Suatu hari nanti, ada saatnya dimana kaki ini berhenti untuk melangkah. Mata ini menutup selamanya tak kan terbuka lagi. Lalu segalanya terbungkam hening. Raga ini akan sendirian menghabiskan massanya di tanah merah. Tak ada lagi kebaikan yang dapat dikerjakan, tak ada lagi urusan-urusan yang menyita waktu. Justru hanya menunggu, entah dengan diterangi cahaya Sang Khalik, atau justru kegelapan yang menelan diri dalam ketakutan.
Suatu saat akan habis daya untuk menuliskan nilai-nilai kebaikan yang Tuhan berikan padaku. Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun.
Aku tak pernah bilang bahwa aku adalah orang yang selalu baik, apalagi untuk taat tanpa pernah mengingkari segala ketetapan. Karena toh aku pernah bebal dalam keimanan, aku pernah hebat untuk tak menyertakan Tuhan dalam setiap waktuku. Tapi masih saja, Ia menyayangiku. Cinta Tuhan yang tanpa syarat.
Ketahuilah, kadang aku malas untuk menuliskan hal-hal begini sebagai konsumsi publik. Seakan menunjukkan kelemahan yang seharusnya kuberi privasi. Lagi, menyita waktu untuk bergumul di sudut pikir, berdiskusi pada diri sendiri, tanpa tahu apakah ini membawa manfaat atau tidak.
Namun biarkan ini menjadi ladang amal yang kutinggalkan kelak ketika aku benar-benar kembali pada-Nya. Agar banyak yang tahu dan mengerti juga bahwa Ia memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebab aku tak tahu lagi harus berbuat baik yang seperti apa untuk membuat pintu besar berukir indah itu mau membuka jika aku ada di depannya. Biarkan segala macam tulisanku menjadi catatan-catatan kecil pengingat betapa indahnya sebuah hikmah kurasakan.
Mumpung masih diberikan kesempatan, kuceritakan satu hal yang sampai saat ini membuatku mengerti bahwa Tuhan memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bismillahirrahmanirrahim. Setiap orang, kelak akan punya perjalanan spiritual mereka masing-masing, bukti bahwa Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.
Tuhan bisa melakukan segalanya, bukan? Mengambil satu nyawa bukanlah hal yang susah. Jika Ia berkehendak, hari ini aku sudah tinggal nama. Perbedaan hidup dan mati ternyata memang sungguh tipis sekali. Ketika ragaku tak tahu apa-apa lagi, nyawaku justru tengah berlari, menuju sebuah pintu besar berukir. Besar sekali pintu itu. Di dalamnya ada cahaya putih, orang-orang pada masuk ke dalamnya. Aku mau ikut. Namun pintu itu segera tertutup, menyisakan aku dan beberapa yang lain. Gelap, pintu itu telah tertutup. Aku kebingungan dan merasa takut, seakan tak ada lagi pertolongan dari tuhanku. Kukira hidupku telah berakhir, dan pintu surga menutup dariku.
Ternyata Tuhan memulangkanku lagi kembali ke raga yang masih terbujur. Perjalanan itu sangat berharga sekali, memberi tahu bahwa aku masih bisa memperbaiki segala yang belum benar, memberikan kesempatan untuk mengerti bahwa ajal bisa kapan saja datang, tak peduli seberapa baik atau buruk amal kita.
Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun. Semoga tulisan-tulisan yang telah tertulis dariku menjadi ladang amal untuk menolongku.
Sabtu, 29 September 2018
Mencari Apa yang Masih Kurang
Aku sangat mengerti, bahwa aku masih tersesat. Pernahkah kau merasakan, kau punya segalanya, perutmu kenyang, ragamu sehat, rutinitasmu lancar? Hingga kau akhirnya bosan, lalu mencari apa yang masih kurang? Aku merasakannya. Terlalu banyak ambisi, hingga aku lelah mengejarnya. Ada satu ruang yang kosong di hatiku, ruang kosong itu semakin lebar memakan tempat di sekitarnya.
Ada hal yang dulu kucari-cari, yang entah apa, dan tak pernah kutemukan. Aku berhenti mencari, lalu kutinggalkan. Aku berlanjut untuk menghidup di kehidupanku. Menyambut apa yang terjadi, dan membiarkan apa yang berlalu.
Hingga akhirnya aku sampai di titik ini, dengan hati yang benar-benar kosong. Aku bingung, tidak ada hal yang bisa aku jelaskan untuk menjadi sebuah sebab. Lalu aku berpikir, seumur hidupku, apa yang telah kuperbuat? Rupanya ada yang salah dengan hidupku.
Ketika tak ada seorang pun yang bisa kuminta mengerti, aku tersadar bahwa Tuhan lebih tahu jalan keluarnya. Kesendirian ini membawaku semakin dekat dengan-Nya. Aku baru tahu nikmatnya memohon, nikmatnya memuji nama-Nya. Tuhan, begitu hilangnya diriku selama ini….
Aku mulai menata hidupku lagi, namun aku tak mengajak siapapun. Aku hanya takut jika aku tak bisa menjadi apa yang kuharapkan. Secara perlahan kujalankan apa yang memang menjadi anjuran dan perintah.
Terkadang aku masih khilaf, malas, bahkan rasa kurang itu masih ada. Namun perlahan jua, ia mengisi ruang yang kosong itu.
Dari situ, aku menemukan banyak pelajaran. Hidup ini bukan hanya tentang dunia, dunia ini sudah terlalu penat, sudah penuh dengan berbagai macam kelakuan manusia, yang membuatku sendiri terkadang merasa sakit, marah, juga menangis. Tapi itu bukan apa-apa. Di luar sana, ada mereka yang berjuang lebih keras, bahkan mereka sendiri tak menyadari bahwa mereka adalah orang yang hebat.
Aku baru tahu nikmatnya mengadu pada Tuhan, nikmatnya bersujud di rakaat terakhir, hingga sangat memohon perlindungan-Nya. Aku baru merasakannya. Terakadang, di sela-sela waktu senggangku, aku memutar memori yang telah berlalu, membanding-bandingkan diriku dulu dengan sekarang. Hingga aku tahu bahwa Tuhan tak pernah melepasku sendiri. Tak ada yang kebetulan, semua telah diatur dengan hasil yang tak pernah kacau. Percayalah.
Aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih menginginkan kehidupan seperti orang lain. Aku terlalu memandang hidup orang lain dengan cara yang berlebihan. Aku melihat mereka bisa membeli barang mewah dengan mudah, dapat ke mana saja dengan mudah, dan terkenal, punya teman banyak. Hingga aku lupa bersyukur bahwa hidupku begitu tenteram dan damai.
Aku punya kedua orang tua yang begitu menyayangiku, meski mereka tak pernah menyatakannya, aku masih bisa tertawa lepas, bercanda dalam kekeluargaan, berkumpul dalam keharmonisan terutama jika lebaran tiba. Masih banyak lagi. Sebenarnya, hal itulah yang mahal, berharga, dan tak dimiliki semua orang. Rupanya, aku terlalu melihat ke atas pada hidup orang lain, padahal belum tentu juga mereka menikmati kehidupannya sendiri yang selama ini kuanggap indah.
Aku lupa jika di bawah sana masih banyak yang bisa tersenyum ketika di hadapannya hanya ada nasi dengan lauk kerupuk, aku lupa jika masih banyak yang memimpikan punya rumah tembok, bisa tiduran dengan menonton televisi, bisa merasakan kesegaran kipas angin ketika udara luar panas menyengat. Aku lupa.
Aku terlalu menuntut pada Tuhan minta ini minta itu, memohon dengan amal yang tipis, dengan dosa yang tak lepas dalam setiap hari-hariku. Aku memohon sesuatu yang mudah untuk dikabulkan-Nya, sesuatu yang bisa saja dapat merubah hidupku untuk selama-lamanya, sesuatu yang luar biasa untukku. Namun Tuhan Maha Tahu, Ia tak ingin diriku semakin lupa. Tuhan tetap memegang janji-Nya. Jika Ia tidak mengabulkan, maka sesungguhnya Ia akan memberikan yang lebih baik.
Tuhan, aku telah menemukanmu. Meski aku tahu Kau tak pernah sedetik pun meninggalkanku. Aku hanya baru tersadar setelah sekian lama merasa ada sesuatu yang masih kurang.
Jumat, 07 September 2018
The Beauty that Hard to Find
Sebelumnya, kukira kota besar hanya tempatnya kepenatan, hilang sabar rasanya jika terlalu lama terjebak kemacetan di bawah terik matahari. Kukira kota besar hanya tempatnya segala racun, mulai dari asap knalpot sampai berbagai limbah yang dibuang bebas sembarangan. Kukira kota besar hanyalah dua kata yang digunakan untuk menyebut secara singkat tentang sebuah tempat yang minim lingkungan hijau, dengan udara panas imbas dari penggunaan pendingin ruangan untuk bangunan-bangunan tinggi yang banyak sejauh mata memandang. Tempat dimana bisa selalu melihat kening orang-orang berkerut-kerut dengan urusannya masing-masing, tempat anak-anak kecil membawa gitar dengan nyanyian seadanya menyusuri trotoar dengan sandal-sandal jepitnya yang sudah tipis sambil memegang kantong plastik berisi recehan hasil mengamen. Tempat kaum borjuis menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan, pun sama seperti hari biasa. Kota besar juga tempat para jelata bersesak-sesak tinggal di pemukiman yang begitu padat demi hidup yang diperjuangkan mati-matian.
Kukira memang hanya begitu. Banyak hal yang sebenarnya tak ingin kulihat jika melintasinya. Kadang jengkel, tapi kadang lagi mengiba menyaksikan kelakuan manusia yang bermacam-macam. Sampai-sampai, dulu sempat berpikir bahwa tinggal di kota besar seperti itu sama saja seperti sesak napas.
Baru kemarin. Aku mencoba mencari apa yang indah dari kota itu. Terus terang, rasa engganku dari dulu sekali tidak pernah berubah terhadap apa yang disuguhkan kota itu. Aku hanya sibuk pada urusanku sendiri. Bersama sinar matahari dari arah barat kemarin, aku menyusuri sungai yang dibanggakan kota besar itu. Entah apa bagusnya. Airnya berwarna coklat dan aku tahu itu dalam. Dari dulu sekali, aku selalu merasa ngeri jika harus berada di tengah-tengah air yang dalam, kan tak semua orang tahu persis apa yang terjadi di dalam air sana. Serasa ada monster besar yang siap menenggelamkan.
Baru kemarin aku mencoba berani pada rasa takutku sendiri. Bicara dan tertawa seakan aku tak punya pemikiran se-ngeri itu. Jadilah aku menyusuri sungai itu. Begitu ramai dengan anak-anak yang unjuk kebolehan loncat dari pembatas sungai dengan gaya salto. Ada yang tertawa-tawa bermain air membantu ibunya mencuci piring di sungai itu, ada yang memancing ikan sambil ngobrol dengan teman di sebelahnya, ada yang menikmati pemandangan sungai sore hari dari dalam rumahnya. Banyak aktivitas menyenangkan yang kulihat. Mereka tertawa, tersenyum, bercanda dengan orang di sekitarnya. Di rumah kayu, pinggiran sungai.
Ketika melewati bawah jembatan, ternyata ada kehidupan lain yang baru kutemui. Suara kelelawar nyaring bersahutan terbang ke sana ke sini menunggu malam, dan mungkin terganggu oleh deru mesin. Menggema nyaring.
Gerimis pada saat itu, namun sinar matahari tak mau terlindung awan. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang sesekali merentangkan sayap mengisi pundi udara. Perlahan warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u muncul di langit yang kotor dampak polusi kota itu. Tetap cantik. Bahkan aku tak berhenti mengabadikan segalanya lewat kamera handphone. Rasanya, aku seperti orang yang norak. Sudah lama tak melihat pelangi, hanya sibuk dengan urusan sendiri.
Semua indah. Alhamdulillah Allah masih melindungi dari hal ngeri yang kubayangkan sendiri. Aku baru mengerti kota besar itu memesona justru dari tempat yang paling kutakuti, overthinking terhadap monster besar di sana. Semua kusaksikan dalam perjalanan sederhana sore kemarin.
Siring, Banjarmasin.
31 Agustus 2018.
Gerimis pada saat itu, namun sinar matahari tak mau terlindung awan. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang sesekali merentangkan sayap mengisi pundi udara. Perlahan warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u muncul di langit yang kotor dampak polusi kota itu. Tetap cantik. Bahkan aku tak berhenti mengabadikan segalanya lewat kamera handphone. Rasanya, aku seperti orang yang norak. Sudah lama tak melihat pelangi, hanya sibuk dengan urusan sendiri.
31 Agustus 2018.
Langganan:
Komentar (Atom)