Rabu, 22 Februari 2017

Nevermind


Hidup ini bukan hanya soal bernapas dan cari makan. Aku tak pernah bilang bahwa aku kehilangan banyak kesempatan, atau terlalu terlambat untuk memertahankannya. Hanya saja, soal waktu yang tak pernah tepat. Di luar sana, orang sibuk bergerak cepat di tengah cuaca dingin untuk ambisinya, untuk mimpi mereka masing-masing. Di sini, aku tertunduk dalam ruangan hangat, bersama kesedihan, juga impian yang berserakan di bawah kakiku. Lama sudah aku merasa asing untuk dunia di luar sana.
            Mereka tak tahu bahwa aku sempat kalah, menangis, dan pecah berkeping, hanya karena imaji yang membutakanku dari realita. Ada dari mereka yang senang ketika aku hanya berjalan dalam siang yang gelap, dan malam tanpa harapan. Namun aku tahu, di ujung jalan sana ada hati yang bersedia kusandarkan cerita sedihku.
            Hanya untuk saat ini, aku tak lebih berbeda dari pohon Oak di pinggir jalan sana, yang sepi tanpa daun, bertahan karena dingin salju yang tersangkut lama, dan menunggu matahari menghidupkan sinarnya. Sudahlah, aku ambil semuanya.
            Angin kering menerpa wajahku begitu pintu kubuka. Kudekap semua mimpiku yang hancur, lalu kukubur di bawah tumpukan salju yang sudah terasa pahit. Impian adalah benih dari harapan untuk direalisasikan. Hanya itu yang kuyakini, lalu aku berdoa.
Aku tak bilang mimpiku sirna, juga tak pernah untuk menyerah. Tapi ketahuilah,  hidup tak hanya soal suka cita. Hari yang suram, pilu yang menggigil adalah inti dari perjuanganku. Setidaknya, cerita diriku masih berarti untuk mereka yang mungkin tak tahu rasanya tersandung lalu terjatuh. Lagi, aku tak bilang ini kegagalan. Hanya ingin mencoba jalan lain, jika telah lelah, aku hanya ingat benih impian yang sempat hancur di bawah salju pahit sana. Ia terkubur. Namun, suatu saat akan tumbuh berbunga ketika semi bertemu musimnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar