Mungkin
kau bosan dengan gaya penulisanku yang begitu-begitu saja. Ya, beberapa kali
tulisanku di blog ini selalu menyuguhkan tentang keindahan-keindahan malam,
sore, ataupun pagi. Selalu mengusung nuansa alami dan kebaikan. Sama, aku juga
bosan sebenarnya. Lebih tepatnya aku bosan dengan pikiranku yang begitu-begitu
saja. Bukankah pikiran seseorang bisa dilihat dari apa yang ditulisnya? Haha,
ya jelas saja kau dapat membayangkan pikiranku yang dipenuhi kebun bunga, angin
sepoi, air mengalir, rerumputan hijau, gunung, awan-awan, dan semacamnya.
Oh
ya by the way, kali ini biar
kuceritakan tentang seseorang. Ia wanita. Eh, ralat, aku takut nanti kau akan
membayangkan sosok yang terlalu mendewasa yang mampu menyelesaikan semua
masalahnya dengan cara epic. Bukan begitu
yang kumaksud. Ehm, begini saja, one part
woman and the other part girl. Ya, mungkin itu mewakili deskripsi tentang
dirinya dan kurasa sebutan itu memudahkanmu memahami maksudku. Mudah-mudahan
kau paham ya. Namun parahnya, perbandingan karakternya bukan lima puluh banding
lima puluh, melainkan sisi childish-nya
lebih mendominasi.
November
merupakan bulan favoritnya, karena cuaca yang syahdu. Ia memang banyak
anehnya, yang lain mengharap sinar matahari, dia malah lebih suka mendung. Namun
sekarang sudah berganti Desember, bukan? Jika boleh meminta maka ia ingin bulan
November berlangsung lebih lama lagi seakan pergantian tahun dapat ditunda
dahulu. Bodo amat tentang masa
pandemi. Tuh kan, ia memang banyak anehnya. Orang lain berharap tahun 2021
merupakan awal dari segala perubahan baik yang akan mengobati kesedihan tahun
ini, ia malah ingin berlama-lama memeluk November agar mendung dan hujan tetap
turun. Karena ia pikir tahun depan musim akan berganti dua kali.
Untung
saja kita punya Tuhan Yang Maha Adil, yang dapat merubah dan membuat segalanya
bisa berganti. Bukan mengikuti maunya si gadis childish itu.
Mengenai tahun ini, sebenarnya ia juga menghadapi hal-hal yang kadang melenyapkan senyumnya. Ia juga lebih banyak untuk mengurung diri dalam ruangnya sendiri. Kadang ia menghukum diri sendiri untuk tak merasakan tidur. Bahkan ia juga melukai hatinya sendiri agar menangis. Sudah kubilang, di balik kenormalannya, ia banyak anehnya. Banyak kesalahan yang ia buat di tahun ini. Dan yang ia lakukan itu adalah wujud dari pembalasan terhadap kesalahannya.
Tahun ini juga, semua rencana yang ingin dituju seakan tak bisa ia capai. She was in unmotivated period. Ia tahu ini hanya fase. Siapapun pernah ada dalam fase ini. Ditambah lagi suasana pandemi. Ah, mengapa menyalahkan pandemi? Sedangkan orang lain banyak yang menuai hasil dan belajar dari pandemi. Sebenarnya yang bermasalah itu ia dan bagaimana responsnya dalam menghadapi sesuatu.
Si childish
ini benar-benar membingungkan, di awal-awal ia membuatku menulis hal yang
membuatnya masa bodoh terhadap pandemi. Lalu barusan ia membuatku menulis bahwa
pandemi juga ikut mencampuri fasenya yang tidak menyenangkan itu. Baiklah,
ibarat air terjun, ayo kita ikuti saja kemana muaranya. Air terjun. Tadi hujan
dan mendung. Lagi-lagi tentang alam. Sepertinya kosa kataku hanya mandek di situ-situ saja. Membosankan,
bukan? Makanya, hal itu terkadang mengurungkan niatku untuk menulis. Tapi
marilah, aku coba lanjutkan.
Kembali ke awal November kemarin, sesuai
dengan bulan favoritnya. Ia memilih untuk menegakkan kepalanya lagi.
Kemarin-kemarin ia hanya banyak tertunduk. Sudah cukup rupanya ia menghukum
dirinya sendiri. Ia tahu hal itu salah, seharusnya cukup Tuhan yang mengurus
dosanya. Tuhan memberinya kesehatan jasmani dan rohani untuk dijaga, bukan
disiksa. Tapi bagaimanalah, ia menyiksa dirinya sendiri agar tahu rasa sehingga
ia tak mengulangi kesalahan yang sama. Jika tidak begitu, ia tak akan move on. Sebenarnya ia juga banyak
membaca berbagai motivasi dan renungan sebagai ganti agar tak menyiksa dirinya
sendiri, tapi bagaimanalah jua, kau bisa membayangkan ibaratnya kau jadi
pelukis yang berbicara pada si childish
ini. Sedangkan si childish ini buta
warna. Maka sudah pasti susah untuk menjelaskan warna pelangi padanya.
Pagi awal November, ia perlahan
memaafkan dirinya. Memaafkan dirinya yang tak bisa ambil keputusan dengan
bijaksana, tak bisa membuat kebahagiaan pada sesama atas apa yang ingin
dicapainya, tak bisa membawa kebermanfaatan, tak bisa untuk melakukan sesuatu
di jalan yang lurus-lurus saja. Unmotivated
period sudah cukup baginya. Sudah cukup. Perlakuan buruknya terhadap diri
sendiri sudah membuatnya cukup untuk memaafkan kesalahannya. Waktunya untuk
menikmati November.
Kali ini, ia memilih untuk menikmati
November dengan tak membawa banyak harapan. Harapan yang membuatnya menjadi
lebih. Tidak. Ia masih takut untuk kecewa. Ia hanya membawa hatinya yang sudah
bisa untuk diajak belajar menerima apapun yang terjadi nanti. Dengan begitu,
setidaknya uneg-uneg di otaknya
terasa berkurang.
Ia memulai dengan apa yang sudah lama ia
inginkan, menikmati pagi dan membuat taman di pojok halaman yang tak
termanfaatkan. Ia ingin mencoba hal baru, merawat tanaman. Selama ini ia hanya
menjadi penikmat keindahan hijau-hijauan, biarkan kali ini ia mencoba untuk
ambil bagian sebagai penjaga dan perawat keindahan itu untuk pengalihan atas
kesedihannya semalam. Ia bahagia, meski tak semua tanaman yang ia tanam dapat
tumbuh. Oh ya, lucunya, ia sampai-sampai menuliskan beberapa kalimat sebagai
pengingatnya.
“Aku
penghirup udara pagi. Pagi yang masih gelap, dingin, dan sunyi. Pagi yang buta.
Ingin aku seakan memeluk, tapi aku tak punya kuasa. Maka kucoba dapatkan pagi
meski dari ujung jemariku. Menyentuh bulir embun, memainkan dedaunan yang masih
tertunduk, dan mengamati naturalisme pagi lainnya. Hal semacam itu membawaku
untuk bahagia.
Tapi
aku lebih banyak punya peluang untuk kehilangan kesempatan itu. Kondisi jiwa
membuatku terjaga semalaman, entah untuk apa. Aku lelah tapi mataku tak ingin
terpejam. Mimpiku enggan untuk hadir. Maka ketika pagi buta datang, energiku
habis. Pada pagi jua, kubalas untu memejam, kubalas untuk bermimpi. Hingga aku
melewatkan naturalisme pagi, yang berarti aku melewatkan kesempatan yang
membawaku bahagia.”
Hal itu dilakukannya agar ia tahu dimana
sumber bahagianya. It`s such a healing
pill for her. Hal-hal yang dilakukannya tidak istimewa memang, tapi cukup
membantunya untuk menghargai diri sendiri dan lingkungannya.
Sudah kubilang, ia tak membawa harapan
apa-apa. Ia tak berharap sesuatu yang menggembirakan akan datang padanya. Toh
ia dengan tanamannya yang bahkan kadang harus layu pun sudah merasa bahagia.
Tapi oh tapi, ternyata Tuhan menambah
kebahagiaannya. Tuhan hadirkan kupu-kupu, dengan sayap yang cantik-cantik.
Terkadang bila pagi, ada kupu-kupu yang bertengger di dahan-dahan tanaman pada
pojok halaman. Warnanya hitam, bergaris biru malam, dan totol-totol putih.
Tidak hanya itu, Tuhan beri lagi sebagian tanaman yang ditumbuhkan-Nya di
permukaan tanah. Bisa dikonsumsi. Kau tahu, ia baru saja mengerti bagaimana
rasanya panen di taman sendiri. Eh, kebun maksudku. Kedamaian yang tidak bisa
dibeli dengan uang. Bukan itu saja, paduan kicauan burung dan bunyi-bunyian tupai
berperan serta merilekskan pikirannya. It`s such a therapy sound. Belum lagi
embun-embun yang menggantung di ujung daun. Jangan tanya lagi, itu memang
favoritnya.
Memang tak istimewa-istimewa amat, tapi ternyata sentuhan humanis
juga bisa didapatkan dari kegiatan kecil yang ia lakukan murni dari hati.
Mengajarkannya untuk tak menuntut apapun.
Ah, sejauh ini tulisanku memang tak bisa
lebih baik. Aku sudah menuliskannya di awal. Tapi tidak apa-apa, mungkin saja
apa yang kutulis ini suatu saat dapat kubaca kembali dan menjadi pengingat agar
aku tak berlaku sama seperti yang dilakukan si childish itu kemarin-kemarin. Menuliskan sesuatu seperti ini kadang
memang menjadi pelepasan terbaik untuk meringankan uneg-uneg. Bahkan jadi pengingat untukku sendiri, serupa si childish itu ketika menuliskan tentang
naturalisme paginya.
Oh ya, menyampaikan sedikit kabar, si childish itu tak lagi mengharap bahwa
bulan harus selalu November, atau langit harus selalu mendung. Ia menyadari
bahwa Tuhan yang disembahnya juga milik hamba-hamba-Nya yang lain. Maka ia
belajar untuk mengerti kehendak Tuhan yang mengasihi ciptaan-Nya yang perlu
sinar mentari, perlu pergantian musim, dan lain sebagainya untuk kelangsungan
hidup. Apa jadinya bila selalu November dan mendung? Bukankah sesuatu yang
berlebihan itu tidak baik, kan?
Untuk tahun ini, ia juga belajar untuk
menerima dan melepas atas segala luka karena kesalahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar