Kadang
sorot lampu keramaian membuatmu seakan-akan menjadi tokoh utama yang
mengenaskan. Hingar-bingar mereka hanya menguras kepercayaan dirimu sendiri
jika kau tak cepat-cepat kembali ke dalam zona nyamanmu. Jika mereka memerlukan
bintang-gemintang yang semarak penuh glamour dan ribuan cahaya perdetik untuk
mengisi hari mereka yang penuh senda
gurau,
maka kau hanya butuh secangkir teh panas dengan rintik hujan bersuasana mendung
untuk menemani kesendirianmu yang temaram.
Mereka tak tahu dirimu, jika kau tak
bicara. Tapi yang kau lakukan hanya menulis dalam kebisuan. Tulisanmu penuh
dengan perumpamaan, samar, dan hanya membentuk siluet. Tidak terang. Jika
mereka tahu, bukumu terbuka untuk siapapun, tapi tak ada yang mengerti. Sayang,
mereka tak ingin berpikir lebih daripada kau. Di balik kalimat tulisanmu, kau
telah berpikir ribuan kali untuk setiap kata, ada banyak pergulatan di benakmu
untuk menentukan apa yang benar-benar pantas kau goreskan di atas kertas
kosong. Kau yakin kau bicara, meskipun tetap dalam hening. Rupanya kau memang
lebih pantas untuk menjadi seorang pendengar.
Kau masih saja acuh dengan
lingkungan sekitarmu, kau pun sadar ada yang menilai bahwa terlalu tinggi kau
bawa dirimu. Terkadang kau juga hanya menjawab obrolan mereka sekenanya.
Mengapa kau tak pernah beritahu saja mereka bahwa kau memerhatikan apapun lebih
dari siapapun, kau hanya tak tahu bagaimana cara memulai perkenalan,
pertemanan, dan percakapan. Dan bilang pada mereka bahwa kau tak suka omong
kosong atau basa-basi yang hanya sekadar
sandiwara belaka!
Tapi bagimu hal itu sudah biasa, kau
sudah kenyang dengan kesan-kesan negatif akan kurangnya dirimu. Lagi-lagi, kau
tak pernah menggubrisnya. Kau hanya tak ingin salivamu terbuang sia-sia hanya
untuk hal remeh temeh macam itu. Menurutmu, dunia sudah terlalu berisik karena
suara mereka, biarlah kau tenggelam bersama sunyi yang diredam.
Lalu, apa yang akan orang lain
ketahui tentang dirimu?
|
|
Baiklah. Tak ada yang salah dengan
itu semua. Simpan saja semua itu untukmu sendiri. Tak perlu repot-repot kau
lakukan hal itu, toh mereka tetap mengutamakan dirinya sendiri untuk
mendominasi pembicaraan. Mereka hanya tak tahu bahwa obrolan murahan itu sudah
ribuan kali masuk ke telingamu. Dan kau, tetaplah bersikap seakan-akan kau
menghargainya.
Kebahagiaan akan terlihat dari air
mukamu ketika kau bersama embun yang masih menggantung pada pucuk daun di ujung
pagi, bersama riak kecil air yang mengalir di sela bebatuan, atau bersama bau
rerumputan segar dalam nuansa kesejukan nan menghijau. Naturalisasi dari alam
yang hanya dapat memerlihatkan betapa bebasnya dirimu yang sebenarnya. Namun
kau tetap lebih nyaman menikmatinya dalam kesendirian.
Kau terbangkan anganmu bersama hawa
angin yang syahdu, menyampaikan pada awan berarak lembut untuk dirasakan oleh
semua manusia dalam butiran hujan yang memberi kehidupan. Kau hanya satu dari
sekian debu jalanan yang tersapu pilu, berharap menemukan tempat yang
seharusnya kau bahagia di sana. Kau hanya terbungkam oleh suara waktu yang
bersaing, beradu, berlomba dalam dunia yang sibuk, juga hingar bingar
kecerewetan yang mengganggu, hingga kau hanya termangu dalam diam yang
membelenggu. Tetaplah tenang, kau berbakat untuk tetap mengalah.
Terkadang kau dinilai aneh oleh orang
disekitarmu. Kau menyadari akan hal itu, kau tahu apa yang terjadi di
belakangmu, namun kau bertingkah seolah sibuk dengan urusanmu sendiri, seakan
tak tahu apapun. Satu sifatmu yang selama ini mereka tak banyak tahu, rupanya
kau adalah pengingat yang baik. Kau memegang kata-kata mereka saat mereka
mengatakannya di masa lalu, terkadang kau putar kembali kenangan itu saat
mereka mengatakannya, lalu kau buktikan secara diam-diam. Dari sana, kau banyak
mendapat pelajaran bahwa tak sedikit dari mereka yang tak perlu dipercaya.
|
|
Banyak hal yang mungkin tak terucap
dari mulutmu, bahkan mungkin tak sempat kau tulis di bukumu. Kau terlalu malang
jika dilihat mereka, dan mereka merasa seakan lebih beruntung daripada kau.
Kau
menjawab, “Aku tak perlu belas kasihan dari orang lain, aku punya potensi yang
orang lain ingin miliki dalam dirinya, aku berpikir lebih dari apa yang
kukatakan, aku juga memerhatikan lebih dari yang mereka tahu, dan caraku untuk
bertahan dalam proses yang harus menyeretku dari zona nyamanku adalah bersujud.
Aku tak perlu membagi segala cerita harianku pada mereka, cukup hanya berbisik
pada bumi untuk didengar oleh langit.’’
Baiklah, terlalu banyak rahasia yang
masih tertahan dalam tanda tanya tentangmu. Mungkin kau akan bersinar hanya
jika dalam kegelapan, sayang. Kau tak ingin bersemarak, ceria, apalagi mewah.
Kau lebih senang berdiri sendiri, dengan pesonamu sendiri, dengan keanggunan
yang elegan. Dengan caramu sendiri.
Ketika senja mulai meredup, ketika
surya mulai tenggelam, ketika kehidupan mulai menyepi di puncak hari, saat itu
lembaran bukumu berbicara terhembus angin sore yang lembut. Membunyikan suara
kering khas kertas, membuatku mengerutkan kening, apa gerangan yang kau buat.
Tentang potret dirimu yang dulu pernah
kusampaikan, tentang pertanyaan yang pernah kau jawab tuntas. Ternyata kau
memang pengingat yang baik, kau menuliskan hal itu. Ditemani secangkir teh, dan
awan berselimut mendung, kau biarkan bukumu terbuka di bawah tempias gerimis
yang semakin menghidup.
Begitulah
dirimu. Detik ini, semua telah kubaca hingga habis, sembari menunggumu bersujud
pada-Nya, Sang penentu kisah terbaikmu. Tuhan selalu tahu suara hatimu.
Ada
jalan yang memang hanya bisa ditempuh dan dipahami dirimu sendiri. Maaf, jika
kau terusik karena menyadari bahwa ada yang menilaimu selain mereka. Teruslah
berkarya, wahai pemuja keheningan.
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar