Kamis, 22 Juni 2023

Kepada Semesta

 

                Terima kasih semesta, telah mengizinkan semuanya datang dan berlalu. Untuk segalanya, pada tawa yang tak selalu hangat, pada tangis yang sengaja bersembunyi, dan pada semua perasaan yang pernah dipaksakan untuk selalu menerima. Kini semua telah menjadi hal yang biasa, aku telah terbiasa. Terima kasih untuk segala hal yang dulu aku pernah belajar di dalamnya, untuk segala tempat yang dulunya tak pernah terpikir aku menjejakkan langkah di sana, dan untuk setiap manusia yang pernah kutemui di setiap bagiannya. Terima kasih untuk semua yang pernah kujadikan sebagai hal sementara, sebagai tangga langkahku, sebagai batu loncatanku, sebagai pembelajaranku.

            Mana mungkin angin tak pernah berbadai? Mana mungkin mata pisau tak pernah melukai? Mana mungkin mesin jam dinding tak pernah mati? Semua ada waktunya untuk berantakan, untuk dibiarkan mengamuk, untuk rusak. Sama sepertiku. Sama sepertimu. Namun sejauh yang aku tahu, semua akan punya waktu untuk reda. Waktu untuk kembali seperti semula, waktu untuk pulih, waktu untuk berganti.    

            Pada akhirnya, aku tak punya kalimat lain yang mudah terucap selain terima kasih pada semesta. Terima kasih, kalimat penawar dari semua hal mengecewakan yang pernah terjadi. Terima kasih, kalimat ringan yang lahir dari semua ketakutan, kecemasan, hingga kesedihan. Terima kasih, kalimat paling mendalam dari canda, tawa, dan bahagia.

            Telah kutemui banyak hal bahagia yang menyertakanku, mengisi memoriku dengan kenangan indah hingga aku bisa tertawa dan merasa bahwa semua telah sempurna. Telah kutemui hal yang membuatku semakin mengerti, bila buah telah busuk maka biarlah ia jatuh dengan sendirinya. Telah kutemui banyak hal untuk belajar, untuk tumbuh sebagai akar baru dari abu pohon yang pernah dihanguskan. Telah kukenali kepada siapa kumengaku tak ingin ditinggalkan dan kepada siapa aku harus pergi tanpa kembali. Kepada siapa kubercerita membagi emosi dan kepada siapa aku harus terlihat baik-baik saja. Kepada siapa aku bebas mengungkapkan amarah dan kepada siapa aku tak ambil peduli. Terima kasih semesta, aku kini belajar untuk bermuara.

            Terima kasih, kalimat untuk sebuah akhir yang tenteram. Kalimat yang menuntunku untuk menjadi pembelajar pada setiap perjalanan, pada setiap perasaan, pada setiap pekerjaan, pada setiap penyelesaian, pada setiap yang terjadi di semesta.

                       

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar