Kamis, 20 April 2017

Harapan si Pemakan Singkong


Siang ini, matahari sedang terik-teriknya membagikan panas yang ia miliki. Lebih dari cukup untuk kulitku yang memang tak pernah lebih terang dari warna sawo matang. Debu-debu jalanan masih dengan kesibukannya, terbang ke sana ke mari, menari-nari di bawah langkah-langkah terseret sandal manusia, juga terdorong akibat asap knalpot dan mesin-mesin kendaraan lainnya.

            Baju lusuh yang sedikit kebesaran, sandal aus yang letih menyusuri jalan, dan peci hitam kusam dengan benang-benang putih yang keluar dari ikatannya. Terdiam begitu saja membungkus ragaku yang telah merenta termakan waktu. Guratan-guratan pengalaman hidup seakan tertulis dalam keriput wajah, keletihan dalam pencarian jalan keluar setiap keadaan terlihat dari mata yang pupus binarnya, lalu uban-uban menghias di bawah pinggiran peci hitam, seakan menandakan jaman memang berubah. Pohon kresen dengan daunnya yang rimbun adalah satu-satunya tempat ternyaman untuk berteduh di tengah kota yang penuh sesak dengan kepenatan orang-orangnya.

 Aku masih duduk tersandar di bawah pohon, tangan gemetarku menahan tiga bingkai bergambar kaligrafi. Terlalu takut jika ada yang merampasnya, karena seliter beras telah kutanamkan sebagai harapan jika semua laku terjual.

Setiap hari aku hanya dikenyangkan dengan singkong bersama pucuk daunnya sebagai sayur juga lauk. Rasa hambar dan membosankan dapat ditutupi dengan pedas sambal yang kupetik sendiri cabainya di pekarangan sempitku. Tak ada sesuatu apapun yang berharga di rumahku, selain rasa syukurku sendiri.

Lama aku memerhatikan pemuda di seberang jalan dengan tas segi empat hitam yang menjadi tentengannya. Berkemeja putih celana hitam, juga sepatu mengilap hendak menyeberang ke arahku. Wajahnya kusut bekas bermandi keringat dan sinar matahari.

Pohon kresen di sini selalu memberikan keteduhan sehingga menarik hati siapapun yang sudah tak betah dengan udara panas. Termasuk pemuda itu. Kini ia duduk di sampingku, di atas bangku panjang.


Hanya karena teringat pada anakku, langsung kutawarkan sebotol minuman yang sengaja kubawa dari rumah.

“Minum dulu, Nak,’’ ucapku sambil menyodorkan sebotol air minum.
“Terimakasih, Pak. Tadi saya sudah minum,’’ tolaknya secara halus.
“Kalau boleh saya tahu, Anak ini dari mana, dan hendak apa? Saya sebelumnya tak pernah melihat dirimu, Nak,’’ tanyaku.
“Panggil saja saya Hery, Pak. Saya orang jauh dari desa, kuliah di kota, dan datang ke sini melamar kerja. Tapi belum dapat panggilan sampai sekarang.’’
“Sekarang penduduk jumlahnya meningkat, Nak. Lulusan pendidikan tinggi juga susah cari kerja,’’ ucapku.
“Iya, Pak. Saya juga bingung. Mau pulang lagi ke rumah, tapi saya malu. Belum bisa menghasilkan apa-apa.’’
“Sebenarnya paradigma orang-orang yang perlu dirubah. Kerja tidak harus selalu mengikuti orang lain, kamu sendiri juga masih muda, bisa berkarya banyak.``
“Tapi kalau kerja di perusahaan lebih bagus, Pak. Dapat gaji setiap bulan. Apalagi di perusahaan milik luar negeri. Dari saya kecil, impian saya memang seperti itu, Pak,’’ ia menyanggah.

            Uang memang bisa merubah segalanya. Hanya karena uang juga, orang rela melakukan apa saja jika ia mau.

“Pulanglah, Nak. Peluang di sini sangat kecil. Seandainya kamu menghabiskan waktu di tempat kamu berasal, berbuat banyak untuk desamu sendiri, lama-lama kamulah yang dapat memajukan desa,’’ aku memberi saran.

“Ah, Bapak ini bagaimana? Saya kan juga ingin sukses, dan saya tidak ingin terjebak di desa sendiri,’’ jawabnya sambil tertawa. Mungkin jawabanku terlalu lucu untuknya.
“Iya, tapi kesuksesan yang sebenarnya untuk Indonesia, Nak. Negara di luar sana sudah kaya.’’


            Aku tahu ia sedikit jengkel dan terganggu dengan nasihat-nasihat dari orang tua seperti diriku. Aku sangat paham jiwa mudanya masih menggebu, tapi aku hanya ingin semangatnya untuk negeri ini.

“Cita-cita saya memang ingin bekerja di perusahaan asing, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak sendiri?  Berbuat banyakkah Bapak untuk Indonesia? Kalau iya, mengapa Bapak hanya di sini juga, sama seperti saya?’’ ia melirik ke arah bingkai yang masih kupegang erat.
“Saya ini sudah tua, Nak. Sekarang yang terpenting tidak menyusahkan orang lain, dan setidaknya masih ada harapan untuk makan hari ini.’’
“Lalu apa yang telah Bapak beri untuk Indonesia di masa muda?’’ ia bertanya.
“Masa muda saya sudah saya berikan untuk negara kita ini. Berjuang, saya korbankan dan saya relakan masa tua saya hingga seperti ini.’’
            Jujur, aku ingin menangis jika mengenang sejarahku bersama Indonesia pada waktu dulu.
“Maaf, Pak. Maksudnya bagaimana?’’
“Aku yakin kau tahu tentang Belanda dan Jepang yang kala itu datang ke Indonesia. Aku tak pernah menyesal mengorbankan apa yang kumiliki, termasuk masa depan yang kujalani sekarang ini.’’
            Pemuda itu mendekatiku, tertarik dengan apa yang belum kuceritakan sepenuhnya.
“Jadi, Bapak ini dulunya pejuang?’’
“Ya. Sedih rasanya jika harus menghadapi kemerdekaan, namun masih terjajah secara diam-diam begini. Dulu, aku rela memerjuangkan segalanya agar kehidupan generasi ke depan dapat lebih baik. Namun ternyata, karena uang dan status sosial, rasa nasionalisme dan patriotisme harus tunduk dalam diri anak muda kebanyakan,’’ tak bisa kutahan air mataku.

            Diriku selalu berharap generasi muda dapat merdeka dari kebodohan cara pikir, tindakan, dan dampak negatif globalisasi. Sudah kami perjuangkan kebebasan dari perang senjata dan berbagai kekerasan. Aku sangat ikhlas jika sekarang hanya berharap dari singkong yang menjadi makananku sehari-hari juga bingkai yang entah kapan terbeli oleh orang-orang yang lewat di depanku.


“Masa mudaku sudah kuberikan untuk negara kita, Nak. Sekarang aku merenta, dan aku ingin ada yang tahu bahwa betapa sedihnya Indonesia masih punya bagian yang tertinggal setelah kemerdekaan yang sudah lebih dari setengah abad ini. Hanya karena uang, seseorang bisa lupa dari mana ia berasal. Meninggalkan tempatnya, untuk menyukseskan negara lain,’’ ucapku sambil melihat Hery, tunas bangsa yang barangkali dapat sadar untuk membangun harapan negara.
            Ia menyalamiku, dan mencium tanganku. Meminta doa dariku, lalu pulang dengan langkah yakin untuk desanya sendiri. Aku tidak menyangka begitu cepat reaksinya, mungkinkah karena melihat air mata orang tua renta ini?
“Terima kasih, Pak. Berjuang tak melulu soal uang. Tuhan akan tahu usaha kita. Saya akan pulang, Pak. Bapak adalah pahlawan saya.’’
            Kalimat yang ia sampaikan padaku. Aku tersenyum. Ia harapanku juga sekarang, selain singkong dan bingkai ini.
            Hari dengan panas matahari, debu, jalan raya yang macet, juga orang-orang dengan berbagai kesibukan tak pernah tahu jika ada hati yang sedih dengan terus memerhatikan perubahan jaman, dalam diamnya di bawah rindang pohon kresen. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar