Pernahkah kau punya sehari saja yang mampu memberi kesan pada perjalanan hidupmu? Yang mampu kau kenang untuk selama-lamanya? Yang mampu meyakinkan bahwa segalanya bisa berubah dengan cepat, hanya dalam waktu sehari?
Sungguh, di suatu pagi yang telah lama berlalu, aku meninggalkan tubuhku sesaat, aku hilang. Benar-benar aku tak tahu apa-apa yang telah terjadi. Namun Tuhan tak ingin memanggilku pulang terlalu dini. Dia mengembalikanku.
Sayup kudengar bunyi langkah yang bergesekan dengan ubin, orang yang berbicara, dan bunyi berisik lainnya. Mataku terasa berat ketika perlahan kubuka, berbarengan dengan sakitnya kepalaku. Sesaat setelah nyawaku seratus persen kembali pada tubuhku, aku mengerti apa yang terjadi. Semua itu meninggalkan bekas, meninggalkan luka, dan meninggalkan sakit yang hingga detik ini aku masih ingat rasanya. Sinar mataku meredup, karena dentuman keras di pagi itu, masih banyak lagi yang berubah jika harus kuceritakan. Ah, tapi siapalah diriku, aku tidak boleh terlalu cengeng hanya untuk hal seperti ini. Di sana, banyak manusia-manusia yang lebih merasakan sakit bahkan rela bertaruh nyawa hanya demi urusan perut. (Percayalah, ini pelajaran hidup yang tak akan kusadari jika Tuhan tidak membuat skenario-Nya di kehidupanku).
Aku sempat tak ingin melihat diriku di cermin, aku sempat ingin berhenti untuk segalanya, aku sempat menangis tak terima pada Tuhan atas kejadian yang begitu cepat, yang aku tak mengerti. Mengapa harus aku? (Aku dulu hanya manusia penuh rasa protes. Ya ampun, bahkan takdir dari Tuhan pun sempat kuingkari).
Lambat laun, semua pulih perlahan namun tetap meninggalkan luka yang berbekas dan rasa sakit yang tak bisa kulupakan. Perlu waktu yang cukup lama untukku menerima kenyataan itu, perlu kekuatan yang berusaha kunyalakan ketika tahu bahwa sinar mataku harus meredup. Semua kulawan secara perlahan, meski aku pun pada prosesnya mustahil untuk tak menangis. Aku pernah senelangsa itu dulunya.
Tapi hari terus berganti, dan hidup tetap berlanjut tak peduli apa yang harus dilalui lagi. Waktu bergerak maju seiring bumi yang terus berputar.
Sekarang aku berdiri di atas masa laluku sendiri, aku mencari jawaban atas apa yang terjadi pada diriku. Masih, peristiwa itu selalu menghantui dan menggangguku jika harus kuakui. Kadang aku ingin memilih untuk menyerah, namun aku selalu mencari cara untuk berdamai pada hal tersebut.
Aku masih tak percaya jika aku menuliskan cerita ini untuk terbaca. Aku masih tak percaya bahwa Tuhan memberi jawaban atas pertanyaanku, `You Can Live, Even with Trauma`.
Aku menulis bukan karena hebat atau bijaksana. Tidak sama sekali. Tapi karena trauma dalam diriku. Ada ketakutan, kecemasan, juga kesedihan yang tak bisa kuhilangkan hingga saat ini. Aku tak terlalu kuat untuk terus dihantui rasa itu, hingga akhirnya kuizinkan tulisanku bercerita.
Waktu pagi adalah waktu yang seakan membuatku terus mengingat dan menghitung detik-detik perubahan yang tak bisa kutolak, yang pernah menempatkanku di keadaan yang sangat dekat pada kematian. Namun ternyata pagi itu telah berlalu dan mengizinkanku untuk hidup di pagi lainnya. Aku mencoba untuk menghidup di atas traumaku sendiri.
Tak apa untuk segala rasa yang tak bisa kuusir pergi. Seperti jawaban Tuhan, `You Can Live, Even With Trauma` hidupku semakin punya arti. Sehari dalam hidupku itu merubah segalanya. Pada akhirnya aku dapat menerima dan berdamai, lalu bilang 'tidak apa-apa' pada diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar