The Beauty that Hard to Find
Sebelumnya, kukira kota besar hanya tempatnya kepenatan, hilang sabar rasanya jika terlalu lama terjebak kemacetan di bawah terik matahari. Kukira kota besar hanya tempatnya segala racun, mulai dari asap knalpot sampai berbagai limbah yang dibuang bebas sembarangan. Kukira kota besar hanyalah dua kata yang digunakan untuk menyebut secara singkat tentang sebuah tempat yang minim lingkungan hijau, dengan udara panas imbas dari penggunaan pendingin ruangan untuk bangunan-bangunan tinggi yang banyak sejauh mata memandang. Tempat dimana bisa selalu melihat kening orang-orang berkerut-kerut dengan urusannya masing-masing, tempat anak-anak kecil membawa gitar dengan nyanyian seadanya menyusuri trotoar dengan sandal-sandal jepitnya yang sudah tipis sambil memegang kantong plastik berisi recehan hasil mengamen. Tempat kaum borjuis menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan, pun sama seperti hari biasa. Kota besar juga tempat para jelata bersesak-sesak tinggal di pemukiman yang begitu padat demi hidup yang diperjuangkan mati-matian.
Kukira memang hanya begitu. Banyak hal yang sebenarnya tak ingin kulihat jika melintasinya. Kadang jengkel, tapi kadang lagi mengiba menyaksikan kelakuan manusia yang bermacam-macam. Sampai-sampai, dulu sempat berpikir bahwa tinggal di kota besar seperti itu sama saja seperti sesak napas.
Baru kemarin. Aku mencoba mencari apa yang indah dari kota itu. Terus terang, rasa engganku dari dulu sekali tidak pernah berubah terhadap apa yang disuguhkan kota itu. Aku hanya sibuk pada urusanku sendiri. Bersama sinar matahari dari arah barat kemarin, aku menyusuri sungai yang dibanggakan kota besar itu. Entah apa bagusnya. Airnya berwarna coklat dan aku tahu itu dalam. Dari dulu sekali, aku selalu merasa ngeri jika harus berada di tengah-tengah air yang dalam, kan tak semua orang tahu persis apa yang terjadi di dalam air sana. Serasa ada monster besar yang siap menenggelamkan.
Baru kemarin aku mencoba berani pada rasa takutku sendiri. Bicara dan tertawa seakan aku tak punya pemikiran se-ngeri itu. Jadilah aku menyusuri sungai itu. Begitu ramai dengan anak-anak yang unjuk kebolehan loncat dari pembatas sungai dengan gaya salto. Ada yang tertawa-tawa bermain air membantu ibunya mencuci piring di sungai itu, ada yang memancing ikan sambil ngobrol dengan teman di sebelahnya, ada yang menikmati pemandangan sungai sore hari dari dalam rumahnya. Banyak aktivitas menyenangkan yang kulihat. Mereka tertawa, tersenyum, bercanda dengan orang di sekitarnya. Di rumah kayu, pinggiran sungai.
Ketika melewati bawah jembatan, ternyata ada kehidupan lain yang baru kutemui. Suara kelelawar nyaring bersahutan terbang ke sana ke sini menunggu malam, dan mungkin terganggu oleh deru mesin. Menggema nyaring.
Gerimis pada saat itu, namun sinar matahari tak mau terlindung awan. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang sesekali merentangkan sayap mengisi pundi udara. Perlahan warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u muncul di langit yang kotor dampak polusi kota itu. Tetap cantik. Bahkan aku tak berhenti mengabadikan segalanya lewat kamera handphone. Rasanya, aku seperti orang yang norak. Sudah lama tak melihat pelangi, hanya sibuk dengan urusan sendiri.
Semua indah. Alhamdulillah Allah masih melindungi dari hal ngeri yang kubayangkan sendiri. Aku baru mengerti kota besar itu memesona justru dari tempat yang paling kutakuti, overthinking terhadap monster besar di sana. Semua kusaksikan dalam perjalanan sederhana sore kemarin.
Siring, Banjarmasin. 31 Agustus 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar