Hawa
dingin langsung menyergapku ketika pelan-pelan aku terbangun dari tidurku,
mataku terbuka sayu, menyesuaikan penglihatanku meski kelopak mata masih terasa
berat. Sekelilingku gelap, dan hanya ada sinar lampu pelita yang kulihat
cahayanya turut memberikan warna kuning keemasan pada dinding kayu rumahku. Ada
bayangan ibu di sana, tapi aku tak bisa melihat seutuhnya karena terhalang
sekat tipis pemisah ruangan antara kamar dan ruang tamu. Ibu sedang duduk
bersimpuh, dan kini suaranya mulai terdengar, berusaha melafalkan huruf-huruf
Al-Quran semampu yang ia bisa. Aku melanjutkan tidurku ketika kuperhatikan
jarum pendek jam masih betah diam di
angka tiga. Sedangkan, suara ibu mengiringi penantian raja malam bertemu dengan
sang surya.
***
Aku
sudah terbiasa hidup tanpa banyak kata. Bagi mereka di luar sana, mungkin
berbagi cerita, bercanda, atau minta dinyanyikan sebuah lagu dari seorang ibu
adalah hal biasa. Berbeda denganku, meminta ibuku untuk menyanyikan sebaris
lirik lagu saja, aku tak tega untuk mendengarnya, apalagi bercanda, mungkin
tanpa tawa.
Jujur
saja, aku terkadang bosan mendengar ayat Al-Quran jika yang melantunkan adalah
ibuku. Aku tahu ini dosa, tapi aku merasa terganggu karena ucapan yang keluar
dari mulutnya terdengar sama saja setiap hari, meskipun ayat yang dibacanya
selalu bertambah. Selalu seperti itu, bahkan sampai mengkhatamkan Al-Quran.
Ya,
aku mengaku, ibu yang kumiliki seumur hidupku ini adalah seorang tuna wicara.
Bisu, bahasa kasarnya. Tapi dia sangat menyayangiku. Aku juga sayang padanya,
jika mungkin aku mencari seorang ibu yang sempurna di dunia ini, aku akan
kembali pada ibuku sendiri, dan pencarianku berakhir padanya. Bagaimanapun,
ibuku adalah seorang yang luar biasa. Bahasa kalbunya menenangkan getar resah
hatiku.
Ibuku
tidak bisa menulis, apalagi untuk urusan membaca. Tapi herannya, aku tak pernah
tahu bagaimana ibu bisa mengerti huruf-huruf hijaiyah, buktinya ia selalu
lancar membaca Al-Quran, meskipun lidahnya tak lebih dari sekadar mempersulit
ucapannya. Aku pernah menanyakan hal itu, tapi ibu hanya tersenyum dan menunjuk
ke arah kepala dan dada. Aku tahu, maksudnya akal dan perasaan, tempatnya di
otak dan hati. Itu saja. Terkadang aku menduga-duga bahwa ibu hapal ayat-ayat
Al-Quran, tidak mungkin jika hanya membuka kitab tersebut, lalu membaca
sesukanya, tanpa tahu apapun, karena menganggap orang lain juga memakluminya
sebab ibu tuna wicara, dan sekadar melaksanakan kewajibannya sebagai seorang
muslim. Hei! Al-Quran… kalimat-kalimat Allah ada di sana, terlalu durhaka dan
kurang ajar jika bersikap begitu! Dan aku tak pernah mengenal ibu yang seperti
itu.
Ada
kebiasaan ibu yang setiap hari tak bosan dilakukannya, ia selalu mengusap-usap
kepalaku dan mengeluarkan kalimat yang tak pernah aku mengerti, ibu melakukannya
ketika aku ingin berangkat sekolah dan ingin tidur. Aku tak pernah mengerti
maksudnya, tapi aku malas untuk bertanya, sudah bosan, dan serasa tak ingin
lagi mendengarnya. Ingin sekali aku menyuruh ibu menghentikan hal itu, tapi
jika dipikir, aku ini anaknya, dan itu hak ibuku sebagai orangtua.
Untuk
mengisi kesendirian, aku biasanya melukis. Ya, melukis apa saja yang
kuinginkan. Tetapi, hal yang paling sering aku lakukan adalah menggambar. Jika
suasana hatiku sedang tidak baik, hal itulah yang kulakukan, begitu juga jika
sedang gembira. Jarang aku mengekspresikan perasaanku untuk kutimbulkan secara
langsung. Aku lebih suka tenggelam dalam pemikiranku sendiri dengan berbagai
macam proyek berkarya. Bisa dibilang, aku penyendiri yang tak pernah kesepian.
***
Minggu
pagi, aku dan ibuku sarapan bersama. Hening sekali. Beberapa waktu kemudian aku
membuka pembicaraan, yah… kupilih begitu karena kupikir setidaknya ibu masih
mendengar suaraku hari ini. Meskipun kutahu ibu tak mungkin berkomentar. Aku
sudah maklum dengan hal itu.
“Sebentar lagi, aku lulus SMA Bu, rencananya aku
ingin langsung mencari kerja saja. Jika aku sudah bekerja, ibu tak perlu
repot-repot menitipkan kue ke warung-warung.”
ucapku pelan.
Ibu hanya menatapku dengan senyum. Sudah kukatakan,
tak mungkin ada komentar.
“Aku ingin menjadi tulang punggung. Coba ayah masih
ada, dari dulu ibu tak perlu melakukan hal itu.”
Sampai di situ, selesai sudah. Kami sibuk dengan
pikiran masing-masing.
***
Selepas
dari SMA, aku sibuk mencari kerja. Aku juga lebih giat melukis. Sekarang aku
menjual lukisanku untuk menopang perekonomian. Tentunya tidak setiap hari dapat
terjual, tahu sendirikan bagaimana susahnya? Waktu pengerjaan juga tidak bisa
sekali duduk, dan sasaran untuk calon pembeli kebanyakan tak sesuai rencana.
Entah
karena kerinduan pada seorang ayah, atau hanya mendapat celetukan ide, aku
tiba-tiba saja ingin melukiskan potret sebuah keluarga. Ayah, ibu, dan aku.
Sebenarnya, aku tak pernah bertemu dengan ayahku. Beliau meninggal saat aku
masih dalam kandungan, begitu ibuku menceritakannya. Segera kubuka si lemari
tua, saksi bisu yang tahu semua isi dari hidupku. Satu album usang dengan
lembaran foto hitam putih yang mulai menguning sudah kudapatkan, mataku
menjelajahi setiap bagian-bagiannya untuk menemukan sewajah nan jauh terasing
dalam hidupku kini. Setelah mendapatkan satu foto yang setidaknya bisa kubaca
air mukanya, tanganku sudah siap dengan pensil untuk membuat sketsa awal
menggabungkan ayah yang berdiri di dekat ibu dengan perantara aku di tengahnya.
Fotonya memang tidak seperti itu, aku hanya mempermainkan imajiku saja,
seolah-olah ayah masih ada bersama aku dan ibu.
Tiga
minggu berlalu, hari ini lukisanku sudah bersandar di dinding ruang tamu. Tapi
tidak untuk kujual, dan sangat kusayangkan sekali bahwa saat ini, lukisanku tak
bisa terlihat seutuhnya oleh ibuku. Ibu kehilangan sebagian penglihatannya.
Sudah lama ibu menderita katarak, lalu dioperasi, namun ternyata kornea matanya
justru rusak. Kasihan ibu.
Untungnya
hasil penjualan lukisanku bisa menutupi segala kebutuhan hidup aku dan ibu,
meskipun ibu tidak membuat kue lagi.
Sejak ibu kehilangan penglihatannya, saat itu juga aku baru menyadari bahwa ibu
sebenarnya hapal Al-Quran. Aku mengetahuinya ketika ibu pertama kali membaca
dalam pandangan gelapnya tanpa melihat Al-Quran dipangkuannya. Ibu… ibu… aku
ini adalah anak yang paling beruntung di dunia. Dengan segala kekurangannya,
ibuku adalah seorang hafidzah Al-Quran.
***
Hari
demi hari, minggu berganti bulan, dan akhirnya tahun-tahun baru berganti
berlalu memberikan kenangan naik dan turun dalam kehidupanku. Aku yang dulu
hanya bermimpi bisa membuat lukisan indah, sekarang justru memiliki galeri seni
khusus tentang diriku. Jika dulu aku hanya berharap dapat mengenakan baju bagus
buatan ibuku, sekarang butik yang tersebar di berbagai tempat rupanya telah
memiliki satu empunya. Diriku. Ibu tak perlu membuatkan baju bagus untukku, aku
akan buatkan baju yang ibu mau, juga untuk semua orang.
“Tak
usah menangis atau bingung lagi, Sayang. Mungkin hidupmu pernah merasa sepi
tanpa ayah yang seharusnya dapat menemanimu, juga ibu yang dapat menyanyikan
atau mendongeng cerita sebelum kau beranjak ke alam mimpimu. Maafkan ibu dan
ayahmu. Tapi ketahuilah Nak, jika ayah bisa kau lihat… kau hanya melihatnya
sedang tersenyum bahagia dengan air bening di ujung matanya, kau tak temui
kesedihan di garis mukanya. Begitupun dengan diriku, mungkin aku tak pernah
bicara denganmu secara sempurna, aku tak pernah melihat lukisanmu dengan jelas,
tapi aku tak punya alasan untuk tak mendoakanmu, wahai putriku. Setiap usapan
lembutku yang aku tahu kau selalu bosan dan tak pernah mengerti, setiap
lantunan ayat suci yang aku tahu kau terganggu karena tak mungkin seindah
mereka yang bersuara merdu, ketahuilah Nak… doaku selalu ada di sana, Allah selalu
ada di setiap kau melangkah. Jika suatu saat aku harus menutup mataku, jangan
bersedih… pesanku pada Allah untuk selalu menjagamu selalu didengar-Nya. Ia tak
mungkin secacat diriku. Tak akan mungkin.”
Aku
terbangun dari tidurku. Itukah suara ibu? Ibu sedang apa di rumah? Apakah tetap
bersama kesunyian?
Aku
tahu doamu, bu. Mungkin dunia boleh bilang aku tak punya ibu yang lebih
sempurna dari orang lain. Tapi jika harus memilih, tetaplah ibu yang sepertimu
yang aku cintai. Ucapanmu keluar dari hati, dan aku bisa merasakannya.
Bahagiamu bukan dari mata, tapi ia turun ke pipi lalu berhenti di senyummu
lewat air mata. Aku tahu cintamu dan cinta Yang Maha Segalanya telah
mengiringiku hingga di Benua Biru ini, untuk karirku, karyaku, masa depanku, dan
seterusnya. Lalu ayah, tetaplah bahagia di sana. Semua diciptakan dan terjadi
bukan tanpa arti, tapi hanya karena makna tersembunyi di balik kabut kesedihan
yang pasti berlalu.