Selasa, 24 Desember 2019

Let Go of What Brings You Down



Menulis itu menyembuhkan. Salah satu cara untuk mengisi waktu luang atau sebagai sarana menyalurkan hobi atau juga sekadar mengutarakan ide melalui tulisan, adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Di balik itu semua, ternyata menulis dapat membantu memulihkan emosi. Hal ini dapat dilakukan ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis, dengan menuliskan pikiran dan perasaan yang dialaminya maka seseorang telah dapat mengeluarkan emosinya dalam bentuk tulisan. Kegiatan tersebut lebih baik dibandingkan bila harus menahan rasa sedih, marah, ataupun tidak suka yang bila ditahan dalam waktu yang lama akan meningkatkan gejala depresi.

            Berdasarkan sebuah studi oleh peneliti di Selandia Baru, menulis juga dapat membuat luka fisik lebih cepat sembuh. Dalam studi ini, peserta yang pernah mengalami pengambilan biopsi kulit ditugaskan untuk menulis sebuah catatan tentang apapun mengenai pikiran terdalam mereka masing-masing. Setelah dua minggu, para peneliti mengamati kemajuan bekas luka dan hasilnya adalah mereka yang memiliki hasil tulisan yang ekspresif lebih cepat pulih dibanding mereka yang dilarang menulis tentang pikiran mereka.

            Namun, tidak semua orang suka menulis dan tidak semua orang memiliki kemampuan menulis, apalagi harus memikirkan cara penyampaian pikirannya melalui deretan kata-kata yang tersurat. Banyak sekali bentuk penyegaran yang berkualitas untuk meringankan pikiran, yaitu dengan membaca berbagai macam informasi yang diperlukan dan sebagai sarana memperluas wawasan, menjalankan hobi yang bermanfaat sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri yang selalu disibukkan dalam rutinitas, atau dengan melakukan perjalanan yang membuat kita dapat merasakan suasana lain dan mengistirahatkan pikiran yang lelah. Di luar itu, tentu masih banyak lagi kegiatan lain yang menarik untuk dilakukan demi memperbaiki suasana hati.

            Berdasarkan data, pengidap gangguan jiwa di seluruh dunia semakin meningkat tiap tahun. Diperkirakan sekitar 300 juta orang mengidap depresi, bahkan World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri di seluruh dunia yang diakibatkan depresi. Sedangkan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Eka Viora, SpKJ, mengatakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi, dan hanya 8% yang mencari pengobatan.

            Perlu diketahui terlebih dulu apa perbedaan antara frustrasi, stres, dan depresi. Menurut WHO (2003), frustasi merupakan perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Sedangkan stres merupakan reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Yang terakhir, depresi merupakan perasaan sedih yang sampai pada kondisi parah dan biasanya menuju gangguan kejiwaan.

            Pada pembahasan kali ini, banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang mengalami depresi, dimulai dari pernyakit kronis yang tidak hanya menantang fisik, namun  Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengatakan bahwa orang yang mengidap penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan kanker lebih mungkin mengalami depresi. Selain itu, sebuah studi di Inggris menemukan bahwa perokok juga cenderung lebih mudah terserang kecemasan dan depresi dibanding non-perokok. ``Rasa `ringan` yang muncul saat merokok tidak bermanfaat kecuali hanya merusakkan tubuh Anda,`` kata Michael Roizen dari Cleveland Clinic. Rupanya, kesehatan fisik dan mental kita sangat berhubungan dengan apa yang kita konsumsi. Pada 2008, analisis yang dipublikasikan di Indian Journal Psychology menyebutkan bahwa `nutrisi memainkan peran penting dalam durasi dan kadar depresi seseorang.`

            Faktor yang paling banyak berpengaruh pada saat ini dan dapat menyerang semua umur adalah penggunaan media sosial yang berlebihan. Hadirnya media sosial selain membawa dampak positif, tentu membawa dampak negatif pula bagi seseorang yang belum bisa menggunakannya secara sehat. Banyak orang menampakkan berbagai hal menyenangkan yang dimilikinya dengan berbagai tujuan. Entah hanya untuk sekadar mengunggahnya, kepentingan bisnis, ataupun maksud lainnya. Dalam hal ini, setiap orang seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan citra dirinya di media sosial, sehingga sering kali tak menunjukkan kepribadian seseorang dalam realitasnya. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Social and Clinical Psychology, hal ini dapat dilihat dari hadirnya `perbandingan sosial` dan ini bisa memicu perasaan depresi.

            Setiap orang berpeluang menderita depresi, namun dengan penanganan dan pencegahan yang tepat dari diri sendiri maupun bantuan orang lain, maka tingkat depresi dalam diri seseorang dapat ditekan. Berbanding lurus dengan kondisi emosi yang dapat setiap saat mengalami kesedihan, marah, ataupun senang. Perasaan tersebut dapat datang dan pergi, dapat sembuh dan merusak, sesuai dengan cara kita memelihara tubuh kita. 

            Jauh sebelum kita, Rasulullah pun pernah merasakan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan kesedihan yang kita alami tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dialami Rasulullah. Pernahkah kita berpikir bahwa kita terlalu sibuk melihat hidup orang lain yang serba sempurna hanya lewat media sosial? Hanya karena kita membandingkan antara mereka dengan diri kita sendiri, lantas kita menjadi sedih. Lalu pernahkan kita memikirkan bagaimana Rasulullah berjuang memimpin umatnya? Yang serba dalam keterbatasan, dilempari kotoran, bahkan hampir dibunuh. Mana yang paling menyedihkan?

            Seperti yang telah dijabarkan di atas, ada banyak cara untuk menghilangkan kesedihan, bukan? Tetapi Rasulullah punya cara yang lebih sederhana namun sangat bermanfaat dan mudah dilakukan. Di antaranya adalah shalat, melihat daun hijau, mendengar deruan air mengalir, dan melihat wajah-wajah yang menceriakan.

            Shalat mengandung dimensi dzikrullah dan memiliki dampak psikologis pada jiwa seseorang. Ketenangan dan ketentraman yang diperoleh seseorang yang melaksanakan shalat memiliki nilai spiritual yang cukup tinggi karena dengan mengingat Allah, alam kesadaran akan mengembangkan penghayatan melalui pendekatan kepada Allah, sehingga rasa gelisah dan cemas akan berganti menjadi rasa tenang dan damai. Ketenangan dan kedamaian tersebut akan menghasilkan mental yang sehat bagi seseorang. Psikologi menguatkan bahwa orang yang merasa berat karena dadanya yang lelah akan mendapat ketenangan hati ketika dia ditemani teman dekatnya untuk mendengar persoalannya. Hal ini sama dengan seseorang yang dalam sujudnya mengadu kepada Allah. Sesungguhnya dalam pengaduan itu terdapat proses mendekatkan diri kepada Allah. Dari proses tersebutlah shalat menjadi nilai ibadah dan obat untuk jiwa.

            Melihat daun atau tanaman hijau ternyata sangat membantu dalam mengurangi tekanan emosi. Berdasarkan penelitian di Chungnam National University, memelihara tanaman bisa membantu menenangkan seseorang dengan menekan sistem saraf simpatik. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati seorang pria yang ditugaskan untuk menyelesaikan tugas di computer dan menanam tanaman. Mereka menemukan bahwa pria tersebut lebih tenang saat menanam tanaman daripada melihat komputer. Pada tahun 2005, penelitian yang dilakukan National Chung Hsing University menemukan bahwa kecemasan dan ketakutan seseorang akan berkurang jika mereka bekerja di lingkungan yang banyak tanaman atau pemandangan alam. Selain itu, warna juga memberikan pengaruh terhadap psikologi dan emosi kita. Khususnya pada warna hijau, mata tidak perlu penyesuaian apapun ketika melihat warna hijau sehingga terasa nyaman dan tenang.

            Mendengar deruan air yang mengalir pun dapat mengantarkan jiwa pada ketenangan, karena otak yang menafsirkan suara-suara seperti deru ombak dan rintik hujan sebagai sesuatu yang nyaman. Secara ilmiah, suara-suara yang dikeluarkan oleh air disebut dengan white noise. Dilansir dari artikel di Popular Science yang ditulis Colin Lecher, white noise adalah suara bising yang konsisten keluar secara merata di semua frekuensi yang dapat didengar. Mendengar white noise membuat otak akan merasa tenang. Karena suara bising ini tidak ditafsirkan sebagai suara yang mengancam. ``Suara-suara pelan ini adala bunyi yang tidak berbahaya, itulah sebabnya mereka bekerja untuk menenangkan orang. Seperti mereka sedang mengatakan: `jangan khawatir, jangan khawatir, jangan khawatir,`` jelas Orfeu Buxton, seorang professor kesehatan biobehavioral di Pennsylvania State University.

            Terakhir, melihat wajah-wajah yang menceriakan sehingga hati akan terhibur. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia, kita memang dianugerahi emosi yang dapat merasakan senang, marah, sedih, dan perasaan lainnya. Adalah wajar apabila perasaan tersebut dapat kapan pun kita alami, namun bagian terpenting dari segala hal tersebut adalah bagaimana cara kita menyimpan, menunjukkan, dan mengatasi rasa tersebut. Jangan sampai terlalu berlebihan hingga nantinya justru merugikan diri sendiri dan orang lain.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar