Semua
hari-hari ingin berteman, bersama, piknik, atau menginginkan perayaan besar
terasa seperti sudah terlewati. Sudah sirna. Terasa sudah cukup. Rasanya
seperti makanan yang sudah kedaluwarsa. Pada arus informasi yang berjalan pada
genggaman, ada yang bilang `bila tiba-tiba ingin ke pantai, berarti sedihnya
tidak main-main.` Healing kita bilang. Aku pun mengalaminya, bertahun-tahun
yang lalu. Tapi sekarang sudah tidak. Tidak ada keinginan ke pantai meski
uneg-uneg sedang berantakan. Tidak lagi ngotot ingin ke pantai untuk minta
ampun pada kesedihan.
Sekarang
rasanya berdiam diri di samping jendela saja sudah cukup. Merasakan hijau dan
angin yang keibuan. Kau tahu angin yang keibuan? Hembusannya seakan punya
nurani. Bila aku seorang anak, maka angin menerbangkan keluh kesah yang bahkan
belum sempat didengar alam. Personifikasi memang, tapi itulah majas yang paling
tepat.
Aku
tidak tahu apakah kata healing terdengar overused untuk sekarang ini? Atau kita
yang terlalu melankolis? Atau aku yang kehilangan sebagian fungsi emosi? Pergi
ke pantai, perayaan, atau kemeriahan dulunya adalah yang kusukai namun sekarang
terasa sudah cukup dan tak perlu dipaksa lagi. Ada bagian diriku yang tak lagi
marah bila sesuatu tak sesuai. Ada bagian diriku yang tak lagi sedih bila
sesuatu tak dapat sampai.
Mungkin
seperti purnama yang kian memerah, yang kilau terangnya kian tenggelam hingga
akhirnya jadi mati. Apakah siklus manusia serupa siklus purnama?
Sekarang
aku justru lebih suka menghabiskan waktuku pada bunyi-bunyi cangkang telur yang
kupecahkan, suara air yang kutuang dalam cawan, aroma coklat yang kulelehkan,
atau merasakan renyahnya keju yang dipanggang kering. Sebuah ruang bernama
dapur kini kadang menjadi tempatku merasa nyaman. Tidak lagi hal-hal ramai, banyak, atau
sempurna yang kucari. Aroma dan rasa nampaknya lebih menarik dibanding apa yang
dulu selalu ingin kudapatkan.
Karena
dari sana juga, ada banyak hal yang kudapat. Ada banyak filosofi, ada banyak
ilmu tentang intuisi, juga cara membaca selera. Aku tak lagi mengejar tentang
sempurna. Justru sekarang, di setiap kegiatan memotong, menuang, memanggang,
dan menghias kue seakan mengembalikan fungsi emosi yang dulu kupercaya sudah
hilang sebagian pada diriku.
Aku
tidak tahu bila ternyata sudah sejauh ini. Aku membuat sebuah wadah untuk
menghimpun semua yang kubuat, yang kusukai, yang kuperbaiki berulang-ulang.
Sebuah wadah yang kubuat untuk menolong diriku sendiri. Seperti sebuah perahu
yang dibuat oleh seorang nelayan untuk dirinya sendiri menyusuri lautan,
mencari ikan, mempelajari arah ombak dan angin. Wadah itu kuberi nama Potongan
Kue.
Potongan
Kue. Sebuah wadah yang menyelamatkanku dari sempurna. Sebuah sempurna yang dulu
selalu kucari-cari. Aku tak pernah dapat karena aku adalah satu di antara
banyak hal yang berantakan. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk
menjadi sesorang yang selalu ada untuk yang lain. Bagaimana caranya untuk
menjadi seseorang yang selalu dapat diandalkan. Bagaimana caranya untuk menjadi
seseorang yang begitu sempurna. Bagaimana rasanya ketika bisa menjadi semua
itu?
Tapi
pada Potongan Kue, ada bagian dari diriku yang telah mampu menerima sesuatu
yang tak sesuai dan tak dapat sampai. Ada bagian dari diriku yang dihidupkan
kembali oleh energi positif yang sebelumnya tak pernah menguasaiku. Ada bagian
dari diriku yang mulai mengerti bahwa hal yang sempurna selain Tuhan adalah
semu.
Pada
Potongan Kue, aku juga pernah marah dan menangis. Seperti nelayan juga yang
kesal ketika perahunya bocor terisi air, tapi ia tambal dan kembali ke laut.
Ada rasa bahagia dan nyaman ketika aku masuk pada wadah yang kubuat sendiri.
Contentment.
Pada
Potongan Kue, aku seakan kembali dan pulang. Aku senang membuatkan kue untuk
mereka. Aku senang rumahku berbau aroma kue yang berasal dari dapur. Aku senang
mereka dan aku sama-sama menikmati Potongan Kue yang kubuat.
Seiring waktu, aku tak lagi mendamba hal-hal ramai, perayaan semarak, kesempurnaan, atau bertanya cara untuk selalu ada dan selalu dapat diandalkan. Aku sudah belajar tentang ego dan pengakuan. Mungkin bila aku tetap ke sana, langkahku tak mungkin seringan ini. Semua sudah lewat. Sudah seperti makanan kedaluwarsa.
Potongan Kue helped me a lot to feel content.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar