Jumat, 25 Mei 2018

You Can Live, Even with Trauma

           Waktu itu, langit memang menggelap namun masih ada celah untuk sang mentari bersinar. Gelombang laut kala itu bergulung menghempas seperti biasa. Burung-burung camar sesekali menukik tajam ke laut lalu terbang lagi dengan membawa ikan kecil yang bergerak lincah berusaha melepaskan diri.

Semua disaksikan secara utuh dari bola mata anak kecil berumur sepuluh tahunan. Ia berdiri tegak menghadap laut, meratap perahu renta yang baru saja pergi menjauh mengarungi samudera. Di sana, perahu seakan terus mengecil dipermainkan si biru yang bergulung-gulung. Biasanya, bila sore hampir tenggelam, perahu itu akan datang membawa berbagai macam ikan yang akan dijual untuk esok hari di pasar, perahu itu akan pulang bersama sang pengendali dengan pakaian yang warnanya memudar di bagian bahu dan punggungnya. Ada banyak sekali lubang-lubang kecil yang seakan menjadi benih-benih robekan pada bajunya.

Anak itu, selalu melepas dan menyambut sang ayah yang datang dan pergi dihantar angin lautan. Setiap itu pula, harap-harap cemasnya tak pernah hilang.
                                ***
Harap-harap cemas. Seperti kemungkinan terburuk yang kau bayangkan, ayahnya tak lagi kembali. Anak kecil itu, dalam hatinya yang paling dasar, juga telah menduga, dan waktunya memang benar-benar telah tiba. Ia sendiri menghadap ke arah lautan luas, melempar batuan kecil karang untuk memukul lautan, membentak laut untuk mengembalikan ayahnya lagi. Berharap lautan akan takut dengan ancamannya. Berharap lautan akan merasakan sakit karena lemparan batuan karang itu. Siapa yang berjanji bahwa laut akan selalu baik? Hentikan. Laut tak punya hati, sayang.

Ia membenci lautan. Jika ia merasakan anginnya, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia melihat warna biru lautan, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia mendengar hempasan gelombang, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Ayahnya. Ia membenci lautan, namun ia tahu ayahnya telah menyatu bersama birunya laut, gelombang laut, suara laut. Segalanya. Ya Tuhan, bagaimana bisa anak itu harus terpaksa membenci pesona laut karena suatu kehilangan? Kehilangan itu telah mengubah cintanya. Itu bagian tersusah. Karena pada akhirnya, hal itu hanya membuatnya merindu.

Biru. Perlahan ia benci dengan warna itu. Biru telah mengambil ayahnya, biru bukan lagi warna kedamaian dan percaya. Buktinya, anak itu terbawa dalam kekalutan ketika menatap laut, bahkan ia tak lagi yakin bahwa laut akan mengembalikan ayahnya.

Tenggelam. Menurutnya, semua telah tenggelam. Matahari, ayahnya, sinar matanya, hidupnya. Semua tenggelam dalam duka yang menghitam. Seakan ia tak ingin melihat lautan lagi, tempat suka citanya dulu, ia ingin pergi. Namun entah, seakan pula bayangan ayahnya selalu tersenyum di atas lautan. Membuat kakinya urung melangkah pergi. Ia tak sanggup. Ayahnya ada di sana, bersama lautan.

Ia teringat ayahnya, melihat ke laut. Rindunya terbungkus takut, kini laut mengubahnya layaknya pecundang. Ya Tuhan, ini bagian terberat. Sungguh ia tak berani lagi mendekati gelombangnya, suara derai alam itu, memutar ruang memorinya lagi ke hari terakhir ia berdiri menghadap laut melepas ayahnya pergi. Kenangan itu membuatnya tak ingin lagi menyentuh laut, tak ingin lagi melihat burung camar, gelombang, dan biru. Tak ingin lagi.

                                   ***
Ah, tapi hari tetap berganti, mana mau ia peduli pada anak kecil yang masih berduka itu, nyatanya ia terus bergerak maju. Anak itu, ia sebatang kara sekarang. Bagaimanapun juga, isi ember beras akan habis jika tak diisi. Lauk pauk tak mungkin akan datang begitu saja ke rumahnya. Tak ada yang bisa diharapkan, kecuali anak itu sendiri yang mengupayakan.

Lama ia berpikir. Perutnya lapar, tapi apa yang dia bisa? Perlu waktu lama baginya untuk menjadi seorang dokter, astronout, dan ilmuwan lainnya. Bahkan ia tak lagi punya uang untuk modalnya menyambung hidup. Itu perlu waktu lama, padahal perutnya hanya perlu diisi sepiring nasi saja.

              Jaring-jaring bergoyang, perahu renta teronggok di bibir pantai, sampannya seakan menjanjikan keberuntungan. Burung camar berterbangan memberi isyarat bahwa banyak ikan di air sana. Gelombangnya tenang, birunya menyejukkan. Semesta mendukung.

Ah, peduli amat jika harus tenggelam, toh perutnya telah lapar minta segera diisi, dan bukankah ia merindukan ayahnya? Seandainya ia ditelan laut yang tak punya hati, toh ia akan bertemu dengan ayahnya dan tak kelaparan lagi. Ia lupa rasa takutnya, terkadang munculnya perasaan lain bisa melenyapkan ketakutan. Salah satunya rasa lapar. Itu yang baru ia ketahui.

Perlu waktu lama untuk menjadi dokter, astronaut, dan ilmuwan lainnya. Tapi untuk bertarung dengan laut, oh Tuhan, darah pelaut telah mengalir dalam dirinya. Anak itu, tak terlalu banyak menelan teori-teori kelautan, tapi dengan pengalaman melempar jaring untuk mencari sedikit karunia-Nya bersama ayah, dengan irama dayung yang pernah ia pelajari dari ayahnya, dengan cerita-cerita mata angin, isyarat alam, tentang gelombang apalagi warna air laut, itu sudah cukup. Itu sudah cukup mengantarnya berlayar ke tengah lautan, merasakan ayahnya memeluk dirinya lagi, merasakan ayahnya seakan ada bersamanya, menjaring ikan seharian, lalu pulang ketika mentari hendak tenggelam, lalu menjual ikan di pengepul, untuk kemudian bisa merasakan rupiah. Ayahnya ada dalam dirinya, setiap saat. Ia tak lagi kelaparan. Dan laut ternyata tetaplah bagian hidupnya. Ia telah menerimanya dengan sebuah penerimaan yang paling tulus dan ikhlas. Damailah ia dengan masa lalunya.
                                 ***
Kisah ini pasti ada di setiap perkampungan nelayan, anak kecil yang mengalami cerita ini bukan hanya satu, tapi mungkin sepuluh, atau bahkan seratus. Terserah jika menganggap cerita tadi sangat pasaran, apa salahku untuk menceritakannya kembali. Begini, kita ambil hikmahnya saja. Bukankah terlalu kejam jika anak sekecil itu sudah merasakan kedukaan yang begitu berat? Bahkan memberikan ketakutan sehingga ia membenci laut karena kehilangan. Tapi justru ia menemukan ayahnya kembali, di dalam dirinya sendiri. Alasanku mengemas kembali kisah ini hanya untuk menyampaikan satu kalimat penerimaan, atas prasangka buruk yang terkadang terlanjur kita utarakan pada Tuhan: `You can live, even with trauma`

Kamis, 17 Mei 2018

Bahaya Berjilbab dan Berbusana Muslim

             Bukan tidak mungkin lagi bila di jaman sekarang umat muslim dapat tampil modis sesuai perkembangan busana masa kini. Mungkin karena prihatin atau memang telah bosan dengan model yang terkesan monoton, para perancang busana saat ini berlomba untuk memberikan nuansa baru sebagai sentuhan pada karyanya. Hal ini membawa angin segar dan menarik perhatian umat muslim. Dengan berbagai macam warna, bentuk, serta model yang trendy membuat para muslimah tidak takut lagi akan tanggapan kuno atau ketinggalan jaman ketika ingin menggunakan busana muslimnya. Berbagai macam jilbab telah diubah dengan banyak gaya dan dengan bahan baku kain yang beraneka jenis, potongannya pun tidak melulu segi empat dengan ukuran panjang, namun telah banyak jilbab praktis yang bisa langsung pakai tanpa harus repot memasang jarum dan peniti. Ada juga jilbab yang dibuat untuk para muslimah yang senang bereksperimen di depan cermin, didesain dengan ukuran yang sesuai untuk diikat, dililit, maupun disematkan berbagai macam aksesoris di bagian tertentu sesuai keinginan pemakainya. Jika jilbab saja telah terlepas dari kata kuno, maka baju, celana, rok, dan gaun pun tak mungkin ketinggalan dalam hal penyesuaian terhadap jaman modern ini. Dulu pakaian muslim hanya digunakan ketika ada pengajian atau hari besar islam saja, maka sekarang justru dapat dikenakan sebagai pakaian sehari-hari bagi mereka yang berhijab. Pakaian muslim rancangan masa kini bisa dibilang sangat fleksibel dari segi bentuk hingga tempat penggunaannya. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, lingkungan rumahan hingga kantoran, pakaian muslim bukan lagi halangan untuk kita melakukan aktivitas umum di luar keagamaan.

Begitu banyak masyarakat yang telah menyukai busana muslim masa kini, para desainer tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk terus menciptakan karya-karya yang lebih hebat lagi. Dengan bahan baku yang lebih berkelas, juga model yang lebih elegan, ditambah dengan nama brand yang persaingannya semakin tinggi di pasaran. Namun sungguh disayangkan bahwa semakin mengikuti modernitas, bentuk jilbab saat ini bisa dibilang terlalu banyak gaya hingga melupakan fungsinya sebagai penutup aurat. Padahal Allah SWT telah memeringatkan melalui firman-Nya, ``Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan dan isteri-isteri orang mukmin: ``Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.`` Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`` Terdapat dalam Al-Qur`an surah Al-Ahzab ayat lima puluh sembilan. Firman tersebut memerintahkan untuk mengulurkan jilbab agar aurat tertutup sehingga tidak ada tindak kriminalitas terhadap perempuan. Lalu bagaimana bentuk jilbab masa kini yang banyak beredar di pasaran dan digandrungi para muslimah? Padahal jilbab sendiri berfungsi sebagai penutup perhiasan, namun sekarang jilbab justru sebagai perhiasan dengan banyaknya aksesoris berbagai bentuk dan warna yang menambah kesan mewah serta glamour bagi kaum Hawa. Mirisnya lagi, banyak dari mereka yang senang memerlihatkan penampilannya dengan rasa percaya diri yang berlebihan, biasanya mereka tak akan sungkan untuk berjalan-jalan ke berbagai tempat bersosialisasi dengan orang banyak, karena ada rasa yakin dalam diri mereka bahwa merekalah yang memiliki penampilan terbaik dengan menggunakan jilbab trendy tersebut. Sesungguhnya Allah Swt telah memeringatkan hamba-Nya melalui Al-Qur`an surah Al-Ahzab ayat tiga puluh tiga yang berbunyi, ``Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.`` Jilbab memang seharusnya tidak boleh berlebihan, apalagi dengan model yang tidak memenuhi syarat sebuah jilbab. Karena jika dilihat dari akibatnya, jilbab yang disertai warna, corak, juga hiasan yang heboh sangat dikhawatirkan akan menimbulkan kesombongan pada diri pemakainya, apalagi jika jilbab tersebut dapat diterka harganya hanya melalui nama brand yang kebanyakan dapat terlihat dengan jelas di beberapa bagian jilbab. Hal tersebut sangat memberikan perbedaan antara masyarakat golongan menengah ke bawah dengan golongan atas dari segi pemilihan bahan baku. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad mengatakan :``Barang siapa yang menegakkan pakaian syurah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah menegakkan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.`` (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Busana yang serba `wah` bukanlah busana seorang muslim yang seharusnya berpenampilan sederhana dan bersahaja, juga tidak membuat  seseorang menilai orang lain dari tinggi rendahnya strata sosial yang dapat memicu terjadinya kesenjangan sosial.

Dengan banyaknya jilbab dan busana muslim yang modis, jilbab dengan tampilan syar`i sebagian besar hanya digemari oleh orang tua, padahal jika generasi muda telah menggunakannya sejak dini, maka dapat dikatakan bisa mengubah cara pandang mereka dalam berpenampilan, mengingat bahwa jilbab syar`i kebanyakan adalah modelnya sama, tidak terlalu glamour, warnanya tidak seheboh jilbab trendy, dan jika telah memakai jilbab dengan ukuran panjang juga sangat tertutup, maka tidak akan cocok jika dipadu padankan dengan celana kentat atau baju kentat, sehingga mendorong muslimah menggunakan baju yang sesuai dengan aturan islam. Memang sangat sedih sekali, karena selama ini busana untuk muslimah semakin mengutamakan keindahannya saja. Demi memerlihatkan bagian unik atau daya tarik sebuah busana, anggap saja untuk menunjukkan bordiran yang bagus, gambar, atau hiasan yang memerindah tampilan, tak jarang jilbab dibuat lebih pendek agar tak menghalangi bagian yang berguna untuk daya tarik pada sebuah baju. Dengan terbiasanya masyarakat memakai pakaian yang terbilang hanya memamerkan keindahan saja, maka mereka pun tak sungkan juga untuk memadu padankan jilbab mereka dengan pakaian yang kentat, padahal hal ini dapat menjadi faktor kekerasan dan kriminalitas terhadap perempuan. Sebagaimana yang telah terdapat pada sabda Nabi Muhammad yang berbunyi :``Ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya, (1) kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang (ialah penguasa yang zhalim), (2) wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang.`` (HR. Muslim).

Bayangkan, jika para muslimah Indonesia telah sadar betapa pentingnya kesopanan dalam berbusana. Tak ada lagi rasa bersaing hanya untuk pamer pakaian, karena kriteria jilbab syar`i menurut Al-Quran dan As-Sunnah adalah menutup badan selain yang dikecualikan, bukan berfungsi sebagai perhiasan, kainnya harus tebal dan tidak tipis, harus longgar, tidak kentat sehingga tidak menggambarkan sesuatu dari tubuhnya, hal ini pernah dikatakan  oleh Fatimah putri Rasulullah kepada Asma :``Wahai Asma! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya.`` (Diriwayatkan oleh Abu Nu`aim), tidak diberi wewangian atau parfum, tidak menyerupai laki-laki, bukan libas syurah atau pakaian popularitas.

Apalagi, pakaian muslim syar`i kebanyakan adalah bermodel sama, berwarna cenderung lembut, juga tentunya tertutup. Hal ini dapat memengaruhi iman dan rasa sosial seseorang, karena warna, bentuk, dan model pun memberikan efek pada psikis atau kondisi jiwa. Dengan berpakaian seperti apa yang telah diperintahkan Allah SWT, insya Allah diberikan berkah berupa ketenangan hati, dan dapat merasakan kebersamaan dalam sebuah ikatan agama islam. Perubahan yang kecil pun akan berdampak besar jika dibarengi dengan niat yang baik dan rasa konsisten, hanya berawal dari cara merubah penampilan saja, maka telah banyak orang yang terhindar dari dosa selain dirinya sendiri. Contoh yang sering terjadi adalah ketika seseorang menggunakan pakaian yang belum benar, maka orang lain pun terkena imbas dosa akibat melihat aurat atau lekuk tubuh yang sengaja ditampakkan pada model sebuah busana. Namun, ketika seseorang mengubah cara berpakaiannya dengan sesuai syariat islam, maka berapa banyak orang yang telah terhindar dari dosa? Itulah yang seharusnya menjadi acuan untuk menekan jumlah kekerasan terhadap perempuan. Dengan berlaku sopan, maka siapapun akan memberikan rasa hormat terhadap kita. Indonesia pun dapat menjadi tenteram dan memberikan rasa aman bagi warganya.

Dengan berbagai hal tersebut, sangat diharapkan masyarakat Indonesia bisa menghilangkan anggapan mengenai sifat fanatik para muslimah yang menggunakan cadar. Selama ini masyarakat banyak menilai bahwa mereka yang menggunakan cadar adalah terlalu berlebihan dan cenderung sangat memerangi umat non-muslim. Akhirnya, timbul kesan menakutkan, asing, dan mungkin sering disangka kelompok teroris, hal yang demikian pun dapat menyebabkan perpecahan dalam umat islam. Padahal, mereka menggunakan cadar adalah dengan alasan untuk belajar bersifat zuhud dengan tidak mengikuti trend masa kini yang sebenarnya salah.

Lalu tantangan yang mungkin akan dihadapi untuk memerbaiki nilai ketuhanan dalam masalah penampilan umat islam khususnya di negara kita adalah maukah para desainer yang telah menuai hasil baik dari busana muslim modern yang dikatakan masih belum memenuhi syarat-syarat islam, untuk mengganti model ke arah yang lebih sedikit peminatnya demi menonjolkan citra islam yang sejati?

Selanjutnya, kita kembali lagi kepada para konsumennya. Maukah mereka untuk tidak selalu memandang trend atau model dalam memilih busana? Bersediakah mereka untuk berpakaian yang mungkin nantinya akan sedikit lepas dari kata glowing, glamourous, juga glaring? Atau bahkan masyarakat akan berpakaian sesuai seleranya sendiri-sendiri tanpa memedulikan salah dan benarnya suatu penampilan?

Dari masalah inilah seharusnya kita dapat bercermin dan melakukan perbaikan, dimulai dari diri sendiri. Jika kita terus mengingat bahwa dunia ini milik Allah, maka kita harus mengikuti apa yang Allah mau, bukan semau kita sendiri. Para muslim dan muslimah dalam hal ini sangat berperan penting untuk menggiatkan masyarakat agar melakukan perubahan yang lebih baik dalam berbusana, caranya bisa dengan membagikan baju atau jilbab secara cuma-cuma, memberitahukan apa yang salah, dan sekaligus menjalin silaturahmi. ``Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.`` Begitulah Allah memerintahkan kita melalui surah Al-Asr ayat 1-3 untuk memberikan perbaikan kepada sesama. Cara yang lebih mudah lagi adalah, kita dapat melakukan dakwah menggunakan media sosial dengan menampilkan foto atau gambar seorang muslim dan muslimah yang sangat menampakkan citra islami yang sesungguhnya disertai pesan-pesan bermanfaat yang juga berisi imbauan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, ``Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.`` (HR. Bukhari).

Jika masyarakatnya mau diajak berubah, maka tentu tidak akan menjadi ancaman terhadap para desainer untuk lebih berani dalam mengubah rancangan busana ke bentuk yang lebih benar, pedagang busana pun tidak takut untuk menjual busana syar`i yang sebelumnya sepi peminat. Pastinya, tentu saja tidak akan menurunkan pendapatan yang diperoleh melalui berdagang. Selain memerbaiki citra umat islam, berdagang pun dapat membuka pintu rezeki, seperti anjuran Rasulullah SAW, ``Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.`` (HR. Ibrahim Al-Harbi).

Menurut Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, Indonesia akan menjadi pusat fashion muslim pada tahun 2020. Nah, jangan sampai karena terlalu berambisi dengan hal itu, Indonesia mengabaikan aturan-aturan berbusana dalam islam, justru mulai dari sekaranglah Indonesia harus menggencarkan rancangan busana syar`i yang benar, agar negara luar akan turut mencontoh. ``Jika Indonesia mampu mengangkat keunikannya, maka sudah dapat dipastikan kelak Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan mode dunia,`` tambah Elka. Hal senada juga disampaikan oleh Mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Luthfi, ``Indonesia harus menjadi Milan-nya atau Paris-nya fashion wanita muslim di dunia.``

Tinggal kita lihat saja, beranikah para desainer Indonesia mengubah rancangannya? Maukah para pedagang menjual busana syar`i yang saat ini masih sepi peminat? Dan maukah masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim menunjukkan bahwa pakaian islam dapat memerbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara? Sebenarnya semua telah diatur indah dalam islam, namun seringkali kreasi manusia yang seolah tiada batas justru mencelakakan dirinya sendiri. Wallahu A`lam Bish-Shawab.

Jumat, 04 Mei 2018

You Still Have Me

               Coba lihat ke ujung sana. Ada garis terang cahaya langit pertanda pagi akan dihantar menyapa hari. Lalu lihatlah kilau sendu embun-embun sisa udara semalam di ujung dedaunan yang baru bangun merekahkan sedikit kuncup bunganya. Hirup bau pagi ini sedalam-dalamnya. Selagi kesegaran masih bernapas.

Lupakan dulu hal yang mengganggu benak dan pundakmu. Lupakan sejenak. Lalu, kulihat kau tutup matamu, secara perlahan. Tampak berat sekali gerakan kelopak matamu, seirama dengan gerakan pundakmu yang perlahan tenang. Hei, sepahit apa kehidupan di luar sana? Sudah seberapa buruk luka yang ada pada jalan hidupmu yang lalu? Aku tak tahu apa yang telah kau lalui, sekasar apa kau terhempas, juga selincah apa kau menghindar. Aku tak pernah tahu. Aku pun di tempat lain untuk hidup, mengumpulkan sedikit demi sedikit kemungkinan yang besar, namun tetap, masa lalu tak pernah mati untuk selalu kuingat.

Tak usah buru-buru untuk pergi. Bukankah kita baru sebentar bertemu kembali? Minum dulu teh hangat ini selagi dingin pagi dan hangat manis teh bisa memberikan harmonisasi sempurna untuk tubuh, apalagi perut yang kosong. Tak usah terlalu lama menghitung detik, menit, atau jam. Toh kita selalu hidup dalam rangkaian waktu. Ketika kau berpikir bahwa kau akan terlambat, aku percaya bahwa itu hanya karena kau selalu membatasi sang waktu.

Sedikit berbeda dari terakhir kita bertemu, kau terlihat sedikit kurus, namun dari air muka dan sinar matamu kulihat ada kedewasaan yang bertambah, ada keikhlasan yang terpancar, namun juga ada kesedihan yang berusaha kau tenggelamkan. Aku dapat melihatnya.

Out of the blue, pagi ini menyenangkan. Matahari terangkat sedikit demi sedikit tanpa kita sadari, kita habiskan dengan tertawa. Aku sudah lama tak merasakan euphoria tawa semacam ini. Aku sadar bahwa aku telah menjadi orang aneh lagi, tapi itu menyenangkan ketika bersamamu.

Kau bilang, tak ada yang berubah dalam segala hal di hidupmu. Kau bilang semua berlalu dengan begitu saja, tak ada yang spesial, tak ada yang signifikan, tak ada apapun yang bisa membuat pengaruh besar untuk lebih baik. Percayalah, itu karena kau hanya berjalan sendiri, menghadapi keluar-biasaan yang ajaib. Tak ada teman yang menyaksikan bagaimana indahnya kau melangkah, bagaimana hebatnya kau berjuang, tak ada yang tahu bahwa dirimu ternyata sudah berganti. Bukan kau yang dulu.

Malang, kau hanya tak sadar. Yang terus kau lihat hanya ketidak-sempurnaan pada dirimu. Asal kau tahu, memang lucu ketika kau melihat tak ada yang berbeda atau paling tidak perubahan yang baik pada dirimu dan jalanmu. Tapi ketahuilah, teman lamamu ini telah banyak memperhatikan perubahan pada wajah dan sikapmu sejak tadi. Kau berproses, tunggulah hingga semesta melihat siapa dirimu. Namun, jika kelak semua tak sesuai harapan, percaya saja padaku. Aku temanmu dari lama, dan aku tahu kau punya perubahan. Kau tidak membatu.

Selagi kau masih bersamaku untuk hari ini, tertawa saja dengan keras agar aku juga bisa tertawa karena melihatmu tertawa. Biarakan aku merasakan semangat yang telah lama hilang tertinggal di hari dulu, biarkan aku merasakan pipi ini mengembang untuk lebih dari sekadar tersenyum. Tertawa. Kisahkan padaku cerita-cerita nyata nan aneh, nan menggelitik, nan dalam untuk kutahu bahwa kau melakukan itu sendiri ketika aku tak ada bersamamu. Dan aku pun demikian.

Terima kasih sekali untuk hari ini….

Matahari tetaplah harus tenggelam untuk menerbitkan sang purnama. Langit senja mengisyaratkan pada burung-burung kecil yang sejak pagi tadi belum pulang untuk kembali mengisi sarangnya, kembali pada anak-anaknya. Lampu-lampu kota telah menyala kuning, menghias syahdu suasana diiringi lantunan ayat suci sebelum waktu maghrib. Salam berpisah akhirnya sampai pada kita. Satu hari ini seakan membawaku jauh mengelilingi hal-hal yang belum pernah kujangkau dengan pengalamanmu yang tak pernah luar biasa jika menurutmu.

          Dengar, aku tak akan membuat diriku terlalu nyaman dengan membiasakan dirimu hadir setiap waktu untuk membantu, untuk selalu ada. Aku tak akan menangis di depanmu hanya karena aku tak ingin kau pergi. Itu hanya membuatku menjadi seorang yang terlalu manja untuk kehidupan yang keras di luar sana.

Jadi, biarkan semua berjalan sebagaimana hidup yang terus berlanjut. People come and go, jangan merutuki `sesuatu yang kurang` selama kita tidak bisa sama-sama. Kau akan temukan teman baru, tempat baru, meski aneh sekalipun, bersikaplah untuk menghargai apapun itu.

           But if it all does not work, and no one cares about you, you still have me.