Tuhan selalu punya caranya sendiri.
Kita hanya dua makhluk yang hidup tanpa saling mengenal sebelumnya. Namun siapa
yang tahu, dari sini cerita kita berawal.
***
Langit jingga berselimut awan lembut
menampakkan pesona senjanya, burung-burung terbang melayang merendah, sedang
matahari bersiap untuk permisi pergi, menyisakan kilauan cahaya di ujung-ujung
pepohonan, sebelum kehidupan akan menyepi di puncak hari.
Detik yang seperti ini, mungkin akan
kutinggalkan semua keindahan yang kulihat dari jendela kamarku, tempat dimana
aku selalu rela membiarkan waktu merambah berlalu, membiarkan semua kesedihan
saling beradu dalam batin, membiarkan diam menceritakan banyak hal tentang
rasa, asa, ataupun cita. Dan ketika semua itu berlalu pergi, aku merasa sepi.
Lembaran kertas biru muda dengan
setia menyaksikan aku yang asyik sendiri dengan duniaku, dia tetap diam. Tak
pernah cemburu. Kertas itu setia, dia tahu perjuanganku, tangisanku, keluhku,
juga harapanku. Ya, berbagai impian kutitipkan padanya. Tertulis dengan baik,
meski tak semua tersusun rapi. Ada secoret tanda yang kuberikan di setiap ujung
kata impianku, ketika Allah mengizinkannya untuk menjadi nyata. Ada pula
secoret garis silang, yang artinya aku tak sebaiknya untuk meraih tujuan
tertentu, dari sana Allah memberikanku jalan terbaik-Nya.
Warna hari telah kelam, seiring
irama abadi seruan kemenangan. Adzan. Sang malam dengan jubah hitamnya mulai
menghidupkan sinar bintang-gemintang juga rembulan. Dalam shalatku, kusampaikan
semua keluh kesah bersama untaian doa. Aku tak pernah tahu bagaimana tentang
hari esok, bagaimana masa depanku, bagaimana kehidupanku, apalagi takdirku. Aku
hanya meyakini satu hal, doa adalah cara terbaik, bagaimana pun aku
ditakdirkan.
Tidurku lebih awal malam ini, aku
tak ingin esok ada kata terlambat untuk mengejar impianku. Kertas biru tentang
impianku, kumasukkan ke dalam map bersama berkas-berkas yang telah
kupersiapkan. Aku tak akan berpikir untuk ratusan kali dalam mewujudkan
keinginanku yang satu ini, meski orang disekitarku memberikan berbagai komentar
dan keraguan.
***
Di tempat pengabdian, aku baru
mengenal dirimu. Hanya karena rasa tanggung jawab sebagai guru untuk
memerhatikan pendidikan kesehatan muridnya, kau dengan senang hati ketika
kuminta memberikan pengetahuan tentang kesehatan. Ya, kupilih dirimu karena
hanya kau seorang dokter yang rela mengabdi tanpa imbalan dengan jumlah besar.
Dengan berbekal segala berkas dalam satu map yang langsung kuberikan padamu,
kau mulai mengenal mereka satu persatu.
Terlalu banyak kesulitan yang telah
dilalui bersama, awalnya kukira aku akan menyerah. Namun dirimu berjiwa
penantang, kau sendiri yang membuatku bertahan di desa antah berantah, hingga
akhirnya aku tahu bahwa perjalananku sudah sejauh ini, dan aku tak mungkin
harus kalah.
Kau beri pengetahuan tentang
obat-obatan di alam, memberikan pelajaran bagaimana keramahan yang ditawarkan
oleh alam kepada manusia dimanapun ia berada, mulai dari pekarangan sekitar,
lembah yang luas, juga kau ajak aku bersama murid-murid mendaki gunung karena
rasa ingin tahu tentang suatu ilmu mengenai tumbuhan yang terdapat di sana,
yang dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Kau bekali mereka dengan cara
mengenal tumbuhan obat, karena kau punya alasan sendiri. Menurutmu, kau tak
mungkin hidup selamanya, jika kau telah tiada, setidaknya penduduk desa sudah
tahu bahan alami untuk suatu penyakit bila suatu saat diperlukan. Apalagi, tak
banyak orang-orang dengan pendidikan tinggi yang rela tinggal di desa itu untuk
sebuah pengabdian, yang mungkin bayarannya tak sebanding dengan biaya yang
harus keluar ketika mengenyam pendidikannya.
Aku bahagia, ada yang senasib dengan
diriku. Kau membuatku tak merasa sendiri ketika segala keterbatasan menghambat
apa yang seharusnya bisa kuberikan untuk pendidikan di desa itu. Bersama
dirimu, aku merasa kelas reyot tak jadi masalah. Kita punya kelas yang
disediakan oleh alam. Pohon dan hewan menjadi alat peraga, langit menjadi alat
penunjuk waktu, lalu lantai yang tak punya batas antara pintu masuk maupun
pintu keluar. Kelas yang luar biasa. Karena dirimu, untuk pertama kalinya aku
mendaki gunung dengan pengalaman berharga, menemukan air terjun yang tempias
sejuknya adalah hal pertama kali jua dapat kurasakan. Dulu, kukira diriku akan
menyedihkan di tempat yang kuanggap serba kekurangan. Ternyata kekayaan dan
keceriaan ada di sana. Ya, banyak hal ajaib yang kutemui di tempat yang dulunya
kurasa aneh.
Aku mungkin tak punya banyak uang
untuk bisa memakmurkan mereka yang tertinggal, tak punya banyak relasi untuk
dimintai bantuan dana dan sebagainya. Namun, memang Tuhan selalu punya cara
untuk setiap teka-teki yang dihadapi manusia, cara yang sungguh indah. Awalnya
hanya berbagi cerita denganmu, hanya berharap dapat melepaskan keresahan tentang
kemiskinan di desa tak bernama itu, tapi rupanya dirimu cukup cerdas melihat
peluang yang tak berharga jika hanya dilihat dengan sebelah mata.
Aku hanya tertawa ketika kau
tunjukkan seonggok singkong beracun yang tumbuh liar di lahan yang sabat oleh
rerumputan. Hei, kau dokter atau apa? sungguhkah kau ingin meracuni orang-orang
desa?
Namun kau beri penjelasan panjang
bahwa dengan cara diolah begini dan begitu, orang akan mencarinya lagi karena
rasanya yang enak. Lalu kau mengolahnya dengan pengetahuan yang kau peroleh
dari masa kecilmu. Ternyata kesulitan hidup masa kecilmu membawa dampak luar
biasa, untuk singkong ini. Aku hanya memerhatikan cara kerjamu, bagaimana bisa
seorang dokter yang akrab dengan berbagai jenis penyakit, justru meracik dan mengolah
singkong dengan luwes dan telaten. Jadilah sereal untuk sebuah akhirnya. Sereal
singkong yang dimakan dengan susu untuk sarapan. Sungguh tak lazim, tapi aku
ingin tambah lagi saat mangkuk dihadapanku sudah tak ada isinya. Lezat.
***
Kita mencoba membagikannya kepada
murid, juga penduduk desa. Bahagia melihat mereka tersenyum ketika menikmati
cita rasanya. Demi kemajuan desa yang pernah kukeluhkan keresahannya padamu,
kau mengajakku merengkuh beberapa penduduk untuk berwirausaha, menjual sereal dari
resepmu ke masyarakat kota. Lalu memanfaatkan keuntungannya untuk pembangunan
desa itu.
Apa jadinya jika tak ada dirimu saat
itu? Singkong di sana tetaplah dianggap beracun, tanpa ada yang tahu bagaimana
keunikannya saat telah diubah menjadi makanan yang enak dan menjadi favorit.
Desa itu tetaplah desa tertinggal tanpa ada kemajuan jika dirimu tak pernah
memulai tindakan yang lepas jauh dari kata kedokteran. Lalu aku, cukup bahagia
ada yang memahami bagaimana keinginanku untuk desa yang kukasihani.
***
Lihat sekarang, desa itu telah maju,
bahkan banyak inovasi lain dengan bahan baku singkong yang sama. Mereka bekerja
penuh semangat di bawah pengawasanku, para pelanggan pun silih berganti memesan
kepadaku. Aku telah merasakan bagaimana senangnya menjadi wirausahawan yang
dapat membantu orang lain. Berawal dari ide tak masuk akal. Dari dirimu.
***
Malam ini, bintang tetap bersinar
seperti kemarin, bulan masih sama benderangnya seperti kemarin, dan diriku
masih juga sibuk dengan membalas surel dari ketua produksi sereal desa yang kini sudah dibilang maju. Namun,
terhenti diriku ketika kau baru pulang bekerja dan langsung berikan selembar
kertas biru padaku.
``
Silakan contreng satu lagi impianmu terserah kapan kau mau, kita akan terbang
ke sana.`` kau tersenyum ketika duduk di sampingku.
Aku kehilangan kata-kataku. Ini
kertasku, yang sudah beberapa tahun tak bersamaku, lalu aku melupakannya.
Pikiranku kembali berputar ke masa dimana aku memulai segalanya, mengabdi, lalu
mengenalmu, dan ya, kertas itu tersimpan di dalam map yang kuberikan padamu,
lalu baru sekarang kau kembalikan padaku dengan empat contreng di ujung kalimat
tentang impianku. Menjadi sukarelawan dalam pengabdian, mendaki gunung,
menikmati air terjun, dan memberdayakan masyarakat dalam kewirausahaan. Semua
terwujud sudah.
Begitukah caramu mencintai
seseorang? Tak terkatakan, namun kau membuatku menyadari sendiri bahwa dirimu
memang satu-satunya yang dapat membuka mataku tentang realita dan impian. Juga
dirimulah satu-satunya yang dapat membuka hatiku, untuk belajar bahwa hal
tersusah akan berakhir dengan indah hanya dengan menjadi diriku sendiri. Lalu
menemukan orang yang tepat. Itu kau.
Aku menangis, betapa indah cara
Tuhan mengabulkan impian yang tercatat di kertas biru muda ini. Banyak pelajaran
yang kudapat dalam prosesnya. Sekarang, aku tinggal mengatakan bersedia atau
tidak untuk memberikan contreng di urutan terakhir yang tertulis di kertas ini.
Aku selalu percaya bahwa seseorang yang duduk di sampingku ini akan selalu
bersamaku dalam setiap langkah yang kuambil.
***
Aku melihat awan-awan putih begitu
dekat dengan diriku, hanya berbatas kaca jendela. Burung besi mengantarkanku ke
tempat yang lama menjadi impianku, Arab. Kertas biruku akan siap untuk satu
tanda contreng lagi. Umroh. Inilah awal-awal kebahagiaan setelah ia mengucap
janji suci satu bulan lalu. Awal untuk segala impian kami yang lebih besar dan
hebat lagi. Hanya bermula dari kertas biru, lalu sekarang aku terbang
bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar