Aku
pernah membaca sebuah kisah, bercerita tentang seorang pilot pesawat tempur.
Saat di puncak karirnya, semua sangat cemerlang. Banyak orang yang ingin duduk
di sebelahnya, banyak orang yang ingin berbincang dengannya, banyak kalimat
pendambaan dan pujian terhadapnya. Raganya prima, jiwanya segar, kondisinya
sangat stabil. Bisa terbang mengangkasa membawa burung besi paling keren sudah
pastilah menjadi kebanggaan seluruh keluarganya, menjadi yang paling disayang,
paling diperhitungkan, paling dihormati. Tidak pernah suatu acara dilangsungkan
bila dirinya tidak hadir di sana.
Namun,
hari naas itu ada. Pesawat yang bermanuver cantik membelah langit biru itu
harus menjumpai kata selesai. Hantaman keras menghunjam ke tanah dari kecepatan
tinggi, menciptakan ledakan dan patahan di berbagai bagian pesawat.
Seorang pilot yang harus menghadapi keterkejutan, terjun bersama pesawat kebanggaan,
yang harus menghadapi ledakan itu, kesakitan itu, dan ketidaktahuan apakah ia
selamat atau mati.
Beruntung,
saat ia membuka mata ia mendapati dirinya di rumah sakit. Keluarga dan
kerabatnya berdatangan. Ada yang memberi dukungan, ada yang menangis, ada yang
pasang wajah turut prihatin. Syukurlah ia tidak mati. Tapi ia telah kehilangan
satu kakinya. Kakinya remuk sehingga harus diamputasi. Tentulah itu kondisi
yang berat untuk ia terima. Ia jalani dengan berbagai dukungan dan hiburan dari
orang-orang sekitar. Ia coba untuk berbaik sangka dengan apa yang telah
menimpanya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Orang-orang kembali
sibuk dengan dunianya masing-masing, ucapan-ucapan `semangat`, `kamu pasti bisa
melalui ini`, dan apalah itu telah menguap pergi. Semua formalitas pengungkapan
prihatin telah pergi. Semua kembali seperti biasa. Pesawat tempur itu tetap
terbang, perannya telah diganti oleh yang lain.
Tepat
di bawah pohon rindang, cahaya matahari siang seakan memberikan warna kuning
untuk hari ini. Di situlah ia, duduk dengan santai bersama kruk yang ia
sandarkan di sebelahnya. Matanya melihat ke langit biru dengan rindu, dulu dia
mengudara. Peristiwa naas itu telah menelan sidikit demi sedikit rasa
bangganya, semangat hidupnya, juga harga dirinya. Dulu banyak yang ingin duduk
di dekatnya, mengajak berbincang, foto bersama, dan sebagainya. Sekarang rasanya
lengang sekali, duduk sendiri, menatap apa saja yang dilihat mata.
Selesai.
Semua ada masanya. Aku dan kamu juga pada akhirnya akan menjadi seseorang yang
datang dan pergi bagi kita masing-masing, atau juga bagi manusia lainnya. Kadang
jadi tokoh utama dalam peristiwa, kadang jadi yang paling diperlukan, kadang pula
jadi yang paling diabaikan, jadi penonton di kejauhan. Aku dan kamu pun sama,
bisa jadi tidak spesial lagi, tidak asyik lagi, tidak lagi menjadi tempat
menuju. Sesuatu yang datang adalah sesuatu yang berhak untuk pergi pula.
Seorang pilot tersebut, pada akhirnya
dikenal karena tragedi itu. Kisah kelihaiannya mengolak-alik pesawat kalah
populer dibanding kisah kakinya yang tinggal satu. Sementara itu, dunia
penerbangan dan landasan pacu tak pernah benar-benar bersedih nelangsa tanpa
kehadirannya sekarang. Akan selalu ada pengganti untuk itu semua.