Jumat, 11 Desember 2020

November

 

         Mungkin kau bosan dengan gaya penulisanku yang begitu-begitu saja. Ya, beberapa kali tulisanku di blog ini selalu menyuguhkan tentang keindahan-keindahan malam, sore, ataupun pagi. Selalu mengusung nuansa alami dan kebaikan. Sama, aku juga bosan sebenarnya. Lebih tepatnya aku bosan dengan pikiranku yang begitu-begitu saja. Bukankah pikiran seseorang bisa dilihat dari apa yang ditulisnya? Haha, ya jelas saja kau dapat membayangkan pikiranku yang dipenuhi kebun bunga, angin sepoi, air mengalir, rerumputan hijau, gunung, awan-awan, dan semacamnya.

        Oh ya by the way, kali ini biar kuceritakan tentang seseorang. Ia wanita. Eh, ralat, aku takut nanti kau akan membayangkan sosok yang terlalu mendewasa yang mampu menyelesaikan semua masalahnya dengan cara epic. Bukan begitu yang kumaksud. Ehm, begini saja, one part woman and the other part girl. Ya, mungkin itu mewakili deskripsi tentang dirinya dan kurasa sebutan itu memudahkanmu memahami maksudku. Mudah-mudahan kau paham ya. Namun parahnya, perbandingan karakternya bukan lima puluh banding lima puluh, melainkan sisi childish-nya lebih mendominasi.

        November merupakan bulan favoritnya, karena cuaca yang syahdu. Ia memang banyak anehnya, yang lain mengharap sinar matahari, dia malah lebih suka mendung. Namun sekarang sudah berganti Desember, bukan? Jika boleh meminta maka ia ingin bulan November berlangsung lebih lama lagi seakan pergantian tahun dapat ditunda dahulu. Bodo amat tentang masa pandemi. Tuh kan, ia memang banyak anehnya. Orang lain berharap tahun 2021 merupakan awal dari segala perubahan baik yang akan mengobati kesedihan tahun ini, ia malah ingin berlama-lama memeluk November agar mendung dan hujan tetap turun. Karena ia pikir tahun depan musim akan berganti dua kali.

         Untung saja kita punya Tuhan Yang Maha Adil, yang dapat merubah dan membuat segalanya bisa berganti. Bukan mengikuti maunya si gadis childish itu.

       Mengenai tahun ini, sebenarnya ia juga menghadapi hal-hal yang kadang melenyapkan senyumnya. Ia juga lebih banyak untuk mengurung diri dalam ruangnya sendiri. Kadang ia menghukum diri sendiri untuk tak merasakan tidur. Bahkan ia juga melukai hatinya sendiri agar menangis. Sudah kubilang, di balik kenormalannya, ia banyak anehnya. Banyak kesalahan yang ia buat di tahun ini. Dan yang ia lakukan itu adalah wujud dari pembalasan terhadap kesalahannya.

       Tahun ini juga, semua rencana yang ingin dituju seakan tak bisa ia capai. She was in unmotivated period. Ia tahu ini hanya fase. Siapapun pernah ada dalam fase ini. Ditambah lagi suasana pandemi. Ah, mengapa menyalahkan pandemi? Sedangkan orang lain banyak yang menuai hasil dan belajar dari pandemi. Sebenarnya yang bermasalah itu ia dan bagaimana responsnya dalam menghadapi sesuatu.

Si childish ini benar-benar membingungkan, di awal-awal ia membuatku menulis hal yang membuatnya masa bodoh terhadap pandemi. Lalu barusan ia membuatku menulis bahwa pandemi juga ikut mencampuri fasenya yang tidak menyenangkan itu. Baiklah, ibarat air terjun, ayo kita ikuti saja kemana muaranya. Air terjun. Tadi hujan dan mendung. Lagi-lagi tentang alam. Sepertinya kosa kataku hanya mandek di situ-situ saja. Membosankan, bukan? Makanya, hal itu terkadang mengurungkan niatku untuk menulis. Tapi marilah, aku coba lanjutkan.

Kembali ke awal November kemarin, sesuai dengan bulan favoritnya. Ia memilih untuk menegakkan kepalanya lagi. Kemarin-kemarin ia hanya banyak tertunduk. Sudah cukup rupanya ia menghukum dirinya sendiri. Ia tahu hal itu salah, seharusnya cukup Tuhan yang mengurus dosanya. Tuhan memberinya kesehatan jasmani dan rohani untuk dijaga, bukan disiksa. Tapi bagaimanalah, ia menyiksa dirinya sendiri agar tahu rasa sehingga ia tak mengulangi kesalahan yang sama. Jika tidak begitu, ia tak akan move on. Sebenarnya ia juga banyak membaca berbagai motivasi dan renungan sebagai ganti agar tak menyiksa dirinya sendiri, tapi bagaimanalah jua, kau bisa membayangkan ibaratnya kau jadi pelukis yang berbicara pada si childish ini. Sedangkan si childish ini buta warna. Maka sudah pasti susah untuk menjelaskan warna pelangi padanya.

Pagi awal November, ia perlahan memaafkan dirinya. Memaafkan dirinya yang tak bisa ambil keputusan dengan bijaksana, tak bisa membuat kebahagiaan pada sesama atas apa yang ingin dicapainya, tak bisa membawa kebermanfaatan, tak bisa untuk melakukan sesuatu di jalan yang lurus-lurus saja. Unmotivated period sudah cukup baginya. Sudah cukup. Perlakuan buruknya terhadap diri sendiri sudah membuatnya cukup untuk memaafkan kesalahannya. Waktunya untuk menikmati November.

Kali ini, ia memilih untuk menikmati November dengan tak membawa banyak harapan. Harapan yang membuatnya menjadi lebih. Tidak. Ia masih takut untuk kecewa. Ia hanya membawa hatinya yang sudah bisa untuk diajak belajar menerima apapun yang terjadi nanti. Dengan begitu, setidaknya uneg-uneg di otaknya terasa berkurang.

Ia memulai dengan apa yang sudah lama ia inginkan, menikmati pagi dan membuat taman di pojok halaman yang tak termanfaatkan. Ia ingin mencoba hal baru, merawat tanaman. Selama ini ia hanya menjadi penikmat keindahan hijau-hijauan, biarkan kali ini ia mencoba untuk ambil bagian sebagai penjaga dan perawat keindahan itu untuk pengalihan atas kesedihannya semalam. Ia bahagia, meski tak semua tanaman yang ia tanam dapat tumbuh. Oh ya, lucunya, ia sampai-sampai menuliskan beberapa kalimat sebagai pengingatnya.

Aku penghirup udara pagi. Pagi yang masih gelap, dingin, dan sunyi. Pagi yang buta. Ingin aku seakan memeluk, tapi aku tak punya kuasa. Maka kucoba dapatkan pagi meski dari ujung jemariku. Menyentuh bulir embun, memainkan dedaunan yang masih tertunduk, dan mengamati naturalisme pagi lainnya. Hal semacam itu membawaku untuk bahagia.

Tapi aku lebih banyak punya peluang untuk kehilangan kesempatan itu. Kondisi jiwa membuatku terjaga semalaman, entah untuk apa. Aku lelah tapi mataku tak ingin terpejam. Mimpiku enggan untuk hadir. Maka ketika pagi buta datang, energiku habis. Pada pagi jua, kubalas untu memejam, kubalas untuk bermimpi. Hingga aku melewatkan naturalisme pagi, yang berarti aku melewatkan kesempatan yang membawaku bahagia.”

Hal itu dilakukannya agar ia tahu dimana sumber bahagianya. It`s such a healing pill for her. Hal-hal yang dilakukannya tidak istimewa memang, tapi cukup membantunya untuk menghargai diri sendiri dan lingkungannya.

Sudah kubilang, ia tak membawa harapan apa-apa. Ia tak berharap sesuatu yang menggembirakan akan datang padanya. Toh ia dengan tanamannya yang bahkan kadang harus layu pun sudah merasa bahagia.

Tapi oh tapi, ternyata Tuhan menambah kebahagiaannya. Tuhan hadirkan kupu-kupu, dengan sayap yang cantik-cantik. Terkadang bila pagi, ada kupu-kupu yang bertengger di dahan-dahan tanaman pada pojok halaman. Warnanya hitam, bergaris biru malam, dan totol-totol putih. Tidak hanya itu, Tuhan beri lagi sebagian tanaman yang ditumbuhkan-Nya di permukaan tanah. Bisa dikonsumsi. Kau tahu, ia baru saja mengerti bagaimana rasanya panen di taman sendiri. Eh, kebun maksudku. Kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bukan itu saja, paduan kicauan burung dan bunyi-bunyian tupai berperan serta merilekskan pikirannya. It`s such a therapy sound. Belum lagi embun-embun yang menggantung di ujung daun. Jangan tanya lagi, itu memang favoritnya.

Memang tak istimewa-istimewa amat, tapi ternyata sentuhan humanis juga bisa didapatkan dari kegiatan kecil yang ia lakukan murni dari hati. Mengajarkannya untuk tak menuntut apapun.

Ah, sejauh ini tulisanku memang tak bisa lebih baik. Aku sudah menuliskannya di awal. Tapi tidak apa-apa, mungkin saja apa yang kutulis ini suatu saat dapat kubaca kembali dan menjadi pengingat agar aku tak berlaku sama seperti yang dilakukan si childish itu kemarin-kemarin. Menuliskan sesuatu seperti ini kadang memang menjadi pelepasan terbaik untuk meringankan uneg-uneg. Bahkan jadi pengingat untukku sendiri, serupa si childish itu ketika menuliskan tentang naturalisme paginya.

Oh ya, menyampaikan sedikit kabar, si childish itu tak lagi mengharap bahwa bulan harus selalu November, atau langit harus selalu mendung. Ia menyadari bahwa Tuhan yang disembahnya juga milik hamba-hamba-Nya yang lain. Maka ia belajar untuk mengerti kehendak Tuhan yang mengasihi ciptaan-Nya yang perlu sinar mentari, perlu pergantian musim, dan lain sebagainya untuk kelangsungan hidup. Apa jadinya bila selalu November dan mendung? Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kan?

 Untuk tahun ini, ia juga belajar untuk menerima dan melepas atas segala luka karena kesalahannya.

 

 

 

 

 

           

Kamis, 01 Oktober 2020

Dalam Lima Tahun

                Bila dihitung dari tahun ini, maka kubawa kau ke empat tahun lalu ketika suasana kelas terasa lebih menyenangkan daripada biasanya. Aku tidak tahu apakah teman-temanku masih ingat atau tidak, aku pun yakin bahwa guruku juga pasti sudah lupa akan hal yang ingin kuceritakan ini.

            Siang itu, adalah jam terakhir pelajaran. Guruku meminta untuk mengambil selembar kertas untuk menuliskan impian masing-masing. Suasana kelas perlahan sunyi disibukkan oleh pikiran-pikiran yang berusaha merangkai imaji untuk dituliskan. Setelah selesai, kertas dikumpulkan. Namun, beliau tidak membaca tulisan milik siapapun. Aku tahu, kegiatan menulis tersebut adalah cara beliau untuk menyemangati, memperkuat harapan, dan menutup jam pelajaran agar berkesan lebih manis. Karena tak biasa-biasanya begitu.

            Terakhir, beliau hanya bilang, “Ibu ingin lihat kalian di lima tahun yang akan datang dari kertas ini.”

            Baiklah, biar kutulis ulang kalimatku yang ada di kertas itu meski dengan kata-kata yang tak mungkin sama. `Impian saya adalah mengabdi di desa kecil sambil mendirikan usaha yang tersebar di kota-kota besar. Dengan hasil usaha yang saya kelola, saya berharap dapat membantu membangun sarana untuk mengatasi keterbatasan desa.`

            Kira-kira seperti itu tulisanku.

            Jika kau ingin lebih tahu, `mengabdi` yang bagaimana yang kuinginkan? Sebenarnya aku sudah menuliskannya di satu cerita pendek berjudul `Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang` kau cari saja, cerita itu kutulis beberapa bulan setelah lulus sekolah. Tentang penokohan maupun profesi, aku hanya asal ambil saja agar jadi skenario. Hal terpenting, tujuan utamaku tertuliskan.

            Lalu bila telah tercapai, aku ingin memilih untuk tinggal di pedesaan. Ya, tentu aku sudah terlalu jatuh cinta pada kabut hutan di waktu pagi, udara dingin yang perlahan sejuk, juga hijaunya lingkungan agraris. Namun tetap, kota adalah tempat dimana usahaku dijalankan. Indah bukan? Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya punya bisnis yang tersebar di kota-kota besar namun tetap tinggal dalam kesederhanaan yang menenteramkan, seakan aku bisa meraih kesahajaan.

            Tapi itu hanya mauku. Ya, hanya mauku yang masih tak berpikir tentang kapasitas kemampuan diri sendiri. Bukankah aku selama ini adalah manusia payah? Bisa apa aku untuk melakukan hal hebat itu? Bisa-bisa aku hanya menangis tiap hari. Dasar aku.., bahkan untuk merancang tujuan hidup saja salah strategi.

            Dulu, kupikir gampang saja. Masuk desa, olah riset desa, olah produk usaha, pasarkan, kembangkan, tarik karyawan, sisihkan pemasukan, bantu desa, tinggal di desa, dan usaha tetap bergerak.  Wahai pemikiranku yang amat sungguh sederhana, tidak semudah itu.

            Aku tak pernah tahu bagaimana manajerial dalam mengelola sebuah usaha, apalagi mental menerima untung atau menghadapi kerugian.  Aku tak pernah tahu bagaimana cara bertanggung jawab terhadap karyawan, jika satu karyawan adalah tulang punggung, berarti satu keluarga akan bergantung pada usaha yang kumiliki. Bahkan desa dan usaha apa yang kuinginkan pun aku tak tahu. Aku belum banyak belajar dan tak berani memulai. Terserah kau ingin katakan aku pecundang atau pengecut. Memang benar.

            Tahun depan, tepat lima tahun guruku mengucap akan melihat kami para muridnya dari kertas berisi tulisan kami. Tak masalah bila beliau tak lagi ingat. Itu hal wajar. Yang bermasalah adalah aku dengan impianku. Harusnya pada saat ini aku sudah berproses untuk itu semua, tapi nyatanya aku tak jua memulai.

            Biarkan. Biarkan tertulis di sini, sebagai pengingat bahwa aku juga pernah bermimpi. Ah, mungkin dulu aku terlalu serius membaca novel Dokter Widi juga Serenade 2 Cinta, terlalu sering melihat tayangan realita bertajuk Indonesaku, dan Pengabdianku. Fantasiku memang kadang terlalu berlebihan.

            Mungkin jalanku sekarang tidak sama dengan keinginanku. Tapi ini maunya Tuhan, Ia berhak atas apa saja tentangku. Pada-Nya, tetap kusimpankan doa suatu hari aku akan tinggal di desa dan bisa jadi orang yang setidaknya lebih berguna daripada diriku yang dulu dan sekarang.

 Biarkan. Biarkan semua renungan diri ini tertulis dan terbaca, hingga bila aku tak bisa atau tiada maka aku berharap ada setidaknya satu manusia yang dapat belajar dari tulisan si payah ini. Agar ia belajar untuk tak menjadi sepertiku. Semoga ia diberi kehebatan oleh Tuhan untuk menggapai mimpinya.

Mungkin Tuhan memang menjalankan hidupku dari arah yang lain, namun percayalah bahwa Ia memberiku lebih dari harapanku ketika aku menuliskan ingin merasakan mendaki gunung dan merasakan tempiasan air terjun pada cerita `Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang`. Ia beri aku berkali-kali kesempatan untuk merasakannya.

Jadi, bila tahun depan guruku ingat tentang hal yang pernah ia katakan, maka akan kujawab bahwa sebagian impianku sudah terwujud. Mendaki gunung dan menikmati air terjun. Bahkan beberapa kali. Mungkin memang terlalu biasa bagi sebagian kita, tapi ketahuilah bahwa aku tak pernah bosan untuk hal itu.

Biarkan. Biarkan tulisan ini tersimpan di sini. Suatu waktu mungkin akan kubaca ulang, entah kelak aku akan berada di mana dan bagaimana. Biar aku tahu bagaimana Tuhan mencintaiku dengan cara-Nya.

 

 

 

           

           

           

 

Senin, 21 September 2020

Pertanyaan tentang Sebuah Kasih

        Aku bekerja di sebuah taman kanak-kanak. Bagian administrasi atau pencatatan. Jika mengikuti keinginanku, maka aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, namun inilah jawaban yang diberikan Tuhan untuk saat ini. Sungguh, aku tak pernah membayangkan. Tapi beginilah realita membawaku, aku belajar untuk menikmati saja apa yang ada. Awal-awal, semua terasa biasa bahkan aku selalu ingin menghindar atau mencari teman untuk suatu tugas. Aku lambat beradaptasi.

            Aku tak pernah mengakui bahwa aku sangat menyukai anak kecil. Aku hanya suka anak kecil dengan cara sekadarnya. Bukan sangat. Namun, lambat laun seiring waktu aku mulai melihat bagaimana ada sesuatu pada wajah anak-anak tersebut yang bisa membuat tersenyum. Lama-lama, ada sedikit rasa sayang pada mereka, dimulai ketika mereka bertanya, memberikan sesuatu, atau meminta tolong. Semakin, aku akrab dengan suasana dan kegaduhan yang mereka ciptakan. Terkadang aku hanya memperhatikan saja sambil tersenyum.

            Dari sana juga, aku seakan melihat banyak keajaiban yang selama ini tidak terlihat olehku. Aku melihat kasih sayang orang tua kepada anaknya. Bukan berarti hidupku jauh dari kasih orang tua. Bukan. Hanya saja, aku baru menyadari bagaimana usaha orang tua untuk anaknya, memberikan segala yang terbaik, dan intinya orang tua tidak ingin anaknya kenapa-kenapa. Banyak orang tua dengan wajah lelahnya datang ke TK dengan meninggalkan sebentar pekerjaannya untuk menjemput anak, ketika melihat wajah sang anak, kulihat kelelahan itu sebagian banyak terhapus dan berganti senyuman. Rupanya, begitu juga orang tuaku dulu. Aku baru melihat secara dekat hal itu.

            Aku menulis ini karena aku baru sadar, bahwa beginilah sebuah hikmah dari apa yang dulu mungkin tidak kuharapkan, tidak kusangka. Ternyata aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat baik. Jujur, aku dulu sempat mempertanyakan bagaimana kasih orang tuaku, mengapa aku tak diperlakukan sama dengan temanku yang lain, tidak diberikan perhatian yang berlebih? Anehnya, aku bertanya hal itu hanya ketika aku marah saja, atau sedang kesal. Padahal, tak ada bedanya antara aku dan teman-temanku.

            Kini aku lebih paham, bahwa tidak semua orang tua dapat menunjukkan rasa kasihnya secara langsung. Tapi jika kau tanya hatinya, kasih itu tak pernah habis untuk memberikan jawabannya. Terima kasih, ibu dan bapak.

***

            Untuk mengusir rasa bosan, terkadang aku mencoba untuk keluar dari rumah. Melihat jalan yang belum pernah kulintasi, mencoba lebih akrab dengan hiruk pikuk kota, mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya kulewati dengan rasa penasaran, dan lain sebagainya. Semua lebih banyak kulakukan dengan seorang diri. Di sana, aku mulai melihat juga bahwa ternyata masih banyak orang baik, masih banyak orang yang peduli, dan murah senyum. Semua itu kuamati ketika aku sedang bingung, bertanya, atau meminta bantuan karena suatu hal.

            Mungkin bagi orang lain, pengalamanku hanya pengalaman yang biasa. Jauh di luar sana, aku tahu banyak orang yang berjuang lebih daripada diriku. Tapi juga, aku tahu di luar sana pun ada tersimpan jiwa-jiwa seperti diriku, untuk itulah aku membagi apa yang telah kudapat. Jika tidak membantu, biarlah tulisan ini sebagai penghibur, juga sebagai teman bahwa kau tidak sendirian. Ada diriku. Kita sama.

***

            Kini aku belajar, jiwa rapuh ini tak selemah yang kupikirkan dulu. Jiwa rapuh ini masih bisa bertahan, masih bisa diajak melewati, melawan, meski tambah terluka. Tapi ia tetap sampai, dengan selamat. Apapun hambatannya. Dan aku tahu, kesendirian kadang menyakitkan, tapi terkadang ia menunjukkan keindahannya ketika aku benar-benar menikmati. Karena aku tahu bahwa Tuhan tak pernah pergi. Aku tak perlu mencari orang-orang untuk mengelilingiku sebagai teman, tak perlu mengharap sahabat terbaik untuk selalu ada di saat susah. Kini aku mengerti bahwa tak ada yang harus kumiliki untuk setiap waktu. Susah atau senang. Karena orang-orang selalu datang dan pergi. Mereka yang datang, bukan berarti ada untukku selamanya.

            Menghargai. Aku menghargai setiap mereka yang hadir dalam perjalanan hidupku ini.  Ingat, aku tak pernah memaksa seseorang untuk menetap dalam hidupku. Aku tak pernah berusaha untuk mencari seseorang yang bisa dijadikan teman. Tidak pernah. Tapi bukan berarti aku harus berjalan sendiri dan tidak perlu mereka. Hadirnya mereka, singkat atau lama, itu bukan suatu kebetulan. Aku yakin semua terjadi karena sebab-akibat. Ia sudah ditulis oleh-Nya, untukku. Sungguh, aku sangat berterima kasih telah bertemu orang-orang yang akhirnya kukenal dengan berbagai macam karakter, sifat, dan pandangan. Siapapun itu, aku sangat menghargai. Meski aku bukan orang yang bisa selalu bertegur sapa, bercanda gurau dengan setiap mereka yang kukenal, atau membuat mereka menyukai keberadaanku. Aku tidak bisa memaksa mereka menyukaiku sepenuhnya, namun dengan hormat, aku berterima kasih.

            Atas segala masa lalu, kini segala hal yang dulu tak pernah kulihat, tak pernah kumengerti, dan tak pernah kualami, justru membuatku menjadi lebih baik dan merasa lebih bersyukur. Jika dulu aku sempat menyesal, maka sekarang aku tahu bahwa Tuhan ingin aku belajar lagi, dengan tidak menjadi seburuk diriku yang dulu. Alhamdulillah.

 

Wahai jiwa-jiwa yang sunyi,

Wahai jiwaku…

Kau mungkin payah, cengeng, juga takut,

jika kau tak mampu untuk berlari,

berjalanlah.

Hingga kau temukan titik cahaya

yang perlahan terang.

                 

            Itu untukmu.

            Ambillah.

            Ceritakan apa yang telah kau lalui,

            tumpahkan air matamu atas pedihnya kemarin,

            beri tahu segelap apa jalan yang menelan keberanianmu.

            Lalu, tengoklah lagi ke belakang.

            Lihat, kau masih baik-baik saja.


2017