Seseorang
di muka bumi ini ada yang sedang sibuk dengan arti dari eksistensinya sendiri.
Dia telah lelah untuk mengunci emosinya, dia telah selesai untuk sembunyi dari kepuraan.
Dia ingin menjauh, ingin sendiri, dan ingin menangis. Ingin ambil waktu dan berterus
terang.
Tidak
ada yang menyakiti, kecuali rasa sakit itu sendiri. Semua manusia adalah benar,
yang bersalah adalah dia sendiri. Semua manusia baik padanya, yang sedang
berkelahi adalah dia dan masalahnya sendiri. Kadang dia juga lupa apa yang sedang
dipertengkarkan dalam dirinya, saking lamanya. Saking seringnya. Karena, selain darah, dirinya
terdiri dari dua hal lain. Madu dan racun. Dalam tubuhnya seakan mengalir dua
hal berbeda yang saling adu.
Makanya,
dia kacau.
Dulu
dia bilang bahwa apa-apa jangan menangis, tapi sekarang dia sadar kalau menahan
tangis ternyata lebih menyesakkan. Jadi, akan lebih baik untuk menangis saja.
Andai saja, semua perjalanan di dunia
ini adalah tanpa biaya dan tanpa beban, maka pergi adalah kata yang paling
nyaman untuk menjauh. Membiarkan jarak untuk mengajarkan makna dari ‘rumah’ dan
‘pulang’, juga ‘kembali’.