Selasa, 23 Mei 2017

Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang



            Tuhan selalu punya caranya sendiri. Kita hanya dua makhluk yang hidup tanpa saling mengenal sebelumnya. Namun siapa yang tahu, dari sini cerita kita berawal.
***
            Langit jingga berselimut awan lembut menampakkan pesona senjanya, burung-burung terbang melayang merendah, sedang matahari bersiap untuk permisi pergi, menyisakan kilauan cahaya di ujung-ujung pepohonan, sebelum kehidupan akan menyepi di puncak hari.

            Detik yang seperti ini, mungkin akan kutinggalkan semua keindahan yang kulihat dari jendela kamarku, tempat dimana aku selalu rela membiarkan waktu merambah berlalu, membiarkan semua kesedihan saling beradu dalam batin, membiarkan diam menceritakan banyak hal tentang rasa, asa, ataupun cita. Dan ketika semua itu berlalu pergi, aku merasa sepi.

            Lembaran kertas biru muda dengan setia menyaksikan aku yang asyik sendiri dengan duniaku, dia tetap diam. Tak pernah cemburu. Kertas itu setia, dia tahu perjuanganku, tangisanku, keluhku, juga harapanku. Ya, berbagai impian kutitipkan padanya. Tertulis dengan baik, meski tak semua tersusun rapi. Ada secoret tanda yang kuberikan di setiap ujung kata impianku, ketika Allah mengizinkannya untuk menjadi nyata. Ada pula secoret garis silang, yang artinya aku tak sebaiknya untuk meraih tujuan tertentu, dari sana Allah memberikanku jalan terbaik-Nya.

            Warna hari telah kelam, seiring irama abadi seruan kemenangan. Adzan. Sang malam dengan jubah hitamnya mulai menghidupkan sinar bintang-gemintang juga rembulan. Dalam shalatku, kusampaikan semua keluh kesah bersama untaian doa. Aku tak pernah tahu bagaimana tentang hari esok, bagaimana masa depanku, bagaimana kehidupanku, apalagi takdirku. Aku hanya meyakini satu hal, doa adalah cara terbaik, bagaimana pun aku ditakdirkan.

            Tidurku lebih awal malam ini, aku tak ingin esok ada kata terlambat untuk mengejar impianku. Kertas biru tentang impianku, kumasukkan ke dalam map bersama berkas-berkas yang telah kupersiapkan. Aku tak akan berpikir untuk ratusan kali dalam mewujudkan keinginanku yang satu ini, meski orang disekitarku memberikan berbagai komentar dan keraguan.
***

            Di tempat pengabdian, aku baru mengenal dirimu. Hanya karena rasa tanggung jawab sebagai guru untuk memerhatikan pendidikan kesehatan muridnya, kau dengan senang hati ketika kuminta memberikan pengetahuan tentang kesehatan. Ya, kupilih dirimu karena hanya kau seorang dokter yang rela mengabdi tanpa imbalan dengan jumlah besar. Dengan berbekal segala berkas dalam satu map yang langsung kuberikan padamu, kau mulai mengenal mereka satu persatu.

            Terlalu banyak kesulitan yang telah dilalui bersama, awalnya kukira aku akan menyerah. Namun dirimu berjiwa penantang, kau sendiri yang membuatku bertahan di desa antah berantah, hingga akhirnya aku tahu bahwa perjalananku sudah sejauh ini, dan aku tak mungkin harus kalah.

            Kau beri pengetahuan tentang obat-obatan di alam, memberikan pelajaran bagaimana keramahan yang ditawarkan oleh alam kepada manusia dimanapun ia berada, mulai dari pekarangan sekitar, lembah yang luas, juga kau ajak aku bersama murid-murid mendaki gunung karena rasa ingin tahu tentang suatu ilmu mengenai tumbuhan yang terdapat di sana, yang dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Kau bekali mereka dengan cara mengenal tumbuhan obat, karena kau punya alasan sendiri. Menurutmu, kau tak mungkin hidup selamanya, jika kau telah tiada, setidaknya penduduk desa sudah tahu bahan alami untuk suatu penyakit bila suatu saat diperlukan. Apalagi, tak banyak orang-orang dengan pendidikan tinggi yang rela tinggal di desa itu untuk sebuah pengabdian, yang mungkin bayarannya tak sebanding dengan biaya yang harus keluar ketika mengenyam pendidikannya.

            Aku bahagia, ada yang senasib dengan diriku. Kau membuatku tak merasa sendiri ketika segala keterbatasan menghambat apa yang seharusnya bisa kuberikan untuk pendidikan di desa itu. Bersama dirimu, aku merasa kelas reyot tak jadi masalah. Kita punya kelas yang disediakan oleh alam. Pohon dan hewan menjadi alat peraga, langit menjadi alat penunjuk waktu, lalu lantai yang tak punya batas antara pintu masuk maupun pintu keluar. Kelas yang luar biasa. Karena dirimu, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung dengan pengalaman berharga, menemukan air terjun yang tempias sejuknya adalah hal pertama kali jua dapat kurasakan. Dulu, kukira diriku akan menyedihkan di tempat yang kuanggap serba kekurangan. Ternyata kekayaan dan keceriaan ada di sana. Ya, banyak hal ajaib yang kutemui di tempat yang dulunya kurasa aneh.

            Aku mungkin tak punya banyak uang untuk bisa memakmurkan mereka yang tertinggal, tak punya banyak relasi untuk dimintai bantuan dana dan sebagainya. Namun, memang Tuhan selalu punya cara untuk setiap teka-teki yang dihadapi manusia, cara yang sungguh indah. Awalnya hanya berbagi cerita denganmu, hanya berharap dapat melepaskan keresahan tentang kemiskinan di desa tak bernama itu, tapi rupanya dirimu cukup cerdas melihat peluang yang tak berharga jika hanya dilihat dengan sebelah mata.

            Aku hanya tertawa ketika kau tunjukkan seonggok singkong beracun yang tumbuh liar di lahan yang sabat oleh rerumputan. Hei, kau dokter atau apa? sungguhkah kau ingin meracuni orang-orang desa?

            Namun kau beri penjelasan panjang bahwa dengan cara diolah begini dan begitu, orang akan mencarinya lagi karena rasanya yang enak. Lalu kau mengolahnya dengan pengetahuan yang kau peroleh dari masa kecilmu. Ternyata kesulitan hidup masa kecilmu membawa dampak luar biasa, untuk singkong ini. Aku hanya memerhatikan cara kerjamu, bagaimana bisa seorang dokter yang akrab dengan berbagai jenis penyakit, justru meracik dan mengolah singkong dengan luwes dan telaten. Jadilah sereal untuk sebuah akhirnya. Sereal singkong yang dimakan dengan susu untuk sarapan. Sungguh tak lazim, tapi aku ingin tambah lagi saat mangkuk dihadapanku sudah tak ada isinya. Lezat.
***

            Kita mencoba membagikannya kepada murid, juga penduduk desa. Bahagia melihat mereka tersenyum ketika menikmati cita rasanya. Demi kemajuan desa yang pernah kukeluhkan keresahannya padamu, kau mengajakku merengkuh beberapa penduduk untuk berwirausaha, menjual sereal dari resepmu ke masyarakat kota. Lalu memanfaatkan keuntungannya untuk pembangunan desa itu.

            Apa jadinya jika tak ada dirimu saat itu? Singkong di sana tetaplah dianggap beracun, tanpa ada yang tahu bagaimana keunikannya saat telah diubah menjadi makanan yang enak dan menjadi favorit. Desa itu tetaplah desa tertinggal tanpa ada kemajuan jika dirimu tak pernah memulai tindakan yang lepas jauh dari kata kedokteran. Lalu aku, cukup bahagia ada yang memahami bagaimana keinginanku untuk desa yang kukasihani.
***

            Lihat sekarang, desa itu telah maju, bahkan banyak inovasi lain dengan bahan baku singkong yang sama. Mereka bekerja penuh semangat di bawah pengawasanku, para pelanggan pun silih berganti memesan kepadaku. Aku telah merasakan bagaimana senangnya menjadi wirausahawan yang dapat membantu orang lain. Berawal dari ide tak masuk akal. Dari dirimu.
***

            Malam ini, bintang tetap bersinar seperti kemarin, bulan masih sama benderangnya seperti kemarin, dan diriku masih juga sibuk dengan membalas surel dari ketua produksi sereal  desa yang kini sudah dibilang maju. Namun, terhenti diriku ketika kau baru pulang bekerja dan langsung berikan selembar kertas biru padaku.

`` Silakan contreng satu lagi impianmu terserah kapan kau mau, kita akan terbang ke sana.`` kau tersenyum ketika duduk di sampingku.

            Aku kehilangan kata-kataku. Ini kertasku, yang sudah beberapa tahun tak bersamaku, lalu aku melupakannya. Pikiranku kembali berputar ke masa dimana aku memulai segalanya, mengabdi, lalu mengenalmu, dan ya, kertas itu tersimpan di dalam map yang kuberikan padamu, lalu baru sekarang kau kembalikan padaku dengan empat contreng di ujung kalimat tentang impianku. Menjadi sukarelawan dalam pengabdian, mendaki gunung, menikmati air terjun, dan memberdayakan masyarakat dalam kewirausahaan. Semua terwujud sudah. 

            Begitukah caramu mencintai seseorang? Tak terkatakan, namun kau membuatku menyadari sendiri bahwa dirimu memang satu-satunya yang dapat membuka mataku tentang realita dan impian. Juga dirimulah satu-satunya yang dapat membuka hatiku, untuk belajar bahwa hal tersusah akan berakhir dengan indah hanya dengan menjadi diriku sendiri. Lalu menemukan orang yang tepat. Itu kau.

            Aku menangis, betapa indah cara Tuhan mengabulkan impian yang tercatat di kertas biru muda ini. Banyak pelajaran yang kudapat dalam prosesnya. Sekarang, aku tinggal mengatakan bersedia atau tidak untuk memberikan contreng di urutan terakhir yang tertulis di kertas ini. Aku selalu percaya bahwa seseorang yang duduk di sampingku ini akan selalu bersamaku dalam setiap langkah yang kuambil.
***

            Aku melihat awan-awan putih begitu dekat dengan diriku, hanya berbatas kaca jendela. Burung besi mengantarkanku ke tempat yang lama menjadi impianku, Arab. Kertas biruku akan siap untuk satu tanda contreng lagi. Umroh. Inilah awal-awal kebahagiaan setelah ia mengucap janji suci satu bulan lalu. Awal untuk segala impian kami yang lebih besar dan hebat lagi. Hanya bermula dari kertas biru, lalu sekarang aku terbang bersamanya.