Terima
kasih semesta, telah mengizinkan semuanya datang dan berlalu. Untuk segalanya,
pada tawa yang tak selalu hangat, pada tangis yang sengaja bersembunyi, dan
pada semua perasaan yang pernah dipaksakan untuk selalu menerima. Kini semua
telah menjadi hal yang biasa, aku telah terbiasa. Terima kasih untuk segala hal
yang dulu aku pernah belajar di dalamnya, untuk segala tempat yang dulunya tak
pernah terpikir aku menjejakkan langkah di sana, dan untuk setiap manusia yang pernah
kutemui di setiap bagiannya. Terima kasih untuk semua yang pernah kujadikan
sebagai hal sementara, sebagai tangga langkahku, sebagai batu loncatanku,
sebagai pembelajaranku.
Mana
mungkin angin tak pernah berbadai? Mana mungkin mata pisau tak pernah melukai?
Mana mungkin mesin jam dinding tak pernah mati? Semua ada waktunya untuk
berantakan, untuk dibiarkan mengamuk, untuk rusak. Sama sepertiku. Sama
sepertimu. Namun sejauh yang aku tahu, semua akan punya waktu untuk reda. Waktu
untuk kembali seperti semula, waktu untuk pulih, waktu untuk berganti.
Pada
akhirnya, aku tak punya kalimat lain yang mudah terucap selain terima kasih
pada semesta. Terima kasih, kalimat penawar dari semua hal mengecewakan yang
pernah terjadi. Terima kasih, kalimat ringan yang lahir dari semua ketakutan,
kecemasan, hingga kesedihan. Terima kasih, kalimat paling mendalam dari canda,
tawa, dan bahagia.
Telah
kutemui banyak hal bahagia yang menyertakanku, mengisi memoriku dengan kenangan
indah hingga aku bisa tertawa dan merasa bahwa semua telah sempurna. Telah
kutemui hal yang membuatku semakin mengerti, bila buah telah busuk maka biarlah
ia jatuh dengan sendirinya. Telah kutemui banyak hal untuk belajar, untuk
tumbuh sebagai akar baru dari abu pohon yang pernah dihanguskan. Telah kukenali
kepada siapa kumengaku tak ingin ditinggalkan dan kepada siapa aku harus pergi
tanpa kembali. Kepada siapa kubercerita membagi emosi dan kepada siapa aku
harus terlihat baik-baik saja. Kepada siapa aku bebas mengungkapkan amarah dan
kepada siapa aku tak ambil peduli. Terima kasih semesta, aku kini belajar untuk
bermuara.
Terima
kasih, kalimat untuk sebuah akhir yang tenteram. Kalimat yang menuntunku untuk
menjadi pembelajar pada setiap perjalanan, pada setiap perasaan, pada setiap
pekerjaan, pada setiap penyelesaian, pada setiap yang terjadi di semesta.