Sabtu, 25 Februari 2017

Makna



            Hawa dingin langsung menyergapku ketika pelan-pelan aku terbangun dari tidurku, mataku terbuka sayu, menyesuaikan penglihatanku meski kelopak mata masih terasa berat. Sekelilingku gelap, dan hanya ada sinar lampu pelita yang kulihat cahayanya turut memberikan warna kuning keemasan pada dinding kayu rumahku. Ada bayangan ibu di sana, tapi aku tak bisa melihat seutuhnya karena terhalang sekat tipis pemisah ruangan antara kamar dan ruang tamu. Ibu sedang duduk bersimpuh, dan kini suaranya mulai terdengar, berusaha melafalkan huruf-huruf Al-Quran semampu yang ia bisa. Aku melanjutkan tidurku ketika kuperhatikan jarum pendek jam masih betah diam  di angka tiga. Sedangkan, suara ibu mengiringi penantian raja malam bertemu dengan sang surya.
***
            Aku sudah terbiasa hidup tanpa banyak kata. Bagi mereka di luar sana, mungkin berbagi cerita, bercanda, atau minta dinyanyikan sebuah lagu dari seorang ibu adalah hal biasa. Berbeda denganku, meminta ibuku untuk menyanyikan sebaris lirik lagu saja, aku tak tega untuk mendengarnya, apalagi bercanda, mungkin tanpa tawa.
            Jujur saja, aku terkadang bosan mendengar ayat Al-Quran jika yang melantunkan adalah ibuku. Aku tahu ini dosa, tapi aku merasa terganggu karena ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar sama saja setiap hari, meskipun ayat yang dibacanya selalu bertambah. Selalu seperti itu, bahkan sampai mengkhatamkan Al-Quran.
            Ya, aku mengaku, ibu yang kumiliki seumur hidupku ini adalah seorang tuna wicara. Bisu, bahasa kasarnya. Tapi dia sangat menyayangiku. Aku juga sayang padanya, jika mungkin aku mencari seorang ibu yang sempurna di dunia ini, aku akan kembali pada ibuku sendiri, dan pencarianku berakhir padanya. Bagaimanapun, ibuku adalah seorang yang luar biasa. Bahasa kalbunya menenangkan getar resah hatiku.
            Ibuku tidak bisa menulis, apalagi untuk urusan membaca. Tapi herannya, aku tak pernah tahu bagaimana ibu bisa mengerti huruf-huruf hijaiyah, buktinya ia selalu lancar membaca Al-Quran, meskipun lidahnya tak lebih dari sekadar mempersulit ucapannya. Aku pernah menanyakan hal itu, tapi ibu hanya tersenyum dan menunjuk ke arah kepala dan dada. Aku tahu, maksudnya akal dan perasaan, tempatnya di otak dan hati. Itu saja. Terkadang aku menduga-duga bahwa ibu hapal ayat-ayat Al-Quran, tidak mungkin jika hanya membuka kitab tersebut, lalu membaca sesukanya, tanpa tahu apapun, karena menganggap orang lain juga memakluminya sebab ibu tuna wicara, dan sekadar melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hei! Al-Quran… kalimat-kalimat Allah ada di sana, terlalu durhaka dan kurang ajar jika bersikap begitu! Dan aku tak pernah mengenal ibu yang seperti itu.
            Ada kebiasaan ibu yang setiap hari tak bosan dilakukannya, ia selalu mengusap-usap kepalaku dan mengeluarkan kalimat yang tak pernah aku mengerti, ibu melakukannya ketika aku ingin berangkat sekolah dan ingin tidur. Aku tak pernah mengerti maksudnya, tapi aku malas untuk bertanya, sudah bosan, dan serasa tak ingin lagi mendengarnya. Ingin sekali aku menyuruh ibu menghentikan hal itu, tapi jika dipikir, aku ini anaknya, dan itu hak ibuku sebagai orangtua.
            Untuk mengisi kesendirian, aku biasanya melukis. Ya, melukis apa saja yang kuinginkan. Tetapi, hal yang paling sering aku lakukan adalah menggambar. Jika suasana hatiku sedang tidak baik, hal itulah yang kulakukan, begitu juga jika sedang gembira. Jarang aku mengekspresikan perasaanku untuk kutimbulkan secara langsung. Aku lebih suka tenggelam dalam pemikiranku sendiri dengan berbagai macam proyek berkarya. Bisa dibilang, aku penyendiri yang tak pernah kesepian.
***
            Minggu pagi, aku dan ibuku sarapan bersama. Hening sekali. Beberapa waktu kemudian aku membuka pembicaraan, yah… kupilih begitu karena kupikir setidaknya ibu masih mendengar suaraku hari ini. Meskipun kutahu ibu tak mungkin berkomentar. Aku sudah maklum dengan hal itu.
“Sebentar lagi, aku lulus SMA Bu, rencananya aku ingin langsung mencari kerja saja. Jika aku sudah bekerja, ibu tak perlu repot-repot menitipkan kue ke warung-warung.”  ucapku pelan.
Ibu hanya menatapku dengan senyum. Sudah kukatakan, tak mungkin ada komentar.
“Aku ingin menjadi tulang punggung. Coba ayah masih ada, dari dulu ibu tak perlu melakukan hal itu.”
Sampai di situ, selesai sudah. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
            Selepas dari SMA, aku sibuk mencari kerja. Aku juga lebih giat melukis. Sekarang aku menjual lukisanku untuk menopang perekonomian. Tentunya tidak setiap hari dapat terjual, tahu sendirikan bagaimana susahnya? Waktu pengerjaan juga tidak bisa sekali duduk, dan sasaran untuk calon pembeli kebanyakan tak sesuai rencana.
            Entah karena kerinduan pada seorang ayah, atau hanya mendapat celetukan ide, aku tiba-tiba saja ingin melukiskan potret sebuah keluarga. Ayah, ibu, dan aku. Sebenarnya, aku tak pernah bertemu dengan ayahku. Beliau meninggal saat aku masih dalam kandungan, begitu ibuku menceritakannya. Segera kubuka si lemari tua, saksi bisu yang tahu semua isi dari hidupku. Satu album usang dengan lembaran foto hitam putih yang mulai menguning sudah kudapatkan, mataku menjelajahi setiap bagian-bagiannya untuk menemukan sewajah nan jauh terasing dalam hidupku kini. Setelah mendapatkan satu foto yang setidaknya bisa kubaca air mukanya, tanganku sudah siap dengan pensil untuk membuat sketsa awal menggabungkan ayah yang berdiri di dekat ibu dengan perantara aku di tengahnya. Fotonya memang tidak seperti itu, aku hanya mempermainkan imajiku saja, seolah-olah ayah masih ada bersama aku dan ibu.
            Tiga minggu berlalu, hari ini lukisanku sudah bersandar di dinding ruang tamu. Tapi tidak untuk kujual, dan sangat kusayangkan sekali bahwa saat ini, lukisanku tak bisa terlihat seutuhnya oleh ibuku. Ibu kehilangan sebagian penglihatannya. Sudah lama ibu menderita katarak, lalu dioperasi, namun ternyata kornea matanya justru rusak. Kasihan ibu.
            Untungnya hasil penjualan lukisanku bisa menutupi segala kebutuhan hidup aku dan ibu, meskipun ibu tidak membuat kue  lagi. Sejak ibu kehilangan penglihatannya, saat itu juga aku baru menyadari bahwa ibu sebenarnya hapal Al-Quran. Aku mengetahuinya ketika ibu pertama kali membaca dalam pandangan gelapnya tanpa melihat Al-Quran dipangkuannya. Ibu… ibu… aku ini adalah anak yang paling beruntung di dunia. Dengan segala kekurangannya, ibuku adalah seorang hafidzah Al-Quran.
***
            Hari demi hari, minggu berganti bulan, dan akhirnya tahun-tahun baru berganti berlalu memberikan kenangan naik dan turun dalam kehidupanku. Aku yang dulu hanya bermimpi bisa membuat lukisan indah, sekarang justru memiliki galeri seni khusus tentang diriku. Jika dulu aku hanya berharap dapat mengenakan baju bagus buatan ibuku, sekarang butik yang tersebar di berbagai tempat rupanya telah memiliki satu empunya. Diriku. Ibu tak perlu membuatkan baju bagus untukku, aku akan buatkan baju yang ibu mau, juga untuk semua orang.
            “Tak usah menangis atau bingung lagi, Sayang. Mungkin hidupmu pernah merasa sepi tanpa ayah yang seharusnya dapat menemanimu, juga ibu yang dapat menyanyikan atau mendongeng cerita sebelum kau beranjak ke alam mimpimu. Maafkan ibu dan ayahmu. Tapi ketahuilah Nak, jika ayah bisa kau lihat… kau hanya melihatnya sedang tersenyum bahagia dengan air bening di ujung matanya, kau tak temui kesedihan di garis mukanya. Begitupun dengan diriku, mungkin aku tak pernah bicara denganmu secara sempurna, aku tak pernah melihat lukisanmu dengan jelas, tapi aku tak punya alasan untuk tak mendoakanmu, wahai putriku. Setiap usapan lembutku yang aku tahu kau selalu bosan dan tak pernah mengerti, setiap lantunan ayat suci yang aku tahu kau terganggu karena tak mungkin seindah mereka yang bersuara merdu, ketahuilah Nak… doaku selalu ada di sana, Allah selalu ada di setiap kau melangkah. Jika suatu saat aku harus menutup mataku, jangan bersedih… pesanku pada Allah untuk selalu menjagamu selalu didengar-Nya. Ia tak mungkin secacat diriku. Tak akan mungkin.”
            Aku terbangun dari tidurku. Itukah suara ibu? Ibu sedang apa di rumah? Apakah tetap bersama kesunyian?
            Aku tahu doamu, bu. Mungkin dunia boleh bilang aku tak punya ibu yang lebih sempurna dari orang lain. Tapi jika harus memilih, tetaplah ibu yang sepertimu yang aku cintai. Ucapanmu keluar dari hati, dan aku bisa merasakannya. Bahagiamu bukan dari mata, tapi ia turun ke pipi lalu berhenti di senyummu lewat air mata. Aku tahu cintamu dan cinta Yang Maha Segalanya telah mengiringiku hingga di Benua Biru ini, untuk karirku, karyaku, masa depanku, dan seterusnya. Lalu ayah, tetaplah bahagia di sana. Semua diciptakan dan terjadi bukan tanpa arti, tapi hanya karena makna tersembunyi di balik kabut kesedihan yang pasti berlalu.
            

Rabu, 22 Februari 2017

Nevermind


Hidup ini bukan hanya soal bernapas dan cari makan. Aku tak pernah bilang bahwa aku kehilangan banyak kesempatan, atau terlalu terlambat untuk memertahankannya. Hanya saja, soal waktu yang tak pernah tepat. Di luar sana, orang sibuk bergerak cepat di tengah cuaca dingin untuk ambisinya, untuk mimpi mereka masing-masing. Di sini, aku tertunduk dalam ruangan hangat, bersama kesedihan, juga impian yang berserakan di bawah kakiku. Lama sudah aku merasa asing untuk dunia di luar sana.
            Mereka tak tahu bahwa aku sempat kalah, menangis, dan pecah berkeping, hanya karena imaji yang membutakanku dari realita. Ada dari mereka yang senang ketika aku hanya berjalan dalam siang yang gelap, dan malam tanpa harapan. Namun aku tahu, di ujung jalan sana ada hati yang bersedia kusandarkan cerita sedihku.
            Hanya untuk saat ini, aku tak lebih berbeda dari pohon Oak di pinggir jalan sana, yang sepi tanpa daun, bertahan karena dingin salju yang tersangkut lama, dan menunggu matahari menghidupkan sinarnya. Sudahlah, aku ambil semuanya.
            Angin kering menerpa wajahku begitu pintu kubuka. Kudekap semua mimpiku yang hancur, lalu kukubur di bawah tumpukan salju yang sudah terasa pahit. Impian adalah benih dari harapan untuk direalisasikan. Hanya itu yang kuyakini, lalu aku berdoa.
Aku tak bilang mimpiku sirna, juga tak pernah untuk menyerah. Tapi ketahuilah,  hidup tak hanya soal suka cita. Hari yang suram, pilu yang menggigil adalah inti dari perjuanganku. Setidaknya, cerita diriku masih berarti untuk mereka yang mungkin tak tahu rasanya tersandung lalu terjatuh. Lagi, aku tak bilang ini kegagalan. Hanya ingin mencoba jalan lain, jika telah lelah, aku hanya ingat benih impian yang sempat hancur di bawah salju pahit sana. Ia terkubur. Namun, suatu saat akan tumbuh berbunga ketika semi bertemu musimnya.