Saat
itu gerimis kecil-kecil masih betah merintikkan butirannya di atas dedaunan
pohon maple yang kuning memerah rimbun. Romantisme autumn menjadi sesuatu yang
disambut dengan hangat hening oleh orang-orang yang entah dari mana saja mereka
berasal. Dengan topi kupluknya, jaket dan sweater manis warna-warni, juga
sepatu boot yang menambah elegan setiap langkah ketika menyusuri jalanan basah
dengan suara tap-tap ketukan sepatu. Diperindah lagi dengan lampu-lampu jalanan
bercahaya kuning jingga yang berpendar di bawah langit yang menampilkan gradasi
khas ujung hari secara perlahan, mempersilakan sang bulan muncul dengan anggun
di balik awan-awan yang redup menghilang.
Begitulah yang kulihat saat ini,
dari jendela kafe yang letaknya paling depan, namun di sudut ruang. Tempat yang
sangat pas untuk banyak merenung, juga mengamati dan merasakan sekelumit suasana
di ujung kota Amsterdam, jika kau ingin mencobanya.
Aroma greentea latte di hadapanku
menghangatkan pernapasan yang sedari tadi sedikit sesak karena suhu udara yang
mulai mendingin di musim ini. Penghangat ruangan rupanya ikut andil
mempengaruhi panca indra pejalan kaki. Mereka mampir, memesan makanan kecil,
hot chocolate, atau apa saja yang penting hangat, lalu melanjutkan perjalanan
pulang, atau kemana saja. Entah.
Begitu sempurna gambaran musim gugur
yang tertangkap oleh mataku, musim yang dulu pernah kucari sensasinya di tanah
kelahiranku, Indonesia. Karena musim ini jua, perjalanan sejauh ini kutempuh.
Hai autumn, aku menemukanmu!
Sambil menyesap greentea latte, aku
menggumamkan rasa syukur yang begitu dalam, entah bagaimanapun kurangnya setiap
keadaan, inilah yang membuatku tambah mengerti arti sebuah perjalanan.
Aku hanya sendiri di sini, bukan
travelling dengan gaya mahal, atau sekadar mampir sebentar untuk numpang foto
di setiap tempat penentu ke-afdhol-an jika sudah berkunjung ke negeri ini. Bukan.
Buku catatanku masih tergeletak di
atas meja, rapih tak tersentuh goresan pensil dari tadi. Seharusnya telah
banyak yang tercatat di dalamnya, namun entahlah, rupanya tanganku enggan
karena otak menginformasikan bahwa hatiku sedang tak di sini, ia diterbangkan oleh
isi benak menuju masa lalu. Bertahun-tahun yang telah lewat, di masa aku masih
diatur dengan rentetan kata: sekolah yang pintar; selesai makan harus tidur
siang; mandi sore lalu kerjakan PR; tidurlah jam sembilan malam agar esok tidak
terlambat ke sekolah. Oh Tuhan, aku mulai merindukan ayah ibuku. Homesick.
Tentang jarak, aku yakin tak
terkatakan lagi doa mereka pada Tuhan untuk menjaga langkahku yang berjalan ke
sana ke mari di negeri ini. Aku yakin.
Hei, dari mana sumber rasa rindu ini
yang tiba-tiba muncul di kafe bersama aroma hangat? Oh ya, rupanya aku asyik
memperhatikan anak kecil berambut pirang dengan mata biru serta pipi putih
bersemu merah yang sedang memperlihatkan mainan pancing barunya juga ikan-ikan plastik
aneka warna bersama ayahnya tepat di seberang jalan. Sungguh, hal kecil seperti
itu sukses membuatku rindu rumah. Suasana ini sungguh membawaku.
Asal kau tahu, ayahku sangat hobi
memancing. Ketika hari libur. Ikan apa saja, besar atau kecil, banyak atau sedikit,
bahkan tidak dapat sama sekali. Yang penting memancing. Dulu aku sering ikut,
merengek jika tak diajak, atau langsung membuang uang recehan yang selalu
dikumpulkannya di cangkir dalam lemari. Kubuang begitu saja di halaman, tanpa
mau memungutnya kembali meskipun sudah berhenti ngambek. Uang itu kotor, terhempas langkah sandal yang kugunakan
untuk mengaji setiap sore. Tapi jika esok aku keluar rumah, recehan itu sudah
bersih tersimpan dalam cangkir. Ayahku yang memungutinya semalam.
Aku belajar banyak dari ayah,
`memancing ikan itu sama halnya melatih kesabaran` begitulah ia berkata. Terkadang
jika terlalu lelah, aku ribut ingin pulang, bahkan pura-pura menghilang agar
ayah beranjak dari tempatnya memancing. `Jangan berisik, nanti ikannya kabur,`
adalah kalimat yang sudah kuhapal dari tegurannya jika aku mendatanginya dengan
berlari.
Lama-lama, ayah membeli pancing baru
dengan pemberat nilon berwarna hijau muda terang untukku. Aku tak pernah
memintanya, dia yang memberi entah untuk apa, pikirku. Mungkin daripada melihatku
sibuk memilih tanaman eceng gondok untuk penutup gelas air mineral yang sudah
kuisi anakan ikan yang berenang lincah minta dibebaskan, atau agar aku tak
sibuk mengumpulkan kerang-kerang sungai yang membuat ujung celana panjangku
basah hingga selutut.
Lama kelamaan juga, aku betah
memandangi ujung pancing dengan benda hijau muda terang yang mengapung itu,
jika ikan memakan umpan pancingku, aku akan langsung tersenyum pada ayahku,
merasa tak percaya bahwa ada hasil tangkapanku sendiri yang akan dimasak di
rumah.
Tak hanya hal-hal menyenangkan yang
kualami ketika memancing bersama ayah. Salah jalan, kehujanan hingga petir yang
menakutkan, juga tangan ayah yang tersangkut kail. Semua ada.
Apalagi, landscape sepanjang
perjalanan memancing tak pernah membosankan. Terkadang panas dengan angin
sesekali bersemilir sejuk, menggoyangkan rerumputan juga daunan di pohon,
menyeruakkan aroma bunga-bunga liar, dan dedaunan kering di tanah. Jika hujan
tiba, setiap rintik derasnya yang masuk ke sungai membentuk mahkota sesaat akibat
tetes hujan yang membentur permukaan sungai. Aku suka ketika dedaunan kuning
berguguran karena angin bersama gerimis yang sejuk. Ah, mungkin begini suasana
musim gugur itu, gumamku dulu. Mulai saat itu, aku jatuh cinta pada pesona
autumn.
***
Aku merapatkan jaket untuk bersiap
pulang setelah greentea latteku ludes kuminum. Dalam perjalanan pulang, aku
mulai berpikir lagi, bahwa hal kecil dari didikan ayah telah membawaku sejauh
ini. Dan ya, mungkin hobi itu kumiliki juga. Bayangkan saja, mana pernah aku
dulu bermimpi tentang autumn jika aku tak ikut memancing? Oh, ingatlah lagi
tentang bagaimana pemandangan yang kuceritakan tadi. Lalu, filosofi memancing
pun aku dapatkan. Aku sendiri yang menyadarinya, ayah tak pernah memberikan
petuah tentang ini. Jadi begini, memancing tak perlu banyak tingkah, atau rebut
ini-itu. Hanya perlu bersabar setelah umpan dirasa tepat sasaran. Lalu
mengamati. Mungkin cara itu yang digunakan ayah untuk membentuk karakterku.
Ketahuilah, aku lebih suka mengamati
apapun tanpa harus banyak bertanya ini-itu, membiarkan apa yang akan terjadi,
lalu menulisnya, entah baik atau tidak. Sebelas per dua belas dengan apa yang
diajarkan ayahku dari hobinya.
Lalu, penggambaran suasana tak
pernah sulit kututurkan lewat rangkaian kata, karena sebagian besar diriku
pernah ada di dalamnya. Sangat membantu untuk setiap penulisanku.
Buku catatanku hari ini kosong.
Benar-benar kosong. Tapi aku tak khawatir. Terima kasih adik kecil rambut
pirang. Aku melihat dirimu menghantarku ke masa lalu yang indah, hingga aku
punya cerita hebat tentang ayahku yang akan kutuliskan sebagai kisah baru,
untuk semuanya. Yang menceritakan bagaimana seseorang dikirim ke negeri orang
karena hobinya yang lain, menulis. Menulis dengan mengamati apapun di
hadapannya yang diusahakan memberi moral positif. Kerinduannya yang berlabuh
pada masa lalu yang secara tak sadar ia belajar banyak hal dari kegiatan
memancing ikan, hingga pernah berharap musim gugur ada di Indonesia.
Cerita baru kali ini tentang ayah,
tentang hobi, hingga bagaimana hobi itu membentuk diriku. Aku pulang dengan
langkah cepat, ingin cepat-cepat menuliskan sebuah cerita tentang musim gugur
yang mengubah sebuah pancing mainan seorang anak kecil menjadi rentetan kenangan
berharga bagi penulisnya. Semoga selesai, dan menyiratkan amanat pada
pembacanya, hingga ia tak pernah lupa dengan cerita ini. Unforgettable story.
Masih ada rintik gerimis, juga
butiran air di atas daun-daun maple yang merunduk tidur untuk gugur di esok
hari. Natural. Semua masa kecilku, hal-hal kecil itu, rupanya tetap punya
sebab-akibat pada langkahku, perut kenyangku, tanah yang kupijak sekarang, juga
suasana oranye di negeri ini. Yang baru kusadari, di musim gugur saat ini.
Sungguh membawaku!