Jika
ingin melihat kejujuran, maka kita bisa dengan mudah melihatnya pada anak
kecil. Dalam jiwa-jiwa yang masih murni. Tak punya beban untuk merentangkan
kedua tangannya, tak punya lelah untuk mengayunkan kakinya berlari. Jika ingin
melihat lagi, apa yang paling sering mereka minta ketika memainkan kertas
lipat? Mereka ingin kapal besar yang selalu mengudara ada di tangan mereka.
Mereka ingin kendalikan mesin-mesinnya ketika diterbangkan. Dengan meniup
ujungnya dahulu sebelum dilayangkan ke arah yang diinginkan. Apa yang mereka
tiru setelah menontoh Superman? Mereka ingin punya sayap untuk menyelamatkan
kebenaran.
Anak
kecil selalu begitu. Kita dulu juga begitu. Hal menarik dan sangat diinginkan
manusia sebenarnya adalah terbang. Mungkin jika dengan terbang, akan sangat
mudah untuk menyentuh awan-awan putih, akan sangat mudah melihat bumi yang
indah, akan sangat mudah untuk berteriak bebas. Manusia ingin sekali terbang,
tapi tak punya sayap. Begitulah hal yang dilihat dalam pandangan seseorang.
Sampai
pada suatu hari, seseorang itu tak ingin lagi mengatakan `good bye` untuk
melepas siapapun yang ingin mengudara. Pernah ada sesuatu yang sedihnya luar
biasa terjadi. `Good bye` baginya seakan menjadi ucapan selamat tinggal
sungguhan tanpa harus melihat lagi. Seakan benar-benar membiarkan siapapun yang
mengudara berhadapan dengan alam, berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan
terburuk lainnya. Ia pernah mengucap selamat tinggal pada seseorang dan tak
pernah melihat orang itu kembali lagi. Mungkin `good bye` sebagai salam penutup
yang terkutuk versi dia sendiri.
Di
waktu-waktu berikutnya seiring perubahan angka, bulan, dan tahun pada kalender.
Entah sudah berapa kali kata `see you` terucap sebagai doa agar dapat bertemu
kembali. Ia menjadikan `see you` sebagai janji bahwa tak ada yang harus pergi
dan ditinggalkan.
Namun
lagi-lagi, janji itu pupus ditenggelamkan laut. Ia kehilangan untuk yang ke
sekian. Bahkan Tuhan pun ia marahi. Ia salahkan Tuhan dan mengingkari kasih
sayang-Nya. Ia bilang Tuhan tak adil, tak beri kesempatan pada mereka yang
seharusnya terbang bersama mimpi-mimpinya. Ia menangis. Menganggap Tuhan telah
berkhianat. Menganggap Tuhan tak indah dalam membuat skenario.
Seharusnya
Tuhan boleh balas marah karena perlakuan hamba terhadap-Nya.
Namun
ternyata tidak. Ia justru mengirimkan seorang anak kecil yang berjalan
mendekati, sebagai perantara kasih-Nya Yang Maha Lembut.
`Kata mamahku,
kita gak usah sedih. Nanti kita juga terbang, terbang yang tinggi. Nanti kalau
aku sudah bisa terbang, aku akan nyusul papahku,`
***
Mesin-mesin
besar dan canggih, manusia dengan kompetensi mumpuni, bahkan kapal-kapal
terbang dengan berbagai daya antisipasinya sekalipun, tak ada yang berjanji dan
tak pernah dijanjikan untuk abadi. Ada waktunya untuk benar-benar terbang
tinggi. Bahkan jika raga hancur, maka jiwanya tetap terbang. Adalah waktu
dimana Tuhan mengabulkan impian yang dibuat seseorang secara jujur ketika
jiwanya masih murni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar