Kamis, 03 Juni 2021

Rumah Tangga dan Karir


            Sudah lama sekali tidak kembali ke sini, tempat di mana aku biasa bercerita tentang apa  saja yang aku mau. Kemarin, dalam waktu yang lumayan lama tampaknya semua kata dalam benak terasa terdiam dan dingin sehingga sulit sekali untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan. Padahal, aku selalu bilang pada diriku sendiri bahwa menulis itu menyembuhkan. Menyembuhkan apa saja, karena efeknya adalah memberikan perasaan lega dan bahagia. Tapi ternyata juga, healing is more depressed than the wound. Tapi tidak apa-apa. Mungkin aku hanya berlebihan saja, dunia sangat indah di luar sana.

            Oh ya, bagaimana kabar kita masing-masing dalam kurang lebih satu tahun terakhir ini? Kalau aku, begini-begini saja, belum ada hal-hal hebat yang dapat aku lakukan. Kadang aku bisa sampai berbicara sendiri di halaman belakang rumah, meminta maaf pada negaraku. Berharap tanah Indonesia dapat mendengar. Apalagi di hari yang lalu adalah hari lahirnya Pancasila `kan? Tidak tahu juga kenapa, tapi setiap ada hari yang dijadikan sebagai pengingat sejarah Indonesia, aku selalu memandang diriku dulu, yang ternyata sampai saat ini belum banyak berbuat untuk negeri ini. Kontras sekali dengan mimpi-mimpi yang dulu sempat kurancang, tapi aku juga sudah lupa apa saja hal hebat yang masuk dalam to do list-ku alias ambisiku. Kertasnya sudah lama kubuang karena aku sadar aku tidak mungkin dapat melakukannya. Jujur aku merasa malu. Aku memang payah. Akhirnya aku tidak percaya diri lagi dalam menulis atau melakukan kegiatan apapun yang sifatnya memberikan edukasi. Bukan aku senang karena seakan menggurui. Tidak.  Aku senang karena aku justru dapat belajar banyak ketika dapat membagi hal baru yang telah kuterima.

            Salut dengan kalian yang terus berupaya mewujudkan ini-itu demi sesuatu yang lebih baik. Tolong jangan berhenti berbuat hal baik agar positif vibes-nya sampai padaku.

            Oh ya, tahun ini juga usia kita semua bertambah. Hai teman-teman sebayaku, sepertinya jalan hidup kita perlahan akan menuju ke arah yang lebih dalam. Dua puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya untuk berpikir ke arah yang lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa, karena aku masih terbang di negeri dongeng dengan sayap warna-warniku.

            Aku salut dengan teman-teman yang sudah berani ambil tanggung jawab. Salut sekali. Seandainya kalian bisa mendengar tepuk tangaku.

            Begini, pikiran ini muncul ketika pandemi membuatku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah. Rasa bosan memang terkadang ada, tetapi tidak parah. Masih bisa diatasi dengan jalan-jalan sendiri melihat pemandangan hijau. Namun, di luar sana banyak yang bilang bahwa rasa bosannya telah mencapai titik jenuh. Mereka ingin kondisi segera berganti.

            Aku mengerti. Mungkin bila aku dan teman-teman melihat bahwa nyamannya rumah ternyata dapat menjadi tempat yang membosankan, maka mereka yang di luar sana mungkin melihat rumah menjadi tempat yang membosankan adalah karena alasan lain. Suasana setiap rumah tentu berbeda-beda.

            Sekali lagi kubilang, rasa bosanku masih bisa diatasi, bahkan hanya dengan jalan sebentar. Mudah sekali solusinya. Sampai-sampai aku pernah bertanya pada ibuku, kenapa aku tidak merasakan kebosanan separah orang lain? Padahal sarana dalam rumahku pun terbatas.

            Ibuku bilang bahwa beliau memang sudah berniat untuk memiliki rumah yang dapat membuat anak-anaknya merasa senang ketika tinggal di dalamnya. Niat itu sudah dipanjatkan bahkan ketika ibu belum berumah tangga.

            Bu, ibu sadar tidak, bukan rumah yang membuatku senang untuk selalu tinggal di dalamnya. Coba saja seandainya semua penerbangan dan pelayaran itu gratis, pasti aku sudah sering meninggalkan rumah kita dan pergi ke manapun aku mau. Yang membuat suasana rumah terasa menyenangkan karena duniaku adalah ibu. Kemana pun aku, ibu selalu menjadi tempatku menuju.

            Dari hal tersebut, aku benar-benar dapat mengerti bahwa menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah. Ia harus mengisi penuh ruang afeksi dalam diri anaknya. Membangun rumah secara harfiah untuk anaknya. Menjadi pencipta rasa paling pas di lidah anak-anaknya. Menjadi sentuhan ternyaman di kulit anak-anaknya. Banyak sekali.

            Maka, aku salut dengan teman-teman sebayaku yang sudah bisa menjadi seorang ibu. Seperti yang kubilang, dua puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya untuk berpikir ke arah yang lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa, karena aku masih terbang di negeri dongeng dengan sayap warna-warniku. Sedangkan teman-teman justru sudah berani mengambil tanggung jawab yang pasti tidak mudah. Entah bagaimana lagi aku harus bilang bahwa teman-teman sungguh luar biasa!

            Terlebih pada teman-teman yang memilih sebagai ibu rumah tangga. Karena aku belajar untuk mencari sisi baik dari pandemi yang panjang ini, ternyata ia membawaku untuk melihat lagi bagaimana seorang ibu, rumah, dan kasih sayang adalah hal yang tidak dapat terpisahkan. Ketiganya adalah sebuah kesatuan. Ibu rumah tangga bukanlah panggilan yang pantas disematkan dengan kata `hanya` di depannya. `Hanya` ibu rumah tangga. Tidak.

            Makna ibu rumah tangga jauh lebih besar dan berarti daripada kata `hanya`. Menjadi ibu rumah tangga, berarti ia juga memiliki ilmu dan tak-tik untuk mengatur segala urusan rumah dengan kedua tangannya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia telah mengalami pengorbanan besar untuk melepas jenjang karirnya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia telah berdamai dengan rasa jenuh karena aktivitas yang seakan tiada henti di setiap harinya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia menjadi rumah bagi anak-anaknya untuk pulang. Bukankah `pulang` merupakan kata paling nyaman?

            Ibu rumah tangga jauh lebih besar maknanya untuk disandingkan dengan kata `hanya`.

            Untuk teman-teman yang bahkan masih sebayaku, tetapi telah berumah tangga dan memilih untuk tetap berkarir, terima kasih telah mau mengorbankan banyak waktu dalam melayani kami sebagai masyarakat.

            Menjadi wanita karir berarti harus kuat untuk menyingkirkan rasa rindu kepada anaknya untuk tak menemaninya bermain seharian. Menjadi wanita karir berarti harus mampu membagi dirinya untuk menjadi profesional ketika bertugas dan menjadi seorang ibu ketika di rumah. Menjadi wanita karir berarti mampu menjalankan dua peran dalam sehari. Terima kasih dari kami semua.

            Artinya, ibu rumah tangga dan ibu yang tetap menjalankan karirnya adalah dua hal luar biasa yang tidak bisa untuk saling dibandingkan. Masing-masing punya pengorbanan dan alasan tersendiri yang berbeda-beda dari satu ibu dengan ibu yang lain. Satu yang sama, ibu adalah rumah dan tempat paling nyaman untuk anaknya.

            Lagi-lagi pandemi yang membosankan justru membawaku untuk melihat lebih baik tentang arti seorang ibu untuk dunia anaknya.

 

           

             

           

           

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar