Senin, 30 Juli 2018

S'mthing that Can't be Seen

Bila sinar mentari telah sedikit saja muncul di awal pagi, siapa sih yang tidak terpesona dengan keindahan alam dalam balutan udara sejuknya? Tentunya awan-awan akan terlihat begitu lembut terhias warna gradasi yang dipermainkan mentari. Sedangkan daun-daun masih basah dengan embun-embun yang bergantung menunggu jatuh ke tanah yang lembab. Kicauan burung dan ayam sepertinya hampir setiap pagi mengiringi pergerakan sang mentari, mengisi awal pagi yang masih sunyi dari aktivitas hidup manusianya.

Sungguh sebuah pagi yang lengkap ya. Mungkin kita telah terbiasa dengan kokok ayam di pagi hari, yang bagi kebanyakan orang kokoknya menjadi alarm untuk bangun pagi. Tapi bagaimana jika ayam berkokok di waktu malam atau ketika hari masih gelap? Mengingat, ayam merupakan hewan yang akan mengalami rabun ketika hari beranjak gelap. Sehingga sangat janggal sekali jika mendengar ayam berkokok di waktu malam. Di masyarakat, banyak mitos yang beredar, mulai dari kehadiran makhluk halus hingga akan lahirnya seorang anak. Tidak bisa disalahkan, jika banyak masyarakat yang masih mempercayai hal tersebut. Mulai dari faktor keterbatasan informasi hingga kurangnya inisiatif masyarakat untuk mencari penjelasan ilmiah, juga karena masih kentalnya kepercayaan dalam adat mungkin adalah alasan mengapa sampai hari ini mitos tersebut masih bertahan.

Kokok ayam di pagi hari pun, sebenarnya bukan karena mata ayam menyaksikan sinar mentari, melainkan karena adanya keagungan Allah yang lebih luar biasa daripada sang mentari. Seperti yang kita ketahui, waktu pagi merupakan waktu yang penuh dengan keberkahan. Di waktu inilah malaikat-malaikat-Nya turun untuk membagikan rizki dari Allah kepada semua makhluk, setiap hari. Rizki Allah bukan hanya kekayaan secara materiel, tapi bisa dalam bentuk kesehatan, kebahagiaan, dan kenyamanan dalam beraktivitas.

Mengenai ayam, ilmuwan di Washington University yang dipandu oleh Joseph Corbo menyatakan bahwa ada sel-sel yang disebut kerucut di retina mata ayam yang mampu melihat cahaya violet dan ultraviolet, kerucut ayam ini menyebar secara menyeluruh pada retina mata ayam. Malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari nur atau cahaya. Namun, tidak ada penjelasan jenis cahaya seperti apa yang digunakan pada penciptaan malaikat.

Jauh dari itu, Nabi Muhammad telah bersabda `Bila engkau mendengar suara ayam jantan, mintalah karunia Allah karena dia memandang malaikat. Sebaliknya apabila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari syaitan karena dia memandang syaitan`.

Peneliti menyampaikan analisisnya yang menyatakan bahwa ayam dengan jelas setingkat lebih dari kita dalam hal penglihatan warna. Organisasi reseptor warna di retina ayam sangat melebihi yang terlihat di kebanyakan retina lainnya dan tentu saja dibanding sebagian besar retina mamalia. Penglihatan malamnya sendiri bergantung pada fotoreseptor light-sensitive pada retina yang disebut rod. Sementara penglihatan siang harinya bergantung pada reseptor yang disebut cone.

Selama usia dinosaurus, kebanyakan mamalia menjadi hewan nocturnal dalam kurun waktu jutaan tahun. Ayam yang diyakini sebagai keturunan dinosaurus tidak pernah menghabiskan waktu yang sama dengan hewan nocturnal, akibatnya ayam memiliki lebih banyak jenis cone dibanding mamalia.

Jika retina manusia memiliki cone yang sensitive terhadap panjang gelombang merah, biru, dan hijau, maka ayam memiliki cone yang bisa mendeteksi panjang gelombang ungu, termasuk beberapa ultraviolet, dan reseptor khusus yang disebut double cone yang dapat membantu mereka mendeteksi gerakan.

Dalam islam, ketika ayam berkokok di malam hari adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa, karena di waktu itu malaikat datang untuk mengaminkan doa. Suara kokok ayam pun tidak asal keluar begitu saja hanya untuk isyarat sebagai tanda hadirnya malaikat, namun kokok ayam adalah cara ayam memuji keagungan Allah. Subhanallah. Jika kamu ingin lebih tahu, segala yang ada di bumi ini selalu memuji keagungan Allah, bahkan detak jantung manusia pun mengandung pujian setiap kali ia berdetak.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, mulai saat ini kita tidak perlu untuk berprasangka yang bukan-bukan lagi ketika mendengar ayam berkokok di malam hari. Hal tersebut hendaknya justru menjadikan kita sebagai pribadi yang senantiasa mengingat dan menyadari betapa hebatnya kuasa Allah atas kepemilikan alam semesta yang diatur-Nya sedemikian indah, dari yang tak terjamah manusia hingga yang selalu ada di kehidupan harian manusia. Insha Allah.

Rabu, 18 Juli 2018

God Answered When I was In Pain

Pernahkah kau punya sehari saja yang mampu memberi kesan pada perjalanan hidupmu? Yang mampu kau kenang untuk selama-lamanya? Yang mampu meyakinkan bahwa segalanya bisa berubah dengan cepat, hanya dalam waktu sehari?

Sungguh, di suatu pagi yang telah lama berlalu, aku meninggalkan tubuhku sesaat, aku hilang. Benar-benar aku tak tahu apa-apa yang telah terjadi. Namun Tuhan tak ingin memanggilku pulang terlalu dini. Dia mengembalikanku.

Sayup kudengar bunyi langkah yang bergesekan dengan ubin, orang yang berbicara, dan bunyi berisik lainnya. Mataku terasa berat ketika perlahan kubuka, berbarengan dengan sakitnya kepalaku. Sesaat setelah nyawaku seratus persen kembali pada tubuhku, aku mengerti apa yang terjadi. Semua itu meninggalkan bekas, meninggalkan luka, dan meninggalkan sakit yang hingga detik ini aku masih ingat rasanya. Sinar mataku meredup, karena dentuman keras di pagi itu, masih banyak lagi yang berubah jika harus kuceritakan. Ah, tapi siapalah diriku, aku tidak boleh terlalu cengeng hanya untuk hal seperti ini. Di sana, banyak manusia-manusia yang lebih merasakan sakit bahkan rela bertaruh nyawa hanya demi urusan perut. (Percayalah, ini pelajaran hidup yang tak akan kusadari jika Tuhan tidak membuat skenario-Nya di kehidupanku).

Aku sempat tak ingin melihat diriku di cermin, aku sempat ingin berhenti untuk segalanya, aku sempat menangis tak terima pada Tuhan atas kejadian yang begitu cepat, yang aku tak mengerti. Mengapa harus aku? (Aku dulu hanya manusia penuh rasa protes. Ya ampun, bahkan takdir dari Tuhan pun sempat kuingkari).

Lambat laun, semua pulih perlahan namun tetap meninggalkan luka yang berbekas dan rasa sakit yang tak bisa kulupakan. Perlu waktu yang cukup lama untukku menerima kenyataan itu, perlu kekuatan yang berusaha kunyalakan ketika tahu bahwa sinar mataku harus meredup. Semua kulawan secara perlahan, meski aku pun pada prosesnya mustahil untuk tak menangis. Aku pernah senelangsa itu dulunya.

Tapi hari terus berganti, dan hidup tetap berlanjut tak peduli apa yang harus dilalui lagi. Waktu bergerak maju seiring bumi yang terus berputar.

Sekarang aku berdiri di atas masa laluku sendiri, aku mencari jawaban atas apa yang terjadi pada diriku. Masih, peristiwa itu selalu menghantui dan menggangguku jika harus kuakui. Kadang aku ingin memilih untuk menyerah, namun aku selalu mencari cara untuk berdamai pada hal tersebut.
Aku masih tak percaya jika aku menuliskan cerita ini untuk terbaca. Aku masih tak percaya bahwa Tuhan memberi jawaban atas pertanyaanku, `You Can Live, Even with Trauma`.

Aku menulis bukan karena hebat atau bijaksana. Tidak sama sekali. Tapi karena trauma dalam diriku. Ada ketakutan, kecemasan, juga kesedihan yang tak bisa kuhilangkan hingga saat ini. Aku tak terlalu kuat untuk terus dihantui rasa itu, hingga akhirnya kuizinkan tulisanku bercerita.

Waktu pagi adalah waktu yang seakan membuatku terus mengingat dan menghitung detik-detik perubahan yang tak bisa kutolak, yang pernah menempatkanku di keadaan yang sangat dekat pada kematian. Namun ternyata pagi itu telah berlalu dan mengizinkanku untuk hidup di pagi lainnya. Aku mencoba untuk menghidup di atas traumaku sendiri.

Tak apa untuk segala rasa yang tak bisa kuusir pergi. Seperti jawaban Tuhan, `You Can Live, Even With Trauma` hidupku semakin punya arti. Sehari dalam hidupku itu merubah segalanya. Pada akhirnya aku dapat menerima dan berdamai, lalu bilang 'tidak apa-apa' pada diriku sendiri.


Sabtu, 14 Juli 2018

Forgive them without begging 'Sorry'

Apa yang ingin kau tuntut dari sebuah sakit hati? Ada banyak manusia di muka bumi ini, dan tak semua harus dipaksa untuk mengerti hatimu seorang. Yang kau harus tahu, semua orang pernah terluka bahkan jika terlalu sakit sekalipun, ada saja dari mereka yang tegar menahan untuk membawanya sendiri hingga rasa sakit itu tak terasa lagi. Hilang. Di luar sana ada yang lebih tersakiti daripada dirimu. Jadi, jangan cengeng untuk meminta kata maaf dari mereka yang melukai.

Sometimes, you have to apologize no matter who was wrong. They who had hurting you, must have pain inside of them. You don`t need to give them bad pay. Hei, who are you? Even you are the true person, if you give them bad pay, so what`s the difference? Wish them happy. Itulah dirimu yang tercipta sebagai manusia yang memiliki hati.
It is hard to start, but if you want to know, I always do it. I rarely say sorry straight away, but I try to accept everything hurts me, if I can`t accept it in one minute, I`ll try it in one day. If it does not work, I`ll try it in everyday I live.

See, no matter who was wrong, you have to be kind to say or do anything hard for you to be better, and for them to be happy. I can say about it, because I face it very much. I never want to beg somebody to say sorry, I just gotta act like I don`t care. If it feels fine, it is done.

As simple as that to mend your heart. It just takes time and takes your feelings. Finally, you can let it go. I was scared and hurting, but now I know how to be pretty heart-controller, how to build beautiful mind to heal my heart. I love the way I am, even they speak anything bad behind my back, I can accept it for introspection. Then forgive them for the better me. For whoever you are, thank you for bringing me to be strong by your attitude to me. I hope you will find your happiness.

Adakalanya cara terbaik adalah membiarkan hatimu tersiksa sendiri daripada kau terlalu menuntut ucapan maaf dari orang. Ingatlah, tidak semua orang bisa berkata `maaf`, tidak semua orang seperti dirimu. Jika kau masih terlalu berkutat pada hal ini, lihat lagi di luar sana ada banyak hati yang dibiarkan sembuh sendiri tanpa peduli lagi siapa yang telah membuat luka.



She is Not 'Fulan'

Ia tak mengerti banyak mengenai tuhannya, agamanya, bahkan dirinya sendiri. Hanya saja, ia tahu kewajiban yang telah ditetapkan untuknya. Untuk seluruh manusia, sebenarnya. Itu saja yang ia pegang selama bertahun-tahun hidup. Namun entahlah, seperti yang kubilang sebelum-sebelumnya juga, keberkahan di muka bumi ini seakan perlahan lenyap. Bukan ia yang terlalu fanatik pada akidah yang diyakininya, ia sungguh hanya berpegang pada kewajibannya.

Kau tahu, islam membuat satu benda menjadi begitu ajaib. Ia juga meyakininya. Baru-baru saja jua. Dulu ia juga mengenakannya sebagai penutup kepala karena tidak suka rambutnya tertiup-tiup angin. Itu sudah dulu sekali ketika ia hanya tahu bermain, menangis, dan belum lancar membaca. Jelas saja ia tak tahu fungsi lainnya. Seiring waktu, ia mengerti helaian kain itu bersifat wajib untuk menutup. Benar-benar untuk menutup, untuk tak memperbanyak dosa, bukan untuk mempercantik.

Ia sang Penyembah. Wajibnya hanya lima waktu dalam sehari. Bukan karena apa-apa, ia melakukannnya karena ia sadar itu kewajibannya. Selambat apapun, ia berusaha untuk tak tertinggal. Seburuk apapun, ia berusaha untuk memperbaiki meski sedikit demi sedikit. Ia tak tahu bagaimana Tuhan menerima amalnya, mungkinkah dengan tersenyum atau ada kemungkinan terburuk lainnya. Ia pun tak pernah tahu. Ia hanya tak ingin menentang-Nya.

Tahukah kau siapa dia?

Bukan. Bukan si Fulan yang sholehah, bukan si Fulan-Fulan lainnya lagi yang ahli ibadah dan mengerti segalanya. Sebelum kau akan tahu, maafkan dulu dirinya. Jika kau menaruh ekspektasi yang terlalu besar untuk membayangkan siapa dia, nanti yang ada kau hanya kecewa. Sungguh ia bukan yang selalu lurus akhlaknya, melainkan yang hatinya masih punya kegelapan di sana. Maka maafkanlah.

Biar kuberi tahu.

Ia si Pendosa. Sudah kubilang sedari awal, keberkahan di muka bumi ini seakan lenyap perlahan. Si Pendosa itu, hatinya selalu lapar, tak pernah puas dengan apa yang digariskan. Karena rasa laparnya, hatinya juga tega memakan nuraninya sendiri. Ia berusaha untuk mengembalikan semuanya, namun itu sudah terlalu lama ia mencoba. Mungkin iya, nuraninya telah hilang, namun ia masih sadar bahwa ada Tuhan di sini.

Biar kujelaskan,

Rupanya dunia sudah sebegitu gilanya, bahkan si Pendosa ini dianggap makhluk yang mulia dengan segala sanjung dan puji. Oh tidak, ia tak pernah percaya itu. Ia tak percaya jua pada dirinya sendiri, sebaik itukah dirinya? Dengarlah dulu doanya, maka kau akan mengerti.

Telah lama sekali, Tuhan. Aku merasa sangat perlu dirimu, tapi aku lelah untuk memperbaiki diri yang sudah sangat buruk ini, bahkan terlempar dalam gelap yang lebih gelap daripada hening malam di atas langit sana. Kau pasti tahu, hati ini punya bisik setiap saat untuk melafalkan ayat-ayat nan suci-Mu. Namun entah, pikiran lain seakan menolak pada nurani. Itu egoku yang tak mengindahkan diri-Mu.

Seakan hidupku seribu tahun lagi, seakan aku tak kenal pada mati, hingga aku lupa bahwa semua hanya semu. Aku hilang meski ragaku tetap ada. Usia membawaku sejauh ini, tapi hampa di hati belum kutemukan udaranya. Tuhan tolong, kembalikan aku pada nuraniku.

Izinkan diri ini untuk memohon pada-Mu, memanjatkan cinta yang masih tersisa, berharap Kau sirami berkah pada hati yang hampa, pada air mata yang tak pernah menangis karena dosa, pada pikiran yang penuh angan duniawi. Pada semua tentangku yang belum menemukan diri-Mu. Ini sudah terlalu lama.

Tolong mengertilah, bukan ia yang berusaha membangun sosoknya yang ingin dinilai lebih dari yang lain. Ia bukan pendusta. Namun, sekali lagi harus kukatakan bahwa keberkahan di muka bumi ini perlahan lenyap. Banyak manusia yang lebih lapar darinya, hingga memakan hatinya sendiri.

Jika kau ingin lebih tahu lagi, aku menuliskan tentang si Pendosa ini karena ia mewakili diriku. Ya, doakan aku untuk terus bertahan memegang kewajiban-Nya. Bukan karena aku adalah si Fulan yang sholehah dan mengerti segalanya, melainkan karena aku hanya si Pendosa yang cemas dan selalu bertanya apakah aku manusia terburuk di muka bumi ini. Doakan aku agar Tuhan selalu mengampuni dosaku.