Suatu hari, ada sahabat
yang membagi isi benaknya kepadaku. Ia bercerita banyak, sedang aku hanya
mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.
``Kurasa ini adalah suatu kebimbangan.Aku yakin semua orang juga tahu
bagaimana rasanya, namun aku belum berhasil mengetahui bagaimana cara keluar
dari hal ini. Terkadang, aku berpikir bagaimana cara untuk menjadi seseorang
yang benar-benar hidup, bukan hanya untuk sekadar bertahan. Hidup pada
kehidupan sendiri dengan sebaik-baiknya, membangun apa yang masih dimimpikan,
mengejar apa yang terlihat jauh, atau kembali untuk menjemput ketertinggalan
.
Terlihat
mudah jika hanya rajin membaca rangkaian kalimat pembuka semangat harian, aku
pun bisa berpidato jika hanya seperti itu. Tapi ketahuilah, dunia tetap menginginkan
kesempurnaan yang semu, kenyamanan yang suntuk, lalu terlena dalam buaian
pahit. Dunia luar tak perlu kita yang apa adanya. Semua palsu.
Sepanjang
perjalananku yang masih selangkah dua langkah, perlahan aku mengerti bahwa
kebahagiaan memang sederhana. Sesederhana kau mengatakan `bahagia itu
sederhana` sambil tersenyum di atas rumputan hijau, atau dengan makan nasi tahu
tempe di pinggir aliran air yang jernih. Begitulah.
Namun
kembali aku melihat bagaimana mereka yang mencari kebahagiaan di antara
lembaran-lembaran kertas berharga bertuliskan nominal dan mata uang dari
macam-macam negara, atau juga bagaimana mereka berburu sebuah eksistensi yang
terlanjur tak lagi menyediakan privasi bahwa mereka pun masih sebagai manusia
biasa.
Bagaimana
dengan diriku?
Aku
hanya membayangkan bagaimana jika esok aku mati? Apa yang akan kutinggalkan di
sini? Apa yang akan orang ingat tentang diriku? Lalu apa yang kubawa ke akhirat
nanti?
Bila
aku hanya mencari uang dan uang, jelas itu tak akan memberikan jaminan apapun
jika aku merupakan orang tamak dan serakah. Bila aku meneruskan apa yang aku
yakini untuk tujuan hidupku sendiri, aku tahu bahwa rasa simpati tetaplah pada
tempatnya, ia akan mengusik dan menggoyahkan apa yang telah kulihat di kejauhan
sana. Perasaan itu berkata `bahagiakan mereka yang berharga dalam hidupmu!` tak
mungkin aku harus mengutamakan diriku sendiri. Artinya, suatu saat aku akan
mengalah demi siapa pun mereka yang mengisi cerita hidupku. Itu susah, karena
aku belum merasa `pernah mengalahkan` diriku sendiri.
Jika harus berdamai pada
kenyataan, aku perlu waktu untuk membuat diriku menjadi lebih dewasa, karena
selama ini aku terlalu asyik dengan cara pandangku sendiri. Senang bila menjadi
dirimu, kau telah menemukan hal apa yang bisa membuatmu bahagia, tentang
duniawi kau mungkin lebih beruntung daripada diriku, dan Tuhan tahu cita-citamu
adalah surga.``
***
Begitulah dirinya, rupanya
aku tak sendiri. Aku temukan ia tengah kesepian di sudut pikirnya, merenungi
nasib yang ia harap tak akan buruk, merenungi kehidupan yang tak selalu sesuai
dengan maunya, dan melihat diriku dalam arti yang lebih.
Padahal tidak. Ia tak
pernah sendiri, ia telah punya diriku dari dulu, karena aku pun begitu. Semua
orang berpikir bahwa mereka merasa sendirian, jauh dari itu aku menyadari bahwa
tak ada yang `sendirian`, karena setiap
orang sama-sama merasakannya. Lalu, aku katakan bahwa aku tak selalu bahagia,
aku hanya terus belajar untuk tersenyum agar tidak lupa caranya. Lagi, jika aku
memang kaya, aku tetaplah orang yang pernah meminjam uangnya hanya untuk
membeli air mineral kemasan sekali minum. Terakhir, Tuhan tahu siapa kita.
Jangan berlebihan ketika tak banyak cerita sedih dari diriku, bukan berarti
hidupku tak punya kekurangan. Semua orang masih selalu harap-harap cemas
tentang hidup.