Kita
dan dunia yang menua. Kita yang tak pernah berhenti mengejar apa yang kita mau,
dan dunia yang semakin kehilangan para khalifahnya. Kita yang selalu lapar pada
kesenangan semu, dan dunia yang semakin mengalah pada kerakusan makhluknya.
Kita yang semakin ingin mempercepat segalanya, dan dunia yang semakin melambat.
Tidakkah kita terlalu disibukkan demi hal duniawi?
Wajar,
kita manusia perlu makan dan minum agar tak mati. Maka dari itu, kita bergerak
ke arah sumber rizki. Kita manusia perlu hiburan, maka wajar saja bila kita
merancang tentang impian agar kita tak hanya terdiam. Kita manusia, yang selalu
punya nafsu untuk memiliki segalanya agar terlihat sempurna. Ternyata hal
duniawi membuat kita sibuk sendiri.
Padahal,sesuatu
yang cukup itu lebih baik. Bila berlebih, dapat disimpan untuk esok hari atau
dibagi tanpa mengharap kembali. Karena pada akhirnya, bukan kemewahan yang kita inginkan untuk meninggalkan dunia yang
menua ini. Bahkan nama kita pun tak akan disebut langsung, ketika kita mati. Tak
peduli seberapa agungnya nama kita.
Terkulai
tak bergerak di atas hamparan sajadah dengan kitab suci digenggaman mungkin
adalah hal terindah yang kita inginkan bilamana janji kita pada Tuhan atas
dunia sudah cukup. Tapi itu urusan Tuhan, kita tentu tak bisa mengatur. Pada
akhirnya, yang kita inginkan hanya selembar sajadah dan kitab suci pada tangan
yang berdoa di saat Tuhan mengatakan pulang.
Ah,
seandainya bisa.., seumur hidup dapat dihabiskan hanya untuk salat, berdzikir,
dan berdoa sepanjang hari dan sepanjang malam. Agar mati dengan keadaan yang
baik-baik. Bukan sibuk demi hal semu.
Tapi
Tuhan memang Maha Mengerti,
Aku
yang tak berilmu, dipertemukan pada seorang guru yang telah belajar dari mana
saja.
`Dunia ini bagi kita memang tidak ada habisnya, tapi
ketahuilah bahwa suatu saat pasti berhenti. Bahkan setinggi apapun kamu berdiri
di atas bumi ini hingga namamu menjangkau jarak terjauh sekalipun, pada hari
kematianmu kau tetap disebut jenazah. Mau
dikebumikan di mana jenazahnya?`
`Kamu mau tahu, bagaimana caranya agar dalam dua
puluh empat jam waktu kita dapat digunakan untuk beribadah?` pertanyaan beliau
memahami diriku yang masih sering lalai.
`Sertakan niat karena Allah dalam setiap hal yang
kamu lakukan. Segala hal yang dilakukan karena Allah adalah ibadah.`
`Bahkan untuk jatuh cinta, jika hanya karena hal
duniawi, maka esensinya mencintai karena Allah itu mau kamu letakkan dimana?
Selama jatuh cinta hanya untuk kepentingan dunia, maka selama itu pula
perasaanmu dapat bertahan. Hanya pada dunia.`
Tuhan
memang Maha Mengerti,
Kita
manusia lalai yang bertahan pada dunia,
sementara dunia sendiri akan hancur. Layaknya berpegang pada gutasi yang pada
akhirnya hanya akan lenyap.
Kita manusia, yang tetap sibuk sendiri
meski sudah berkali-kali diberi tahu bahwa kita dilalaikan pada urusan dunia,
namun Tuhan senantiasa masih mencintai kita. Tapi kita selalu lupa untuk
menyertakan-Nya dalam setiap hal yang kita lakukan.
Sementara di tepian daun sana, butiran
gutasi bahkan mengagungkan nama-Nya hingga jatuh ke permukaan tanah atau hingga
lenyap menguap. Tetap mengagungkan nama-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar