Sabtu, 29 September 2018

When There is Still Time

Suatu hari nanti, ada saatnya dimana kaki ini berhenti untuk melangkah. Mata ini menutup selamanya tak kan terbuka lagi. Lalu segalanya terbungkam hening. Raga ini akan sendirian menghabiskan massanya di tanah merah. Tak ada lagi kebaikan yang dapat dikerjakan, tak ada lagi urusan-urusan yang menyita waktu. Justru hanya menunggu, entah dengan diterangi cahaya Sang Khalik, atau justru kegelapan yang menelan diri dalam ketakutan.

Suatu saat akan habis daya untuk menuliskan nilai-nilai kebaikan yang Tuhan berikan padaku. Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun.

Aku tak pernah bilang bahwa aku adalah orang yang selalu baik, apalagi untuk taat tanpa pernah mengingkari segala ketetapan. Karena toh aku pernah bebal dalam keimanan, aku pernah hebat untuk tak menyertakan Tuhan dalam setiap waktuku. Tapi masih saja, Ia menyayangiku. Cinta Tuhan yang tanpa syarat.

Ketahuilah, kadang aku malas untuk menuliskan hal-hal begini sebagai konsumsi publik. Seakan menunjukkan kelemahan yang seharusnya kuberi privasi. Lagi, menyita waktu untuk bergumul di sudut pikir, berdiskusi pada diri sendiri, tanpa tahu apakah ini membawa manfaat atau tidak.

Namun biarkan ini menjadi ladang amal yang kutinggalkan kelak ketika aku benar-benar kembali pada-Nya. Agar banyak yang tahu dan mengerti juga bahwa Ia memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebab aku tak tahu lagi harus berbuat baik yang seperti apa untuk membuat pintu besar berukir indah itu mau membuka jika aku ada di depannya. Biarkan segala macam tulisanku menjadi catatan-catatan kecil pengingat betapa indahnya sebuah hikmah kurasakan.
Mumpung masih diberikan kesempatan, kuceritakan satu hal yang sampai saat ini membuatku mengerti bahwa Tuhan memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bismillahirrahmanirrahim. Setiap orang, kelak akan punya perjalanan spiritual mereka masing-masing, bukti bahwa Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

Tuhan bisa melakukan segalanya, bukan? Mengambil satu nyawa bukanlah hal yang susah. Jika Ia berkehendak, hari ini aku sudah tinggal nama. Perbedaan hidup dan mati ternyata memang sungguh tipis sekali. Ketika ragaku tak tahu apa-apa lagi, nyawaku justru tengah berlari, menuju sebuah pintu besar berukir. Besar sekali pintu itu. Di dalamnya ada cahaya putih, orang-orang pada masuk ke dalamnya. Aku mau ikut. Namun pintu itu segera tertutup, menyisakan aku dan beberapa yang lain. Gelap, pintu itu telah tertutup. Aku kebingungan dan merasa takut, seakan tak ada lagi pertolongan dari tuhanku. Kukira hidupku telah berakhir, dan pintu surga menutup dariku.

Ternyata Tuhan memulangkanku lagi kembali ke raga yang masih terbujur. Perjalanan itu sangat berharga sekali, memberi tahu bahwa aku masih bisa memperbaiki segala yang belum benar, memberikan kesempatan untuk mengerti bahwa ajal bisa kapan saja datang, tak peduli seberapa baik atau buruk amal kita.

Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun. Semoga tulisan-tulisan yang telah tertulis dariku menjadi ladang amal untuk menolongku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar