People Come and Go
Ketika
garis takdir telah Dia tetapkan untukku, saat itulah aku tercipta, napas
kehidupan dihembuskan-Nya untukku. Hingga akhirnya aku punya sejarah masa kecil
dimana aku tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang dirimu, dia, atau mereka.
Tak pernah ada yang berharap siapa akan bertemu siapa. Tak ada juga tersebut
secuil nama tak dikenal di ujung doa, bahkan arti persahabatan pun, saat itu
aku tak tahu, apalagi membayangkannya. Semuanya masih misteri.
Namun,
kita dipertemukan oleh waktu. Para manusia yang punya latar belakang majemuk,
punya talenta dan pemikiran beragam, dan punya ciri khas masing-masing, berada
dalam satu tempat yang sama untuk satu tujuan demi ilmu. Ya, waktu yang
membawaku juga kalian untuk membuka tabir misteri cerita persahabatan yang saat
itu masih dirahasiakan-Nya.
2013,
dimana kita mulai untuk mengikuti irama pergantian hari ke hari, hingga bulan
ke tahun. Dari yang awalnya hanya saling curiga dan prasangka, akhirnya
mengenal satu sama lain, lalu mulai akrab, hingga tak ada sungkan lagi untuk
minta ini-itu, bahkan saling ejek dan sindir. Hei, ketahuilah, irama itu kini
bukan lagi berubah menjadi sebuah melodi atau bahkan lusinan kidung atau
tembang yang melagu.
Karena
kebaikan, kejahilan, keseruan, sampai kekonyolan yang tercipta di kelas, irama
beserta melodi dan lagu itu kini terajut, saling berkolaborasi bersama kenangan
menciptakan sebuah film yang tanpa sadar kita rekam sendiri dalam tiga tahun
itu. Saat diputar ulang, yang dapat merasakan nuansa unik hanya kita, yang saat
itu ada bersama-sama. Jika kau ceritakan pada mereka yang lain, mereka hanya
tersenyum, tapi bukan berarti mengerti.
Kita
tak bakal tahu, bagaimana dan kapan peruntungan atau keberhasilan akan memihak
pada siapa. Tapi ketahuilah, ketika kita sudah duduk atau berdiri di mimbar
kesuksesan, ingatlah lagi saat langkah kita berlari menuju pintu gerbang
bangunan di ujung jalan tusuk sate itu, bangunan yang memiliki lapangan dimana
kita sama-sama menahan panas saat upacara, sama-sama bergerak saat senam dan
olahraga, juga kelas sebagai rumah kedua kita, dimana kita sama-sama belajar,
sama-sama takut ulangan dan ujian, sama-sama saling bertoleransi bahkan
mengalah karena malas menambah masalah.
Ingat?
Dari sana kita sama-sama berjuang dengan teman satu sekolah, satu kelas, satu
bangku, sampai menjadi satu-satunya harapan untuk diri sendiri demi impian
masing-masing.
Lihatlah
sekarang, takdir mengantarku untuk mengubah misteri persahabatan yang dulu
dirahasiakan-Nya menjadi sebuah sejarah masa SMK.
Aku
tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Jika dulu kita saling sapa “hai”
atau “hallo” dan saling tersenyum, maka sekarang saatnya kita saling pamit
“goodbye”, bersalaman, dan tak apa jika ingin menangis.
Mungkin
di waktu yang akan datang, dimana kita meniti jalan yang berbeda, di sana pasti
ada kesibukan dan rintangan yang harus dihadapi, hingga tak punya waktu untuk
reuni, lama-lama kehilangan kontak komunikasi, dan akhirnya lupa nama dan wajah
teman-teman yang dulu. Jika pun ingat dan ternyata bertemu, mungkin yang
terjadi hanya rasa sungkan dan bingung, akhirnya hanya sekadar sapa dan senyum
kaku yang keluar.
Untuk
itu, jangan buang film yang kita rekam bersama dengan latar SMK, dan kita
sebagai actor pemeran utamanya. Watak kita sekarang dengan masa mendatang
mungkin akan mengalami sedikit perubahan, mustahil untuk mengulang adegan yang
sama. Tetap simpan rekamannya di hati, mainkan di benakmu, lalu nilailah dengan
senyuman.
Bagiku,
kalian adalah teman teraneh, tergila, terparah, konyol kronis,,, banyak
kejadian yang buat aku terganggu sama tingkah kalian, buat aku malu gara-gara
kalian, buat aku susah gara-gara kalian,,, tapi karena itu semua aku punya
pengalaman luar biasa, tahu rasanya dipermalukan, disusahkan, dimanfaatkan, dan
dibuat ketawa. It’s okay, my friends.
Lalu
setelah kita berpisah, mencari jati diri masing-masing, kemana semua rasa
nano-nano yang dulu setiap hari kita ciptakan? So, can we do it again?
Garis
takdir itu, kini menyibak salah satu misteri rahasia dalam sejarah hidupku,
yaitu karunia-Nya. Itu kau, teman.