Waktu itu, langit memang menggelap namun masih ada celah untuk sang mentari bersinar. Gelombang laut kala itu bergulung menghempas seperti biasa. Burung-burung camar sesekali menukik tajam ke laut lalu terbang lagi dengan membawa ikan kecil yang bergerak lincah berusaha melepaskan diri.
Semua disaksikan secara utuh dari bola mata anak kecil berumur sepuluh tahunan. Ia berdiri tegak menghadap laut, meratap perahu renta yang baru saja pergi menjauh mengarungi samudera. Di sana, perahu seakan terus mengecil dipermainkan si biru yang bergulung-gulung. Biasanya, bila sore hampir tenggelam, perahu itu akan datang membawa berbagai macam ikan yang akan dijual untuk esok hari di pasar, perahu itu akan pulang bersama sang pengendali dengan pakaian yang warnanya memudar di bagian bahu dan punggungnya. Ada banyak sekali lubang-lubang kecil yang seakan menjadi benih-benih robekan pada bajunya.
Anak itu, selalu melepas dan menyambut sang ayah yang datang dan pergi dihantar angin lautan. Setiap itu pula, harap-harap cemasnya tak pernah hilang.
***
Harap-harap cemas. Seperti kemungkinan terburuk yang kau bayangkan, ayahnya tak lagi kembali. Anak kecil itu, dalam hatinya yang paling dasar, juga telah menduga, dan waktunya memang benar-benar telah tiba. Ia sendiri menghadap ke arah lautan luas, melempar batuan kecil karang untuk memukul lautan, membentak laut untuk mengembalikan ayahnya lagi. Berharap lautan akan takut dengan ancamannya. Berharap lautan akan merasakan sakit karena lemparan batuan karang itu. Siapa yang berjanji bahwa laut akan selalu baik? Hentikan. Laut tak punya hati, sayang.
Ia membenci lautan. Jika ia merasakan anginnya, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia melihat warna biru lautan, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia mendengar hempasan gelombang, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Ayahnya. Ia membenci lautan, namun ia tahu ayahnya telah menyatu bersama birunya laut, gelombang laut, suara laut. Segalanya. Ya Tuhan, bagaimana bisa anak itu harus terpaksa membenci pesona laut karena suatu kehilangan? Kehilangan itu telah mengubah cintanya. Itu bagian tersusah. Karena pada akhirnya, hal itu hanya membuatnya merindu.
Biru. Perlahan ia benci dengan warna itu. Biru telah mengambil ayahnya, biru bukan lagi warna kedamaian dan percaya. Buktinya, anak itu terbawa dalam kekalutan ketika menatap laut, bahkan ia tak lagi yakin bahwa laut akan mengembalikan ayahnya.
Tenggelam. Menurutnya, semua telah tenggelam. Matahari, ayahnya, sinar matanya, hidupnya. Semua tenggelam dalam duka yang menghitam. Seakan ia tak ingin melihat lautan lagi, tempat suka citanya dulu, ia ingin pergi. Namun entah, seakan pula bayangan ayahnya selalu tersenyum di atas lautan. Membuat kakinya urung melangkah pergi. Ia tak sanggup. Ayahnya ada di sana, bersama lautan.
Ia teringat ayahnya, melihat ke laut. Rindunya terbungkus takut, kini laut mengubahnya layaknya pecundang. Ya Tuhan, ini bagian terberat. Sungguh ia tak berani lagi mendekati gelombangnya, suara derai alam itu, memutar ruang memorinya lagi ke hari terakhir ia berdiri menghadap laut melepas ayahnya pergi. Kenangan itu membuatnya tak ingin lagi menyentuh laut, tak ingin lagi melihat burung camar, gelombang, dan biru. Tak ingin lagi.
***
Ah, tapi hari tetap berganti, mana mau ia peduli pada anak kecil yang masih berduka itu, nyatanya ia terus bergerak maju. Anak itu, ia sebatang kara sekarang. Bagaimanapun juga, isi ember beras akan habis jika tak diisi. Lauk pauk tak mungkin akan datang begitu saja ke rumahnya. Tak ada yang bisa diharapkan, kecuali anak itu sendiri yang mengupayakan.
Lama ia berpikir. Perutnya lapar, tapi apa yang dia bisa? Perlu waktu lama baginya untuk menjadi seorang dokter, astronout, dan ilmuwan lainnya. Bahkan ia tak lagi punya uang untuk modalnya menyambung hidup. Itu perlu waktu lama, padahal perutnya hanya perlu diisi sepiring nasi saja.
Jaring-jaring bergoyang, perahu renta teronggok di bibir pantai, sampannya seakan menjanjikan keberuntungan. Burung camar berterbangan memberi isyarat bahwa banyak ikan di air sana. Gelombangnya tenang, birunya menyejukkan. Semesta mendukung.
Ah, peduli amat jika harus tenggelam, toh perutnya telah lapar minta segera diisi, dan bukankah ia merindukan ayahnya? Seandainya ia ditelan laut yang tak punya hati, toh ia akan bertemu dengan ayahnya dan tak kelaparan lagi. Ia lupa rasa takutnya, terkadang munculnya perasaan lain bisa melenyapkan ketakutan. Salah satunya rasa lapar. Itu yang baru ia ketahui.
Perlu waktu lama untuk menjadi dokter, astronaut, dan ilmuwan lainnya. Tapi untuk bertarung dengan laut, oh Tuhan, darah pelaut telah mengalir dalam dirinya. Anak itu, tak terlalu banyak menelan teori-teori kelautan, tapi dengan pengalaman melempar jaring untuk mencari sedikit karunia-Nya bersama ayah, dengan irama dayung yang pernah ia pelajari dari ayahnya, dengan cerita-cerita mata angin, isyarat alam, tentang gelombang apalagi warna air laut, itu sudah cukup. Itu sudah cukup mengantarnya berlayar ke tengah lautan, merasakan ayahnya memeluk dirinya lagi, merasakan ayahnya seakan ada bersamanya, menjaring ikan seharian, lalu pulang ketika mentari hendak tenggelam, lalu menjual ikan di pengepul, untuk kemudian bisa merasakan rupiah. Ayahnya ada dalam dirinya, setiap saat. Ia tak lagi kelaparan. Dan laut ternyata tetaplah bagian hidupnya. Ia telah menerimanya dengan sebuah penerimaan yang paling tulus dan ikhlas. Damailah ia dengan masa lalunya.
***
Kisah ini pasti ada di setiap perkampungan nelayan, anak kecil yang mengalami cerita ini bukan hanya satu, tapi mungkin sepuluh, atau bahkan seratus. Terserah jika menganggap cerita tadi sangat pasaran, apa salahku untuk menceritakannya kembali. Begini, kita ambil hikmahnya saja. Bukankah terlalu kejam jika anak sekecil itu sudah merasakan kedukaan yang begitu berat? Bahkan memberikan ketakutan sehingga ia membenci laut karena kehilangan. Tapi justru ia menemukan ayahnya kembali, di dalam dirinya sendiri. Alasanku mengemas kembali kisah ini hanya untuk menyampaikan satu kalimat penerimaan, atas prasangka buruk yang terkadang terlanjur kita utarakan pada Tuhan: `You can live, even with trauma`
Tidak ada komentar:
Posting Komentar