Kamis, 06 Maret 2025

Fades Away

 

            

                           

               Aku pernah membaca sebuah kisah, bercerita tentang seorang pilot pesawat tempur. Saat di puncak karirnya, semua sangat cemerlang. Banyak orang yang ingin duduk di sebelahnya, banyak orang yang ingin berbincang dengannya, banyak kalimat pendambaan dan pujian terhadapnya. Raganya prima, jiwanya segar, kondisinya sangat stabil. Bisa terbang mengangkasa membawa burung besi paling keren sudah pastilah menjadi kebanggaan seluruh keluarganya, menjadi yang paling disayang, paling diperhitungkan, paling dihormati. Tidak pernah suatu acara dilangsungkan bila dirinya tidak hadir di sana.

            Namun, hari naas itu ada. Pesawat yang bermanuver cantik membelah langit biru itu harus menjumpai kata selesai. Hantaman keras menghunjam ke tanah dari kecepatan tinggi, menciptakan ledakan dan patahan di berbagai  bagian pesawat. Seorang pilot yang harus menghadapi keterkejutan, terjun bersama pesawat kebanggaan, yang harus menghadapi ledakan itu, kesakitan itu, dan ketidaktahuan apakah ia selamat atau mati.

            Beruntung, saat ia membuka mata ia mendapati dirinya di rumah sakit. Keluarga dan kerabatnya berdatangan. Ada yang memberi dukungan, ada yang menangis, ada yang pasang wajah turut prihatin. Syukurlah ia tidak mati. Tapi ia telah kehilangan satu kakinya. Kakinya remuk sehingga harus diamputasi. Tentulah itu kondisi yang berat untuk ia terima. Ia jalani dengan berbagai dukungan dan hiburan dari orang-orang sekitar. Ia coba untuk berbaik sangka dengan apa yang telah menimpanya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya masing-masing, ucapan-ucapan `semangat`, `kamu pasti bisa melalui ini`, dan apalah itu telah menguap pergi. Semua formalitas pengungkapan prihatin telah pergi. Semua kembali seperti biasa. Pesawat tempur itu tetap terbang, perannya telah diganti oleh yang lain.

            Tepat di bawah pohon rindang, cahaya matahari siang seakan memberikan warna kuning untuk hari ini. Di situlah ia, duduk dengan santai bersama kruk yang ia sandarkan di sebelahnya. Matanya melihat ke langit biru dengan rindu, dulu dia mengudara. Peristiwa naas itu telah menelan sidikit demi sedikit rasa bangganya, semangat hidupnya, juga harga dirinya. Dulu banyak yang ingin duduk di dekatnya, mengajak berbincang, foto bersama, dan sebagainya. Sekarang rasanya lengang sekali, duduk sendiri, menatap apa saja yang dilihat mata.

            Selesai. Semua ada masanya. Aku dan kamu juga pada akhirnya akan menjadi seseorang yang datang dan pergi bagi kita masing-masing, atau juga bagi manusia lainnya. Kadang jadi tokoh utama dalam peristiwa, kadang jadi yang paling diperlukan, kadang pula jadi yang paling diabaikan, jadi penonton di kejauhan. Aku dan kamu pun sama, bisa jadi tidak spesial lagi, tidak asyik lagi, tidak lagi menjadi tempat menuju. Sesuatu yang datang adalah sesuatu yang berhak untuk pergi pula.    

Seorang pilot tersebut, pada akhirnya dikenal karena tragedi itu. Kisah kelihaiannya mengolak-alik pesawat kalah populer dibanding kisah kakinya yang tinggal satu. Sementara itu, dunia penerbangan dan landasan pacu tak pernah benar-benar bersedih nelangsa tanpa kehadirannya sekarang. Akan selalu ada pengganti untuk itu semua.

             

           

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar