Sudah
lama sekali tidak kembali ke sini, tempat di mana aku biasa bercerita tentang
apa saja yang aku mau. Kemarin, dalam
waktu yang lumayan lama tampaknya semua kata dalam benak terasa terdiam dan
dingin sehingga sulit sekali untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan. Padahal,
aku selalu bilang pada diriku sendiri bahwa menulis itu menyembuhkan.
Menyembuhkan apa saja, karena efeknya adalah memberikan perasaan lega dan
bahagia. Tapi ternyata juga, healing is more depressed than the wound. Tapi
tidak apa-apa. Mungkin aku hanya berlebihan saja, dunia sangat indah di luar
sana.
Oh
ya, bagaimana kabar kita masing-masing dalam kurang lebih satu tahun terakhir
ini? Kalau aku, begini-begini saja, belum ada hal-hal hebat yang dapat aku
lakukan. Kadang aku bisa sampai berbicara sendiri di halaman belakang rumah,
meminta maaf pada negaraku. Berharap tanah Indonesia dapat mendengar. Apalagi
di hari yang lalu adalah hari lahirnya Pancasila `kan? Tidak tahu juga kenapa,
tapi setiap ada hari yang dijadikan sebagai pengingat sejarah Indonesia, aku
selalu memandang diriku dulu, yang ternyata sampai saat ini belum banyak
berbuat untuk negeri ini. Kontras sekali dengan mimpi-mimpi yang dulu sempat
kurancang, tapi aku juga sudah lupa apa saja hal hebat yang masuk dalam to do list-ku
alias ambisiku. Kertasnya sudah lama kubuang karena aku sadar aku tidak mungkin
dapat melakukannya. Jujur aku merasa malu. Aku memang payah. Akhirnya aku tidak
percaya diri lagi dalam menulis atau melakukan kegiatan apapun yang sifatnya
memberikan edukasi. Bukan aku senang karena seakan menggurui. Tidak. Aku senang karena aku justru dapat belajar
banyak ketika dapat membagi hal baru yang telah kuterima.
Salut
dengan kalian yang terus berupaya mewujudkan ini-itu demi sesuatu yang lebih
baik. Tolong jangan berhenti berbuat hal baik agar positif vibes-nya sampai
padaku.
Oh
ya, tahun ini juga usia kita semua bertambah. Hai teman-teman sebayaku,
sepertinya jalan hidup kita perlahan akan menuju ke arah yang lebih dalam. Dua
puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya untuk berpikir ke arah yang
lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa, karena aku masih terbang di
negeri dongeng dengan sayap warna-warniku.
Aku
salut dengan teman-teman yang sudah berani ambil tanggung jawab. Salut sekali. Seandainya
kalian bisa mendengar tepuk tangaku.
Begini,
pikiran ini muncul ketika pandemi membuatku menghabiskan sebagian besar waktuku
di rumah. Rasa bosan memang terkadang ada, tetapi tidak parah. Masih bisa
diatasi dengan jalan-jalan sendiri melihat pemandangan hijau. Namun, di luar
sana banyak yang bilang bahwa rasa bosannya telah mencapai titik jenuh. Mereka
ingin kondisi segera berganti.
Aku
mengerti. Mungkin bila aku dan teman-teman melihat bahwa nyamannya rumah ternyata
dapat menjadi tempat yang membosankan, maka mereka yang di luar sana mungkin
melihat rumah menjadi tempat yang membosankan adalah karena alasan lain.
Suasana setiap rumah tentu berbeda-beda.
Sekali
lagi kubilang, rasa bosanku masih bisa diatasi, bahkan hanya dengan jalan
sebentar. Mudah sekali solusinya. Sampai-sampai aku pernah bertanya pada ibuku,
kenapa aku tidak merasakan kebosanan separah orang lain? Padahal sarana dalam
rumahku pun terbatas.
Ibuku
bilang bahwa beliau memang sudah berniat untuk memiliki rumah yang dapat membuat
anak-anaknya merasa senang ketika tinggal di dalamnya. Niat itu sudah
dipanjatkan bahkan ketika ibu belum berumah tangga.
Bu,
ibu sadar tidak, bukan rumah yang membuatku senang untuk selalu tinggal di
dalamnya. Coba saja seandainya semua penerbangan dan pelayaran itu gratis,
pasti aku sudah sering meninggalkan rumah kita dan pergi ke manapun aku mau.
Yang membuat suasana rumah terasa menyenangkan karena duniaku adalah ibu. Kemana
pun aku, ibu selalu menjadi tempatku menuju.
Dari
hal tersebut, aku benar-benar dapat mengerti bahwa menjadi seorang ibu adalah
hal yang tidak mudah. Ia harus mengisi penuh ruang afeksi dalam diri anaknya.
Membangun rumah secara harfiah untuk anaknya. Menjadi pencipta rasa paling pas
di lidah anak-anaknya. Menjadi sentuhan ternyaman di kulit anak-anaknya. Banyak
sekali.
Maka,
aku salut dengan teman-teman sebayaku yang sudah bisa menjadi seorang ibu.
Seperti yang kubilang, dua puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya
untuk berpikir ke arah yang lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa,
karena aku masih terbang di negeri dongeng dengan sayap warna-warniku.
Sedangkan teman-teman justru sudah berani mengambil tanggung jawab yang pasti
tidak mudah. Entah bagaimana lagi aku harus bilang bahwa teman-teman sungguh
luar biasa!
Terlebih
pada teman-teman yang memilih sebagai ibu rumah tangga. Karena aku belajar
untuk mencari sisi baik dari pandemi yang panjang ini, ternyata ia membawaku
untuk melihat lagi bagaimana seorang ibu, rumah, dan kasih sayang adalah hal
yang tidak dapat terpisahkan. Ketiganya adalah sebuah kesatuan. Ibu rumah
tangga bukanlah panggilan yang pantas disematkan dengan kata `hanya` di
depannya. `Hanya` ibu rumah tangga. Tidak.
Makna
ibu rumah tangga jauh lebih besar dan berarti daripada kata `hanya`. Menjadi
ibu rumah tangga, berarti ia juga memiliki ilmu dan tak-tik untuk mengatur
segala urusan rumah dengan kedua tangannya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia
telah mengalami pengorbanan besar untuk melepas jenjang karirnya. Menjadi ibu
rumah tangga berarti ia telah berdamai dengan rasa jenuh karena aktivitas yang
seakan tiada henti di setiap harinya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia
menjadi rumah bagi anak-anaknya untuk pulang. Bukankah `pulang` merupakan kata
paling nyaman?
Ibu
rumah tangga jauh lebih besar maknanya untuk disandingkan dengan kata `hanya`.
Untuk
teman-teman yang bahkan masih sebayaku, tetapi telah berumah tangga dan memilih
untuk tetap berkarir, terima kasih telah mau mengorbankan banyak waktu dalam
melayani kami sebagai masyarakat.
Menjadi
wanita karir berarti harus kuat untuk menyingkirkan rasa rindu kepada anaknya
untuk tak menemaninya bermain seharian. Menjadi wanita karir berarti harus
mampu membagi dirinya untuk menjadi profesional ketika bertugas dan menjadi
seorang ibu ketika di rumah. Menjadi wanita karir berarti mampu menjalankan dua
peran dalam sehari. Terima kasih dari kami semua.
Artinya,
ibu rumah tangga dan ibu yang tetap menjalankan karirnya adalah dua hal luar
biasa yang tidak bisa untuk saling dibandingkan. Masing-masing punya
pengorbanan dan alasan tersendiri yang berbeda-beda dari satu ibu dengan ibu
yang lain. Satu yang sama, ibu adalah rumah dan tempat paling nyaman untuk
anaknya.
Lagi-lagi
pandemi yang membosankan justru membawaku untuk melihat lebih baik tentang arti
seorang ibu untuk dunia anaknya.