Sabtu, 14 Juli 2018

She is Not 'Fulan'

Ia tak mengerti banyak mengenai tuhannya, agamanya, bahkan dirinya sendiri. Hanya saja, ia tahu kewajiban yang telah ditetapkan untuknya. Untuk seluruh manusia, sebenarnya. Itu saja yang ia pegang selama bertahun-tahun hidup. Namun entahlah, seperti yang kubilang sebelum-sebelumnya juga, keberkahan di muka bumi ini seakan perlahan lenyap. Bukan ia yang terlalu fanatik pada akidah yang diyakininya, ia sungguh hanya berpegang pada kewajibannya.

Kau tahu, islam membuat satu benda menjadi begitu ajaib. Ia juga meyakininya. Baru-baru saja jua. Dulu ia juga mengenakannya sebagai penutup kepala karena tidak suka rambutnya tertiup-tiup angin. Itu sudah dulu sekali ketika ia hanya tahu bermain, menangis, dan belum lancar membaca. Jelas saja ia tak tahu fungsi lainnya. Seiring waktu, ia mengerti helaian kain itu bersifat wajib untuk menutup. Benar-benar untuk menutup, untuk tak memperbanyak dosa, bukan untuk mempercantik.

Ia sang Penyembah. Wajibnya hanya lima waktu dalam sehari. Bukan karena apa-apa, ia melakukannnya karena ia sadar itu kewajibannya. Selambat apapun, ia berusaha untuk tak tertinggal. Seburuk apapun, ia berusaha untuk memperbaiki meski sedikit demi sedikit. Ia tak tahu bagaimana Tuhan menerima amalnya, mungkinkah dengan tersenyum atau ada kemungkinan terburuk lainnya. Ia pun tak pernah tahu. Ia hanya tak ingin menentang-Nya.

Tahukah kau siapa dia?

Bukan. Bukan si Fulan yang sholehah, bukan si Fulan-Fulan lainnya lagi yang ahli ibadah dan mengerti segalanya. Sebelum kau akan tahu, maafkan dulu dirinya. Jika kau menaruh ekspektasi yang terlalu besar untuk membayangkan siapa dia, nanti yang ada kau hanya kecewa. Sungguh ia bukan yang selalu lurus akhlaknya, melainkan yang hatinya masih punya kegelapan di sana. Maka maafkanlah.

Biar kuberi tahu.

Ia si Pendosa. Sudah kubilang sedari awal, keberkahan di muka bumi ini seakan lenyap perlahan. Si Pendosa itu, hatinya selalu lapar, tak pernah puas dengan apa yang digariskan. Karena rasa laparnya, hatinya juga tega memakan nuraninya sendiri. Ia berusaha untuk mengembalikan semuanya, namun itu sudah terlalu lama ia mencoba. Mungkin iya, nuraninya telah hilang, namun ia masih sadar bahwa ada Tuhan di sini.

Biar kujelaskan,

Rupanya dunia sudah sebegitu gilanya, bahkan si Pendosa ini dianggap makhluk yang mulia dengan segala sanjung dan puji. Oh tidak, ia tak pernah percaya itu. Ia tak percaya jua pada dirinya sendiri, sebaik itukah dirinya? Dengarlah dulu doanya, maka kau akan mengerti.

Telah lama sekali, Tuhan. Aku merasa sangat perlu dirimu, tapi aku lelah untuk memperbaiki diri yang sudah sangat buruk ini, bahkan terlempar dalam gelap yang lebih gelap daripada hening malam di atas langit sana. Kau pasti tahu, hati ini punya bisik setiap saat untuk melafalkan ayat-ayat nan suci-Mu. Namun entah, pikiran lain seakan menolak pada nurani. Itu egoku yang tak mengindahkan diri-Mu.

Seakan hidupku seribu tahun lagi, seakan aku tak kenal pada mati, hingga aku lupa bahwa semua hanya semu. Aku hilang meski ragaku tetap ada. Usia membawaku sejauh ini, tapi hampa di hati belum kutemukan udaranya. Tuhan tolong, kembalikan aku pada nuraniku.

Izinkan diri ini untuk memohon pada-Mu, memanjatkan cinta yang masih tersisa, berharap Kau sirami berkah pada hati yang hampa, pada air mata yang tak pernah menangis karena dosa, pada pikiran yang penuh angan duniawi. Pada semua tentangku yang belum menemukan diri-Mu. Ini sudah terlalu lama.

Tolong mengertilah, bukan ia yang berusaha membangun sosoknya yang ingin dinilai lebih dari yang lain. Ia bukan pendusta. Namun, sekali lagi harus kukatakan bahwa keberkahan di muka bumi ini perlahan lenyap. Banyak manusia yang lebih lapar darinya, hingga memakan hatinya sendiri.

Jika kau ingin lebih tahu lagi, aku menuliskan tentang si Pendosa ini karena ia mewakili diriku. Ya, doakan aku untuk terus bertahan memegang kewajiban-Nya. Bukan karena aku adalah si Fulan yang sholehah dan mengerti segalanya, melainkan karena aku hanya si Pendosa yang cemas dan selalu bertanya apakah aku manusia terburuk di muka bumi ini. Doakan aku agar Tuhan selalu mengampuni dosaku.

2 komentar:

  1. Ooh...dulu selembar kain hanya untuk menghindari angin...kalo aku,menutupi my face... But niat itu berubah seiring kedewasaan..

    BalasHapus