Sabtu, 03 November 2018

Fly Away


            Jika ingin melihat kejujuran, maka kita bisa dengan mudah melihatnya pada anak kecil. Dalam jiwa-jiwa yang masih murni. Tak punya beban untuk merentangkan kedua tangannya, tak punya lelah untuk mengayunkan kakinya berlari. Jika ingin melihat lagi, apa yang paling sering mereka minta ketika memainkan kertas lipat? Mereka ingin kapal besar yang selalu mengudara ada di tangan mereka. Mereka ingin kendalikan mesin-mesinnya ketika diterbangkan. Dengan meniup ujungnya dahulu sebelum dilayangkan ke arah yang diinginkan. Apa yang mereka tiru setelah menontoh Superman? Mereka ingin punya sayap untuk menyelamatkan kebenaran.

            Anak kecil selalu begitu. Kita dulu juga begitu. Hal menarik dan sangat diinginkan manusia sebenarnya adalah terbang. Mungkin jika dengan terbang, akan sangat mudah untuk menyentuh awan-awan putih, akan sangat mudah melihat bumi yang indah, akan sangat mudah untuk berteriak bebas. Manusia ingin sekali terbang, tapi tak punya sayap. Begitulah hal yang dilihat dalam pandangan seseorang.

            Sampai pada suatu hari, seseorang itu tak ingin lagi mengatakan `good bye` untuk melepas siapapun yang ingin mengudara. Pernah ada sesuatu yang sedihnya luar biasa terjadi. `Good bye` baginya seakan menjadi ucapan selamat tinggal sungguhan tanpa harus melihat lagi. Seakan benar-benar membiarkan siapapun yang mengudara berhadapan dengan alam, berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya. Ia pernah mengucap selamat tinggal pada seseorang dan tak pernah melihat orang itu kembali lagi. Mungkin `good bye` sebagai salam penutup yang terkutuk versi dia sendiri.

            Di waktu-waktu berikutnya seiring perubahan angka, bulan, dan tahun pada kalender. Entah sudah berapa kali kata `see you` terucap sebagai doa agar dapat bertemu kembali. Ia menjadikan `see you` sebagai janji bahwa tak ada yang harus pergi dan ditinggalkan.

            Namun lagi-lagi, janji itu pupus ditenggelamkan laut. Ia kehilangan untuk yang ke sekian. Bahkan Tuhan pun ia marahi. Ia salahkan Tuhan dan mengingkari kasih sayang-Nya. Ia bilang Tuhan tak adil, tak beri kesempatan pada mereka yang seharusnya terbang bersama mimpi-mimpinya. Ia menangis. Menganggap Tuhan telah berkhianat. Menganggap Tuhan tak indah dalam membuat skenario.

            Seharusnya Tuhan boleh balas marah karena perlakuan hamba terhadap-Nya.

            Namun ternyata tidak. Ia justru mengirimkan seorang anak kecil yang berjalan mendekati, sebagai perantara kasih-Nya Yang Maha Lembut.

`Kata mamahku, kita gak usah sedih. Nanti kita juga terbang, terbang yang tinggi. Nanti kalau aku sudah bisa terbang, aku akan nyusul papahku,`

***
Mesin-mesin besar dan canggih, manusia dengan kompetensi mumpuni, bahkan kapal-kapal terbang dengan berbagai daya antisipasinya sekalipun, tak ada yang berjanji dan tak pernah dijanjikan untuk abadi. Ada waktunya untuk benar-benar terbang tinggi. Bahkan jika raga hancur, maka jiwanya tetap terbang. Adalah waktu dimana Tuhan mengabulkan impian yang dibuat seseorang secara jujur ketika jiwanya masih murni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar