Suatu
hari ada seekor anjing yang terluka karena menyelamatkan tuannya, suatu hari
ada seseorang berhati mulia mengangkut kucing kurapan ke sebuah klinik hewan,
suatu hari seekor anjing menggigit anak kecil yang ingin mengajaknya bermain,
suatu hari ada seekor kucing lupa jalan pulang dan pemiliknya bersedih, suatu
hari pula ada satu karung besar berisi anjing-anjing yang baru saja tiba di tempat
jagal.
Konon
demi menghindari semua penyakit dan virus berbahaya di rumahnya, orang tua dari
seorang anak kecil yang dari kemarin berisik meminta seekor kucing untuk
dijadikan hewan peliharaan, akhirnya membelikan seekor kucing ras dengan harga
mahal. Cantik dan gemulai. Tidak pilih kucing kampung karena jelek dan kotor.
Namun sayangnya, baru seminggu tinggal di rumah mereka, si kucing cantik nan
gemulai itu mati karena stress dan mencret. Terlalu banyak minum obat anti virus-virus
dan hanya hidup di dalam kandang.
Di
suatu taman terbuka, seseorang menggendong anjingnya yang tengah asyik bermain
untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia kecewa seseorang mengusir dengan kasar
dan mengatakan bahwa hewan yang ia bawa itu mengandung najis. Sedihnya, ini
kali kedua ia mendapat perlakuan demikian pada tempat yang berbeda.
Pada
gerobak-gerobak pedagang keliling, ternyata ada salah satu atau dua yang di
dalamnya tersimpan makanan kering yang akan dibagikannya untuk kucing atau juga
anjing yang hidup di jalanan. Pakan kering murahan terbungkus kresek hitam yang
selalu dibeli dengan uang-uang kusut yang dikumpulkannya dalam laci gerobak.
Hingga malam, dagangannya tak laku. Namun pada malam itu ia beli lebih banyak
pakan kucing dan anjing karena ia paham betul bagaimana rasanya kelaparan.
Semua
selalu punya sebab akibat, beberapa berlaku dengan sistem, lalu bermain dalam
algoritma. Aku tidak mengarang semua ini, aku melihatnya setiap hari di real
life dan di media sosial. Semakin hari semakin aku sadar bahwa kita manusia
adalah perusak di muka bumi ini. Siapa yang membuang seekor hewan karena
pesakitan, pengganggu, dan sudah ada hewan peliharaan baru? Siapa yang
menyebabkan seekor anjing nan setia hingga akhirnya tak ingin pulang ke tuannya
lagi akibat pernah dipukul dengan begitu keras? Siapa yang balik marah karena
menerima perlawanan diri seekor hewan yang sedang merasa terancam?
Kita,
manusia.
Semakin
aku melihat, semakin aku mengerti bahwa kita belum tamat belajar tentang
bersuci dan membedakan najis dan haram, padahal tai kita pun najis tapi mengapa
hanya anjing dan babi yang kau suruh pergi jauh? Semakin pula aku mengerti
bahwa kita belum belajar bentuk pertahanan diri hewan, bila kau bisa memukul
maka anjing bisa menggigit dan kucing bisa mencakar. Lebih-lebih aku semakin
mengerti bagaimana cara percaya pada manusia dengan melihat caranya
memperlakukan makhluk di bawahnya.
Namun
tahukah, di dunia ini ada hal yang menurutku paling imut dan menggemaskan
melebihi lesung pipimu. Seseorang yang tak menyukai hewan-hewan yang kumaksud,
namun kadang terlibat interaksi dengan mereka, dengan cara yang halus. Entah
hanya sekadar hush-hush untuk tak mengganggunya, sekadar memberi makan atau
minum meski dengan perasaan aneh dan takut, atau menolong meski sangat
merepotkan.
Seseorang yang tak melakukan kejahatan
meski dengan hal yang tak disukainya.
Mereka itu adalah orang-orang yang susah
untuk kutiru. Bagiku, tak ada masalah dengan melakukan semua hal baik kepada
hewan semacam anabul ya karena aku suka, tetapi bagaimana dengan mereka yang
tak menyukai namun tetap bisa hidup berdampingan? Di sanalah aku melihat hal
menggemaskan dan kerendahan ego berbaur satu.