Kamis, 12 Oktober 2017

Autumn



            Saat itu gerimis kecil-kecil masih betah merintikkan butirannya di atas dedaunan pohon maple yang kuning memerah rimbun. Romantisme autumn menjadi sesuatu yang disambut dengan hangat hening oleh orang-orang yang entah dari mana saja mereka berasal. Dengan topi kupluknya, jaket dan sweater manis warna-warni, juga sepatu boot yang menambah elegan setiap langkah ketika menyusuri jalanan basah dengan suara tap-tap ketukan sepatu. Diperindah lagi dengan lampu-lampu jalanan bercahaya kuning jingga yang berpendar di bawah langit yang menampilkan gradasi khas ujung hari secara perlahan, mempersilakan sang bulan muncul dengan anggun di balik awan-awan yang redup menghilang.

            Begitulah yang kulihat saat ini, dari jendela kafe yang letaknya paling depan, namun di sudut ruang. Tempat yang sangat pas untuk banyak merenung, juga mengamati dan merasakan sekelumit suasana di ujung kota Amsterdam, jika kau ingin mencobanya.

            Aroma greentea latte di hadapanku menghangatkan pernapasan yang sedari tadi sedikit sesak karena suhu udara yang mulai mendingin di musim ini. Penghangat ruangan rupanya ikut andil mempengaruhi panca indra pejalan kaki. Mereka mampir, memesan makanan kecil, hot chocolate, atau apa saja yang penting hangat, lalu melanjutkan perjalanan pulang, atau kemana saja. Entah.

            Begitu sempurna gambaran musim gugur yang tertangkap oleh mataku, musim yang dulu pernah kucari sensasinya di tanah kelahiranku, Indonesia. Karena musim ini jua, perjalanan sejauh ini kutempuh. Hai autumn, aku menemukanmu!

            Sambil menyesap greentea latte, aku menggumamkan rasa syukur yang begitu dalam, entah bagaimanapun kurangnya setiap keadaan, inilah yang membuatku tambah mengerti arti sebuah perjalanan.

            Aku hanya sendiri di sini, bukan travelling dengan gaya mahal, atau sekadar mampir sebentar untuk numpang foto di setiap tempat penentu ke-afdhol-an jika sudah berkunjung ke negeri ini. Bukan.

            Buku catatanku masih tergeletak di atas meja, rapih tak tersentuh goresan pensil dari tadi. Seharusnya telah banyak yang tercatat di dalamnya, namun entahlah, rupanya tanganku enggan karena otak menginformasikan bahwa hatiku sedang tak di sini, ia diterbangkan oleh isi benak menuju masa lalu. Bertahun-tahun yang telah lewat, di masa aku masih diatur dengan rentetan kata: sekolah yang pintar; selesai makan harus tidur siang; mandi sore lalu kerjakan PR; tidurlah jam sembilan malam agar esok tidak terlambat ke sekolah. Oh Tuhan, aku mulai merindukan ayah ibuku. Homesick.

            Tentang jarak, aku yakin tak terkatakan lagi doa mereka pada Tuhan untuk menjaga langkahku yang berjalan ke sana ke mari di negeri ini. Aku yakin.

            Hei, dari mana sumber rasa rindu ini yang tiba-tiba muncul di kafe bersama aroma hangat? Oh ya, rupanya aku asyik memperhatikan anak kecil berambut pirang dengan mata biru serta pipi putih bersemu merah yang sedang memperlihatkan mainan pancing barunya juga ikan-ikan plastik aneka warna bersama ayahnya tepat di seberang jalan. Sungguh, hal kecil seperti itu sukses membuatku rindu rumah. Suasana ini sungguh membawaku.

            Asal kau tahu, ayahku sangat hobi memancing. Ketika hari libur. Ikan apa saja, besar atau kecil, banyak atau sedikit, bahkan tidak dapat sama sekali. Yang penting memancing. Dulu aku sering ikut, merengek jika tak diajak, atau langsung membuang uang recehan yang selalu dikumpulkannya di cangkir dalam lemari. Kubuang begitu saja di halaman, tanpa mau memungutnya kembali meskipun sudah berhenti ngambek. Uang itu kotor, terhempas langkah sandal yang kugunakan untuk mengaji setiap sore. Tapi jika esok aku keluar rumah, recehan itu sudah bersih tersimpan dalam cangkir. Ayahku yang memungutinya semalam.

            Aku belajar banyak dari ayah, `memancing ikan itu sama halnya melatih kesabaran` begitulah ia berkata. Terkadang jika terlalu lelah, aku ribut ingin pulang, bahkan pura-pura menghilang agar ayah beranjak dari tempatnya memancing. `Jangan berisik, nanti ikannya kabur,` adalah kalimat yang sudah kuhapal dari tegurannya jika aku mendatanginya dengan berlari.

            Lama-lama, ayah membeli pancing baru dengan pemberat nilon berwarna hijau muda terang untukku. Aku tak pernah memintanya, dia yang memberi entah untuk apa, pikirku. Mungkin daripada melihatku sibuk memilih tanaman eceng gondok untuk penutup gelas air mineral yang sudah kuisi anakan ikan yang berenang lincah minta dibebaskan, atau agar aku tak sibuk mengumpulkan kerang-kerang sungai yang membuat ujung celana panjangku basah hingga selutut.

            Lama kelamaan juga, aku betah memandangi ujung pancing dengan benda hijau muda terang yang mengapung itu, jika ikan memakan umpan pancingku, aku akan langsung tersenyum pada ayahku, merasa tak percaya bahwa ada hasil tangkapanku sendiri yang akan dimasak di rumah.

            Tak hanya hal-hal menyenangkan yang kualami ketika memancing bersama ayah. Salah jalan, kehujanan hingga petir yang menakutkan, juga tangan ayah yang tersangkut kail. Semua ada.

            Apalagi, landscape sepanjang perjalanan memancing tak pernah membosankan. Terkadang panas dengan angin sesekali bersemilir sejuk, menggoyangkan rerumputan juga daunan di pohon, menyeruakkan aroma bunga-bunga liar, dan dedaunan kering di tanah. Jika hujan tiba, setiap rintik derasnya yang masuk ke sungai membentuk mahkota sesaat akibat tetes hujan yang membentur permukaan sungai. Aku suka ketika dedaunan kuning berguguran karena angin bersama gerimis yang sejuk. Ah, mungkin begini suasana musim gugur itu, gumamku dulu. Mulai saat itu, aku jatuh cinta pada pesona autumn.

***
            Aku merapatkan jaket untuk bersiap pulang setelah greentea latteku ludes kuminum. Dalam perjalanan pulang, aku mulai berpikir lagi, bahwa hal kecil dari didikan ayah telah membawaku sejauh ini. Dan ya, mungkin hobi itu kumiliki juga. Bayangkan saja, mana pernah aku dulu bermimpi tentang autumn jika aku tak ikut memancing? Oh, ingatlah lagi tentang bagaimana pemandangan yang kuceritakan tadi. Lalu, filosofi memancing pun aku dapatkan. Aku sendiri yang menyadarinya, ayah tak pernah memberikan petuah tentang ini. Jadi begini, memancing tak perlu banyak tingkah, atau rebut ini-itu. Hanya perlu bersabar setelah umpan dirasa tepat sasaran. Lalu mengamati. Mungkin cara itu yang digunakan ayah untuk membentuk karakterku.

            Ketahuilah, aku lebih suka mengamati apapun tanpa harus banyak bertanya ini-itu, membiarkan apa yang akan terjadi, lalu menulisnya, entah baik atau tidak. Sebelas per dua belas dengan apa yang diajarkan ayahku dari hobinya.

            Lalu, penggambaran suasana tak pernah sulit kututurkan lewat rangkaian kata, karena sebagian besar diriku pernah ada di dalamnya. Sangat membantu untuk setiap penulisanku.

            Buku catatanku hari ini kosong. Benar-benar kosong. Tapi aku tak khawatir. Terima kasih adik kecil rambut pirang. Aku melihat dirimu menghantarku ke masa lalu yang indah, hingga aku punya cerita hebat tentang ayahku yang akan kutuliskan sebagai kisah baru, untuk semuanya. Yang menceritakan bagaimana seseorang dikirim ke negeri orang karena hobinya yang lain, menulis. Menulis dengan mengamati apapun di hadapannya yang diusahakan memberi moral positif. Kerinduannya yang berlabuh pada masa lalu yang secara tak sadar ia belajar banyak hal dari kegiatan memancing ikan, hingga pernah berharap musim gugur ada di Indonesia.

            Cerita baru kali ini tentang ayah, tentang hobi, hingga bagaimana hobi itu membentuk diriku. Aku pulang dengan langkah cepat, ingin cepat-cepat menuliskan sebuah cerita tentang musim gugur yang mengubah sebuah pancing mainan seorang anak kecil menjadi rentetan kenangan berharga bagi penulisnya. Semoga selesai, dan menyiratkan amanat pada pembacanya, hingga ia tak pernah lupa dengan cerita ini. Unforgettable story.

            Masih ada rintik gerimis, juga butiran air di atas daun-daun maple yang merunduk tidur untuk gugur di esok hari. Natural. Semua masa kecilku, hal-hal kecil itu, rupanya tetap punya sebab-akibat pada langkahku, perut kenyangku, tanah yang kupijak sekarang, juga suasana oranye di negeri ini. Yang baru kusadari, di musim gugur saat ini. Sungguh membawaku!
 
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar