Hakikatnya, cinta diciptakan
antara satu hati dengan hati yang lain, terkadang bisa terucap namun sebagian
manusia urung menunjukkannya. Karena itu juga, ada manusia yang harus menelan
penyesalan, atau hatinya membusuk demi penantian. Jika beruntung, dunia akan
terasa benar, indah, dan problema sebesar apapun dapat dikecilkan dengan cinta.
Apabila ada hati yang merasakan hal seperti itu, yakinlah segala-galanya yang
dijunjung tinggi adalah cinta. Namun jika terluka, ia akan tenggelam sedalam-dalamnya
dalam air mata darah, dan jika sial, ia akan takut dan akhirnya tak tahu lagi
bagaimana caranya mencintai dan jatuh cinta. Ajaib, cinta itu manis tapi juga
pahit.
Suasana
begitu mendung, awan seolah ingin memuntahkan beban dalam tubuhnya, namun belum
saatnya dikeluarkan. Tak ada guntur yang membentak atau juga petir yang
menusukkan kilatnya. Hanya angin kencang di sini, menggoyangkan tangkai-tangkai
bunga yang kupegang juga gaun panjangku.
Tahukah
kau, hidupku dulu tak pernah seperti ini. Namun entah bagaimana semua kau sulap
bak abracadabra, kau belokkan cara pandangku, lalu kau tempatkan aku di
ketidakberdayaan yang sangat lemah dalam diri seorang manusia. Lalu aku tak
bisa lagi untuk merasa lebih dari yang lain, tak berani untuk menatap langit,
dan jika melihat tanah, akan kutemukan bagaimana hinanya diriku dengan dosa.
Kau membuat diriku selalu ingin bersimpuh sujud dengan tangis, dan meminta
sebagaimana serendah-rendahnya seorang hamba kepada penciptanya.
Sebelum
kau hadir, semua kuanggap sepele. Langkahku, jiwaku, dan dosaku. Langkahku
terayun tanpa tahu sejauh mana ia melangkah, jiwaku terlalu merasa ringan
hingga ia bebas sebebas-bebasnya. Lalu dosaku tak pernah memberi kabar bahwa
jagat raya pun tak sanggup menampungnya.
Hingga
akhirnya aku mengerti bahwa aku ini orang yang tak tahu diri, tak tahu agama,
dan aku hanya mengenal Allah sebagai tuhanku. Itu saja. Padahal jika ditanya
tentang tokoh dunia, masalah sains, atau ekonomi, maka pembicaraan bisa
berlangsung hingga larut malam.
Sayang
sekali, karena kedunguanku kala aku tak mengerti tentang apa yang kau selalu
bicarakan, tentang apa yang selalu kau bahas, ikatan sahabat antara kita
merenggang dan aku sendiri yang memutuskannya. Hal itu bermula ketika kau
memberikan pertanyaan keutamaan sebuah surah Al- Fatihah, lalu aku hanya
terbungkam, dan aku akhirnya turun dari panggung debat dengan sorak ejekan.
Sungguh aku malu, dan dendam karenamu pernah tertahan di hatiku.
***
Beberapa
bulan kemudian, aku hampir mati. Terbaring di tempat tidur rumah sakit, hanya
karena keluhan kecil yang kurasakan dari dulu, dan tiba-tiba `radang selaput
otak` harus keluar dari mulut dokter untuk menamai penyakitku.
Kau
datang menjenguk, dan kau tak pernah mengerti bahwa aku tak pernah berharap
untuk bertemu denganmu lagi meski aku mati sekalipun. Mungkin aku satu-satunya
orang yang tak suka dengan wajah cerahmu, senyum teduhmu, dan aura religius
dalam balutan baju koko dan peci putihmu.
``Hampir mati rupanya kau, bisakah kau tamatkan
bacaan Al- Qur`an yang kau tinggalkan di masa kecilmu dulu?``
Pertanyaan
sangat menjengkelkan. Tak melihatkah kau bagaimana pucatnya wajahku menahan
penyakit ini? Aku tak ada urusan lagi dengan hal semacam itu!
``Hartamu terlalu sayang jika hanya ditinggalkan
begitu saja tanpa pemilik. Siapapun tak bisa menjamin kau hidup sampai esok
hari. Sekarang juga, berikan harta yang kau punya bertahun-tahun itu di jalan
Allah. Setidaknya bisa meringankan timbangan dosamu di alam sana. Lakukanlah
sekarang.``
Arrrgh!
Demi apapun aku tak ingin melihat wajahmu. Apa kau sebodoh itu? Aku ini sudah
sangat lemah, lalu kau menyuruhku untuk mengeluarkan hartaku pada saat itu
juga. Bagaimana bisa? Kedatanganmu di sini tak berguna, kau hanya menggangguku
saja.
``Mati saja kau! Akan kukirim Al- Fatihah sebanyak
yang kau mau!`` ucapku mengungkit atas kesalahannya di waktu dulu. Aku terlalu
letih dengan pembicaraannya.
``Bagus. Bacalah Al- Fatihah sebanyak-banyaknya.
Berbahagialah jika aku mati lebih dulu. Kuharap bebanmu akan ringan.`` ucapnya
tenang.
Benarkah
apa yang ia katakan? Lalu ia pulang, dan aku terus membaca surah tersebut dalam
hati, meski aku tak tahu maknanya. Aku hanya berharap tak akan melihatnya lagi.
***
Berangsur-angsur
keadaanku membaik, kata dokter ini sebuah keajaiban. Entahlah. Aku memulai
aktivitasku seperti biasa, berangkat ke kampus, belajar, dan mengerjakan apa
yang biasa kukerjakan. Namun kabar mengejutkan kuterima dari salah satu
temanku, bahwa mantan lawan debat yang menjatuhkanku hanya karena pertanyaannya
tentang Al- Fatihah, seminggu yang lalu raganya telah dijemput malaikat Izrail.
Apakah
harapanku yang menginginkan agar ia mati begitu cepat terkabul? Bagaimana aku
seharusnya? Sedih kah, atau sebaliknya? Apa-apaan ini?
Rupanya
kau telah lama menahan rasa sakit yang bersarang di rongga dadamu. Namun kau
sama sepertiku, tak pernah menggubris dan selalu menahan rasa yang mengganggu.
Aku paham, kau tak pernah menganggap serius tentang hal itu. Ketika kau sakit,
maka kau akan menahannya sekuat yang kau bisa, lalu ketika telah hilang rasa
sakit itu, maka kau akan beraktivitas seperti biasa. Seolah tak terjadi apa-apa
di beberapa waktu yang lalu. Ya, kau sama denganku. Lalu perbedaannya adalah
kau lebih kuat menghadapinya, hingga dirimu sendiri pun tak sadar bahwa
penyakit itu membawa umurmu. Sedangkan aku terlalu lemah untuk melawan apa yang
kuderita selama ini, hingga aku menyerah. Kubiarkan tubuhku ditusuk dengan
berbagai macam suntikan, dimasukkan berbagai macam obat, dan kubiarkan
orang-orang disekitarku dikejutkan dengan penyakit yang termasuk mematikan jika
terlambat penanganannya.
***
Kini
aku hidup dalam ratapan kesedihan, sobat. Hariku setelah kau pergi penuh
kekosongan, bagaimana pun juga kau temanku semasa kecil. Suatu malam, aku hanya
sekadar ingin tahu ada apa sebenarnya dengan surah tersebut, dan karena
bayanganmu aku menangis setelah mengerti apa yang kau maksud.
Saat
aku sakit tak berdaya, kau menyuruhku untuk menamatkan bacaan Al- Qur`an. Ya,
kuakui Al- Qur`an hanya kujadikan bacaan masa kecilku saja, ketika kita
sama-sama mengaji di taman Al- Quran, lalu kutinggalkan semuanya demi setumpuk
pelajaran untuk dunia kerja, dunia uang. Aku tahu bagaimana lelahnya menuntut
ilmu, tahu bagaimana lelahnya bekerja, hingga aku simpan semua hartaku untuk
kesejahteraan hidupku sendiri.
Aku
tak pernah menyangka bahwa maksudmu hanya memintaku untuk membaca Al- Fatihah,
dengan membacanya maka sebenarnya aku sudah melaksanakan apa yang kau
perintahkan saat itu. Aku tak tahu, aku hanya membaca agar kau cepat pergi dari
hadapanku.
Sekarang, aku mengerti
keutamaannya. Aku sembuh karena aku membacanya, tentang Al- Qur`an dan tentang
harta yang pernah kau katakan, hanya dengan surah tersebut aku dapat
melakukannya meski aku terbaring lemah sekalipun. Rupanya kau beri aku jawaban
atas pertanyaan yang pernah membungkam mulutku.
***
Baiklah,
semua telah terjadi. Kau orang baik yang terlalu dicintai Allah, karena itu ia
mengambilmu, Ia tak ingin kau menjadi seperti diriku. Lalai dalam beragama.
Namun apakah kesedihan ini tetap abadi? Kita telah melewati tahun bersama,
melewati musim bersama, dan kau mengakhirinya sendiri. Satu hal yang masih
kurasakan hingga saat ini, jauh di perasaan terdalam, aku tahu apa yang terjadi
dalam hatiku. Dulu sempat kukira kau tak pernah merasakannya, namun rupanya kau
tetap tak ingin aku mati. Tetap ada cinta di surah Al- Fatihah yang kini telah
kutemukan karena dirimu.
Kau
meninggalkan rasa itu dalam hatiku, dan aku tak tahu lagi apakah masih ada
orang di luar sana yang memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri dengan
cara yang sama sepertimu. Jika ada, mungkinkah hatiku akan terjatuh untuk
kesempatan kedua yang diberikan Allah padaku?
Kukirimkan
Al- Fatihah untukmu di sana. Biarkan bunga ini layu di atas tanah
pembaringanmu. Berbahagialah.