Sabtu, 21 Januari 2023

Potongan Kue

 

            Semua hari-hari ingin berteman, bersama, piknik, atau menginginkan perayaan besar terasa seperti sudah terlewati. Sudah sirna. Terasa sudah cukup. Rasanya seperti makanan yang sudah kedaluwarsa. Pada arus informasi yang berjalan pada genggaman, ada yang bilang `bila tiba-tiba ingin ke pantai, berarti sedihnya tidak main-main.` Healing kita bilang. Aku pun mengalaminya, bertahun-tahun yang lalu. Tapi sekarang sudah tidak. Tidak ada keinginan ke pantai meski uneg-uneg sedang berantakan. Tidak lagi ngotot ingin ke pantai untuk minta ampun pada kesedihan.

            Sekarang rasanya berdiam diri di samping jendela saja sudah cukup. Merasakan hijau dan angin yang keibuan. Kau tahu angin yang keibuan? Hembusannya seakan punya nurani. Bila aku seorang anak, maka angin menerbangkan keluh kesah yang bahkan belum sempat didengar alam. Personifikasi memang, tapi itulah majas yang paling tepat.

            Aku tidak tahu apakah kata healing terdengar overused untuk sekarang ini? Atau kita yang terlalu melankolis? Atau aku yang kehilangan sebagian fungsi emosi? Pergi ke pantai, perayaan, atau kemeriahan dulunya adalah yang kusukai namun sekarang terasa sudah cukup dan tak perlu dipaksa lagi. Ada bagian diriku yang tak lagi marah bila sesuatu tak sesuai. Ada bagian diriku yang tak lagi sedih bila sesuatu tak dapat sampai.

            Mungkin seperti purnama yang kian memerah, yang kilau terangnya kian tenggelam hingga akhirnya jadi mati. Apakah siklus manusia serupa siklus purnama?

            Sekarang aku justru lebih suka menghabiskan waktuku pada bunyi-bunyi cangkang telur yang kupecahkan, suara air yang kutuang dalam cawan, aroma coklat yang kulelehkan, atau merasakan renyahnya keju yang dipanggang kering. Sebuah ruang bernama dapur kini kadang menjadi tempatku merasa nyaman.  Tidak lagi hal-hal ramai, banyak, atau sempurna yang kucari. Aroma dan rasa nampaknya lebih menarik dibanding apa yang dulu selalu ingin kudapatkan.

            Karena dari sana juga, ada banyak hal yang kudapat. Ada banyak filosofi, ada banyak ilmu tentang intuisi, juga cara membaca selera. Aku tak lagi mengejar tentang sempurna. Justru sekarang, di setiap kegiatan memotong, menuang, memanggang, dan menghias kue seakan mengembalikan fungsi emosi yang dulu kupercaya sudah hilang sebagian pada diriku.

            Aku tidak tahu bila ternyata sudah sejauh ini. Aku membuat sebuah wadah untuk menghimpun semua yang kubuat, yang kusukai, yang kuperbaiki berulang-ulang. Sebuah wadah yang kubuat untuk menolong diriku sendiri. Seperti sebuah perahu yang dibuat oleh seorang nelayan untuk dirinya sendiri menyusuri lautan, mencari ikan, mempelajari arah ombak dan angin. Wadah itu kuberi nama Potongan Kue.

            Potongan Kue. Sebuah wadah yang menyelamatkanku dari sempurna. Sebuah sempurna yang dulu selalu kucari-cari. Aku tak pernah dapat karena aku adalah satu di antara banyak hal yang berantakan. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk menjadi sesorang yang selalu ada untuk yang lain. Bagaimana caranya untuk menjadi seseorang yang selalu dapat diandalkan. Bagaimana caranya untuk menjadi seseorang yang begitu sempurna. Bagaimana rasanya ketika bisa menjadi semua itu?

            Tapi pada Potongan Kue, ada bagian dari diriku yang telah mampu menerima sesuatu yang tak sesuai dan tak dapat sampai. Ada bagian dari diriku yang dihidupkan kembali oleh energi positif yang sebelumnya tak pernah menguasaiku. Ada bagian dari diriku yang mulai mengerti bahwa hal yang sempurna selain Tuhan adalah semu.

            Pada Potongan Kue, aku juga pernah marah dan menangis. Seperti nelayan juga yang kesal ketika perahunya bocor terisi air, tapi ia tambal dan kembali ke laut. Ada rasa bahagia dan nyaman ketika aku masuk pada wadah yang kubuat sendiri. Contentment.

            Pada Potongan Kue, aku seakan kembali dan pulang. Aku senang membuatkan kue untuk mereka. Aku senang rumahku berbau aroma kue yang berasal dari dapur. Aku senang mereka dan aku sama-sama menikmati Potongan Kue yang kubuat.

            Seiring waktu, aku tak lagi mendamba hal-hal ramai, perayaan semarak, kesempurnaan, atau bertanya cara untuk selalu ada dan selalu dapat diandalkan. Aku sudah belajar tentang ego dan pengakuan. Mungkin bila aku tetap ke sana, langkahku tak mungkin seringan ini. Semua sudah lewat. Sudah seperti makanan kedaluwarsa. 

                Potongan Kue helped me a lot to feel content.

           

           

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar