Sabtu, 18 November 2023

Anabul

 

                Suatu hari ada seekor anjing yang terluka karena menyelamatkan tuannya, suatu hari ada seseorang berhati mulia mengangkut kucing kurapan ke sebuah klinik hewan, suatu hari seekor anjing menggigit anak kecil yang ingin mengajaknya bermain, suatu hari ada seekor kucing lupa jalan pulang dan pemiliknya bersedih, suatu hari pula ada satu karung besar berisi anjing-anjing yang baru saja tiba di tempat jagal.

            Konon demi menghindari semua penyakit dan virus berbahaya di rumahnya, orang tua dari seorang anak kecil yang dari kemarin berisik meminta seekor kucing untuk dijadikan hewan peliharaan, akhirnya membelikan seekor kucing ras dengan harga mahal. Cantik dan gemulai. Tidak pilih kucing kampung karena jelek dan kotor. Namun sayangnya, baru seminggu tinggal di rumah mereka, si kucing cantik nan gemulai itu mati karena stress dan mencret. Terlalu banyak minum obat anti virus-virus dan hanya hidup di dalam kandang.

            Di suatu taman terbuka, seseorang menggendong anjingnya yang tengah asyik bermain untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia kecewa seseorang mengusir dengan kasar dan mengatakan bahwa hewan yang ia bawa itu mengandung najis. Sedihnya, ini kali kedua ia mendapat perlakuan demikian pada tempat yang berbeda.

            Pada gerobak-gerobak pedagang keliling, ternyata ada salah satu atau dua yang di dalamnya tersimpan makanan kering yang akan dibagikannya untuk kucing atau juga anjing yang hidup di jalanan. Pakan kering murahan terbungkus kresek hitam yang selalu dibeli dengan uang-uang kusut yang dikumpulkannya dalam laci gerobak. Hingga malam, dagangannya tak laku. Namun pada malam itu ia beli lebih banyak pakan kucing dan anjing karena ia paham betul bagaimana rasanya kelaparan.

            Semua selalu punya sebab akibat, beberapa berlaku dengan sistem, lalu bermain dalam algoritma. Aku tidak mengarang semua ini, aku melihatnya setiap hari di real life dan di media sosial. Semakin hari semakin aku sadar bahwa kita manusia adalah perusak di muka bumi ini. Siapa yang membuang seekor hewan karena pesakitan, pengganggu, dan sudah ada hewan peliharaan baru? Siapa yang menyebabkan seekor anjing nan setia hingga akhirnya tak ingin pulang ke tuannya lagi akibat pernah dipukul dengan begitu keras? Siapa yang balik marah karena menerima perlawanan diri seekor hewan yang sedang merasa terancam?

            Kita, manusia.

            Semakin aku melihat, semakin aku mengerti bahwa kita belum tamat belajar tentang bersuci dan membedakan najis dan haram, padahal tai kita pun najis tapi mengapa hanya anjing dan babi yang kau suruh pergi jauh? Semakin pula aku mengerti bahwa kita belum belajar bentuk pertahanan diri hewan, bila kau bisa memukul maka anjing bisa menggigit dan kucing bisa mencakar. Lebih-lebih aku semakin mengerti bagaimana cara percaya pada manusia dengan melihat caranya memperlakukan makhluk di bawahnya.

            Namun tahukah, di dunia ini ada hal yang menurutku paling imut dan menggemaskan melebihi lesung pipimu. Seseorang yang tak menyukai hewan-hewan yang kumaksud, namun kadang terlibat interaksi dengan mereka, dengan cara yang halus. Entah hanya sekadar hush-hush untuk tak mengganggunya, sekadar memberi makan atau minum meski dengan perasaan aneh dan takut, atau menolong meski sangat merepotkan.

Seseorang yang tak melakukan kejahatan meski dengan hal yang tak disukainya.

Mereka itu adalah orang-orang yang susah untuk kutiru. Bagiku, tak ada masalah dengan melakukan semua hal baik kepada hewan semacam anabul ya karena aku suka, tetapi bagaimana dengan mereka yang tak menyukai namun tetap bisa hidup berdampingan? Di sanalah aku melihat hal menggemaskan dan kerendahan ego berbaur satu.

 

                       

 

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar