Rabu, 25 Februari 2015

1000 Rakaat Dosa Di Atas Sajadah



1000 Rakaat Dosa Di Atas Sajadah
                Aku tahu, ini sudah waktu isya, namun hujan lebat sepertinya masih betah mengguyur seakan tak mengizinkan bintang-gemintang bercengkrama dengan rembulan. Sedang panggilan shalat menjadi vocal di tengah irama serentak rintiknya.
                Di ruang kantor, masih setumpuk pekerjaan menanti, kalau bisa malam ini juga ku selesaikan. Aku tak ingin penilaian dimata pimpinanku menurun. Tak masalah jika aku harus menunda makan malam dan shalatku, toh malam tidah sebentar.
                Melihat ke luar jendela, lagi-lagi bocah penyemir sepatu itu sambil bertudung daun pisang  memasuki langgar yang bersebelahan dengan kantorku. Jika ingin mencarinya, datang saja ke langgar itu saat muadzin menyerukan panggilan shalat, dia pasti ada. Tak punya banyak waktu lama untuk memperhatikan bocah itu, lalu kututup tirai jendela dan melanjutkan pekerjaanku.
                Gelombang  kecil air yang mengalir di pinggir jalan terkadang mengeluarkan suara derai akibat kakiku yang melangkah melewati tengah malam menuju langgar. Kemeja biruku mendapat pola polca dot tak beraturan karena tetesan air dari payung yang jatuh bebas ditubuhku. Biar saja, tak peduli aku. Yang penting tak perlu shalat isya lagi di rumah.
                Di dalam langgar, anak itu lagi ternyata. Dia berdiam diri di atas sajadah, entahlah apa yang sedang direnungkannya. Aku menggelar sajadahku bersisian dengannya. Saat aku shalat, bocah itu memperhatikanku. Sesekali dia menjatuhkan pandangan ke tempatku bersujud, lalu kembali mendongak saat aku berdiri.
                Tak perlu waktu lama untukku menunaikan shalat, selesai salam langsung kulipat kembali sajadah yang tadi kugunakan. Di sampingku, bocah tersebut masih memasang pandangan penuh tanya. Risih juga aku jika dia terus begitu, lalu kucoba untuk memecah keheningan yang lama mewarnai suasana dari tadi.
‘’Tidak pulang?’’  Tanyaku, sempat kaget rupanya dia.
‘’Tidak.’’
‘’Masih betah di sini?’’ Tanyaku lagi sambil merapikan lengan kemejaku yang terlipat.
‘’Iya.’’
Ada yang berbeda dari anak ini, bukankah tidak wajar jika bocah berusia sekitar sebelas tahun dibiarkan lepas dari rumah sampai semalam ini? Bagaimana orang tuanya, pikirku.
‘’Namamu siapa?’’
‘’Siddiq.’’ Jawabnya.
‘’Nama Kakak siapa?’’ sekarang, dia balik bertanya.
‘’ Nama Kakak, Dennis.’’ Aku masih duduk di sebelahnya.
‘’Tadi Kakak shalat apa?’’
‘’Isya.’’ Jawabku pendek.
‘’Semalam ini??’’ bocah itu,,, maksudku Siddiq, langsung membelalaKkan matanya. Ada apa? Sepertinya hal itu biasa saja…
‘’ Kakak sibuk, besok pekerjaannya sudah harus selesai, supaya pimpinan akan melihat Kakak sebagai karyawan yang mempunyai kinerja baik, dan itu nilai plus untuk Kakak.’’ Ku balas keterkejutannya dengan sekali tarika nafas.
‘’Kalau shalatnya ditunda, tidak dosa ya Kak?’’ Wajah polosnya berkerut.
‘’Eehhmmm,,, tidak, hanya saja pahalanya berkurang.’’ Semoga jawabanku benar, gumamku.
‘’Berarti nilai Kakak di hadapan Allah berkurang?’’ Pertanyaannya sedikit naik tingkat. Gawat!
‘’Mungkin.’’ Jawabku pelan.
‘’ Kenapa shalat Kakak di tunda?’’ tanyanya lagi.
‘’ Bukankah tadi Kakak sudah bilang? Kakak kira, kamu sudah mengerti…’’ Ucapku sambil berlalu keluar, aku tengah berusaha menghindari pertanyaan yang akan dikeluarkannya. Ku buang rasa penasaranku, tak peduli lagi apapun tentangnya.
‘’ Kakak mau kemana?’’
‘’Pulang.’’ Malas sudah aku menjawabnya.
‘’Tidak betah di sini?’’ Saat itu langkahku terhenti. Apa aku harus jujur untuk berkata tidak? Pintar sekali dia memutar balikkan pertanyaan. Namun akhirnya aku hanya diam sambil memandang jarum air yang jatuh ke bumi.
‘’Kak…’’
‘’Iya…?’’ aku masih berdiri di teras langgar.
‘’Sajadah Kakak bagus..’’
Kenapa harus sejadah? pikirku. Lalu kulihat sajadah yang digunakannya, gambarnya tak jelas lagi, dan warnanya aku juga tidak tahu, apakah biru atau hijau. Kubas.  Masih di atas sajadah itu, dia tertunduk seperti menyimpan kesedihan.
Aku kembali masuk, dan duduk di sampingnya. Tak sampai hati juga melihatnya seperti itu.
‘’ Tak ada yang salah dengan sajadahmu…’’ Ucapku menghiburnya.
Dia menggeleng.
‘’Bukan punyaku.., tapi punya langgar ini.’’ Masih menunduk.
‘’ Sudah … tidak masalah…’’ Aku mengusap kepalanya. Kasihan.
                Sajadah yang ku bawa ini adalah oleh-oleh dari orang tuaku saat mereka naik haji, harganya pun aku tak pernah diberi tahu. Tapi dari bahan dan bordirnya, sudah bisa ku tebak, pasti mahal.
Keadaan hening sejenak.
Lalu…
‘’Siddiq… ini untukmu, ambil lah..’’
Ku sodorkan sajadah milikku. Di rumah, masih banyak sajadah seperti yang kugunakan, tak apa jika ku beri satu untuknya.
Tapi… yang diberi malah terdiam.
‘’Tak usah malu, terima saja…’’ Ku selempangkan sajadah tersebut di bahu kanannya.
‘’ Oh iya, hampir lupa, ada yang ingin Kakak tanyakan padamu. Boleh?’’

Dia hanya mengangguk.
‘’Bagaimana dengan orang tuamu, jika kamu pulang semalam ini?’’
‘’Orang tuaku… mereka tak bersamaku, tapi berada jauh di desa. Aku di sini ikut dengan Bibiku, karena tak punya anak…’’

Oh… jadi begitu…
‘’ Lantas Bibimu bagaimana?’’
‘’Bibiku seorang pedagang jagung bakar, jadi di rumah tak ada siapapun jika malam hari. Daripada aku kesepian, lebih baik aku ke langgar saja setelah bekerja…’’ Sajadah yang tadi di bahunya, kini berpindah ke tangannya.
‘’Tapi di langgar kan juga tidak ramai? Dan dari tadi, yang kulihat hanya kamu saja setelah para jamaah bubar.’’ Di sekeliling kami tak ada siapapun.
‘’ Kata Ayahku, selagi kita masih ingat Allah, maka kita tidak sendiri, dan ini rumah Allah, aku suka duduk di atas sajadahnya…’’ Wajahnya cerah.

‘’Pantas saja…’’ Sekarang aku mengerti, Siddiq tak punya sajadah.
‘’ Apa yang kamu kerjakan di sini?’’ Pertanyaan murahan itu langsung meluncur begitu saja dari ku..
‘’Sama seperti Kakak…shalat…’’ Lalu matanya menyipit dan senyumnya terkembang.
‘’Tapi, saat Kakak shalat tadi, kenapa selalu diperhatikan?’’
‘’Hah??!  Aku hanya melihat sajadah Kakak saja, tapi… aku juga merasa Kakak sedang memperhatikanku.’’ Wajahnya berubah serius.
‘’Lain kali, jangan begitu ya, seseorang itu harus shalat dengan khusyuk’ tidak boleh diganggu…’’ Gayaku seperti sedang mengajarinya.
Dahinya tambah mengernyit. Ada yang salah?
‘’Kak, Ayahku pernah bilang jika orang yang shalatnya khusyuk’ dia tak akan terganggu dengan apa pun, bahkan jika ada binatang yang menggigitnya dia tak akan merasa sakit, karena pikirannya hanya kepada Allah…’’
‘’ Ya… benar sekali…’’ Aku mengacungkan ibu jariku.
‘’Tapi, kenapa Kakak tahu kalau aku sedang  memperhatikan Kakak? Padahal  ‘kan Kakak sedang shalat?’’
Deg!
‘’Ehmm… hujannya sudah reda, Kakak harus pulang. Sampai bertemu lagi ya…’’
Untung saja aku melihat keluar, langsung bisa ku alihkan pembicaraan.
‘’Tunggu Kak… sepatu Kakak mau kusemirkan?’’ Dia sudah berdiri.
‘’Maaf, Kakak ke sini pakai sandal jepit…’’ Ku tunjuk sandal yang kugunakan.
‘’Kakak tidak punya sepatu?’’
‘’Sepatu Kakak di mobil, takut basah jika dipakai ke langgar. Besok mau dipakai lagi untuk di kantor.’’
‘’Pasti Kakak orang kaya… punya mobil…’’
‘’Alhamdulillah…’’
‘’Kalau begitu, Kakak harus menggunakan pakaian terbaik Kakak. Termasuk alas kaki ketika ke tempat ibadah… jangan hanya di kantor…’’
Aku kena lagi…
***
                Sejak saat itu, aku tak lagi ke langgar, tak punya waktu. Melihat Siddiq si bocah penyemir sepatu pun tak pernah lagi.
                Namun akhir-akhir ini kinerjaku semakin menurun. Entahlah, tak tahu apa sebabnya, ada saja rintangan yang tak bisa ku selesaikan. Untuk mengusir kegundahan, ku luangkan waktu sejenak di taman kantor sambil melihat hilir mudik lalu lintas.
Tiba-tiba….
Ccciittt!!!
Tidak!!! Ku harap ini hanya mimpi…
***
 ‘’Bagaimana Dok?’’
‘’Semoga ada keajaiban Pak, Bapak punya waktu tujuh menit, semoga dia bisa bertahan…’’
Aku langsung masuk ke ruang UGD. Dia sadar, sedang menatap kedatanganku.
‘’Siddiq… kamu kuat… pasti bisa…’’ hiburku.
Langsung ku ambil pulpen dan kertas. Aku tahu, ia ingin bicara namun berbagai selang menghambatnya. Hanya tulisan goyang yang mewakili suaranya.
‘’ Kak… kita aka dipanggil Allah, tapi dalam arti yang berbeda. Aku hanya ingin Kakak mengingatku, ada sesuatu yang ingin ku berikan, dia adalah saksi bisu perbincangan kita saat di langgar dulu… ku simpan di dalam kotak semir sepatuku. Nanti Kakak boleh mengambilnya.’’
Ku baca perlahan, air mataku sempat menetes.
Namun  akhirnya….
Tuuut…
Monitor telah menontonkan garis lurus, artinya…. dia memenuhi panggilan-Nya. Seketika itu jua, adzan dikumandangkan artinya aku dipanggil Allah untuk menunaikan shalat. Kalimat ‘kita dipanggil Allah dalam arti yang berbeda’ itu benar.
Saat mataku menangkap kotak semir sepatu, langsung ku buka,,, tersenyum aku setelah mengetahuinya, sebuah sajadah yang dulu kuberikan, kini dia hadiahkan padaku.
Tersadar aku…
Dalam shalat yang tak sempurna tujuh belas rakaat untuk lima waktu, aku telah mendirikan dosa seribu rakaat dalam setiap satu waktu di atas sajadah.
Dan aku mengerti…
Sajadah ini menjadi milikku untuk yang kedua kalinya, agar aku bisa menyempurnakan  shalatku, sebelum panggilan terakhir-Nya datang padaku.
Bocah itu, takperlu punya banyak waktu untuk membuatku rindu sujud pada-Nya.
‘’Terimakasih, teman. Waktu tujuh menit kau buat bermakna untuk hidupku…’’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar