Hidup
ini bukan hanya soal bernapas dan cari makan. Aku tak pernah bilang bahwa aku
kehilangan banyak kesempatan, atau terlalu terlambat untuk memertahankannya.
Hanya saja, soal waktu yang tak pernah tepat. Di luar sana, orang sibuk
bergerak cepat di tengah cuaca dingin untuk ambisinya, untuk mimpi mereka
masing-masing. Di sini, aku tertunduk dalam ruangan hangat, bersama kesedihan,
juga impian yang berserakan di bawah kakiku. Lama sudah aku merasa asing untuk
dunia di luar sana.
Mereka tak tahu bahwa aku sempat
kalah, menangis, dan pecah berkeping, hanya karena imaji yang membutakanku dari
realita. Ada dari mereka yang senang ketika aku hanya berjalan dalam siang yang
gelap, dan malam tanpa harapan. Namun aku tahu, di ujung jalan sana ada hati
yang bersedia kusandarkan cerita sedihku.
Hanya untuk saat ini, aku tak lebih
berbeda dari pohon Oak di pinggir jalan sana, yang sepi tanpa daun, bertahan
karena dingin salju yang tersangkut lama, dan menunggu matahari menghidupkan
sinarnya. Sudahlah, aku ambil semuanya.
Angin kering menerpa wajahku begitu
pintu kubuka. Kudekap semua mimpiku yang hancur, lalu kukubur di bawah tumpukan
salju yang sudah terasa pahit. Impian adalah benih dari harapan untuk
direalisasikan. Hanya itu yang kuyakini, lalu aku berdoa.
Aku
tak bilang mimpiku sirna, juga tak pernah untuk menyerah. Tapi ketahuilah, hidup tak hanya soal suka cita. Hari yang
suram, pilu yang menggigil adalah inti dari perjuanganku. Setidaknya, cerita
diriku masih berarti untuk mereka yang mungkin tak tahu rasanya tersandung lalu
terjatuh. Lagi, aku tak bilang ini kegagalan. Hanya ingin mencoba jalan lain,
jika telah lelah, aku hanya ingat benih impian yang sempat hancur di bawah
salju pahit sana. Ia terkubur. Namun, suatu saat akan tumbuh berbunga ketika
semi bertemu musimnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar