Rabu, 19 Juli 2017

Everyone is Alone


                      Suatu hari, ada sahabat yang membagi isi benaknya kepadaku. Ia bercerita banyak, sedang aku hanya mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.

                      ``Kurasa ini adalah suatu kebimbangan.Aku yakin semua orang juga tahu bagaimana rasanya, namun aku belum berhasil mengetahui bagaimana cara keluar dari hal ini. Terkadang, aku berpikir bagaimana cara untuk menjadi seseorang yang benar-benar hidup, bukan hanya untuk sekadar bertahan. Hidup pada kehidupan sendiri dengan sebaik-baiknya, membangun apa yang masih dimimpikan, mengejar apa yang terlihat jauh, atau kembali untuk menjemput ketertinggalan
.
                      Terlihat mudah jika hanya rajin membaca rangkaian kalimat pembuka semangat harian, aku pun bisa berpidato jika hanya seperti itu. Tapi ketahuilah, dunia tetap menginginkan kesempurnaan yang semu, kenyamanan yang suntuk, lalu terlena dalam buaian pahit. Dunia luar tak perlu kita yang apa adanya. Semua palsu.

                      Sepanjang perjalananku yang masih selangkah dua langkah, perlahan aku mengerti bahwa kebahagiaan memang sederhana. Sesederhana kau mengatakan `bahagia itu sederhana` sambil tersenyum di atas rumputan hijau, atau dengan makan nasi tahu tempe di pinggir aliran air yang jernih. Begitulah.

                      Namun kembali aku melihat bagaimana mereka yang mencari kebahagiaan di antara lembaran-lembaran kertas berharga bertuliskan nominal dan mata uang dari macam-macam negara, atau juga bagaimana mereka berburu sebuah eksistensi yang terlanjur tak lagi menyediakan privasi bahwa mereka pun masih sebagai manusia biasa.

                      Bagaimana dengan diriku?
                    Aku hanya membayangkan bagaimana jika esok aku mati? Apa yang akan kutinggalkan di sini? Apa yang akan orang ingat tentang diriku? Lalu apa yang kubawa ke akhirat nanti?

                      Bila aku hanya mencari uang dan uang, jelas itu tak akan memberikan jaminan apapun jika aku merupakan orang tamak dan serakah. Bila aku meneruskan apa yang aku yakini untuk tujuan hidupku sendiri, aku tahu bahwa rasa simpati tetaplah pada tempatnya, ia akan mengusik dan menggoyahkan apa yang telah kulihat di kejauhan sana. Perasaan itu berkata `bahagiakan mereka yang berharga dalam hidupmu!` tak mungkin aku harus mengutamakan diriku sendiri. Artinya, suatu saat aku akan mengalah demi siapa pun mereka yang mengisi cerita hidupku. Itu susah, karena aku belum merasa `pernah mengalahkan` diriku sendiri. 

                Jika harus berdamai pada kenyataan, aku perlu waktu untuk membuat diriku menjadi lebih dewasa, karena selama ini aku terlalu asyik dengan cara pandangku sendiri. Senang bila menjadi dirimu, kau telah menemukan hal apa yang bisa membuatmu bahagia, tentang duniawi kau mungkin lebih beruntung daripada diriku, dan Tuhan tahu cita-citamu adalah surga.``
***
                      Begitulah dirinya, rupanya aku tak sendiri. Aku temukan ia tengah kesepian di sudut pikirnya, merenungi nasib yang ia harap tak akan buruk, merenungi kehidupan yang tak selalu sesuai dengan maunya, dan melihat diriku dalam arti yang lebih.

                      Padahal tidak. Ia tak pernah sendiri, ia telah punya diriku dari dulu, karena aku pun begitu. Semua orang berpikir bahwa mereka merasa sendirian, jauh dari itu aku menyadari bahwa tak ada yang `sendirian`,  karena setiap orang sama-sama merasakannya. Lalu, aku katakan bahwa aku tak selalu bahagia, aku hanya terus belajar untuk tersenyum agar tidak lupa caranya. Lagi, jika aku memang kaya, aku tetaplah orang yang pernah meminjam uangnya hanya untuk membeli air mineral kemasan sekali minum. Terakhir, Tuhan tahu siapa kita. Jangan berlebihan ketika tak banyak cerita sedih dari diriku, bukan berarti hidupku tak punya kekurangan. Semua orang masih selalu harap-harap cemas tentang hidup.
                       
                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar