tebak, pasti mahal.
Keadaan hening
sejenak.
Lalu…
‘’Siddiq… ini
untukmu, ambil lah..’’
Ku sodorkan
sajadah milikku. Di rumah, masih banyak sajadah seperti yang kugunakan, tak apa
jika ku beri satu untuknya.
Tapi… yang
diberi malah terdiam.
‘’Tak usah malu,
terima saja…’’ Ku selempangkan sajadah tersebut di bahu kanannya.
‘’ Oh iya, hampir
lupa, ada yang ingin Kakak tanyakan padamu. Boleh?’’
Dia hanya
mengangguk.
‘’Bagaimana
dengan orang tuamu, jika kamu pulang semalam ini?’’
‘’Orang tuaku…
mereka tak bersamaku, tapi berada jauh di desa. Aku di sini ikut dengan Bibiku,
karena tak punya anak…’’
Oh… jadi begitu…
‘’ Lantas Bibimu
bagaimana?’’
‘’Bibiku seorang
pedagang jagung bakar, jadi di rumah tak ada siapapun jika malam hari. Daripada
aku kesepian, lebih baik aku ke langgar saja setelah bekerja…’’ Sajadah yang
tadi di bahunya, kini berpindah ke tangannya.
‘’Tapi di
langgar kan juga tidak ramai? Dan dari tadi, yang kulihat hanya kamu saja
setelah para jamaah bubar.’’ Di sekeliling kami tak ada siapapun.
‘’ Kata Ayahku,
selagi kita masih ingat Allah, maka kita tidak sendiri, dan ini rumah Allah,
aku suka duduk di atas sajadahnya…’’ Wajahnya cerah.
‘’Pantas saja…’’
Sekarang aku mengerti, Siddiq tak punya sajadah.
‘’ Apa yang kamu
kerjakan di sini?’’ Pertanyaan murahan itu langsung meluncur begitu saja dari
ku..
‘’Sama seperti Kakak…shalat…’’
Lalu matanya menyipit dan senyumnya terkembang.
‘’Tapi, saat Kakak
shalat tadi, kenapa selalu diperhatikan?’’
‘’Hah??! Aku hanya melihat sajadah Kakak saja, tapi…
aku juga merasa Kakak sedang memperhatikanku.’’ Wajahnya berubah serius.
‘’Lain kali,
jangan begitu ya, seseorang itu harus shalat dengan khusyuk’ tidak boleh
diganggu…’’ Gayaku seperti sedang mengajarinya.
Dahinya tambah
mengernyit. Ada yang salah?
‘’Kak, Ayahku
pernah bilang jika orang yang shalatnya khusyuk’ dia tak akan terganggu dengan
apa pun, bahkan jika ada binatang yang menggigitnya dia tak akan merasa sakit,
karena pikirannya hanya kepada Allah…’’
‘’ Ya… benar
sekali…’’ Aku mengacungkan ibu jariku.
‘’Tapi, kenapa Kakak
tahu kalau aku sedang memperhatikan Kakak?
Padahal ‘kan Kakak sedang shalat?’’
Deg!
‘’Ehmm… hujannya
sudah reda, Kakak harus pulang. Sampai bertemu lagi ya…’’
Untung saja aku
melihat keluar, langsung bisa ku alihkan pembicaraan.
‘’Tunggu Kak…
sepatu Kakak mau kusemirkan?’’ Dia sudah berdiri.
‘’Maaf, Kakak ke
sini pakai sandal jepit…’’ Ku tunjuk sandal yang kugunakan.
‘’Kakak tidak
punya sepatu?’’
‘’Sepatu Kakak
di mobil, takut basah jika dipakai ke langgar. Besok mau dipakai lagi untuk di
kantor.’’
‘’Pasti Kakak
orang kaya… punya mobil…’’
‘’Alhamdulillah…’’
‘’Kalau begitu,
Kakak harus menggunakan pakaian terbaik Kakak. Termasuk alas kaki ketika ke
tempat ibadah… jangan hanya di kantor…’’
Aku kena lagi…
***
Sejak saat itu, aku tak lagi ke
langgar, tak punya waktu. Melihat Siddiq si bocah penyemir sepatu pun tak
pernah lagi.
Namun akhir-akhir ini kinerjaku
semakin menurun. Entahlah, tak tahu apa sebabnya, ada saja rintangan yang tak
bisa ku selesaikan. Untuk mengusir kegundahan, ku luangkan waktu sejenak di
taman kantor sambil melihat hilir mudik lalu lintas.
Tiba-tiba….
Ccciittt!!!
Tidak!!! Ku
harap ini hanya mimpi…
***
‘’Bagaimana Dok?’’
‘’Semoga ada
keajaiban Pak, Bapak punya waktu tujuh menit, semoga dia bisa bertahan…’’
Aku langsung
masuk ke ruang UGD. Dia sadar, sedang menatap kedatanganku.
‘’Siddiq… kamu
kuat… pasti bisa…’’ hiburku.
Langsung ku
ambil pulpen dan kertas. Aku tahu, ia ingin bicara namun berbagai selang
menghambatnya. Hanya tulisan goyang yang mewakili suaranya.
‘’ Kak… kita aka
dipanggil Allah, tapi dalam arti yang berbeda. Aku hanya ingin Kakak
mengingatku, ada sesuatu yang ingin ku berikan, dia adalah saksi bisu
perbincangan kita saat di langgar dulu… ku simpan di dalam kotak semir
sepatuku. Nanti Kakak boleh mengambilnya.’’
Ku baca perlahan,
air mataku sempat menetes.
Namun akhirnya….
Tuuut…
Monitor telah
menontonkan garis lurus, artinya…. dia memenuhi panggilan-Nya. Seketika itu
jua, adzan dikumandangkan artinya aku dipanggil Allah untuk menunaikan shalat.
Kalimat ‘kita dipanggil Allah dalam arti yang berbeda’ itu benar.
Saat mataku
menangkap kotak semir sepatu, langsung ku buka,,, tersenyum aku setelah
mengetahuinya, sebuah sajadah yang dulu kuberikan, kini dia hadiahkan padaku.
Tersadar aku…
Dalam shalat
yang tak sempurna tujuh belas rakaat untuk lima waktu, aku telah mendirikan
dosa seribu rakaat dalam setiap satu waktu di atas sajadah.
Dan aku
mengerti…
Sajadah ini
menjadi milikku untuk yang kedua kalinya, agar aku bisa menyempurnakan shalatku, sebelum panggilan terakhir-Nya
datang padaku.
Bocah itu,
takperlu punya banyak waktu untuk membuatku rindu sujud pada-Nya.
‘’Terimakasih,
teman. Waktu tujuh menit kau buat bermakna untuk hidupku…’’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar