Menulis itu menyembuhkan. Salah satu
cara untuk mengisi waktu luang atau sebagai sarana menyalurkan hobi atau juga
sekadar mengutarakan ide melalui tulisan, adalah hal yang menyenangkan bagi
sebagian orang. Di balik itu semua, ternyata menulis dapat membantu memulihkan
emosi. Hal ini dapat dilakukan ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis,
dengan menuliskan pikiran dan perasaan yang dialaminya maka seseorang telah
dapat mengeluarkan emosinya dalam bentuk tulisan. Kegiatan tersebut lebih baik
dibandingkan bila harus menahan rasa sedih, marah, ataupun tidak suka yang bila
ditahan dalam waktu yang lama akan meningkatkan gejala depresi.
Berdasarkan
sebuah studi oleh peneliti di Selandia Baru, menulis juga dapat membuat luka
fisik lebih cepat sembuh. Dalam studi ini, peserta yang pernah mengalami
pengambilan biopsi kulit ditugaskan untuk menulis sebuah catatan tentang apapun
mengenai pikiran terdalam mereka masing-masing. Setelah dua minggu, para
peneliti mengamati kemajuan bekas luka dan hasilnya adalah mereka yang memiliki
hasil tulisan yang ekspresif lebih cepat pulih dibanding mereka yang dilarang
menulis tentang pikiran mereka.
Namun,
tidak semua orang suka menulis dan tidak semua orang memiliki kemampuan
menulis, apalagi harus memikirkan cara penyampaian pikirannya melalui deretan
kata-kata yang tersurat. Banyak sekali bentuk penyegaran yang berkualitas untuk
meringankan pikiran, yaitu dengan membaca berbagai macam informasi yang
diperlukan dan sebagai sarana memperluas wawasan, menjalankan hobi yang
bermanfaat sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri yang selalu disibukkan
dalam rutinitas, atau dengan melakukan perjalanan yang membuat kita dapat
merasakan suasana lain dan mengistirahatkan pikiran yang lelah. Di luar itu,
tentu masih banyak lagi kegiatan lain yang menarik untuk dilakukan demi
memperbaiki suasana hati.
Berdasarkan
data, pengidap gangguan jiwa di seluruh dunia semakin meningkat tiap tahun.
Diperkirakan sekitar 300 juta orang mengidap depresi, bahkan World Health
Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri di
seluruh dunia yang diakibatkan depresi. Sedangkan Ketua Perhimpunan Dokter
Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Eka Viora, SpKJ, mengatakan
bahwa di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi,
dan hanya 8% yang mencari pengobatan.
Perlu
diketahui terlebih dulu apa perbedaan antara frustrasi, stres, dan depresi.
Menurut WHO (2003), frustasi merupakan perasaan kecewa atau jengkel akibat
terhalang dalam pencapaian tujuan. Sedangkan stres merupakan reaksi atau respon
tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Yang
terakhir, depresi merupakan perasaan sedih yang sampai pada kondisi parah dan
biasanya menuju gangguan kejiwaan.
Pada
pembahasan kali ini, banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang mengalami
depresi, dimulai dari pernyakit kronis yang tidak hanya menantang fisik,
namun Badan Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit Amerika Serikat mengatakan bahwa orang yang mengidap penyakit kronis
seperti jantung, diabetes, dan kanker lebih mungkin mengalami depresi. Selain
itu, sebuah studi di Inggris menemukan bahwa perokok juga cenderung lebih mudah
terserang kecemasan dan depresi dibanding non-perokok. ``Rasa `ringan` yang
muncul saat merokok tidak bermanfaat kecuali hanya merusakkan tubuh Anda,``
kata Michael Roizen dari Cleveland Clinic. Rupanya, kesehatan fisik dan mental
kita sangat berhubungan dengan apa yang kita konsumsi. Pada 2008, analisis yang
dipublikasikan di Indian Journal Psychology menyebutkan bahwa `nutrisi
memainkan peran penting dalam durasi dan kadar depresi seseorang.`
Faktor
yang paling banyak berpengaruh pada saat ini dan dapat menyerang semua umur
adalah penggunaan media sosial yang berlebihan. Hadirnya media sosial selain
membawa dampak positif, tentu membawa dampak negatif pula bagi seseorang yang
belum bisa menggunakannya secara sehat. Banyak orang menampakkan berbagai hal
menyenangkan yang dimilikinya dengan berbagai tujuan. Entah hanya untuk sekadar
mengunggahnya, kepentingan bisnis, ataupun maksud lainnya. Dalam hal ini,
setiap orang seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan citra dirinya di media
sosial, sehingga sering kali tak menunjukkan kepribadian seseorang dalam
realitasnya. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of
Social and Clinical Psychology, hal ini dapat dilihat dari hadirnya
`perbandingan sosial` dan ini bisa memicu perasaan depresi.
Setiap
orang berpeluang menderita depresi, namun dengan penanganan dan pencegahan yang
tepat dari diri sendiri maupun bantuan orang lain, maka tingkat depresi dalam
diri seseorang dapat ditekan. Berbanding lurus dengan kondisi emosi yang dapat
setiap saat mengalami kesedihan, marah, ataupun senang. Perasaan tersebut dapat
datang dan pergi, dapat sembuh dan merusak, sesuai dengan cara kita memelihara
tubuh kita.
Jauh
sebelum kita, Rasulullah pun pernah merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Bahkan kesedihan yang kita alami tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dialami
Rasulullah. Pernahkah kita berpikir bahwa kita terlalu sibuk melihat hidup
orang lain yang serba sempurna hanya lewat media sosial? Hanya karena kita
membandingkan antara mereka dengan diri kita sendiri, lantas kita menjadi
sedih. Lalu pernahkan kita memikirkan bagaimana Rasulullah berjuang memimpin
umatnya? Yang serba dalam keterbatasan, dilempari kotoran, bahkan hampir
dibunuh. Mana yang paling menyedihkan?
Seperti
yang telah dijabarkan di atas, ada banyak cara untuk menghilangkan kesedihan,
bukan? Tetapi Rasulullah punya cara yang lebih sederhana namun sangat
bermanfaat dan mudah dilakukan. Di antaranya adalah shalat, melihat daun hijau,
mendengar deruan air mengalir, dan melihat wajah-wajah yang menceriakan.
Shalat
mengandung dimensi dzikrullah dan memiliki dampak psikologis pada jiwa
seseorang. Ketenangan dan ketentraman yang diperoleh seseorang yang
melaksanakan shalat memiliki nilai spiritual yang cukup tinggi karena dengan
mengingat Allah, alam kesadaran akan mengembangkan penghayatan melalui
pendekatan kepada Allah, sehingga rasa gelisah dan cemas akan berganti menjadi
rasa tenang dan damai. Ketenangan dan kedamaian tersebut akan menghasilkan
mental yang sehat bagi seseorang. Psikologi menguatkan bahwa orang yang merasa
berat karena dadanya yang lelah akan mendapat ketenangan hati ketika dia
ditemani teman dekatnya untuk mendengar persoalannya. Hal ini sama dengan
seseorang yang dalam sujudnya mengadu kepada Allah. Sesungguhnya dalam
pengaduan itu terdapat proses mendekatkan diri kepada Allah. Dari proses
tersebutlah shalat menjadi nilai ibadah dan obat untuk jiwa.
Melihat
daun atau tanaman hijau ternyata sangat membantu dalam mengurangi tekanan
emosi. Berdasarkan penelitian di Chungnam National University, memelihara
tanaman bisa membantu menenangkan seseorang dengan menekan sistem saraf
simpatik. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati seorang pria yang
ditugaskan untuk menyelesaikan tugas di computer dan menanam tanaman. Mereka
menemukan bahwa pria tersebut lebih tenang saat menanam tanaman daripada
melihat komputer. Pada tahun 2005, penelitian yang dilakukan National Chung
Hsing University menemukan bahwa kecemasan dan ketakutan seseorang akan
berkurang jika mereka bekerja di lingkungan yang banyak tanaman atau
pemandangan alam. Selain itu, warna juga memberikan pengaruh terhadap psikologi
dan emosi kita. Khususnya pada warna hijau, mata tidak perlu penyesuaian apapun
ketika melihat warna hijau sehingga terasa nyaman dan tenang.
Mendengar
deruan air yang mengalir pun dapat mengantarkan jiwa pada ketenangan, karena otak
yang menafsirkan suara-suara seperti deru ombak dan rintik hujan sebagai
sesuatu yang nyaman. Secara ilmiah, suara-suara yang dikeluarkan oleh air
disebut dengan white noise. Dilansir
dari artikel di Popular Science yang
ditulis Colin Lecher, white noise
adalah suara bising yang konsisten keluar secara merata di semua frekuensi yang
dapat didengar. Mendengar white noise
membuat otak akan merasa tenang. Karena suara bising ini tidak ditafsirkan
sebagai suara yang mengancam. ``Suara-suara pelan ini adala bunyi yang tidak
berbahaya, itulah sebabnya mereka bekerja untuk menenangkan orang. Seperti
mereka sedang mengatakan: `jangan khawatir, jangan khawatir, jangan khawatir,``
jelas Orfeu Buxton, seorang professor kesehatan biobehavioral di Pennsylvania
State University.
Terakhir,
melihat wajah-wajah yang menceriakan sehingga hati akan terhibur. Semoga kita
dapat mengambil pelajaran dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai manusia, kita memang dianugerahi emosi yang dapat merasakan senang,
marah, sedih, dan perasaan lainnya. Adalah wajar apabila perasaan tersebut
dapat kapan pun kita alami, namun bagian terpenting dari segala hal tersebut
adalah bagaimana cara kita menyimpan, menunjukkan, dan mengatasi rasa tersebut.
Jangan sampai terlalu berlebihan hingga nantinya justru merugikan diri sendiri
dan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar