Rabu, 05 Februari 2020

Gutasi



                Kita dan dunia yang menua. Kita yang tak pernah berhenti mengejar apa yang kita mau, dan dunia yang semakin kehilangan para khalifahnya. Kita yang selalu lapar pada kesenangan semu, dan dunia yang semakin mengalah pada kerakusan makhluknya. Kita yang semakin ingin mempercepat segalanya, dan dunia yang semakin melambat. Tidakkah kita terlalu disibukkan demi hal duniawi? 

            Wajar, kita manusia perlu makan dan minum agar tak mati. Maka dari itu, kita bergerak ke arah sumber rizki. Kita manusia perlu hiburan, maka wajar saja bila kita merancang tentang impian agar kita tak hanya terdiam. Kita manusia, yang selalu punya nafsu untuk memiliki segalanya agar terlihat sempurna. Ternyata hal duniawi membuat kita sibuk sendiri.

            Padahal,sesuatu yang cukup itu lebih baik. Bila berlebih, dapat disimpan untuk esok hari atau dibagi tanpa mengharap kembali. Karena pada akhirnya, bukan kemewahan yang  kita inginkan untuk meninggalkan dunia yang menua ini. Bahkan nama kita pun tak akan disebut langsung, ketika kita mati. Tak peduli seberapa agungnya nama kita.

            Terkulai tak bergerak di atas hamparan sajadah dengan kitab suci digenggaman mungkin adalah hal terindah yang kita inginkan bilamana janji kita pada Tuhan atas dunia sudah cukup. Tapi itu urusan Tuhan, kita tentu tak bisa mengatur. Pada akhirnya, yang kita inginkan hanya selembar sajadah dan kitab suci pada tangan yang berdoa di saat Tuhan mengatakan pulang.

            Ah, seandainya bisa.., seumur hidup dapat dihabiskan hanya untuk salat, berdzikir, dan berdoa sepanjang hari dan sepanjang malam. Agar mati dengan keadaan yang baik-baik. Bukan sibuk demi hal semu. 

            Tapi Tuhan memang Maha Mengerti,

            Aku yang tak berilmu, dipertemukan pada seorang guru yang telah belajar dari mana saja. 

`Dunia ini bagi kita memang tidak ada habisnya, tapi ketahuilah bahwa suatu saat pasti berhenti. Bahkan setinggi apapun kamu berdiri di atas bumi ini hingga namamu menjangkau jarak terjauh sekalipun, pada hari kematianmu kau tetap disebut jenazah. Mau dikebumikan di mana jenazahnya?`

`Kamu mau tahu, bagaimana caranya agar dalam dua puluh empat jam waktu kita dapat digunakan untuk beribadah?` pertanyaan beliau memahami diriku yang masih sering lalai.

`Sertakan niat karena Allah dalam setiap hal yang kamu lakukan. Segala hal yang dilakukan karena Allah adalah ibadah.`

`Bahkan untuk jatuh cinta, jika hanya karena hal duniawi, maka esensinya mencintai karena Allah itu mau kamu letakkan dimana? Selama jatuh cinta hanya untuk kepentingan dunia, maka selama itu pula perasaanmu dapat bertahan. Hanya pada dunia.`

            Tuhan memang Maha Mengerti,

            Kita manusia lalai yang  bertahan pada dunia, sementara dunia sendiri akan hancur. Layaknya berpegang pada gutasi yang pada akhirnya hanya akan lenyap. 

Kita manusia, yang tetap sibuk sendiri meski sudah berkali-kali diberi tahu bahwa kita dilalaikan pada urusan dunia, namun Tuhan senantiasa masih mencintai kita. Tapi kita selalu lupa untuk menyertakan-Nya dalam setiap hal yang kita lakukan. 

Sementara di tepian daun sana, butiran gutasi bahkan mengagungkan nama-Nya hingga jatuh ke permukaan tanah atau hingga lenyap menguap. Tetap mengagungkan nama-Nya.