Jumat, 30 November 2018

Al-Fatihah



Hakikatnya, cinta diciptakan antara satu hati dengan hati yang lain, terkadang bisa terucap namun sebagian manusia urung menunjukkannya. Karena itu juga, ada manusia yang harus menelan penyesalan, atau hatinya membusuk demi penantian. Jika beruntung, dunia akan terasa benar, indah, dan problema sebesar apapun dapat dikecilkan dengan cinta. Apabila ada hati yang merasakan hal seperti itu, yakinlah segala-galanya yang dijunjung tinggi adalah cinta. Namun jika terluka, ia akan tenggelam sedalam-dalamnya dalam air mata darah, dan jika sial, ia akan takut dan akhirnya tak tahu lagi bagaimana caranya mencintai dan jatuh cinta. Ajaib, cinta itu manis tapi juga pahit.
            Suasana begitu mendung, awan seolah ingin memuntahkan beban dalam tubuhnya, namun belum saatnya dikeluarkan. Tak ada guntur yang membentak atau juga petir yang menusukkan kilatnya. Hanya angin kencang di sini, menggoyangkan tangkai-tangkai bunga yang kupegang juga gaun panjangku.
            Tahukah kau, hidupku dulu tak pernah seperti ini. Namun entah bagaimana semua kau sulap bak abracadabra, kau belokkan cara pandangku, lalu kau tempatkan aku di ketidakberdayaan yang sangat lemah dalam diri seorang manusia. Lalu aku tak bisa lagi untuk merasa lebih dari yang lain, tak berani untuk menatap langit, dan jika melihat tanah, akan kutemukan bagaimana hinanya diriku dengan dosa. Kau membuat diriku selalu ingin bersimpuh sujud dengan tangis, dan meminta sebagaimana serendah-rendahnya seorang hamba kepada penciptanya.
            Sebelum kau hadir, semua kuanggap sepele. Langkahku, jiwaku, dan dosaku. Langkahku terayun tanpa tahu sejauh mana ia melangkah, jiwaku terlalu merasa ringan hingga ia bebas sebebas-bebasnya. Lalu dosaku tak pernah memberi kabar bahwa jagat raya pun tak sanggup menampungnya.
            Hingga akhirnya aku mengerti bahwa aku ini orang yang tak tahu diri, tak tahu agama, dan aku hanya mengenal Allah sebagai tuhanku. Itu saja. Padahal jika ditanya tentang tokoh dunia, masalah sains, atau ekonomi, maka pembicaraan bisa berlangsung hingga larut malam.
            Sayang sekali, karena kedunguanku kala aku tak mengerti tentang apa yang kau selalu bicarakan, tentang apa yang selalu kau bahas, ikatan sahabat antara kita merenggang dan aku sendiri yang memutuskannya. Hal itu bermula ketika kau memberikan pertanyaan keutamaan sebuah surah Al- Fatihah, lalu aku hanya terbungkam, dan aku akhirnya turun dari panggung debat dengan sorak ejekan. Sungguh aku malu, dan dendam karenamu pernah tertahan di hatiku.
***
            Beberapa bulan kemudian, aku hampir mati. Terbaring di tempat tidur rumah sakit, hanya karena keluhan kecil yang kurasakan dari dulu, dan tiba-tiba `radang selaput otak` harus keluar dari mulut dokter untuk menamai penyakitku.
            Kau datang menjenguk, dan kau tak pernah mengerti bahwa aku tak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi meski aku mati sekalipun. Mungkin aku satu-satunya orang yang tak suka dengan wajah cerahmu, senyum teduhmu, dan aura religius dalam balutan baju koko dan peci putihmu.
``Hampir mati rupanya kau, bisakah kau tamatkan bacaan Al- Qur`an yang kau tinggalkan di masa kecilmu dulu?``
            Pertanyaan sangat menjengkelkan. Tak melihatkah kau bagaimana pucatnya wajahku menahan penyakit ini? Aku tak ada urusan lagi dengan hal semacam itu!
``Hartamu terlalu sayang jika hanya ditinggalkan begitu saja tanpa pemilik. Siapapun tak bisa menjamin kau hidup sampai esok hari. Sekarang juga, berikan harta yang kau punya bertahun-tahun itu di jalan Allah. Setidaknya bisa meringankan timbangan dosamu di alam sana. Lakukanlah sekarang.``
            Arrrgh! Demi apapun aku tak ingin melihat wajahmu. Apa kau sebodoh itu? Aku ini sudah sangat lemah, lalu kau menyuruhku untuk mengeluarkan hartaku pada saat itu juga. Bagaimana bisa? Kedatanganmu di sini tak berguna, kau hanya menggangguku saja.
``Mati saja kau! Akan kukirim Al- Fatihah sebanyak yang kau mau!`` ucapku mengungkit atas kesalahannya di waktu dulu. Aku terlalu letih dengan pembicaraannya.
``Bagus. Bacalah Al- Fatihah sebanyak-banyaknya. Berbahagialah jika aku mati lebih dulu. Kuharap bebanmu akan ringan.`` ucapnya tenang.
            Benarkah apa yang ia katakan? Lalu ia pulang, dan aku terus membaca surah tersebut dalam hati, meski aku tak tahu maknanya. Aku hanya berharap tak akan melihatnya lagi.
***
            Berangsur-angsur keadaanku membaik, kata dokter ini sebuah keajaiban. Entahlah. Aku memulai aktivitasku seperti biasa, berangkat ke kampus, belajar, dan mengerjakan apa yang biasa kukerjakan. Namun kabar mengejutkan kuterima dari salah satu temanku, bahwa mantan lawan debat yang menjatuhkanku hanya karena pertanyaannya tentang Al- Fatihah, seminggu yang lalu raganya telah dijemput malaikat Izrail.
            Apakah harapanku yang menginginkan agar ia mati begitu cepat terkabul? Bagaimana aku seharusnya? Sedih kah, atau sebaliknya? Apa-apaan ini?
            Rupanya kau telah lama menahan rasa sakit yang bersarang di rongga dadamu. Namun kau sama sepertiku, tak pernah menggubris dan selalu menahan rasa yang mengganggu. Aku paham, kau tak pernah menganggap serius tentang hal itu. Ketika kau sakit, maka kau akan menahannya sekuat yang kau bisa, lalu ketika telah hilang rasa sakit itu, maka kau akan beraktivitas seperti biasa. Seolah tak terjadi apa-apa di beberapa waktu yang lalu. Ya, kau sama denganku. Lalu perbedaannya adalah kau lebih kuat menghadapinya, hingga dirimu sendiri pun tak sadar bahwa penyakit itu membawa umurmu. Sedangkan aku terlalu lemah untuk melawan apa yang kuderita selama ini, hingga aku menyerah. Kubiarkan tubuhku ditusuk dengan berbagai macam suntikan, dimasukkan berbagai macam obat, dan kubiarkan orang-orang disekitarku dikejutkan dengan penyakit yang termasuk mematikan jika terlambat penanganannya.
***
            Kini aku hidup dalam ratapan kesedihan, sobat. Hariku setelah kau pergi penuh kekosongan, bagaimana pun juga kau temanku semasa kecil. Suatu malam, aku hanya sekadar ingin tahu ada apa sebenarnya dengan surah tersebut, dan karena bayanganmu aku menangis setelah mengerti apa yang kau maksud.
            Saat aku sakit tak berdaya, kau menyuruhku untuk menamatkan bacaan Al- Qur`an. Ya, kuakui Al- Qur`an hanya kujadikan bacaan masa kecilku saja, ketika kita sama-sama mengaji di taman Al- Quran, lalu kutinggalkan semuanya demi setumpuk pelajaran untuk dunia kerja, dunia uang. Aku tahu bagaimana lelahnya menuntut ilmu, tahu bagaimana lelahnya bekerja, hingga aku simpan semua hartaku untuk kesejahteraan hidupku sendiri.
            Aku tak pernah menyangka bahwa maksudmu hanya memintaku untuk membaca Al- Fatihah, dengan membacanya maka sebenarnya aku sudah melaksanakan apa yang kau perintahkan saat itu. Aku tak tahu, aku hanya membaca agar kau cepat pergi dari hadapanku.
Sekarang, aku mengerti keutamaannya. Aku sembuh karena aku membacanya, tentang Al- Qur`an dan tentang harta yang pernah kau katakan, hanya dengan surah tersebut aku dapat melakukannya meski aku terbaring lemah sekalipun. Rupanya kau beri aku jawaban atas pertanyaan yang pernah membungkam mulutku.
***
            Baiklah, semua telah terjadi. Kau orang baik yang terlalu dicintai Allah, karena itu ia mengambilmu, Ia tak ingin kau menjadi seperti diriku. Lalai dalam beragama. Namun apakah kesedihan ini tetap abadi? Kita telah melewati tahun bersama, melewati musim bersama, dan kau mengakhirinya sendiri. Satu hal yang masih kurasakan hingga saat ini, jauh di perasaan terdalam, aku tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Dulu sempat kukira kau tak pernah merasakannya, namun rupanya kau tetap tak ingin aku mati. Tetap ada cinta di surah Al- Fatihah yang kini telah kutemukan karena dirimu.
            Kau meninggalkan rasa itu dalam hatiku, dan aku tak tahu lagi apakah masih ada orang di luar sana yang memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri dengan cara yang sama sepertimu. Jika ada, mungkinkah hatiku akan terjatuh untuk kesempatan kedua yang diberikan Allah padaku?
            Kukirimkan Al- Fatihah untukmu di sana. Biarkan bunga ini layu di atas tanah pembaringanmu. Berbahagialah.  
            

Sabtu, 03 November 2018

Fly Away


            Jika ingin melihat kejujuran, maka kita bisa dengan mudah melihatnya pada anak kecil. Dalam jiwa-jiwa yang masih murni. Tak punya beban untuk merentangkan kedua tangannya, tak punya lelah untuk mengayunkan kakinya berlari. Jika ingin melihat lagi, apa yang paling sering mereka minta ketika memainkan kertas lipat? Mereka ingin kapal besar yang selalu mengudara ada di tangan mereka. Mereka ingin kendalikan mesin-mesinnya ketika diterbangkan. Dengan meniup ujungnya dahulu sebelum dilayangkan ke arah yang diinginkan. Apa yang mereka tiru setelah menontoh Superman? Mereka ingin punya sayap untuk menyelamatkan kebenaran.

            Anak kecil selalu begitu. Kita dulu juga begitu. Hal menarik dan sangat diinginkan manusia sebenarnya adalah terbang. Mungkin jika dengan terbang, akan sangat mudah untuk menyentuh awan-awan putih, akan sangat mudah melihat bumi yang indah, akan sangat mudah untuk berteriak bebas. Manusia ingin sekali terbang, tapi tak punya sayap. Begitulah hal yang dilihat dalam pandangan seseorang.

            Sampai pada suatu hari, seseorang itu tak ingin lagi mengatakan `good bye` untuk melepas siapapun yang ingin mengudara. Pernah ada sesuatu yang sedihnya luar biasa terjadi. `Good bye` baginya seakan menjadi ucapan selamat tinggal sungguhan tanpa harus melihat lagi. Seakan benar-benar membiarkan siapapun yang mengudara berhadapan dengan alam, berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya. Ia pernah mengucap selamat tinggal pada seseorang dan tak pernah melihat orang itu kembali lagi. Mungkin `good bye` sebagai salam penutup yang terkutuk versi dia sendiri.

            Di waktu-waktu berikutnya seiring perubahan angka, bulan, dan tahun pada kalender. Entah sudah berapa kali kata `see you` terucap sebagai doa agar dapat bertemu kembali. Ia menjadikan `see you` sebagai janji bahwa tak ada yang harus pergi dan ditinggalkan.

            Namun lagi-lagi, janji itu pupus ditenggelamkan laut. Ia kehilangan untuk yang ke sekian. Bahkan Tuhan pun ia marahi. Ia salahkan Tuhan dan mengingkari kasih sayang-Nya. Ia bilang Tuhan tak adil, tak beri kesempatan pada mereka yang seharusnya terbang bersama mimpi-mimpinya. Ia menangis. Menganggap Tuhan telah berkhianat. Menganggap Tuhan tak indah dalam membuat skenario.

            Seharusnya Tuhan boleh balas marah karena perlakuan hamba terhadap-Nya.

            Namun ternyata tidak. Ia justru mengirimkan seorang anak kecil yang berjalan mendekati, sebagai perantara kasih-Nya Yang Maha Lembut.

`Kata mamahku, kita gak usah sedih. Nanti kita juga terbang, terbang yang tinggi. Nanti kalau aku sudah bisa terbang, aku akan nyusul papahku,`

***
Mesin-mesin besar dan canggih, manusia dengan kompetensi mumpuni, bahkan kapal-kapal terbang dengan berbagai daya antisipasinya sekalipun, tak ada yang berjanji dan tak pernah dijanjikan untuk abadi. Ada waktunya untuk benar-benar terbang tinggi. Bahkan jika raga hancur, maka jiwanya tetap terbang. Adalah waktu dimana Tuhan mengabulkan impian yang dibuat seseorang secara jujur ketika jiwanya masih murni.