Siang
ini, matahari sedang terik-teriknya membagikan panas yang ia miliki. Lebih dari
cukup untuk kulitku yang memang tak pernah lebih terang dari warna sawo matang.
Debu-debu jalanan masih dengan kesibukannya, terbang ke sana ke mari,
menari-nari di bawah langkah-langkah terseret sandal manusia, juga terdorong
akibat asap knalpot dan mesin-mesin kendaraan lainnya.
Baju lusuh yang sedikit kebesaran,
sandal aus yang letih menyusuri jalan, dan peci hitam kusam dengan
benang-benang putih yang keluar dari ikatannya. Terdiam begitu saja membungkus
ragaku yang telah merenta termakan waktu. Guratan-guratan pengalaman hidup
seakan tertulis dalam keriput wajah, keletihan dalam pencarian jalan keluar
setiap keadaan terlihat dari mata yang pupus binarnya, lalu uban-uban menghias
di bawah pinggiran peci hitam, seakan menandakan jaman memang berubah. Pohon
kresen dengan daunnya yang rimbun adalah satu-satunya tempat ternyaman untuk
berteduh di tengah kota yang penuh sesak dengan kepenatan orang-orangnya.
Aku masih duduk tersandar di bawah pohon,
tangan gemetarku menahan tiga bingkai bergambar kaligrafi. Terlalu takut jika
ada yang merampasnya, karena seliter beras telah kutanamkan sebagai harapan
jika semua laku terjual.
Setiap
hari aku hanya dikenyangkan dengan singkong bersama pucuk daunnya sebagai sayur
juga lauk. Rasa hambar dan membosankan dapat ditutupi dengan pedas sambal yang
kupetik sendiri cabainya di pekarangan sempitku. Tak ada sesuatu apapun yang
berharga di rumahku, selain rasa syukurku sendiri.
Lama
aku memerhatikan pemuda di seberang jalan dengan tas segi empat hitam yang
menjadi tentengannya. Berkemeja putih celana hitam, juga sepatu mengilap hendak
menyeberang ke arahku. Wajahnya kusut bekas bermandi keringat dan sinar
matahari.
Pohon
kresen di sini selalu memberikan keteduhan sehingga menarik hati siapapun yang
sudah tak betah dengan udara panas. Termasuk pemuda itu. Kini ia duduk di
sampingku, di atas bangku panjang.
|
|
“Minum
dulu, Nak,’’ ucapku sambil menyodorkan sebotol air minum.
“Terimakasih,
Pak. Tadi saya sudah minum,’’ tolaknya secara halus.
“Kalau
boleh saya tahu, Anak ini dari mana, dan hendak apa? Saya sebelumnya tak pernah
melihat dirimu, Nak,’’ tanyaku.
“Panggil
saja saya Hery, Pak. Saya orang jauh dari desa, kuliah di kota, dan datang ke
sini melamar kerja. Tapi belum dapat panggilan sampai sekarang.’’
“Sekarang
penduduk jumlahnya meningkat, Nak. Lulusan pendidikan tinggi juga susah cari
kerja,’’ ucapku.
“Iya,
Pak. Saya juga bingung. Mau pulang lagi ke rumah, tapi saya malu. Belum bisa
menghasilkan apa-apa.’’
“Sebenarnya
paradigma orang-orang yang perlu dirubah. Kerja tidak harus selalu mengikuti
orang lain, kamu sendiri juga masih muda, bisa berkarya banyak.``
“Tapi
kalau kerja di perusahaan lebih bagus, Pak. Dapat gaji setiap bulan. Apalagi di
perusahaan milik luar negeri. Dari saya kecil, impian saya memang seperti itu,
Pak,’’ ia menyanggah.
Uang memang bisa merubah segalanya.
Hanya karena uang juga, orang rela melakukan apa saja jika ia mau.
“Pulanglah,
Nak. Peluang di sini sangat kecil. Seandainya kamu menghabiskan waktu di tempat
kamu berasal, berbuat banyak untuk desamu sendiri, lama-lama kamulah yang dapat
memajukan desa,’’ aku memberi saran.
“Ah,
Bapak ini bagaimana? Saya kan juga ingin sukses, dan saya tidak ingin terjebak
di desa sendiri,’’ jawabnya sambil tertawa. Mungkin jawabanku terlalu lucu
untuknya.
“Iya,
tapi kesuksesan yang sebenarnya untuk Indonesia, Nak. Negara di luar sana sudah
kaya.’’
|
|
“Cita-cita
saya memang ingin bekerja di perusahaan asing, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak
sendiri? Berbuat banyakkah Bapak untuk
Indonesia? Kalau iya, mengapa Bapak hanya di sini juga, sama seperti saya?’’ ia
melirik ke arah bingkai yang masih kupegang erat.
“Saya
ini sudah tua, Nak. Sekarang yang terpenting tidak menyusahkan orang lain, dan
setidaknya masih ada harapan untuk makan hari ini.’’
“Lalu
apa yang telah Bapak beri untuk Indonesia di masa muda?’’ ia bertanya.
“Masa
muda saya sudah saya berikan untuk negara kita ini. Berjuang, saya korbankan
dan saya relakan masa tua saya hingga seperti ini.’’
Jujur, aku ingin menangis jika
mengenang sejarahku bersama Indonesia pada waktu dulu.
“Maaf,
Pak. Maksudnya bagaimana?’’
“Aku
yakin kau tahu tentang Belanda dan Jepang yang kala itu datang ke Indonesia.
Aku tak pernah menyesal mengorbankan apa yang kumiliki, termasuk masa depan
yang kujalani sekarang ini.’’
Pemuda itu mendekatiku, tertarik
dengan apa yang belum kuceritakan sepenuhnya.
“Jadi,
Bapak ini dulunya pejuang?’’
“Ya.
Sedih rasanya jika harus menghadapi kemerdekaan, namun masih terjajah secara
diam-diam begini. Dulu, aku rela memerjuangkan segalanya agar kehidupan
generasi ke depan dapat lebih baik. Namun ternyata, karena uang dan status
sosial, rasa nasionalisme dan patriotisme harus tunduk dalam diri anak muda
kebanyakan,’’ tak bisa kutahan air mataku.
Diriku selalu berharap generasi muda
dapat merdeka dari kebodohan cara pikir, tindakan, dan dampak negatif
globalisasi. Sudah kami perjuangkan kebebasan dari perang senjata dan berbagai
kekerasan. Aku sangat ikhlas jika sekarang hanya berharap dari singkong yang
menjadi makananku sehari-hari juga bingkai yang entah kapan terbeli oleh
orang-orang yang lewat di depanku.
|
|
Ia menyalamiku, dan mencium
tanganku. Meminta doa dariku, lalu pulang dengan langkah yakin untuk desanya
sendiri. Aku tidak menyangka begitu cepat reaksinya, mungkinkah karena melihat
air mata orang tua
renta ini?
“Terima
kasih, Pak. Berjuang tak melulu soal uang. Tuhan akan tahu usaha kita. Saya
akan pulang, Pak. Bapak adalah pahlawan saya.’’
Kalimat yang ia sampaikan padaku.
Aku tersenyum. Ia harapanku juga sekarang, selain singkong dan bingkai ini.
Hari dengan panas matahari, debu,
jalan raya yang macet, juga orang-orang dengan berbagai kesibukan tak pernah
tahu jika ada hati yang sedih dengan terus memerhatikan perubahan jaman, dalam diamnya di bawah rindang pohon kresen.