Selasa, 06 Juni 2017

Di Dalam Sepimu



Kadang sorot lampu keramaian membuatmu seakan-akan menjadi tokoh utama yang mengenaskan. Hingar-bingar mereka hanya menguras kepercayaan dirimu sendiri jika kau tak cepat-cepat kembali ke dalam zona nyamanmu. Jika mereka memerlukan bintang-gemintang yang semarak penuh glamour dan ribuan cahaya perdetik untuk mengisi hari mereka yang penuh senda gurau, maka kau hanya butuh secangkir teh panas dengan rintik hujan bersuasana mendung untuk menemani kesendirianmu yang temaram.
            Mereka tak tahu dirimu, jika kau tak bicara. Tapi yang kau lakukan hanya menulis dalam kebisuan. Tulisanmu penuh dengan perumpamaan, samar, dan hanya membentuk siluet. Tidak terang. Jika mereka tahu, bukumu terbuka untuk siapapun, tapi tak ada yang mengerti. Sayang, mereka tak ingin berpikir lebih daripada kau. Di balik kalimat tulisanmu, kau telah berpikir ribuan kali untuk setiap kata, ada banyak pergulatan di benakmu untuk menentukan apa yang benar-benar pantas kau goreskan di atas kertas kosong. Kau yakin kau bicara, meskipun tetap dalam hening. Rupanya kau memang lebih pantas untuk menjadi seorang pendengar.
            Kau masih saja acuh dengan lingkungan sekitarmu, kau pun sadar ada yang menilai bahwa terlalu tinggi kau bawa dirimu. Terkadang kau juga hanya menjawab obrolan mereka sekenanya. Mengapa kau tak pernah beritahu saja mereka bahwa kau memerhatikan apapun lebih dari siapapun, kau hanya tak tahu bagaimana cara memulai perkenalan, pertemanan, dan percakapan. Dan bilang pada mereka bahwa kau tak suka omong kosong atau  basa-basi yang hanya sekadar sandiwara belaka!
            Tapi bagimu hal itu sudah biasa, kau sudah kenyang dengan kesan-kesan negatif akan kurangnya dirimu. Lagi-lagi, kau tak pernah menggubrisnya. Kau hanya tak ingin salivamu terbuang sia-sia hanya untuk hal remeh temeh macam itu. Menurutmu, dunia sudah terlalu berisik karena suara mereka, biarlah kau tenggelam bersama sunyi yang diredam.
            Lalu, apa yang akan orang lain ketahui tentang dirimu?


Kau menjawab, “Tak perlu mereka tahu tentangku, haruskah aku menjelaskan diriku yang rapuh, canggung, kaku, dan lemah ini? Haruskah kuumumkan diriku yang sedang tidak baik-baik saja? Haruskah kupaksa diri ini bercerita tentang rasa, asa, juga cita? Dan haruskah kulihatkan lemahnya aku dalam kecewa, meradangnya aku dalam amarah, atau merintihnya aku dalam kepedihan? Kupikir, untuk apa kubagi hal itu dengan mereka? Agar mereka tahu semua sisi tersembunyi dalam diriku?  Terkadang aku berjuang lebih dari apa yang kuperlihatkan,’’ jawabanmu terlalu sarkastis, sayang.
            Baiklah. Tak ada yang salah dengan itu semua. Simpan saja semua itu untukmu sendiri. Tak perlu repot-repot kau lakukan hal itu, toh mereka tetap mengutamakan dirinya sendiri untuk mendominasi pembicaraan. Mereka hanya tak tahu bahwa obrolan murahan itu sudah ribuan kali masuk ke telingamu. Dan kau, tetaplah bersikap seakan-akan kau menghargainya.
            Kebahagiaan akan terlihat dari air mukamu ketika kau bersama embun yang masih menggantung pada pucuk daun di ujung pagi, bersama riak kecil air yang mengalir di sela bebatuan, atau bersama bau rerumputan segar dalam nuansa kesejukan nan menghijau. Naturalisasi dari alam yang hanya dapat memerlihatkan betapa bebasnya dirimu yang sebenarnya. Namun kau tetap lebih nyaman menikmatinya dalam kesendirian.
            Kau terbangkan anganmu bersama hawa angin yang syahdu, menyampaikan pada awan berarak lembut untuk dirasakan oleh semua manusia dalam butiran hujan yang memberi kehidupan. Kau hanya satu dari sekian debu jalanan yang tersapu pilu, berharap menemukan tempat yang seharusnya kau bahagia di sana. Kau hanya terbungkam oleh suara waktu yang bersaing, beradu, berlomba dalam dunia yang sibuk, juga hingar bingar kecerewetan yang mengganggu, hingga kau hanya termangu dalam diam yang membelenggu. Tetaplah tenang, kau berbakat untuk tetap mengalah.
            Terkadang kau dinilai aneh oleh orang disekitarmu. Kau menyadari akan hal itu, kau tahu apa yang terjadi di belakangmu, namun kau bertingkah seolah sibuk dengan urusanmu sendiri, seakan tak tahu apapun. Satu sifatmu yang selama ini mereka tak banyak tahu, rupanya kau adalah pengingat yang baik. Kau memegang kata-kata mereka saat mereka mengatakannya di masa lalu, terkadang kau putar kembali kenangan itu saat mereka mengatakannya, lalu kau buktikan secara diam-diam. Dari sana, kau banyak mendapat pelajaran bahwa tak sedikit dari mereka yang tak perlu dipercaya.


            Aku yakin kau sering menangis dalam tidurmu, karena kekalutan ataupun simalakama. Namun, ketika memulai harimu, kau sembunyikan keraguanmu dan bertingkah seperti biasanya dirimu. Terkadang juga kau harus menelan kekecewaanmu bulat-bulat. Kau terlalu tinggi memimpikan sesuatu, hingga kau membusuk di titik penantian. Apa yang kau bayangkan terkadang memang harus berbelok ke jalan yang memang terbaik untukmu.
            Banyak hal yang mungkin tak terucap dari mulutmu, bahkan mungkin tak sempat kau tulis di bukumu. Kau terlalu malang jika dilihat mereka, dan mereka merasa seakan lebih beruntung daripada kau.
Kau menjawab, “Aku tak perlu belas kasihan dari orang lain, aku punya potensi yang orang lain ingin miliki dalam dirinya, aku berpikir lebih dari apa yang kukatakan, aku juga memerhatikan lebih dari yang mereka tahu, dan caraku untuk bertahan dalam proses yang harus menyeretku dari zona nyamanku adalah bersujud. Aku tak perlu membagi segala cerita harianku pada mereka, cukup hanya berbisik pada bumi untuk didengar oleh langit.’’
            Baiklah, terlalu banyak rahasia yang masih tertahan dalam tanda tanya tentangmu. Mungkin kau akan bersinar hanya jika dalam kegelapan, sayang. Kau tak ingin bersemarak, ceria, apalagi mewah. Kau lebih senang berdiri sendiri, dengan pesonamu sendiri, dengan keanggunan yang elegan. Dengan caramu sendiri.
            Ketika senja mulai meredup, ketika surya mulai tenggelam, ketika kehidupan mulai menyepi di puncak hari, saat itu lembaran bukumu berbicara terhembus angin sore yang lembut. Membunyikan suara kering khas kertas, membuatku mengerutkan kening, apa gerangan yang kau buat.
 Tentang potret dirimu yang dulu pernah kusampaikan, tentang pertanyaan yang pernah kau jawab tuntas. Ternyata kau memang pengingat yang baik, kau menuliskan hal itu. Ditemani secangkir teh, dan awan berselimut mendung, kau biarkan bukumu terbuka di bawah tempias gerimis yang semakin menghidup.
Begitulah dirimu. Detik ini, semua telah kubaca hingga habis, sembari menunggumu bersujud pada-Nya, Sang penentu kisah terbaikmu. Tuhan selalu tahu suara hatimu.
Ada jalan yang memang hanya bisa ditempuh dan dipahami dirimu sendiri. Maaf, jika kau terusik karena menyadari bahwa ada yang menilaimu selain mereka. Teruslah berkarya, wahai pemuja keheningan.         



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar