Angin bertiup, jalanan macet, penuh hiruk pikuk orang-orang, namun tak pernah peduli. Tahukah mereka bahwa ada kehidupan kecil yang sempat dilalui kaki-kaki mereka yang selalu berjalan cepat mengejar waktu? Tahukah mereka ada perut kosong yang menahan lapar entah dua atau tiga hari tak temukan lezatnya sisa-sisa makanan yang terbuang? Tahukah mereka bahwa di sana ada raga kecil nan ketakutan yang baru saja harus hidup sendiri, yang baru saja berlari-lari tanpa tahu harus kemana? mengertilah, sedikit demi sedikit dunia ini melenyapkan rasa amannya, bahkan untuk si raga kecil nan ketakutan itu.
Terik menyengat, daun kering tak kuasa terseret angin, rumah-rumah selalu tertutup rapat pintunya. Di pojok teras rumah kosong itu, dulunya ada sosok gagah yang setia berjaga, tak kenal panas atau hujan, ia tak pernah ingkar. Namun, kini ia dikecewakan. seluruh hidupnya terikat rantai yang tak mungkin bisa terlepas dengan tenaga yang melemah, gagahnya berubah kurus, binar matanya meminta tolong, juga tak didapat makanan atau minuman di sana. Percayalah, ada hati yang ia tunggu untuk membebaskan hidupnya. Lagi-lagi dengan setia.
Berjalan di pinggir jalan saja, rasanya perlu perjuangan. Baru saja suara klakson mengagetkanku, dengan kecepatan tinggi motor melintas. Lama sekali juga jika ingin menyeberang jalan, seakan tak mau mengalah atau menunggu sedikit saja, zebra cross ternyata hanya warna hitam putih yang percuma.
Membuatku kehilangan niat jalan soreku. Aku duduk di kursi panjang yang terlindung pohon tak berdaun. Di sore itu, aku hanya berharap semoga Tuhan tak menarik berkah di muka bumi ini untuk sekali lagi. layar kecil di genggamanku selalu penuh dengan berita ini-itu, yang juga cepat berlalu terganti oleh yang baru, sayangnya semakin lama semakin tak karuan.
Sungguh ngeri. Lama-lama manusia tambah serakah, lama-lama tambah jahat, lama-lama tambah takabur. Semakin tak berhati.
Kebencian berujung membunuh, kebohongan berujung fitnah, perbedaan berujung perpecahan. Pantas saja, raga kecil nan ketakutan itu tak henti mengeong, karena tak temukan tempat aman setelah kehilangan induknya, rupanya satu-satunya tempat teraman baginya adalah induknya. Lalu, nasib sosok yang hidupnya dirantai itu, tetap setia menunggu tempat minumnya yang telah lama kering untuk terisi air lagi, sambil sesekali mengonggong lemah untuk didengar.
Tuhan tolong, jangan tarik berkah-Mu untuk sekali lagi, ada raga yang sangat menderita dan tak berdaya karena manusia. Mohon tuntun orang-orang berhati untuk menemukan raga-raga kecil itu secepatnya. Biarkan makhluk itu merasakan kesempatan ajaib-Mu, biarkan ia meneguk tetesan air langit-Mu. Aku mohon.
Hingga hari ini, banyak yang hatinya telah kehilangan rasa peduli pada kehidupan kecil di dekat kaki-kaki mereka. Tuhan tolong, jangan tarik berkah-Mu untuk sekali lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar