Sepetik Pelajaran Dari Setangkai Daun
Temanku yang
satu ini adalah penggila tanaman. Aku tidak tahu apa yang membuat sebegitu
jatuh cintanya dia pada makhluk tersebut. Berbeda denganku, aku sangat cuek
terhadap tumbuhan jenis apapun. Lebih tepatnya ‘gak peduli’.
‘’Vega!! Selamat ulang tahun ya…’’
Ucap Lisa seraya berlari ke arahku.
‘’Terimakasih Lisa… ya ampun…
sampai lari-lari gitu…’’ Aku membalas
uluran tangannya.
‘’Nih, hadiah buat kamu. Semoga
bermanfaat.’’ Lisa menyodorkan sebuah tanaman kecil dalam pot mungil yang aku
tidak tahu apa namanya.
‘’Bermanfaat? Apanya?’’ Gumamku,
namun pada akhirnya hanya ucapan terimakasih yang keluar dari mulutku.
Aku
masih belum mengerti, kenapa Lisa beri hadiah tanaman untukku, sebenarnya dia
‘kan tahu, aku gak suka sama dunia tumbuhan.
***
‘’Vega, liburan nanti kita
jalan-jalan yuk!’’ Ajaknya.
‘’Kemana ya? Aku bingung…’’
‘’Aku tahu kok, tempat yang seru.
Pokoknya kamu ikut aja!’’ Semangat
banget sih dia.
‘’Iya-iya…’’ Aku pasrah.
***
Saat
liburan tiba…
Kini
yang terhampar dihadapanku adalah pemandangan hijau. Ini sih liburannya Lisa,
bukan liburanku!
‘’Vega, gimana? Oke kan?’’ Lisa
disampingku sambil menghirup udara sekuat-kuatnya.
‘’Oke.’’ Jawabku tanpa ekspresi,
ku pikir dia mengajakku ke mall, atau wahana air, atau apalah… eh ternyata…
‘’Ayo, kita ke sana!’’ Lisa sudah
berlari duluan menuju lokasi yang banyak ditumbuhi pepohonan, sedangkan aku
berjalan pelan dengan pandangan ke layar ponsel digenggamanku.
‘’Sekarang ngapain?’’ Tanyaku
setelah sampai dan duduk di atas rumput.
“Ya sudah, duduk aja’’ Jawabnya enteng.
‘’Hhh??? Mendingan aku ke bioskop, ada yang di tonton.
Lah ini???’’ Aku mulai bosan dan mencabut pucuk-pucuk tumbuhan di sekitarku.
‘’Ehh, jangan ngerusak
tumbuhannya dong,,, mereka sama seperti manusia.’’ Lisa selalu begitu.
‘’Aku gak ngerti pikiranmu!!!
Bisa banget sih samain manusia dengan tumbuhan!!!’’ Bentakku dan berlalu.
‘’Kamu cuma belum ngerti….’’
Suaranya masih bisa ditangkap telingaku meskipun sangat pelan. Aku
meninggalkannya sendiri.
***
Di
bawah pohon rindang, aku terbawa suasana novel yang ku baca, hingga aku
meneteskan air mata. Di saat itu, Lisa datang. Mungkin mau minta maaf atas
kejadian kemarin.
‘’Vega, kok nangis?’’ Dia
bertanya.
‘’Novel ini, ceritanya ada anak
yang diculik dari orang tuanya. Pokoknya sedih banget…’’ Ucapku, tapi Lisa
terdiam sebentar. Lalu berkata…
‘’Hal itu sama saat kamu kemarin
mencabut pucuk-pucuk daun waktu kesel sama aku.’’
‘’Maksudnya?’’ Aku gak ngerti.
‘’Pucuk daun itu, sama seperti
anak di novel yang kamu baca. Dan tanganmu, sama seperti penculik yang
memisahkan mereka…’’’
‘’Oh,,, aku minta maaf Lis,
kemarin itu…’’
‘’Vega,,,sudah…gak perlu minta
maaf. Yang penting kamu sudah ngerti sekarang kenapa aku selalu bilang tumbuhan
itu seperti manusia.’’ Ucap Lisa.
‘’Lisa, kamu kok gak marah sih?
Kamu gak kecewa sama sikapku kemarin?’’
‘’Ha..ha.. untuk apa? Aku selalu
berusaha meniru sikap tumbuhan. Biarpun ada yang merusaknya, mereka tetap
berjuang untuk menghasilkan oksigen yang berguna bagi kehidupan di muka bumi
ini. Mereka gak pernah marah.’’
‘’Terimakasih, Lis..’’
‘’Sama-sama. Semoga tanaman yang
aku beri kemarin, masih hidup ya, Vega…’’
Ya
ampun…Sumpah!!! Aku gak pernah tahu nasib tanaman itu lagi! Terakhir sih, ku
taruh di belakang rumah. Gak tahu lagi sekarang….
***
Sampai
di rumah, aku langsung ke halaman belakang. Syukurlah… tanaman itu masih ada
dengan daun yang menguning. Segera ku hubungi Lisa, untuk bertemu besok di
tempat biasa.
***
‘’Lisa, tanaman ini sepertinya
gak bahagia kalau di rumah ku. Daripada dia mati, lebih baik kamu yang rawat.
Maaf ya Lis…’’ Ucapku sambil memberikan tanaman itu.
‘’Gak apa-apa…’’
‘’Tapi Lis, daunnya sudah ada
yang kuning…’’
‘’Itu karena mereka rela
berkorban. Gak serakah untuk makan nutrisi yang ada di dalam batang. Beberapa
hari lagi, mereka akan gugur tapi tetap berguna karena pada akhirnya menjadi
humus. Sebenarnya, banyak manusia di muka bumi ini yang sama dengan daun yang
mulai kuning itu. Tumbuhan itu seperti manusia, lagi-lagi. Dan kita bisa petik
banyak pelajaran hanya dari setangkai daun.’’
Sekarang,
aku mengerti alasan Lisa menggilai tumbuhan. Ternyata, ada banyak hal yang belum ku ketahui
tentang filosofi tumbuhan.
K.Y.R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar