Bila dihitung dari tahun ini, maka kubawa kau ke empat tahun lalu ketika suasana kelas terasa lebih menyenangkan daripada biasanya. Aku tidak tahu apakah teman-temanku masih ingat atau tidak, aku pun yakin bahwa guruku juga pasti sudah lupa akan hal yang ingin kuceritakan ini.
Siang itu, adalah jam terakhir pelajaran. Guruku meminta untuk mengambil selembar kertas untuk menuliskan impian masing-masing. Suasana kelas perlahan sunyi disibukkan oleh pikiran-pikiran yang berusaha merangkai imaji untuk dituliskan. Setelah selesai, kertas dikumpulkan. Namun, beliau tidak membaca tulisan milik siapapun. Aku tahu, kegiatan menulis tersebut adalah cara beliau untuk menyemangati, memperkuat harapan, dan menutup jam pelajaran agar berkesan lebih manis. Karena tak biasa-biasanya begitu.
Terakhir, beliau hanya bilang, “Ibu ingin lihat kalian di lima tahun yang akan datang dari kertas ini.”
Baiklah, biar kutulis ulang kalimatku yang ada di kertas itu meski dengan kata-kata yang tak mungkin sama. `Impian saya adalah mengabdi di desa kecil sambil mendirikan usaha yang tersebar di kota-kota besar. Dengan hasil usaha yang saya kelola, saya berharap dapat membantu membangun sarana untuk mengatasi keterbatasan desa.`
Kira-kira seperti itu tulisanku.
Jika kau ingin lebih tahu, `mengabdi` yang bagaimana yang kuinginkan? Sebenarnya aku sudah menuliskannya di satu cerita pendek berjudul `Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang` kau cari saja, cerita itu kutulis beberapa bulan setelah lulus sekolah. Tentang penokohan maupun profesi, aku hanya asal ambil saja agar jadi skenario. Hal terpenting, tujuan utamaku tertuliskan.
Lalu bila telah tercapai, aku ingin memilih untuk tinggal di pedesaan. Ya, tentu aku sudah terlalu jatuh cinta pada kabut hutan di waktu pagi, udara dingin yang perlahan sejuk, juga hijaunya lingkungan agraris. Namun tetap, kota adalah tempat dimana usahaku dijalankan. Indah bukan? Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya punya bisnis yang tersebar di kota-kota besar namun tetap tinggal dalam kesederhanaan yang menenteramkan, seakan aku bisa meraih kesahajaan.
Tapi itu hanya mauku. Ya, hanya mauku yang masih tak berpikir tentang kapasitas kemampuan diri sendiri. Bukankah aku selama ini adalah manusia payah? Bisa apa aku untuk melakukan hal hebat itu? Bisa-bisa aku hanya menangis tiap hari. Dasar aku.., bahkan untuk merancang tujuan hidup saja salah strategi.
Dulu, kupikir gampang saja. Masuk desa, olah riset desa, olah produk usaha, pasarkan, kembangkan, tarik karyawan, sisihkan pemasukan, bantu desa, tinggal di desa, dan usaha tetap bergerak. Wahai pemikiranku yang amat sungguh sederhana, tidak semudah itu.
Aku tak pernah tahu bagaimana manajerial dalam mengelola sebuah usaha, apalagi mental menerima untung atau menghadapi kerugian. Aku tak pernah tahu bagaimana cara bertanggung jawab terhadap karyawan, jika satu karyawan adalah tulang punggung, berarti satu keluarga akan bergantung pada usaha yang kumiliki. Bahkan desa dan usaha apa yang kuinginkan pun aku tak tahu. Aku belum banyak belajar dan tak berani memulai. Terserah kau ingin katakan aku pecundang atau pengecut. Memang benar.
Tahun depan, tepat lima tahun guruku mengucap akan melihat kami para muridnya dari kertas berisi tulisan kami. Tak masalah bila beliau tak lagi ingat. Itu hal wajar. Yang bermasalah adalah aku dengan impianku. Harusnya pada saat ini aku sudah berproses untuk itu semua, tapi nyatanya aku tak jua memulai.
Biarkan. Biarkan tertulis di sini, sebagai pengingat bahwa aku juga pernah bermimpi. Ah, mungkin dulu aku terlalu serius membaca novel Dokter Widi juga Serenade 2 Cinta, terlalu sering melihat tayangan realita bertajuk Indonesaku, dan Pengabdianku. Fantasiku memang kadang terlalu berlebihan.
Mungkin jalanku sekarang tidak sama dengan keinginanku. Tapi ini maunya Tuhan, Ia berhak atas apa saja tentangku. Pada-Nya, tetap kusimpankan doa suatu hari aku akan tinggal di desa dan bisa jadi orang yang setidaknya lebih berguna daripada diriku yang dulu dan sekarang.
Biarkan. Biarkan semua renungan diri ini tertulis dan terbaca, hingga bila aku tak bisa atau tiada maka aku berharap ada setidaknya satu manusia yang dapat belajar dari tulisan si payah ini. Agar ia belajar untuk tak menjadi sepertiku. Semoga ia diberi kehebatan oleh Tuhan untuk menggapai mimpinya.
Mungkin Tuhan memang menjalankan hidupku dari arah yang lain, namun percayalah bahwa Ia memberiku lebih dari harapanku ketika aku menuliskan ingin merasakan mendaki gunung dan merasakan tempiasan air terjun pada cerita `Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang`. Ia beri aku berkali-kali kesempatan untuk merasakannya.
Jadi, bila tahun depan guruku ingat tentang hal yang pernah ia katakan, maka akan kujawab bahwa sebagian impianku sudah terwujud. Mendaki gunung dan menikmati air terjun. Bahkan beberapa kali. Mungkin memang terlalu biasa bagi sebagian kita, tapi ketahuilah bahwa aku tak pernah bosan untuk hal itu.
Biarkan. Biarkan tulisan ini tersimpan di sini. Suatu waktu mungkin akan kubaca ulang, entah kelak aku akan berada di mana dan bagaimana. Biar aku tahu bagaimana Tuhan mencintaiku dengan cara-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar